
Pagi itu, Donny sedang menyesap kopi hitamnya, ketika Sam masuk ke kamar rawat Pak Riadi.
“Wih! Udah ngopi aja nih Bro!” ucap Sam membawa bungkusan berisi bubur ayam untuk sarapan mereka berdua.
“Jatahnya Bapak dari rumah sakit, Bro!! Tapi aku minta diganti sama kopi aja. Lagian kan Bapak belum bisa makan minum, daripada mubazir,” jelas Donny.
“Non Kailla belum kesini? Barusan ketemu Pak Pram di lobby, kayaknya mau berangkat ke kantor,” cerita Sam.
“Belum, kecapekan mungkin. Hahaha...” Donny terkekeh.
Dia teringat kembali kejadian semalam sebelum Pram dan Kailla pindah kamar.
“Apaan sih?” tanya Sam bingung.
“Aduh gimana ngomongnya ya, takut dosa ngomongin majikan. Hehehe.” Donny terkekeh.
“Udah ngomong aja, lagian puasa masih lama.
“Semalam Pak Pram ditendang Non Kailla sampai jatuh dari sofa. Hahahaha..”
“Wih! emang bosku itu gak ada duanya. Hehe...” Sam terkekeh. “Terus?” lanjut Sam lagi mulai sedikit penasaran.
“Pak Pram kan ngebujuk Non kailla pindah ke kamar mereka, tapi Non Kailla maunya tidur disini. Akhirnya Pak Pram mengalah, berdua mereka tidur di situ.” jelas Donny menunjuk sofa yang dimaksud.
“Terus kamu tidur dimana?”
“Disini! terpaksa Bro. Ditanyain Non Kailla, keberatan gak tidur disini. Masa aku jawab keberatan.” Donny bercerita sambil menyesap kopinya lagi.
“Terus Pak Pram bisa terjun bebas bagaimana ceritanya?” Sam masih penasaran.
“Pak Pram rupanya belum menyerah, sudah tidur berdua disitu masih saja ngotot bujuk Non Kailla. Non Kailla dipepetin terus, Pak Pram bilang sempitlah, panaslah, gerahlah. Haha.. Padahal sofa itu cukup lega buat mereka berdua. Dasar Pak Pramnya aja yang mepet-mepet.”
“Hahaha.. gak nyangka banget orang sedingin Pak Pram bisa modus juga,” celetuk Sam ikut terkekeh membayangkannya.
“Mungkin Non Kailla kesel dipepetin terus, jadi ditendanglah itu Pak Pram sampai jatuh ke lantai,” jelas Donny.
“Nah pas sudah gitu, Non Kailla bangun dengan tampang polosnya terus ngomong gini. Ayo kita ke kamar, ini beneran sempit deh Om, sampai bisa jatuh gitu. Hahaha..” lanjutnya lagi.
“Non Kailla emang dari dulu begitu kelakuannya. Haha...” Sam terkekeh.
“Sampai di kamar sana, kira-kira diapain sama Pak Pram?” Donny menduga-duga.
“Tau ah, bapaknya aja gak pusing. Kayaknya Bapak asik-asik aja tuh.” jawab Sam.
“Iya juga sih. Kalau Bapak denger si Non hamil sama Pak Pram pasti langsung sembuh, abis itu langsung bikin syukuran. Haha.. secara Bapak kan udah kebelet banget pengen momongin cucu.”
Brukkk!!!
Sebuah tas melayang di kepala Sam.
“Non..!” sapa Sam terkejut melihat majikannya sudah di depan pintu. Segera dia mengambil tas yang terjatuh, dan meletakkan di atas meja.
“Kalian berdua pasti ngomongin aku kan?” tanya Kailla menatap tajam pada Sam.
“Tamat riwayatku!!!”
“Bu-bukan Non..,” Sam menjawab terbata-bata.
“Gosip aja kayak ibu-ibu komplek!”
***
Seminggu dipindahkan di kamar perawatan, kondisi kesehatan Pak Riadi semakin hari semakin membaik. Walaupun masih belum bisa bicara dan bergerak, tapi beberapa alat bantu sudah mulai dilepas dari tubuhnya. Pram sendiri sejak beberapa hari yang lalu sudah mulai berkantor. Dia hanya akan datang setelah pekerjaan kantornya selesai dan memilih tidur di rumah sakit menemani Kailla.
Terlihat Kailla menaikkan ranjangnya daddynya, supaya lebih leluasa untuk menyuapi makanan.
“Daddy makan ya, aku suapin.” Kailla memasangkan celemek di leher daddynya. Sampai saat ini Pak Riadi belum bisa makan dengan baik, sebagian makanan akan tumpah dan mengotori pakaiannya. Dia juga belum bisa mengkonsumsi makanan padat. Jadi setiap hari hanya makan bubur dan jus buah.
Pak Riadi hanya bisa mengangguk pelan kadang menggeleng. Itupun dilakukan dengan susah payah. Kailla harus berusaha keras menahan air matanya setiap mengurus daddynya. Dia tidak mau daddy melihatnya sedih dan menangis. Menurut dokter minggu depan, Pak Riadi sudah diizinkan pulang, tapi harus rutin melakukan terapi di rumah sakit.
Siang itu daddy baru saja tertidur setelah disuapi segelas jus buah. Kailla sendiri memilih berdiri di depan jendela besar, memandang jalanan di depan rumah sakit. Sejak daddy masuk rumah sakit dia bahkan tidak pernah sekalipun keluar dari gedung 5 lantai itu. Satu-satunya hiburannya adalah menikmati pemandangan dari jendela besar ini.
