Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 69 : Aku Masih Menunggumu


Mobil yang dikendarai Bayu baru sampai ke Jakarta ketika menjelang malam. Mereka menghabiskan banyak waktu di rest area. Pram bahkan harus menghela napas berkali-kali meladeni drama yang Kailla buat.


“Bay, kita pulang ke rumah mertuaku!” perintah Pram tersenyum menatap Kailla yang sedang terlelap di dalam dekapannya. Jangan ditanya betapa leganya Pram saat melihat Kailla terlelap. Kalau bisa dia akan berteriak dan bersorak sorai.


“Tidak ke apartemen Bos?” tanya Bayu memastikan.


“Tidak! Kailla pasti merindukan daddynya.” Pram menjawab singkat pandangannya masih menatap istrinya. Tak beralih sedikit pun. Terlihat dia merapikan beberapa helai rambut yang jatuh di wajah cantik Kailla.


Tak lama, mobil mereka pun sampai di gerbang kediaman Riadi Dirgantara. Tampak seorang security berlari membuka pintu gerbang begitu mengenali mobil Pram. Dan seorang lagi memberi salam kepada Bayu yang sedang menyetir.


“Pak Pram dibelakang,” ucap Bayu mengarahkan jempolnya ke belakang. Dia bisa membaca wajah keheranan security, karena memang ini untuk pertama kalinya dia masuk ke kediaman Riadi. Mendengar penjelasan Bayu, segera security mengangguk dan mempersilahkan.


Setelah mobil terparkir sempurna, Bayu memilih keluar dari mobil tanpa menunggu Pram.


Pram sendiri memilih memainkan ponselnya sambil menunggu Kailla yang tertidur.


“Bos..,” panggil Bayu sambil membuka pintu untuk Pram.


“Nanti saja! Kailla baru saja tertidur, tunggu setengah jam lagi.” tolak Pram. Dia memilih memberi waktu untuk Kailla tidur lebih lama, kalau dia menggendong Kailla sekarang takutnya malah istrinya terbangun. Padahal baru saja Kailla tertidur setelah kelelahan mengoceh sepanjang perjalanan.


Tampak Donny yang tadinya sedang mengobrol di pos security datang menghampiri Pram.


“Malam Pak! Baru dari Bandung?” tanya Donny tersenyum menatap Kailla yang sedang tertidur lelap.


“Anak itu dari dulu memang tukang tidur.”


Pram mengangguk.


“Bapak bagaimana?” tanya Pram tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


“Besok rencananya sudah mulai terapi Pak.” sahut Donny. “Ya sudah, saya balik ke pos dulu Pak.” lanjutnya lagi.


Setengah jam berlalu, setelah memastikan Kailla masih belum ada tanda-tanda terbangun, Pram terpaksa menggendongnya masuk ke rumah. Dengan sekali tendangan dia berhasil membuka pintu kamar Kailla yang tidak terkunci.






Setelah mengganti pakaian Kailla dengan gaun tidur, bergegas Pram mencari Bayu. Dari tadi siang perasaannya tidak enak, melihat gelagat Kailla yang tidak seperti biasanya.


“Bay!” panggil Pram setelah berada di teras.


“Iya Bos. Ada apa?” tanya Bayu.


“Cari tahu apa yang terjadi di malam penculikan itu Bay! Aku mau informasi selengkap mungkin.” perintah Pram. “Aku mengkhawatirkan Kailla. Selanjutnya pastikan tidak ada orang asing mendekatinya.” lanjutnya lagi.


***


Pagi itu Kailla kaget begitu terbangun sudah ada di kamar tidurnya. Tangan Pram yang sedang mendekap erat tubuhnya langsung disingkirkan dengan kasar. Segera dia bangkit berlari menuruni tangga, menemui daddynya di kamar.


Ceklek!!


Kamar daddy kosong. Tidak terlihat kursi roda yang biasa diduduki daddynya, perawat juga tidak ada. Segera dia berlari ke taman belakang, biasanya daddy paling suka berlama-lama menatap kolam ikan koi-nya. Begitu tiba di pinggir kolam, tetap tidak ada jejak-jejak sang daddy disana. Pikirannya semakin kacau, mencari hampir di seluruh ruangan tetap tidak menemukan sosok yang dicarinya. Air matanya sudah menganak sungai, tergesa-gesa dia berlari menaiki tangga membangunkan Pram di kamarnya.


“Om..! Om..!” panggilnya lagi, menepuk lengan kekar Pram dengan keras, berharap suaminya itu lekas terbangun. Pram baru saja membuka matanya, tapi Kailla sudah berlari keluar lagi sambil menangis.


