
“Kai, kamu kenapa?” tanya Pram sedikit khawatir melihat Kailla yang sedang duduk di atas lantai berkarpet bulu di kamarnya. Wajahnya sayu, sorot matanya menerawang. Para asisten baru saja keluar setelah membereskan kamar dan memastikan semua sudah rapi seperti semula.
Gadis itu masih tetap diam, memeluk lututnya yang tertutup gaun panjang berwarna peach. Anak rambut sebagian turun, terlepas dari jepitan crown yang tadinya sudah terpasang rapi di pucuk kepalanya. Beberapa helai rambut menjuntai di wajahnya yang sedikit berkeringat dan berantakan.
Pram berjongkok mendekati Kailla yang masih tetap diam dengan nafasnya yang naik turun.
“Kai...” panggil Pram lagi, menangkup wajah manis yang selalu terlihat menggemaskan di berbagai ekspresi.
“Aku tidak akan memarahimu, jangan seperti ini. Ayo bangun, kita akan mencarinya lagi.” bujuk Pram.
Kailla menghela napas kasar, “Aku hanya capek Om!”
Mendengar jawaban Kailla, Pram tergelak. “Hahahaha...!!” Dia langsung berdiri kemudian memilih duduk di sofa sembari mengecek ponselnya, membiarkan Kailla melepaskan penatnya seorang diri.
Baru saja Pram mendudukan tubuhnya di sofa, Kailla tiba-tiba berlari menuju lemari berisi koleksi tas-tasnya.
“Aku sudah ingat!!” ucapnya setengah berteriak. Segera dia meraih salah satu tasnya, menumpahkan seluruh isinya dengan buru-buru ke atas tempat tidurnya.
Dan benar saja, kotak cincin itu ada disana. Senyum langsung terukir dibibirnya. Dia menarik Pram untuk melihatnya. “Aku sudah menemukannya, kita bisa menikah sekarang.”
Mata Pram membulat begitu melihat salah satu benda yang ikut berserakan di atas tempat tidur.
Deg—
Keraguannya menjadi kenyataan, bahkan Kailla belum meminum pil KBnya sama sekali.
“Kai, kamu belum minum pilnya?” tanya Pram menunjuk pil yang masih tersegel rapi. “Bukannya dokter menganjurkan mulai diminum saat itu juga.” lanjutnya lagi.
“Iya, aku lupa,” ucap Kailla lirih. Wajahnya langsung berubah seketika.
Pram langsung memeluknya, “Tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan Kai. Maafkan aku.”
Pram meminta Sam menghubungi pihak MUA kembali setelah melihat keadaan Kailla yang berantakan.
(Yang di tengah itu MUA ya.. soalnya nyari foto Om Pram berdua sama Kailla aja susah, gak ketemu2. Daripada nunggu, malah gak jadi nikah, author nikahkan saja seadanya, yang penting sah!!😀😀)
***
Pram dan Kailla sudah tiba di salah satu resort di Jakarta yang disulap menjadi tempat upacara pernikahan. Pram sengaja memilih tempat di pinggir pantai sesuai dengan impian Kailla sejak kecil. David dan beberapa manager perusahaan yang diminta Pram untuk menjadi saksi pernikahan juga sudah terlihat hadir disana bersama dengan beberapa orang dari catatan sipil.
Upacara pernikahan berjalan lancar. Terlihat pengantin saling memasangkan cincin pernikahan diakhiri kecupan manis dikening pengantin wanita. Setelah mereka menandatangani beberapa berkas pernikahan, mereka pun dinyatakan sah sebagai suami istri secara agama dan negara.
Beberapa tamu yang hadir tampak menyalami dan mendoakan keduanya. Tidak ada yang istimewa, pernikahan ini hanya sebuah pengesahan saja. Tidak ada perayaan, Pram dan Kailla sepakat akan merayakan pernikahan ini setelah orang yang mereka cintai kembali sehat dan bisa hadir berbagi kebahagiaan.
Tampak Kailla sedang berdiri di pinggir pantai memandang ombak yang sedang berlomba-lomba mencapai daratan. Dia terpaksa mengangkat salah satu sisi gaunnya supaya tidak basah terkena air laut. Hembusan angin menerpa wajah cantiknya, membuat rambut yang terjepit rapi itu harus terurai kembali di beberapa sisi.
“Aku mencintaimu!” ucap Pram tiba-tiba, memeluk Kailla dari belakang.
“Kamu mengagetkanku Om!” Pekik Kailla, tiba-tiba ada dua tangan menelusup di pinggang dan mendekap erat dirinya.
“Terimakasih sudah mau menjadi istriku. Aku berjanji akan mencintaimu di sisa hidupku.” Pram mengeratkan pelukannya dan mengecup pipi yang memerah tertiup angin laut.
