
Begitu pintu lift yang mengantarnya ke lantai 1 terbuka, Pram segera berlari keluar. Dia sudah tidak peduli dengan tatapan keheranan staff-staffnya. Tujuannya sekarang adalah mencari Bayu dan meminta penjelasannya.
“Apa yang terjadi?” tanya Pram setelah berada tepat di hadapan Bayu. Saat ini mereka berada di halaman kantor KRD. Terlihat Pram sedang menahan amarahnya saat ini.
“Begitu Bos menghubungiku, aku langsung ke loby untuk menunggu Non Kailla. Tapi sampai sekarang aku tidak melihat Non Kailla keluar dari lift,” jelas Bayu sambil tertunduk.
“Masalah pertamaku sudah datang!” ucap bayu dalam hati.
“Kamu kemana saja tadi?” Pram bertanya. Tatapannya masih sama, tajam dan siap menerkam.
“Maaf Bos, sewaktu bos menghubungiku, aku sedang makan siang,” sahut Bayu.
“Cari sampai ketemu!” perintah Pram. Dia juga tidak mungkin memarahi Bayu.
Baru saja Pram akan menghubungi nomor ponsel Kailla, tapi dari jauh Pram melihat Kailla sedang berjalan perlahan ke arah mereka. Mata Pram membulat saat menyadari Kailla sedari tadi berada di jalanan kota Wina tanpa pengawasan siapa pun.
Terlihat Kailla memperlambat langkahnya saat sudah berada dekat dengan Pram. Ada ketakutan terpancar di wajah cantiknya. Dia menyadari kesalahannya, yang diam-diam pergi tanpa memberitahu siapapun.
“Kamu dari mana saja Kai?” tanya Pram saat Kailla sudah berdiri di hadapannya dengan menunduk.
Kailla menatap Pram dan Bayu bergantian, sebelum menunduk kembali. Tidak ada jawaban sama sekali.
“Habis aku kali ini! Aku terlalu lama berjalan-jalannya.”
Melihat Kailla yang masih saja diam dan tidak mau menjawab, kembali Pram membuka suaranya.
“Bay, tolong kemasi barang-barang di ruang kerjaku. Minta Pieter membantumu!” perintah Pram pada Bayu. Saat ini dia harus bicara berdua dengan istrinya. Ada yang aneh dengan Kailla sepertinya.
Dengan sekali sentakan, dia sudah meraih tangan Kailla dan membawa istrinya itu masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Masuk!” perintah Pram, setengah mendorong Kailla masuk ke dalam mobil, lalu ikut menyusul duduk di dalam.
“Pak, bisa tinggalkan kami!” perintah Pram pada sopir mereka yang memang sengaja dipilihkan Pieter yang bisa menguasai bahasa Indonesia supaya memudahkannya dan Kailla.
“Apa maumu Kai?” tanya Pram setelah tertinggal mereka berdua di dalam mobil. Kedua tangannya terlipat di dada, dia memilih untuk menatap lurus ke depan.
“Aku... aku...,” Kailla terlihat ragu dan takut untuk menjawab. Bukannya dia tidak tahu, saat ini Pram sedang marah padanya.
“Jawab dan tatap aku Kai! Apa maumu?” Pram menatap tajam, kali ini dia menatap Kailla langsung, tangan yang tadi terlipat di dada, sekarang sudah mengepal pertanda dia sedang menahan kemarahannya.
“Kenapa tidak menjawab? Kamu baru saja membuat kekacauan di ruang rapat. Aku belum sempat memarahimu, kamu sudah menambah masalah baru lagi!” omel Pram.
Pram menghela napas berkali-kali, membuang pandangannya keluar jendela. Semakin melihat istrinya, dia semakin kesal. Semakin pertanyaannya tidak dijawab, semakin pula emosinya terpancing.
Lama terdiam, akhirnya Kailla membuka mulutnya juga.
“Aku hanya ingin berjalan-jalan menikmati kota Wina,” sahut Kailla setelah mengumpulkan keberaniannya. Di sedang berusaha menyusun kata-kata yang bisa memukul telak suaminya sehingga tidak jadi memarahinya.
“Lalu apa kesalahanku?” Kailla bertanya balik. Beberapa jam ini dia berpikir, selama ini dia tidak memiliki kesempatan mengatakan apa isi hatinya. Mungkin saat ini, waktunya dia berontak. Memberitahu kepada dunia apa keinginannya sendiri.