“Bu Sari!” teriaknya kencang, mencari asisten rumah tangga itu ke segala arah. Tidak ada jawaban. Segera dia berlari keluar mencari keberadaan daddynya di halaman depan, walau rasanya kecil kemungkinan daddynya ada disana.


Sambil menangis, dia berlari ke pos security. Bertanya pada security yang berjaga di gerbang depan.


“Pak, lihat daddy?” tanya Kailla terisak. Dia mengusap kasar airmata dengan kedua tangannya. Security yang melihat tampang putri majikannya itu terbelalak. Kailla berlari kesana kemari tanpa alas kaki, rambutnya masih acak-acakan belum lagi gaun tidurnya yang berantakan. Kalau Pram melihat tampang istrinya saat ini, bisa dipastikan dia akan menyesal seumur hidupnya, telah memilihkan gaun tidur itu untuk istrinya semalam.


“Bapak kalau pagi sering diajak perawat keliling komplek, Non.” jawab sang security. “Tapi....” security itu belum menyelesaikan kata-katanya, Kailla sudah berlari keluar melalui pintu kecil di samping pos.


“Non...!” panggilnya. Dia baru saja hendak menyusul putri majikannya itu tapi Pram sudah memanggilnya. Terlihat Pram sedang berdiri di teras, mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Kailla. Tadi dia terbangun saat Kailla membangunkannya, tapi belum sempat dia mengumpulkan kesadarannya, Kailla sudah berlari keluar kamar.


“Pak, lihat istriku ?” tanya Pram kebingungan.


“Tamat riwayatku!!


“Barusan... barusan.. ke..luar.” sahut security dengan ragu-ragu. Jarinya menunjuk ke arah gerbang.


“Astaga! Kenapa tidak dicegah?” Pram segera berlari mengambil kunci mobilnya untuk menyusul Kailla. “Buka gerbangnya!” perintah Pram dengan kesal.


Baru saja mobilnya keluar dari gerbang, tampak Kailla sedang duduk di pinggir jalan tidak jauh dari gerbang rumahnya sambil menangis.


“Kai..., ayo masuk ke mobil!” ajaknya ketika sudah berdiri di depan Kailla.


Seketika Kailla mendongakan wajahnya menatap Pram. “Kamu kenapa?” tanya Pram lembut.


“Daddy tidak ada di rumah,” jawab Kailla langsung memeluk erat Pram.


“Daddy sedang di rumah sakit, hari ini ada jadwal daddy terapi.” Pram menjelaskan. Menepuj lembut punggung Kailla.


“Hah! Kenapa tidak ada yang memberitahuku.” Kailla terlihat kesal. Sedari tadi dia menangis memikirkan hal yang tidak-tidak. Selama di Bandung, dia tidak mengetahui kabar tentang daddynya.


“Dari semalam kamu tertidur, bagaimana aku memberitahumu.” Pram mencubit hidung mancung Kailla yang memerah karena menangis. Ayo!” ajak Pram. Terlihat dia mengeluarkan sandal untuk Kailla dari mobilnya.


“Kita jalan?” tanya Pram sembari merapikan gaun tidur yang dikenakan Kailla. “Biarkan Sam yang mengambil mobilnya.” jelas Pram lagi.


Tanpa menunggu jawaban Kailla, dia sudah menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Kailla. Senyum tersungging di wajah Pram. Dia sudah tidak muda lagi, tapi harus meladeni Kailla yang masih berumur 20 tahun. Kalau ditanya lelahkah? Pasti ada! Tapi kalau dia mengeluh bukankah namanya egois. Bahkan Kailla saja sampai hari ini tidak pernah mengeluh harus menikah dengannya.


***


“Kai, David sudah mengurus cuti kuliahmu. 3 hari lagi kita akan berangkat ke Austria.” ucap Pram begitu mereka sudah berada di kamar.


“Aku pasti akan merindukan daddy,” ucap Kailla pelan, menatap keluar jendela. Matanya mulai berkaca-kaca. Meninggalkan daddynya sendiri disini dalam keadaan sakit, ada rasa tidak tenang.


“Aku akan menyelesaikan pekerjaanku secepatnya. Jadi kita bisa segera kembali ke sini,” hibur Pram mendekap Kailla.


Pram tampak menelusupkan wajahnya di tengkuk Kailla. “Kai....” panggilnya.


“Hmmm....”


“Kapan kamu akan mencintaiku, Kai?” Pram berbisik lirih, mengeratkan pelukannya. “Aku masih menunggumu.” lanjut Pram lagi.


***