Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 137 : Berburu Semangkok Bakso


Begitu pintu ruang kerja tertutup, Pram segera membangunkan Kailla yang masih tertidur pulas menindih sebagian tubuhnya. Maklum saja, mereka harus berbagi tidur di sofa yang sempit.


“Kai.... bangun!” panggil Pram mengguncang tubuh Kailla. Tidak ada reaksi dari Kailla, istrinya itu masih menikmati tidur lelapnya, tidaj terganggu sama sekali.


“Sayang.. bangun,” panggil Pram sekali lagi.


Setelah memanggil beberapa kali, akhirnya Kailla membuka matanya. Menggeliat di atas tubuh Pram yang hampir kesemutan karena ditimpa berjam-jam.


“Kai, bangun.. Sayang. Kenakan pakaianmu, nanti ada yang masuk lagi,” pinta Pram.


Kailla yang belum sepenuhnya sadar, terkejut.


“Tadi ada yang masuk?” tanya Kailla memastikan, setelah mendudukkan dirinya di sofa, hanya dengan berbalut selimut untuk menutup tubuh polosnya.


“Bu Ida..,” sahut Pram singkat. Tampak Pram buru-buru mengenakan celana dan kaosnya.


Melihat Pram saat ini, Kailla teringat dengan acara berita di tv, saat pasangan tertangkap basah di hotel dan digiring petugas. Segera Kailla menutup mulut menahan tawanya yang hampir pecah.


“Jangan menertawakanku!” omel Pram, tampak dia meraih celana dalam dan bra Kailla yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.


“Nih..!” Pram menyodorkan pakaian dalam dengan warna senada itu ke pangkuan istrinya.


“Besok-besok, kalau malam tidak perlu memakainya lagi. Merepotkanku saja!” gerutu Pram, pandangannya masih tertuju pada pakaian dalam berenda milik istrinya.


Pram tampak memijat pundaknya yang masih kesemutan karena terlalu lama ditindih Kailla.


“Kai, ayo kenakan pakaianmu. Di sini tidak aman. Aku tidak mau Bayu tiba-tiba masuk dan melihatmu seperti ini,” pinta Pram setelah melihat Kailla tetap belum mau mengenakan pakaiannya. Kailla bergeming, masih setia menggulung tubuh polosnya dengan selimut. Bahkan saat ini dia kembali berbaring, menikmati keempukan sofa di ruang kerja Pram.


“Kai...!” panggil Pram lagi saat melihat Kailla sama sekali tidak mendengar ucapannya. Istrinya malah bersiap tidur kembali.


“Aku masih mengantuk. Dikunci saja pintunya nanti,” pinta Kailla. Dia masih enggan bergerak.


“Ayolah Kai, aku harus ke kantor sebentar lagi,” ucap Pram seketika mengejutkan Kailla.


“Aku bosan di rumah sendirian,” rengek Kailla. Segera dia bangkit dan memeluk Pram seperti biasanya. Setelah diterkam Pram, dia sepertinya lupa sedang berperang dengan suaminya itu. Perang dingin antara keduanya selesai hanya dengan sebuah penyatuan keduanya.


“Akhir pekan aku akan mengajakmu jalan-jalan lagi,” usul Pram menenangkan Kailla.


“Tapi....” Kailla tidak dapat menyelesaikan kata-katanya, dia sudah sibuk mencium aroma Pram lagi saat ini. Terlihat Kailla menelusupkan wajahnya di leher Pram, menikmati aroma keringat Pram di sana.


“Kai.. kamu kenapa?” tanya Pram heran. Tidak biasanya Kailla bersikap seperti ini. Dia terpaksa menghindar, karena bibir dan hidung Kailla yang menempel terus-terusan di lehernya membuat risih dan tidak bisa bergerak leluasa.


“Aku tidak mengizinkanmu ke kantor hari ini,” ucap Kailla sambil cemberut. Pram terperanjat mendengar ucapan Kailla. Semanja-manjanya Kailla, selama ini istrinya itu tidak pernah begitu kekanak-kanakannya setiap membahas pekerjaannya. Kailla selalu pengertian kalau menyangkut pekerjaan kantor.


Pram menatap aneh, memandang Kailla dari ujung kepala sampai ke kaki.


“Kenapa istriku jadi aneh begini?” batin Pram.


“Kamu baik-baik saja kan Kai?” tanya Pram.


Kailla mengangguk, kali ini dia memilih bergelayut manja di lengan Pram.


“Kenakan pakaianmu Kai, aku harus bersiap ke kantor sebentar lagi!” perintah Pram saat Kailla masih saja betah membungkus tubuh polosnya dengan selimut.


Mendengar ucapan Pram yang tetap bersikukuh untuk berangkat ke kantor, Kailla langsung melepas pelukannya dari lengan Pram. Segera berpakaian tanpa bicara atau merengek lagi. Tapi sekarang kedua matanya jadi berkaca-kaca. Dia tidak mau lagi menatap Pram atau menjawab panggilan suaminya itu.


“Kai..., kamu kenapa?” tanya Pram bingung. Baru saja semuanya baik-baik saja, dalam hitungan detik tiba-tiba istrinya menangis. Tidak mau berbicara lagi padanya. Seperti bukan Kailla yang biasa dikenalnya.


