
“An…” Terlihat Pram melepaskan tangan Anita yang memeluknya dan berbalik untuk memastikan.
“Rey… kamu masih tetap seperti dulu,” ucap Anita. Dia merangkul tangan Pram kembali.
“Panggil aku Pram,” tegas Pram sambil melepaskan rangkulan dari tubuhnya.
Anita tersenyum menggoda, lagi-lagi dia menempel dengan tidak tahu malunya. Pram sendiri terlihat sibuk melepaskan diri dari rangkulan berulang kali.
“Apa maumu, An?” Tanya Pram mencoba menghindar. Segera dia memasukkan password yang tadi belum sempat dimasukkan. Begitu pintu terbuka, dia berniat segera masuk dan menutup pintunya. Tapi sialnya Anita melenggang masuk duluan kemudian menarik tangan Pram ikut masuk bersamanya.
“An, apa-apaan ini?” Pram mulai sedikit kesal. Dia menghempaskan tangan yang tadi menariknya.
“Ayolah Pram, kamu pasti merindukanku. Biasanya kamu tidak pernah menolakku.” Rayu anita melingkarkan tangannya ke leher Pram.
“An...mmmmphh.” Belum selesai berkata-kata , bibir Pram sudah dilum*t rakus oleh Anita. Dia tidak memberi kesempatan Pram memberontak. Dia memainkan lidahnya dengan lihai di dalam mulut Pram. Dan entah kemana perginya kewarasan Pram, tanpa sadar dia menyambut ciuman Anita, mereka saling berlomba-lomba melum*t. Dengan mata saling terpejam, dia menahan tengkuk Anita agar bisa memperdalam ciumannya. Di sela ciumannya, Pram berbisik lirih
“Kai.., aku mencintaimu.... “
Deg—
Pram membuka matanya, pikiran warasnya kembali. Segera mendorong Anita menjauh darinya. Mengelap bibirnya yang masih basah dengan kasar.
“Keluar!!!” usir Pram.
Tapi bukannya keluar Anita terlihat malah duduk manis di sofa ruang tamu unit apartemen Pram. Menatap sekeliling ruangan dan pada akhirnya pandangannya terhenti pada sosok yang berkacak pinggang berdiri tidak jauh dari pintu keluar.
“Kamu masih menginginkanku, Pram. Haha..,” ucap Anita seraya tersenyum menggoda.
“Bagaimana kamu bisa sampai disini?” Pram bertanya kasar.
“Hahaha, aku tetangga barumu, Sayang. Aku membeli unit tepat di sebelahmu. Ayolah, kita sudah biasa melakukannya kan. Lagian j*lang kecilmu sedang tidak ada disini, mari kita bersenang-senang,” goda Anita lagi.
Mendengar kata-kata Anita, sontak membuat darah Pram mendidih. Kemarahannya memuncak. Berani-beraninya dia menyebut Kaillanya seorang j*lang. Dengan langkah kasar dia menghampiri Anita yang masih duduk dengan tatapan menggodanya. Dengan satu hentakan dia berhasil menyeret Anita, tapi bukannya takut Anita malah kembali memeluknya.
“Sekali lagi kamu memanggilnya seperti itu, aku tidak segan-segan memukulmu. Aku akan melupakan kalau kamu seorang perempuan,” ancam Pram menghempaskan tangan Anita lagi. Mendengar Anita menghina Kailla, ada rasa sakit di dalam hati Pram.
“Hahaha, ayolah Pram. Kita sama-sama tahu, darah siapa yang mengalir di dalam tubuh tunanganmu itu.”
“Seorang j*lang murahan walau bersanding dengan seorang terhormat pun tetaplah j*lang. Dan keturunannya, haha.. pasti mengalir darah seorang j*lang.” Hahaha..” jelas Anita tertawa mengejek memancing kemarahan Pram.
“Apa maumu? Katakan apa maumu. Hah!!!!!” Tanya Pram setengah berteriak.
“Hahaha... tidak ada, aku hanya menginginkanmu saat ini.” Anita menjawab dengan tenang, berusaha untuk tidak terpancing kemarahan Pram.
“Kalau kamu ingin membalas dendam, balas padaku. Jangan kepadanya. Dia tidak tahu apa-apa,” pinta Pram sedikit melemah.
“Bukannya akan lebih menarik kalau aku membalas melaluinya. Kalau gadis itu terluka, aku yakin kamu dan si tua bangka itu akan merasakan sakit berkali-kali lipat. Haha...”