***
Setelah resmi menjadi suami istri, Pram memilih menemui mertuanya terlebih dulu sebelum membawa pulang Kailla ke apartemennya. Tampak Pram menggandeng Kailla masuk ke dalam rumah menemui Pak Riadi yang sedang menikmati suasana sore di halaman belakang.
“Dad...” panggil Kailla setengah berlari menghampiri daddynya. Dia memeluk dari belakang, mencium kedua pipi cekung sang daddy.
“Dad, kamu menyukainya?” tanya Kailla menunjukkan cincin pernikahan yang terselip di jari manisnya.
Dengan susah payah Pak Riadi menggerakan tangannya untuk mengelus kepala putrinya.
Pram ikut bergabung, mengambil alih mendorong kursi roda Pak Riadi. Membawa laki-laki tua itu lebih mendekat ke arah kolam ikan koi kesukaannya.
“Dad, aku dan Kai akan pulang ke apartemen malam ini.” ungkap Pram, membuat Kailla melotot seketika menatapnya.
“Aku mau tidur disini malam ini! Daddy baru 2 hari pulang dari rumah sakit.” Kailla berusaha mengemukakan pendapatnya.
“Dad, kita permisi dulu,” pamit Pram kemudian menyerahkan daddy pada sang perawat.
“Kai, ada yang harus kita bahas?” lanjutnya sambil membantu gadis yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya itu berdiri dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
***
“Om, aku mau tetap disini, paling tidak sampai daddy benar-benar membaik,” ucap Kailla begitu mereka sudah berada di dalam kamar.
“Tidak untuk malam ini, ayo bersiap-siap!”perintah Pram mengambil koper di dalam lemari dan meletakkannya di atas tempat tidur.
“Bereskan pakaianmu, aku tidak tahu mana saja yang mau dibawa,” lanjut Pram lagi, tersenyum melihat wajah Kailla yang semakin suram dan kecut.
“Payah!!” celetuk Kailla kesal, menghentakan kakinya ke lantai marmer yang tertutup karpet bulu tebal.
“Aku suamimu, Kai! Ingat itu, kalau perlu tulis di keningmu. Jadi setiap saat kamu mengingatnya.” Pram berkata sambil menunjuk kening Kailla dengan telunjuknya.
“Huh! Baru beberapa jam tapi Om sudah mulai mengatur hidupku.” Kailla mengomel sambil membereskan beberapa pakaiannya.
“Besok pagi-pagi sebelum daddy bangun, aku berjanji akan mengantarmu kesini. Kita akan sarapan bersama daddy,” janji Pram. Wajah suram Kailla tiba-tiba menjadi cerah kembali, tersenyum memeluk lengan kekar suaminya.
***
Setelah berpamitan dengan daddynya, mereka pun kembali ke apartemen Pram. Sepi!
Tidak ada penyambutan layaknya pengantin baru.
“Om, kemarikan koperku. Aku akan menyusunnya ke dalam lemari,” perintah Kailla pada Pram yang menyeret koper di belakangnya.
“Kai, kita akan ke Bandung minggu ini. Aku menerima undangan dari mama Anita. Kamu harus ikut denganku,” ucap Pram tiba-tiba.
“Hah!” Kailla terkejut, kenapa laki-laki ini menjadi begini mendominasi. Tidak seperti biasanya. Apakah menjadi seorang suami harus begitu. Kailla terheran-heran melihat perubahan sikap Pram beberapa jam terakhir.
“Setelah dari Bandung, kita akan berangkat ke Austria. Aku sudah menunda keberangkatan cukup lama Kai,” jelas Pram lagi.
Mata Kailla kian terbelalak. “Apa-apaan ini, bahkan daddy belum sembuh benar. Kamu sudah mengajakku untuk meninggalkannya! Aku tidak mau,” tolak Kailla.
Dia memilih duduk di atas tempat tidur, menghentikan semua kegiatannya. Menatap Pram tanpa berkedip.
“Aku akan memastikan daddy benar-benar sudah bisa ditinggal,Kai. Lagipula kita tidak akan lama disana. Aku akan menyelesaikan semua pekerjaanku dengan cepat,” bujuk Pram lagi. Terlihat dia berjalan ke arah lemari dan mengambil sesuatu di dalam sana.
“ Nih! Ambilah Kai. Ini hadiah pertama dariku setelah kamu menjadi istriku.” Tampak Pram menyerahkan sebuah kotak ke tangan Kailla.
“Ini apa?” tanya Kailla bingung, mengoncang-goncang kotak ringan yang baru disodorkan Pram.
“Bukalah! Itu adalah sesuatu yang paling kamu inginkan. Itu adalah jawaban dari semua doa-doamu selama ini.”
***
Terimakasih dukungannya. Mohon bantuan like dan komen ya. Love you all.