Setelah merapikan pakaiannya, Kailla langsung keluar tanpa bicara lagi. Berjalan menuju kamarnya tanpa mempedulikan Bu Ida yang menatapnya keheranan.


Bagaimana Bu Ida tidak heran, Kailla keluar dengan berurai air mata, tanpa bicara. Sedangkan Pram mengekor di belakangnya, berkali-kali memanggil.


“Sayang...,” panggil Pram lagi, berusaha menyusul Kailla yang sudah masuk ke kamar dan mengunci pintu.


Pram hanya tersenyum kecut mendapati pintu kamar tidurnya kembali di kunci dari dalam.


Menatap jam di pergelangan tangannya, dia segera bergegas. Pagi ini dia ada rapat. Kemarin dia sudah seharian tidak ke kantor, ada banyak pekerjaan yang menantinya.


Pram terlihat keluar dari ruang kerja dengan setelan jasnya. Bergegas menghampiri Kailla di kamar, berharap mood istrinya kembali membaik.


“Kai...,” panggil Pram sembari mengetuk pintu kamarnya.


“Aku harus berangkat ke kantor sekarang, aku ada rapat pagi ini Sayang,” pamit Pram dari balik pintu. Masih berharap istrinya merespon. Dia sedikit khawatir dengan mood Kailla yang berubah drastis dan tidak seperti biasanya.


“Sayang, aku cuma sebentar. Begitu pekerjaanku selesai, aku langsung pulang,” janji Pram. Dia memilih memberi waktu untuk Kailla. Memaksanya juga percuma saat ini. Begitu melewati dapur, dia sempat mampir dan berpesan pada Bu Ida.


“Bu siapkan sarapan untuk Kailla. Apapun yang dia minta. Pastikan dia menghabiskan sarapannya,” perintah Pram.


Baru saja Pram melangkah, terlihat dia berbalik kembali.


“Kalau istriku masih tidak mau makan dan muntah-muntah lagi seperti biasanya, minta Bayu menghubungiku,” lanjut Pram.


“Minta Bayu melaporkan semua hal tentang Kailla, aku harus tahu semuanya. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Kailla dan bayiku.”


“Baik Pak,” sahut Bu Ida.


Sekarang mau tidak mau, Pram harus mengurus sendiri istrinya. Dia harus memastikan Kailla dan kandungannya baik-baik saja. Saat ini di dalam hidup Pram, Kailla dan anak mereka adalah prioritasnya.


***


Kailla baru keluar dari kamarnya menjelang siang. Itu pun karena berkali-kali Bu Ida memanggilnya untuk sarapan.


“Bu, aku mau makan bakso. Dimana aku bisa mendapatkannya,” tanya Kailla saat tiba di dapur. Wajahnya terlihat memelas dan penuh harap. Sudah dari minggu lalu dia menginginkannya. Dan sampai sekarang dia belum bisa mendapatkannya sama sekali.


Deg—


Bu Ida langsung melemas mendengar permintaan Kailla. Saat ini mereka sedang tidak ada di Indonesia. Lalu kemana dia harus mencarinya.


“Minta Pak Pram mencarinya ya Non,” tawar Bu Ida.


“Sekarang Non makan yang ada di meja saja dulu,” ucap Bu Ida menunjukkan sepiring nasi goreng ke depan Kailla. Melihat telur ceplok yang tertata di atas nasi goreng, seketika membuat perut Kailla bergejolak. Mual itu datang lagi.


“Aku tidak mau Bu. Tolong singkirkan,” pinta Kailla segera menutup mulutnya. Berlari ke kamar mandi menumpahkan semua isi perutnya.


Setelah keluar dari kamar mandi, Kailla memilih duduk di sofa menyantap roti tawar dengan segelas jus jeruk seperti biasanya. Terlihat dia mencari-cari sesuatu di ponselnya. Jari-jarinya dengan lincah menggeser layar itu ke atas dan ke bawah.


“Kenapa tidak muncul ya,” celetuknya bingung.


“Apa aku mengajak Bayu saja mencari di sekitar apartemen. Masa sih tidak ada restoran yang menjual masakan Indonesia atau Asia,” ucapnya sambil tersenyum.


Segera dia berlari ke kamar mengambil dompetnya. Dia akan meminta Bayu menemaninya berkeliling mencari bakso. Dia benar-benar menginginkannya saat ini. Sudah terbayang di pelupuk matanya kenikmatan semangkok bakso panas lengkap dengan saos sambal dan pangsit gorengnya.


“Bu, Bayu dimana?” tanyanya pada Bu Ida yang masih sibuk dengan penggorengannya.


“Sepertinya lagi ngopi di luar Non,” sahut Bu Ida.


“Oke, aku akan mencarinya. Aku pergi dulu ya Bu,” pamit Kailla dengan senyum sumringah.


Bu Ida yang sedang sibuk dengan teflon di tangannya sama sekali tidak menyadari kepergian majikannya itu. Dia hanya mengangguk tanpa sadar.


***


Terimakasih.


Love You All