“Baiklah, kali ini aku akan bertanya baik-baik sebelum menyeretmu keluar. Apa yang kamu inginkan?? Tanya Pram berusaha tenang, meredam emosinya.
Bukan tidak mungkin, emosinya hanya akan membahayakan Kailla. Anita sudah mengetahui kelemahannya dan Pak Riadi. Bukan tidak mungkin setelah ini, Anita akan mengincar Kailla. Bagaimanapun dia harus melindungi Kailla.
“Aku ingin kamu membuangnya seperti dulu kamu membuangku, jadi si tua bangka itu akan merasakan apa yang orang tuaku rasakan,” Anita berkata dalam hati.
“Tapi aku tidak bisa, An. Aku mencintai Kai,” jawab Pram.
“Hahahaa..... cinta. Bukannya dulu kamu juga mencintaiku. Aku yakin cinta itu masih ada sampai sekarang Pram,” tegas Anita.
“Dulu... , itu dulu. Sekarang aku mencintainya. Aku akan mengambil resiko apapun kali ini,” tolak Pram. Terlihat Pram menghela napas panjang menandakan betapa lelahnya menghadapi perempuan di hadapannya.
“Kamu adalah bukti betapa pengecutnya seorang Reynaldi Pratama, aku akui itu. Meninggalkanmu adalah kesalahan terbesar dan sampai sekarang aku masih menyesalinya. Aku minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan kepadamu dan keluargamu,” lanjutnya lagi.
“Sebaiknya kamu keluar dari sini, An. Sudah terlalu larut, tidak baik dilihat orang,” usir Pram.
Mendengar ucapan Pram, Anita tergelak.
“Bukannya dulu malah kita tinggal bersama, Pram. Kenapa sekarang kamu berubah seperti ini, seperti bukan Pram saja,” sindir Anita. Terlihat Anita kembali duduk tenang di sofa sambil menatap tajam ke arah Pram.
“Baiklah, kamu bisa tinggal disini sesukamu,” ujar Pram. Dia memilih menunggu di luar unit apartemennya dan menghubungi David melalui wa.
“Dave, malam ini kamu menginaplah di apartemenku, segera datang ke tempatku. Aku tunggu 15 menit” —send—
Beruntung David membaca pesannya, dalam waktu 15 menit David benar-benar sampai ke tempatnya. Kebetulan, David memang tinggal di apartemen yang sama dengannya, hanya berbeda lantai saja.
Begitu melihat David, segera Pram mengajaknya masuk. David sedikit terkejut dengan kehadiran Anita di dalam apartemen Pram. David sempat beberapa kali bertemu Anita saat proses penandatanganan kontrak kerjasama perusahaan.
Tak lama, terlihat Pram keluar dari kamarnya dengan membawa koper.
“Dave, kamu tinggalah di sini malam ini, aku ada keperluan mendadak. Aku akan tidur di hotel malam ini.” Pram berpamitan dengan David. Dia sama sekali tidak mempedulikan Anita yang menatap kesal padanya.
“Pram.. Pram.. !! Panggil Anita, segera dia berlari mengikuti langkah Pram yang sudah bersiap masuk ke dalam lift.
“Sial!!” Begitu dia melihat Pram tetap masuk ke dalam lift tanpa mempedulikan panggilannya bahkan tidak melihat kea arahnya sama sekali.
***
Di kamar hotel.
Terlihat Pram membaringkan tubuhnya, menghubungi seseorang melalui ponselnya.
“Bayu, tolong tambah pengawalan untuk Kailla, tambah 2-3 orang tidak masalah. Dan jangan biarkan orang yang tidak dikenal mendekatinya. Aku akan mengirimi foto seseorang, pastikan orang itu tidak mendekati Kailla,” perintah Pram.
“Baik Boss,” jawab Bayu dari seberang telepon.
“Aku pastikan kali ini aku tidak akan mengalah pada siapapun!!”
Pram memijat keningnya yang sedikit pusing. Ulah Anita tadi benar-benar membuat emosinya naik turun. Tidak pernah terpikir, Anita akan mengikutinya sampai sejauh ini. Tempat tinggalnya sekarang bukanlah tempat yang aman untuk Kailla. Mungkin sementara dia akan menginap di hotel sampai dia menemukan rumah yang cocok untuknya dan Kailla.
Thanks a lot untuk dukungan ya. Kalau sempat, bantu like dan komen ya..