Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 107 : Mencari Tau


Pram masih menatap Kailla yang sedang sibuk dengan makanan di depannya. Tidak ada satupun yang terlewatkan, semua dicoba oleh istrinya.


“Sayang, kamu beneran tidak mau?” tanya Kailla saat dia sedang menggulung pasta dengan garpunya.


“Ini beneran enak!” ucap Kailla.


Pram menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Saat ini melihat Kailla yang sedang menikmati makanan di depannya ada kebahagiaan tersendiri untuk Pram. Sejak menikah, dia semakin mengenal Kailla. Selama ini, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja, dia sangat jarang bisa bertemu Kailla.


“Aaaak.... buka mulutmu Sayang, kamu harus mencobanya. Pasta ini enak!” Kailla menyodorkan garpu berisi gulungan pasta lengkap dengan keju leleh di atasnya.


Terlihat Pram memajukan wajahnya untuk menerima suapan Kailla.


“Enak kan?” tanya Kailla. Pram hanya mengangguk, tersenyum dan mengedipkan matanya.


“Kai, kamu sejak tadi menungguku di kantor. Apa tidak bosan?” tanya Pram membuka pembicaraan.


Sejak mengetahui Kailla berada di ruangan Pieter, Pram sangat khawatir. Dia mempercayai istrinya, tapi tidak dengan temannya. Dia tau jelas, laki-laki seperti apa Pieter. Dia sudah mulai mencurigai Pieter sejak pertama kali Kailla muncul di tengah rapat. Dia juga seorang laki-laki, dia tahu betul arti pandangan Pieter. Bahkan dia pernah memergoki Pieter menatap istrinya tanpa berkedip.


“Tidak.” Kailla menjawab singkat.


“Apa yang kamu kerjakan di sana?” tanya Pram memancing jawaban Kailla.


Saat ini Pram sedang mencari tahu sejauh apa hubungan Pieter dan istrinya. Dia ingin mendengar dari mulut istrinya sendiri. Dia bukanlah tipe orang yang menggunakan emosi untuk menyelesaikan masalah. Dia tidak akan menunjukkan rasa cemburu yang tidak pada tempatnya. Pram sangat pintar mengendalikan diri dan emosinya. Sejauh itu belum mengganggunya, dia hanya akan diam dan mengawasi.


“Hmm.. aku tadinya sudah ingin pulang, tapi aku bertemu dengan Pieter dan dia menawariku menunggumu di ruangannya,” sahut Kailla.


“Dan kalian pasti menggosipkanku!” ucap Pram sambil terkekeh. Saat ini dia sedang menunggu jawaban Kailla. Terlihat Pram memutar gelas berisi air putih di depannya, menatap mata Kailla.


“Tidak! Aku tidak berani membicarakanmu!” ucap Kailla.


“Ah.. istriku sudah pintar berbohong. Begitu lama kalian mengobrol, masa sama sekali tidak membahas suamimu,” Pram pura-pura cemberut.


“Tidak, kami tidak membahasnya,” jawab Kailla singkat.


“Lalu begitu lama di tempat Pieter, kamu hanya bermain game di ponselmu? Kamu memenangkannya atau kali ini kamu kalah lagi?” tanya Pram mencoba memancing dengan pertanyaan lain.


“Aku tidak bermain game. Kalau tidak bersamamu, aku tidak bisa main game. Kalau aku kalah, tidak ada yang bisa ku omeli. Kalau bersamamu, aku bisa mengomelimu sepuasnya,” jawab Kailla.


“Hahaha, kamu bisa mengomeli Pieter kalau kamu kalah!” ucap Pram sambil tertawa.


“Tidak bisa, dia bukan siapa-siapaku. Aku tidak mungkin mengomelinya,” celetuk Kailla.


“Apa yang kalian bahas tadi sampai kamu melupakan suamimu. Kamu bahkan lupa menghubungiku,” ucap Pram.


“Tidak ada! Aku takut menghubungimu. Aku takut kamu akan mengomeliku lagi.” Kailla menjawab singkat.


Terlihat Pram diam sejenak, sebelum melontarkan pertanyaan kembali ke istrinya.


“Pieter pasti terheran-heran bagaimana Pram begitu beruntung mendapat istri secantik ini. Iya kan?” ucap Pram sambil tersenyum menggoda.


“Tidak juga. Emmmm, tapi dia kaget waktu aku bilang kita dijodohkan,” ucap Kailla dengan polosnya.


“Lalu bagaimana komentar Pieter?” tanya Pram penasaran.


“Dia hanya bertanya kalau aku dijodohkan dengan orang lain, apa aku juga akan menerimanya,” jawab Kailla.


“Hanya itu saja?” tanya Pram.


