
“Om, turunkan aku!!” pinta Kailla menyembunyikan wajahnya di dada Pram. Dia malu sekali, sepanjang lorong rumah sakit banyak keluarga pasien dan petugas medis yang menonton adegan Pram yang menggendongnya.
“Kakimu kotor, Kai. Sedikit lagi kita sampai.” tolak Pram.
Sesampai di ruangan yang dimaksud, segera Kailla membuka pintu kamar rawat. Mereka disambut oleh suara peralatan yang terdengar hampir sama dengan di ruang ICU. Hanya saja ruangan saat ini lebih luas dan nyaman. Alat-alat yang menempel di tubuh daddy juga tidak sebanyak sebelumnya.
Pram menurunkannya di atas sofa kemudian mengambil sandal rumah sakit di lemari kecil samping pintu untuk dipakai gadis itu.
“Om..” panggilnya ragu. Dia berjalan mendekati tubuh daddynya yang masih betah tertidur. Tangannya gemetar, menggengam tangan sang daddy.
“Dad....” panggilnya lirih. Air matanya menetes kembali.
Melihat Kailla yang kembali menangis, Pram memeluk tubuh gadis yang sedang bergetar itu dari belakang, berbisik di telinganya “Daddy sudah bangun tadi, Kai.”
“Hah! Benarkah?” Dia langsung menatap Pram mencari kejujuran di manik mata milik laki-laki tampan itu.
“Iya, tapi daddy belum bisa berbicara. Daddy juga tidak bisa bergerak dan berjalan untuk sementara ini. Setelah kondisinya sehat kembali, daddy harus menjalani terapi. Tapi dia bisa mendengarkan semua yang kita bicarakan,” jelas Pram mengeratkan pelukannya.
Wajah Kailla yang berurai air mata seketika menjadi cerah kembali. Dia melepaskan diri dari pelukan Pram, menarik kursi yang tidak terlalu jauh darinya dan duduk di samping sang daddy. Matanya tak berkedip, menunggu daddynya terbangun lagi.
“Ayolah, daddy baru saja tertidur. Kita kembali ke kamarmu. Kamu juga butuh istirahat. Biarkan Sam dan Donny yang menjaganya.” Pram berkata, menarik Kailla untuk mengikutinya.
“Aku mau jadi orang pertama yang daddy lihat setelah dia bangun nanti.”
“Nanti Sam akan menghubungimu kalau daddy sudah bangun,” jelas Pram lagi.
“Om saja yang tidur disana, aku mau disini saja menunggu daddy. Aku gak mau kemana-mana.” Kailla menjawab ketus, menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
Ayo dong Kai.. Aku mau tidur di mana kalau tetap disini. Atau kamu mau berbagi sofa itu, aku tidak keberatan,” rayu Pram lagi. Dia memilih duduk tepat di sebelah Kailla.
“No!!” Kailla masih menolak tegas, mengerucutkan bibirnya.
“Baiklah, berarti kamu tidak keberatan kalau aku menciummu di depan mereka.” bisik Pram di telinga Kailla sambil melirik kedua orang asisten yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
Kailla bergidik, berusaha mendorong Pram menjauh darinya.
“Sam, ponselku dimana?” tanya Kailla menatap Sam yang sedang tertawa cekikikan menutup mulutnya menonton kedua majikannya.
“I-itu.. sepertinya masih di kamar Non.” Sam menjawab terbata-bata. Terkejut mendapat pertanyaan yang tiba-tiba.
“Kamu mau apa?” tanya Pram mengeluarkan ponselnya dari kantong celana. Setelah memastikan semua pesan-pesan Anita terhapus dan nomor ponsel Anita terblokir, dia menyerahkan ponselnya pada Kailla.
Dia menerima ponsel Pram kemudian mendownload salah satu game kesukaanya. Dan mulai memainkannya.
“Aku mau menunggu daddy disini dan tidak mau tertidur. Jadi aku butuh melakukan sesuatu,” ucapnya pada Pram.
“Lihat saja sampai berapa lama kamu bisa menahan untuk tidak tidur. Kalau tidak bisa membujukmu istirahat di kamarmu saat ini, berarti harus menunggumu tertidur dulu.” Ucap Pram dalam hati seraya tersenyum licik.
“Baik, kemarilah!” pinta Pram membawa Kailla ke dalam dekapannya.
Sambil menunggu Kailla tertidur, Pram memerintahkan Sam ke kantor untuk mengambil berkas-berkas yang harus diperiksa dan ditandatanganinya.
