
Pagi ini Pram dan Kailla sudah terlihat duduk di ruang tunggu sebuah Rumah sakit Ibu dan Anak. Kailla yang dengan manjanya bersandar di dada Pram sambil memainkan game di ponsel menunggu namanya dipanggil.
“Kai..,” panggil Pram membuyarkan konsentrasi Kailla.
“He..em” Kailla menjawab tanpa menatap Pram sama sekali. Otak dan jemari tangannya sedang lincah-lincahnya bertarung memenangi game di ponselnya.
“Yah!! Om sih manggil-manggil.. jadinya kan game over.” gerutu Kailla. Menatap layar ponselnya dengan pandangan kesal.
“Hehehe... “ Pram terkekeh melihat Kailla yang masih bersungut-sungut, mengoceh tidak berkesudahan. Wajah itu selalu terlihat cantik di setiap ekspresi.
“Ibu Kailla Riadi..” panggil suster menghentikan ocehan Kailla yang tidak selesai-selesai.
“Ibu Kailla Riadi....,” panggil suster sekali lagi.
“Iya Sus.” Pram menjawab sambil menarik Kailla berjalan menuju ke ruangan dokter.
Saat ini mereka sedang serius menyimak penjelasan dokter mengenai kontrasepsi apa saja yang bisa mereka pilih nanti. Terlihat Kailla bergidik ngeri mendengarkan beberapa pilihan yang ditawarkan dokter.
“Aku gak mau disuntik dan dipasang alat- alat itu,” bisiknya ke telinga Pram. Membayangkan betapa ngilunya ketika jarum suntik dan alat-alat yang dia tidak paham bentuknya seperti apa masuk ke dalam tubuhnya.
Pram menatap sekilas, dan tersenyum menatap Kailla yang masih serius mendengar penjelasan dokter.
“Baiklah aku putuskan menggunakan pil saja. Lagian hanya itu yang paling tidak menyakitkan,” putus Kailla setelah mendengar penjelasan panjang dari Pak dokter.
“Kamu yakin?” tanya Pram yang malah ragu dengan keputusan Kailla. Pram tahu jelas Kailla sulit minum obat. Belum lagi sifat ceroboh dan pelupanya.
Kailla mengangguk dengan yakin. Kalau memang sudah begitu, Pram bisa apa. Dia hanya bisa mengikuti kemauan Kailla.
“Ya sudah, kalau kamu sudah yakin, kita minta diresepkan saja pil yang cocok untukmu sekarang,” putus Pram.
“Tapi jangan pernah mengomeliku kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kalau sampai kamu lupa meminum pilnya,” bisik Pram di telinga Kailla. Dia terkekeh melihat mata melotot Kailla yang menatap tajam padanya.
***
“Apa maksud ucapan Om tadi?” Kailla masih memberondong Pram pertanyaan yang sama sejak keluar dari ruangan dokter. Terlihat dia duduk dengan tidak tenang disamping Pram yang sedang menyetir.
“Kai... kalau kamu yakin ya sudah. Kenapa jadi ragu lagi. Tidak usah dibebani, lagian kalau sampai hamil juga tidak apa-apa. Aku akan menerimanya dengan senang hati,” jelas Pram.
“Hari ini Ste akan mengambil gaun pengantinmu di butik. Nanti aku akan meminta sopir kantor mengirimnya ke rumah,” ujar Pram.
“Beberapa hari kedepan, aku mungkin akan sibuk di kantor. Setelah itu aku langsung ke Bandung. Kamu baik-baik di rumah, kuliah yang rajin,” lanjutnya lagi menepuk puncak kepala Kailla.
Setelah mengantar Kailla ke kampus, Pram pun melajukan mobilnya menuju kantor. Dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum ke Bandung. Rencananya selain menemui ibu Anita, dia juga akan meninjau proyek perusahaan yang di Bandung.
***
Pagi ini Kailla sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Sebelum berangkat dia menyempatkan dirinya untuk menyapa daddynya yang sedang menikmati sarapan di taman belakang.
“Selamat Pagi, Dad,” sapa Kailla, memeluk tubuh rentah daddynya, mencium pipi keriputnya.
“Pagi Dear, kamu sudah mau ke kampus?” tanya Pak Riadi mengecup kening putri kesayangannya.
