Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
“Bab 179 : Aku Tidak Pergi Sekarang


“Dave! Bagaimana?” tanya Pram, terkejut saat menyadari siapa yang masuk ke ruang kerjanya saat ini.


Tampak Kailla, sang istri tersenyum padanya sambil menenteng salah satu koleksi tas mahalnya. Dia sudah berdandan cantik hari ini. Dia dan Pram akan bertemu dengan anak mereka sebentar lagi.


“Sayang...,” sapa Kailla manja, langsung memeluk Pram. Kedua tangannya sudah bergelayut manja di leher suaminya, siap bermanja-manja dalam pelukan Pram. Terlihat dia sudah menelusupkan wajahnya ke dalam dada Pram, mencium aroma maskulin bercampur parfum kesukaan sang suami.


“Kai..., aku pikir tadi Dave yang masuk,” jawab Pram, dengan ujung telunjuk dia mengangkat dagu Kailla yang sedang menikmati hangat pelukannya.


Cup! Kecupan ringan dilabuhkannya di bibir Kailla.


“Kai, kamu sudah makan?” tanya Pram. Perasaannya tidak tenang, terlihat dari gerak geriknya. Bahkan dia tidak fokus saat ini.


Kailla menggelengkan kepala. Setelah meletakkan tas tangannya ke atas meja, kembali dia menyusup ke dada bidang Pram.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Kailla, setelah melihat Pram tidak terlalu mempedulikannya.


“Hah?!” Pram terkejut.


Dia berusaha kembali fokus, “aku baik-baik saja Sayang.”


“Kamu kenapa?” tanya Kailla lagi. Tangannya menangkup wajah Pram, mengecup bibir suaminya, yang sedang menatap ke arah pintu ruangannya.


“Aku tidak apa-apa, Kai,” sahut Pram, menatap Kailla sebentar dan berusaha memaksakan diri untuk tersenyum.


Tak lama, yang ditunggu-tunggu Pram muncul dari balik pintu. Terlihat David masuk dengan memegang ponsel di tangannya.


“Siang Nyonya,” sapa David, tersenyum melihat Kailla yang sedang memeluk Presdirnya.


“Siang Dave.” Kailla menjawab singkat.


“Bagaimana Dave?” tanya Pram, berusaha melepaskan tangan Kailla yang masih bergelayut di lehernya.


“Sudah diemail Pak,” jawab David singkat. Dia sedang tersenyum menatap Pram yang sedang berusaha melepaskan diri dari istrinya.


Kalau tidak ada lagi, aku permisi,” pamit David. Dia tidak mau berlama-lama di dalam ruangan. Saat ini, atasannya sedang membutuhkan waktu berdua dengan istrinya.


“Kai, aku harus ke Bali sebentar lagi,” jelas Pram, setelah berhasil melepaskan diri dari belitan tangan Kailla.


“Hah?! Kenapa mendadak sekali?” tanya Kailla heran.


“Iya, aku ada urusan mendadak di sana. Dan ini penting,” jelas Pram lagi. Menatap mata Kailla yang mulai berkaca-kaca.


“Kita tidak jadi ke dokter?” tanya Kailla tertunduk sedih. Setetes air mata itu lolos meluncur jatuh ke lantai saat dia menunduk.


“Maafkan aku. Setelah kembali dari Bali, kita atur jadwal lagi ya,” pinta Pram, berharap Kailla mengerti.


Setelah lama diam dan berpikir, Kailla akhirnya memberanikan diri bertanya.


“Aku boleh ikut?” tanya Kailla pelan dan ragu. Dia yakin Pram pasti tidak akan mengizinkannya. Tapi dia harus mencoba.


“Maaf Kai. Aku tidak bisa membawamu bersamaku,” tolak Pram. Kedua tangannya langsung memeluk tubuh istrinya yang sedang terguncang.


“Jangan menangis, aku segera kembali begitu semua urusanku selesai,” lanjut Pram lagi, menghapus air mata yang mengalir di pipi Kailla.


Kailla menggeleng. Kembali memeluk pinggang Pram dengan erat.


“Aku tidak mau. Aku mau ikut denganmu Sayang,” rengek Kailla.


“Aku tidak mau ditinggal,” lanjut Kailla mulai terisak. Tangisnya semakin pecah, saat Pram tetap diam dan tidak menjawab semua rengekannya.


“Aku janji segera kembali,” bujuk Pram.


“Besok aku kembali. Aku janji,” ucap Pram masih berusaha memberi pengertian pada istrinya.


Kailla tetap menggeleng. Terlihat dia melepas pelukannya, berjalan ke arah sofa. Duduk di sana dengan tangan terlipat di depan dada dan wajah cemberut.


“Ayolah Kai, jangan seperti anak kecil. Aku ada urusan di sana. Bukan pergi bulan madu,” bujuk Pram, berusaha menjelaskan. Saat ini dia sudah berdiri tepat di depan Kailla.


“Aku berjanji tidak akan menyusahkanmu,” rengek Kailla mengangkat tangannya membentuk tanda V dengan telunjuk dan jari tengahnya. Dia masih belum memyerah membujuk Pram untuk bisa tetap ikut.


Pram tersenyum. Berjalan ke arah meja kerjanya dan menghubungi Stella, sekretarisnya untuk tidak mengizinkan siapa pun masuk ke ruangannya saat ini. Dia masih menyempatkan diri mengunci pintu ruangannya.