“Sam, nanti langsung bawa semua berkasnya ke kamar Kailla. Saya akan memeriksanya malam ini.”
“Baik Pak.”
****
Kailla terbangun dari tidurnya setelah mendengar ponselnya berdering. Masih dengan mata terpejam dia menerimanya tanpa melihat nama si penelepon.
“Non, Bapak sudah bangun.” Terdengar suara dari seberang telepon. Langsung Kailla turun dan berlari menuju ruang rawat daddynya. Dia bahkan tidak mempedulikan panggilan Pram yang menyusulnya dari belakang.
Ceklek..
“Dad..” sapanya begitu masuk dan melihat sang daddy dari dekat. Di melihat daddynya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Daddy jangan nangis, aku baik-baik saja. Daddy mau menyentuhku?” Segera dia menuntun tangan daddynya yang tak bertenaga untuk menyentuh wajahnya. Air matanya jatuh kembali.
Daddy hanya bisa menatap, tampak bibir itu bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada satu kata pun yang bisa keluar dari mulutnya.
“Aku mencintaimu, Dad.” tampak Kailla mencium kedua pipi sang daddy, menghapus bulir bulir air mata yang mulai mengalir di pelipis daddynya.
Dia memilih duduk disisi tempat tidur, tidak mau berpindah sama sekali, terus menerus mengenggam tangan keriput yang melemas tak bertenaga. Menidurkan kepalanya di ranjang yang sama, dia bisa mendengarkan deru nafas pelan dan teratur daddynya.
“Kai, ayo.. Daddy harus istirahat,” bujuk Pram supaya gadis itu mau berpindah setelah hampir setengah jam Kailla tetap duduk disisi ranjang tanpa bergerak sedikitpun.
“Malam ini aku mau tidur disini,” jawab Kailla singkat tidak mau melepas gengaman tangannya pada sang daddy sama sekali.
“Tapi kamu juga butuh istirahat, Kai. Besok kita kesini lagi,” bujuknya. “Ada yang harus aku bicarakan dengan daddy, sebelum daddy tertidur lagi,” lanjutnya lagi.
Kailla akhirnya mengalah, merelakan kursinya diambil alih oleh Pram. Terlihat Pram menggenggam tangan Pak Riadi memberinya semangat dan sebuah senyuman penuh keyakinan.
Kemudian dia menunduk membisikkan sesuatu.
“Dad, jangan khawatir. Aku lelaki bertanggung jawab, aku akan menjaga putri dan perusahaanmu seperti daddy menjaganya selama ini. Daddy harus cepat pulih, supaya bisa menikahkan Kailla denganku. Daddy mau kan melihat kami menikah? Aku berjanji akan memenuhi semua harapan-harapanmu, Dad.” ucap Pram kemudian memeluk tubuh yang terbaring itu.
****
“Kai, ayo kembali ke kamarmu. Aku masih ada kerjaan yang harus diselesaikan.” bujuk Pram setelah memastikan Pak Riadi sudah tertidur.
“Aku tidur disini saja Om,” tolaknya bersiap merebahkan diri di sofabed yang sudah dibentangkan menjadi tempat tidur. Sekilas Pram melirik Donny yang sedang duduk di samping ranjang pasien.
“Kalau kamu tidur disini, Donny tidur dimana?” tanya Pram masih berusaha membujuk.
“Tuh!! Kailla menunjuk ke arah sofa single yang masih kosong.
“Terus aku?”
“Om bisa balik ke kamarku, bukannya masih ada kerjaan.” Kailla menjawab singkat tanpa berpikir dua kali.
“Astaga anak ini. Apa yang ada di otaknya. Mana mungkin aku membiarkannya berdua dengan Donny di kamar ini. Dua hari yang lalu saja aku sudah kecolongan sekali, masa sekarang harus kecolongan di depan mata.”
“Kai, ayolah ini sudah malam. Donny sudah mengantuk, kita harus pergi sekarang.” bujuk Pram lagi masih berusaha bersabar.
“Don, kamu tidak keberatan kan kalau tidur disana?” tanya Kailla menunjuk sofa kosong di depannya.
“Tidak Non.” Donny menjawab singkat.
“Oke, tidurlah kalau sudah mengantuk!” perintahnya pada Donny sambil memejamkan matanya.
“Ya Tuhan....,” ucap Pram. Terlihat dia menghela napas berkali-kali, berusaha bersabar menghadapi kelakuan Kailla.
****
Terimakasih dukungannya ya. Love you all.