“Iya, Dad.” Kailla menjawab singkat, mendudukan tubuhnya di kursi sebelah sang daddy.
“Temani Daddy sarapan ya. Sebentar lagi kamu akan menikah, Daddy pasti akan merindukanmu,” ucap Pak Riadi.
“Ah... Daddy, aku kan tidak pergi jauh. Aku akan sering mengunjungimu Dad,” hibur Kailla menatap sang ayah yang terlihat sedih.
“Aku mencintaimu, Dad. Daddy yang terbaik untukku. Tidak ada yang bisa menggantikanmu, Dad,” ucap Kailla memeluk daddynya. “Daddy jangan menangis, aku jadi sedih,” lanjutnya lagi.
“Daddy juga mencintaimu. Pram menghubungimu? Sudah beberapa hari dia tidak kesini.” tanya Pak Riadi.
“Semalam Om sempat menghubungiku, hari ini Om ke Bandung, Dad.”
Tampak Kailla mengambil sepotong roti mengoleskannya dengan selai coklat dan menumpuknya dengan potongan roti yang lain.
“Daddy mau kubuatkan?” tawar Kailla yang dijawab gelengan oleh daddynya.
“Kai.... berjanjilah kamu harus bahagia. Daddy akan tenang kalau melihatmu bahagia.” pinta Pak Riadi.
“Iya Dad.. Oh ya, Kailla berangkat dulu ya. Takutnya telat. I love you, Dad,” pamit Kailla.
Kailla berjalan meninggalkan Pak Riadi yang masih menatapnya sampai menghilang.
“Dia putri kesayanganku,” gumamnya.
***
Terlihat mobil Pram memasuki salah satu perumahan mewah di kota Bandung. Setelah memastikan alamatnya sesuai dengan yang dikirimkan Anita, Pram pun turun dan menekan bel pintu rumah. Tak lama gerbang pun dibuka oleh sekuriti yang berjaga di depan.
“Bu Anita ada di rumah?” tanya Pram pada sekuriti yang sedang bertugas.
“Ada Pak, silahkan.”
Segera Pram memajukan mobilnya masuk ke pekarangan rumah Anita. Pram menatap sekeliling, rumah 2 lantai itu berdiri kokoh di atas lahan yang lumayan luas. Ada kolam renang di sisi kanan rumah. Kehidupan Anita sudah jauh lebih baik dibanding dulu. Setidaknya ada hal baik juga dari kesalahan yang dilakukannya pada Anita dan keluarganya. Dia menekan bel pintu rumah mewah itu, tak lama pun pintu dibuka oleh asisten rumah tangga Anita.
“Maaf, Bu Anita ada di rumah?” tanya Pram pada sang asisten rumh tangga.
“Ada Pak, silahkan masuk.” Asisten itu mempersilahkan Pram masuk dan menunggu di ruang tamu.
Setelah menunggu beberapa saat, Anita pun muncul dengan mendorong kursi roda ibunya. Pram menghampiri dan berlutut mencium tangan ibu Anita.
“Maafkan aku, Bu.” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Pram.
“Rey... kamu Rey kan?” tanya sang ibu terbata. Air matanya jatuh melihat Pram yang berlutut di depannya.
“Ibu sudah memaafkanmu, Nak. Bagaimana kabarmu sekarang?” tanya Ibu Anita lagi.
“Baik Bu,” jawab Pram singkat masih memeluk kedua kaki Ibu Anita.
“Kamu masih seperti dulu, Rey,” ucapnya mengelus kepala Pram. Ayo duduklah yang benar, Ibu mau mendengar kabarmu sekarang,” lanjutnya lagi.
“Bagaimana kabarnya Ibu?” tanya Pram setelah kembali duduk di sofa. Asisten yang tadi membukakan pintu untuk Pram datang dengan membawa secangkir kopi panas dan cemilan.
“Silahkan diminum, Nak.”
****
Next episode : “Cukup Kai!! Sudah kukatakan akan menghubungimu nanti!” bentak Pram kemudian mematikan sambungan teleponnya sepihak. Dia sedang tidak bisa berpikir jernih saat ini.
Terimakasih untuk dukungannya. Mohon bantuan komen dan likenya ya jika berkenan. Love you all.