“Apa kesalahanmu?” Pram melolot kali ini. “Masih belum tahu apa kesalahanmu?” tanya Pram sekali lagi.
“Aku hanya berjalan-jalan dari sini sampai ke ujung jalan sana,” ucap Kailla santai, telunjuknya mengarah ke jalan raya.
Entah dia memiliki keberanian dari mana, tapi yang jelas dia sudah lelah harus diatur dan diperlakukan seperti anak kecil. Selama 20 tahun dia memilih diam dan menuruti semua kata-kata Pram dan daddy.
Deg— Kata-kata Kailla seperti sebuah batu besar yang jatuh tepat mengenai kepalanya.
“Kai....., kamu kenapa?” Pram balik bertanya. Nada bicaranya sedikit melembut. Memarahi Kailla saat ini hanya akan sia-sia. Istrinya sedang berontak padanya. Karena terlalu emosi, dia lupa cara menjinakkan kucing kecil liar di hadapannya.
“Aku hanya ingin menjadi seperti mereka.” Kailla menunjuk orang-orang yang sedang berjalan melintas di depan mobil mereka.
Pram menyentuh kening Kailla tiba-tiba.
“Kamu tidak sedang sakit kan?” tanya Pram. Kali ini dia memilih menatap wajah istrinya. Ada air yang sudah mengkristal di matanya, bersiap turun sewaktu-waktu.
“Aku tidak mau dikawal kemana-mana. Aku mau seperti orang lain. Aku mau bisa melakukan apa saja,” protes Kailla lagi.
“Kita lanjutkan pembicaraan ini di rumah, aku sedang tidak ingin berdebat disini,” ucap Pram. Dia sudah bersiap keluar memanggil sopir mereka.
“Aku tidak mau!” tolak Kailla dengan wajah cemberut. Sontak membuat Pram mengalihkan lagi pandangannya, memilih menatap istrinya.
“Kamu sudah berani membantahku sekarang Kai?” Pram tersenyum kecut. Wajah menggemaskan istrinya sudah mulai kembali.
“Aku tidak mau, kamu akan meniduriku lagi kalau di rumah,” ucap Kailla dengan polosnya.
Jawaban Kailla sontak membuat Pram terbahak. Kaillanya kembali, istri kecil yang tadi mencoba menggertaknya sudah pulang.
“Siapa yang mengajarimu untuk membantah suamimu? Pieter?” tanya Pram tiba-tiba.
“Apa hubungannya dengan Kak Pieter,” sahut Kailla.
“Kamu baru duduk di sebelahnya beberapa jam, tapi kamu sudah berani memanggilnya kakak. Coba ulangi? Aku ingin mendengarnya sekali lagi.” Pram kali ini menyentil kening Kailla.
“Br*ngsek Pieter! Apa yang dimasukkan ke dalam otak istriku saat ini. Sampai dia berani membantah semua ucapanku.”
“Dia tidak mengatakan apa-apa. Aku tadi hanya memintanya menerjemahkan padaku, apa yang dibicarakan laki-laki tampan yang duduk.. ooopss!” Kailla menutup mulutnya seketika, di keceplosan menceritakan laki-laki lain di depan suaminya. Sambil tersenyum mencuri pandang pada Pram.
“Kamu sudah mulai nakal sekarang!” Pram tersenyum. “Ayo kita pulang, aku mau mengigitmu!” ucap Pram
“Ah.... aku tidak mau,” tolak Kailla.
Tampak Bayu berjalan masuk ke mobil, setelah memastikan kedua majikannya sudah berada di dalam mobil.
“Ini Bos!” Bayu menyodorkan ponsel Kailla dan dua lembar sketsa yang dibuat Kailla di ruang rapat. Pram mengambilnya dan menatap sketsa itu sambil tersenyum.
“Kai, ini ponsel baru mu dan ini milikmu,” ucap Pram menyerahkan keduanya pada istrinya.
“Bersiaplah! kita akan makan di luar setelah ini,” titah Pram. Terlihat dia menghela napas dan tersenyum menatap istrinya. Kedua tangannya menangkup wajah Kailla.
“Persiapkan dirimu untuk 3 hadiah yang terakhir. Aku mungkin tidak bisa mengganti semua kekecewaanmu selama ini, juga tidak bisa mengabulkan semua keinginanmu. Tapi aku berharap 3 hadiah dariku ini, bisa membuktikan seberapa besar aku mencintaimu.” ucap Pram lembut.
***
Terimakasih.