“Kailla, bersiap. Aku akan menerkammu!” ucap Pram, tersenyum menggoda. Bergegas menghampiri Kailla yang keheranan menatapnya.


“Kamu mau apa?” tanya Kailla sudah bangkit dari duduknya. Telunjuknya sudah mengarah ke suaminya. Perubahan sikap Pram yang tiba-tiba, langsung membuatnya siap siaga.


Kailla yang sudah hafal dengan berbagai raut wajah Pram, langsung menjauh. Senyum seringai di wajah suaminya itu cukup memukul mundur keberaniannya.


“Yang benar saja. Masa dia mau melahapku disini,” ucap Kailla dalam hati.


“Aku tidak mau!” tolak Kailla.


Ucapan Kailla barusan, langsung membuat senyum Pram terkembang di bibirnya.


“Anak manis!”ucap Pram, langsung menarik Kailla ke dalam pelukannya.


“Aku tidak mau. Aku akan menyusulmu kalau kamu tidak mengizinkanku,” tolak Kailla.


“Ayolah Kai, nanti aku akan membelikanmu tas lagi,” bujuk Pram, mengecup kedua pipi mulus Kailla.


“Tidak mau!” tolak Kailla.


“Sepatu?” tawar Pram lagi. Kali ini dia mendaratkan kecupan di hidung mancung istrinya.


“No!”


“Katakan apa yang kamu inginkan Kai. Aku pasti akan mengabulkannya asalkan kamu mengizinkan ku pergi,” rayu Pram. Giliran bibir tipis istrinya yang mendapat kecupan.


“Aku mau hidupmu!” pinta Kailla.


“Ambil apa yang ingin kamu ambil sekarang,” sahut Pram.


“Aku milikmu!” lanjutnya lagi.


“Aku tidak mau, aku mau ikut denganmu.”


“Sekali ini saja. Izinkan aku pergi, setelah ini aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi.”


“Aku tidak mengizinkanmu. Tapi kamu tetap memaksa,” ucap Kailla pelan. Menghela nafas, berusaha menahan kecewanya.


“Terserah padamu, Sayang,” lanjut Kailla. Dia tidak membantah lagi kali ini.


“Aku janji akan cepat pulang. Setelah aku kembali, kita baru mengunjungi dedek,” ucap Pram tersenyum. Mengelus perut Kailla berulang kali.


Setelah melepaskan pelukannya, terlihat Pram membungkuk.


“Daddy ada urusan. Nanti kita jadwal ulang kencannya ya,” bisik Pram di depan perut istrinya.


“Kalau begitu, aku pulang dulu,” pamit Kailla, bergegas meraih tasnya di atas meja. Dia tidak menoleh sama sekali pada Pram. Dia benar-benar kecewa saat ini.


Tepat saat tangan Kailla meraih gagang pintu, Pram menghampirinya.


“Maafkan aku. Aku janji cepat pulang,” bisik Pram, memeluk Kailla dari belakang.


“Terserah padamu. Dalam hidupmu, kami tidak begitu penting!” sahut Kailla pelan. Dia berbalik, langsung menghempaskan tangan Pram dan mendorong suaminya supaya menjauh.


“Kai, jangan begini,” ucap Pram.



Pram lebih suka Kailla membuat kekacauan, manja berlebihan ataupun bersikap kekanak-kanakan. Dibanding dia tidak mau banyak bicara dan mengalah untuk menyerangnya seperti saat ini.


“Hal apa yang lebih penting di dalan hidupmu selain aku dan anakmu. Kamu yang bisa menjawabnya sendiri. Bahkan kamu tidak mengizinkan kami ikut denganmu,” ucap Kailla. Helaan nafasnya terasa berat.


“Sekali lagi, aku pastikan akan meninggalkanmu,” ucap Kailla.


“Aku mencintaimu Reynaldi Pratama. Harusnya kamu tahu, seberapa beratnya bebanmu saat aku mengucapkannya. Aku memilih tidak mengatakannya selama ini, karena aku tidak mau membebani hidupmu,” ucap Kailla lagi.



Pernyataan cintanya terdengar seperti ancaman. Sorot matamya tajam, penuh kekecewaan.


“Aku bisa mencintaimu, tapi aku bisa meninggalkanmu karena cinta itu juga,” ancam Kailla.


Pram menciut, dia tidak berani terlalu banyak bicara. Saat ini dia memilih mengalah. Kailla baru saja akan membuka pintu dan melangkahkan kakinya keluar. Pram menghentikannya.


“Baiklah, aku tidak pergi sekarang,” ucap Pram tiba-tiba. Dia bisa pergi besok atau lusa. Dengan mencari alasan yang lain.


“Sebagai gantinya kamu harus mengikuti apapun permintaanku,” goda Pram. Berusaha mengembalikan mood Kailla.


“Maksudmu?” tanya Kailla, berbalik menatap Pram yang sedang menaik turunkan alisnya.


“Tidak apa-apa. Aku hanya bercanda,” ucap Pram ragu.


“Kemarilah! Peluk suamimu sekarang,” lanjut Pram lagi.


“Membujuk anak keras kepala ini harus menggunakan cara yang licik!” batin Pram.


****


Terimakasih.


Love You All.


Mohon bantuan like komen dan share ya..


Pram & Kailla