“Iya..... Oh iya, dia penasaran apakah aku mencintaimu,” bisik Kailla sambil menyendokkan pasta terakhir ke dalam mulutnya.


“Dan kamu pasti menjawab, aku sangat tergila-gila kepada suamiku,” pancing Pram.


“Aku tidak akan pernah menjawab seperti itu,” gerutu Kailla kesal mendengar ucapan Pram.


“Lalu? Kamu akan menjawab seperti apa?” tanya Pram.


“Aku tidak menjawabnya,” sahut Kailla. “Ayo, aku sudah menyelesaikan makanku. Sudah mau jalan sekarang?” tanya Kailla bangkit dari duduknya.


***


Kailla sudah masuk dan duduk di dalam mobil. Bayu dan sopir juga sudah duduk manis di kursi depan. Sebelum menjalankan mobilnya mereka masih menunggu Pram untuk berpamitan. Pram akan kembali ke tempat meeting dengan sopirnya.


Tampak Pram keluar dari restoran dengan setengah berlari. Terlihat dia menghampirir sopir yang tadi mengantarnya ke restoran. Tak lama, Pram pun menghampiri mobil yang ditumpangi Kailla, membuka pintu dan masuk duduk di samping Kailla.


“Antarkan aku ke tempat meeting Pak. Ini alamatnya.” Pram menyodorkan ponselnya kepada sang sopir.


“Oke Pak, alamat ini tidak terlalu jauh dari sini,” ucap sang sopir setelah melihat alamat yang dimaksud Pram, kemudian menyerahkan kembali ponselnya.


“Sayang, antarkan aku ke tempat meeting ya, baru setelah itu kamu pulang ke apartemen.”


“Bagaimana dengan sopirmu tadi?” tanya Kailla heran.


“Aku sudah menyuruhnya jalan duluan.” Pram menjawab sambil merengkuh pundak Kailla.


“Aku masih merindukanmu,” bisik Pram di telinga Kailla.


“Gombal!” cerocos Kailla sambil memukul dada Pram.


“Kemarilah, aku ingin memelukmu,” ucap Pram langsung membawa tubuh mungil istrinya ke dalam pelukannya.


Setengah jam kemudian mobil mereka pun masuk ke sebuah hotel. Kailla menatap gedung hotel itu tanpa berkedip. Pikirannya semakin tidak tenang. Dia sangat mengkhawatirkan Pram dan Mitha.


“Pak, mau diturunkan di lobby atau mau cari parkiran?” tanya sopir kepada Pram. Ucapan sopir seketika menyadarkan Kailla lamunan dan pikiran buruknya.


“Cari parkiran saja Pak,” sahut Pram masih menatap ke arah istri yang ada di pelukannya.


“Kai, aku harus rapat. Kamu langsung pulang ya?” pamit Pram sambil tersenyum menatap wajah cemberut Kailla.


Cup! Sebuah kecupan mendarat di kening Kailla.


“Kenapa? Kamu mau menungguku?” tanya Pram setelah melihat wajah Kailla yang tidak tersenyum seperti biasanya.


Kailla menggangguk. “Boleh?”


“Kamu mau menungguku di mobil? Aku tidak bisa membawamu ke dalam,” ucap Pram.


“Aku tidak mau menunggu di mobil,” tolak Kailla.


“Kalau begitu pulang ke apartemen saja ya,” tawar Pram. “Aku benar-benar tidak bisa membawamu ke dalam Kai,” lanjut Pram lagi.


“Kemarin saja aku bisa ikut rapat bersamamu di kantor!” gerutu Kailla masih tidak terima.


“Itu untuk yang pertama dan terakhir, Kai. Kalau mau ikut rapat bersamaku, ayo belajar. Masuk ke perusahaan, aku akan membawamu bersamaku di setiap rapat,” jelas Pram.


“Ah.......” Kailla masih saja menggerutu.


“Aku tidak mungkin membawamu sebagai istriku ke tempat rapat. Walaupun perusahaan itu atas namamu, tapi kamu tidak paham apa-apa,” jelas Pram.


“Yah sudah, aku ambil kamar di sini. Kamu bisa menungguku di dalam. Bagaimana?” tawar Pram.


Kailla mengangguk sambil tersenyum. “Terimakasih.”


“Jangan cemberut lagi. Cantiknya berkurang!” goda Pram membawa Kailla turun bersamanya.


“Bay, tolong kamu urus. Pastikan kamarnya nyaman!” perintah Pram pada Bayu yang ikut mendengarkan percakapan mereka. Terlihat dia mengecup bibir Kailla, kemudian turun dan menemui Mitha yang sedang menunggunya.



(Om Pram dan Mitha yang lagi mau meeting )


***


Terimakasih. love You all.