Sudah seminggu ini, Kailla tertarik dengan seorang pedagang ikan di depan rumah sakit. Biasanya setiap berjualan dia akan membawa anak perempuannya yang masih sangat kecil. Dan hari ini dia berencana untuk melihatnya dari dekat. Setelah memastikan daddy tidur, dia pun keluar dari rumah sakit dan menghampiri si pedagang ikan. Tadinya dia mau berpamitan dengan Sam atau Donny. Tapi kedua orang itu sedang makan siang di kantin rumah sakit. Akhirnya Kailla cuma bisa menitip pesan ke perawat jaga.
Begitu sampai di lapak si penjual ikan yang hanya ditutupi terpal biru, Kailla berjongkok melihat ikan yang ada di toples-toples kaca.
“Ini ikan apa Pak?” tanyanya.
“Cantik-cantik warnanya.” Kailla menatap ikan-ikan itu tanpa berkedip.
“Harganya berapa ini Pak?” tanya Kailla lagi.
“Yang di plastik itu 5 ribu, kalau di toples 35 ribu, Neng,” jawab di penjual.
Tidak jauh dari tempat Kailla berjongkok, tampak anak perempuan yang sering diperhatikannya dari kamar rawat daddynya. Dia pun mendekati si anak perempuan.
“Hai anak manis! Namanya siapa?”
Anak perempuan berumur sekitar 5 tahun yang sedang memeluk boneka usang itu pun menoleh sekilas kearahnya. Anak itu tidak menjawab. Matanya sayu, menatap sebuah gerobak tidak terlalu jauh dari tempat duduknya sekarang. Tampak sebuah gerobak es krim yang sedang dikerubungi anak-anak.
“Kamu mau?” tanya Kailla lagi.
Wajah anak itu terlihat ragu, tapi akhirnya dengan malu-malu dia mengangguk.
“Ayo!” Kailla menggandeng tangannya dan mengajaknya menghampiri si penjual es krim.
“Mau berapa cup? Mau rasa apa saja?” tanya Kailla setelah mereka sudah di depan gerobak.
“Boleh dua?” tanya anak itu ragu menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.
Kailla tersenyum, “ Tentu!” Kemudian dia meminta ke penjual es krim menyiapkan sesuai dengan keinginan anak perempuan itu.
“Kamu suka?” tanya Kailla setelah mereka kembali duduk di tempat semula.
Terlihat anak itu mengangguk, mulutnya belepotan penuh dengan lelehan es krim coklat yang dipesannya.
“Nama kamu siapa?” tanya Kailla mengulang kembali pertanyaan yang sama.
“Della tante.” jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari es krim di tangannya.
“Kenapa tiap hari main kesini? Disini kan panas.”
“Nemenin ayah, tante. Kata ayah kalau di rumah gak ada yang jagain Della.”
“Ibunya Della dimana?”
“Di surga tante.” jawab anak itu tanpa ekspresi. Dia tetap menikmati es krim di tangannya.
Deg—
Kailla terenyuh melihat gadis kecil itu. Nasibnya jauh lebih baik. Walaupun sama-sama tidak memiliki ibu, hidupnya masih berkecukupan. Daddy dan Om Pram tidak pernah membiarkan dia kekurangan. Dia menatap lagi ke arah ayah sang gadis kecil yang sedang mengusap keringat di dahinya dengan ujung kaos lusuhnya.
“Setiap hari kamu selalu ikut ayah jualan ikan?” tanya Kailla lagi mengusap lembut kepala anak perempuan itu.
Anak itu mengangguk, “aku juga ikut kalau ayah pergi cari ikan di sungai.”
Tapi ini sudah 3 hari tidak ikut, ikannya ayah tidak laku.”lanjutnya lagi dengan wajah sedih.
“Jangan sedih, nanti juga pasti laku.” hibur Kailla.
***
Sam dan Donny yang baru saja kembali dari makan siang, heran melihat kamar rawat yang terlihat sepi. Hanya terlihat Pak Riadi yang sedang tertidur.
“Non Kailla dimana ya?”tanya Sam heran, memandang sekeliling mencari jejak-jejak putri majikannya.
“Paling juga balik ke kamarnya.” Donny menjawab sambil merebahkan diri di atas sofa bersiap memejamkan mata, mengganti waktu tidurnya semalam yang terganggu karena ulah kedua majikannya. Sam sendiri memilih duduk meluruskan kakinya, memainkan game di ponselnya.
Tak lama seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi Pak Riadi dan meminta izin untuk ganti shift.
“Terimakasih,” ucap Sam kepada perawat yang sudah selesai memeriksa dan bersiap keluar dari ruangan. Sam pun akhirnya memilih mengikuti jejak Donny memejamkan matanya.
***
Layar ponsel Pram berkedip-kedip saat dia sedang memimpin rapat di kantor RD Group. Sekilas melihat di layar, muncul nama Kailla disana.
“Iya Kai..” jawab Pram setelah berada di luar ruang rapat.
“Ma-maaf Pak.....”
“Kamu siapa? Bagaimana ponsel ini bisa ada ditanganmu?” potong Pram panik setelah mendengar suara laki-laki asing menggunakan ponsel milik Kailla.
Maaf telat up ya...terimakasih dukungannya.