
Pram keluar dari toilet sambil membawa sesuatu di tangannya. Tampak seorang perawat menyediakan wadah untuk Pram dan mengambil alih. Kemudian menunjukkannya pada sang dokter.
Setelah mencuci tangan dan membasuh wajahnya yang sembab, Pram keluar menemui Kailla.
“Sayang, tidak apa-apa.” Hanya itu yang terucap dari bibir Pram, selebihnya dia memilih memeluk dan mencium Kailla. Menghapus air mata yang turun tak berhenti sejak tadi.
“Maaf Pak, Ibu keguguran,” jelas sang dokter yang berdiri di belakangnya. Sebenarnya tanpa dokter mengatakannya, Pram sudah tahu jelas apa yang terjadi pada Kailla.
“Ya, Dok ... saya mengerti,” sahut Pram berbalik, berusaha tegar. Matanya merah, berkaca-kaca. Dengan susah payah ia harus terlihat kuat di depan semuanya.
“Maafkan saya, Pak. Selanjutnya, saya akan melakukan pemeriksaan. Melihat apa masih ada jaringan yang tertinggal di dalam atau tidak. Itu yang menentukan apakah Ibu harus dikuret atau tidak. Saya permisi dulu,” pamit dokter.
Pram mengganguk.
“Sus, yang tadi apakah aku bisa membawanya pulang?” tanya Pram. Ia tidak bisa meninggalkannya di rumah sakit. Ia akan memperlakukannya dengan layak. Bagaimana pun, calon anaknya yang sudah tiada, pernah hadir di hidup mereka.
“Baik Pak, nanti saya akan menyiapkannya,” sahut sang perawat.
***
Pram sudah berada di kamar perawatan menemani Kailla, setelah melakukan serangkaian pemeriksaan. Istrinya sudah bisa tidur dengan tenang.
“Sus, aku titip istriku. Aku harus pulang ke rumah sebentar,” pamit Pram, mengecup kening Kailla yang terlelap.
“Aku mencintaimu,” bisik Pram di telinga Kailla. Mengusap wajah polos yang sekarang tidur dengan lelap.
Pram berlari turun ke parkiran mencari Sam yang memilih menunggu di mobil.
“Sam, aku bawa mobil sendiri, tolong jaga Kailla. Dia ada di ruang Cendrawasih 5,” perintah Pram, sambil menenteng sesuatu di tangannya.
“Ha! tapi ... Pak.” Sam ragu, melihat sendiri penampilannya saat ini. Hanya mengenakan singlet dan kain sarung, tanpa alas kaki.
Pram yang sudah duduk di kursi setir, menatap Sam dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
“Ambil sandal di bagasi!” perintahnya mengarahkan jempol tangannya ke arah belakang mobil. Dia menggelengkan kepalanya menatap penampakan Sam saat ini.
“Aku titip Kailla. Kalau dia bangun tolong sampaikan padanya, aku harus pulang sebentar,” jelas Pram sebelum menutup pintu mobil dan meninggalkan Sam yang masih memeluk kain sarungnya.
***
Seminggu berlalu dari kejadian yang membuat pasangan suami istri itu terguncang. Seminggu ini Kailla tidak mau diajak bicara. Dia hanya menangis dan terus-terusan memeluk Pram. Malam itu seperti malam sebelumnya. Lagi-lagi Kailla menangis. Di awal, dia memang belum menginginkan untuk memiliki bayi, tapi pada akhirnya dia yang paling terguncang.
“Sayang, maafkan aku ....” ucap Kailla. Untuk pertama kalinya Kailla bersuara, setelah seminggu ini memilih diam.
“Aku belum menceritakan padamu. Aku takut, kamu akan memarahiku. Tapi setelah aku berpikir, apakah anakku pergi karena bajing*an-bajing*an itu memaksaku minum minuman keras di malam penculikanku,” cerita Kailla sambil menangis. Ia sudah menahan rasa bersalah ini selama seminggu.
Pram tertegun mendengar kejujuran Kailla saat ini. “Kenapa tidak menceritakannya padaku?” tanya Pram, mengusap wajah menangis Kailla dengan tangannya.
“Aku juga tidak yakin, Sayang,” sahut Kailla menunduk.
“Aku akan melenyapkan mereka seperti mereka melenyapkan bayi kita,” ucap Pram geram. Ia menghela nafas berkali-kali untuk menenangkan emosinya yang terpancing karena ucapan Kailla.
Pram berusaha tenang di hadapan Kailla, tapi hatinya memanas saat ini. Terlihat ia meraih ponsel di atas nakas dan menghubungi seseorang.
“Seret Andi wijaya ke penjara! Penculikan istriku dan pembunuhan mama mertuaku!” perintah Pram di ponselnya.
“Aku ingin dia membusuk di penjara!” lanjut Pram lagi, sebelum memutuskan panggilannya.
“Sayang, ada apa?” tanya Kailla heran.
“Jangan banyak bertanya, tidak perlu mencari tahu banyak hal. Biarkan aku yang membereskan semuanya. Biarkan aku yang melindungimu. Aku yang akan maju pertama kali untuk menjagamu dari kejamnya dunia,” ucap Pram.
“Tidak perlu memikirkan banyak hal, cukup mencintaiku saja. Kamu mengerti?”
Kailla mengangguk, memeluk erat Pram.
“Sayang, jangan menangis lagi. Aku masih cukup kuat, kalau hanya untuk menghamilimu kembali. Hanya saja tidak sekarang, kita akan program saja nanti. Sampai kita benar-benar siap memilikinya.”
“Aku mau membuat bayi kembar untukmu! Jadi kamu cukup melahirkan satu kali saja. Merasakan sakit cukup sekali. Kita akan program untuk itu, mudah-mudahan doaku terkabul,” ucap Pram tersenyum.
Kailla mengangguk. Tersenyum menatap suaminya.
“Jangan menangis lagi. Ini memang proses yang harus kita lewati,” ucap Pram, mengecup kening istrinya.
“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” bisik Kailla pelan.
“Aku tidak perlu mengatakannya lagi, kamu sendiri bisa merasakan seperti apa perasaanku padamu,” sahut Pram tersenyum.
“Sayang ... aku boleh kuliah lagi?” tanya Kailla ragu.
“Ya, selesaikan kuliahmu. Tapi jangan pernah lupa tugasmu setiap pagi dan yang terpenting tugasmu setiap malam,” jawab Pram terkekeh.
“Ah ... jangan menggodaku,” ucap Kailla manja, memukul dada bidang Pram.
“Aku tidak menggodamu. Aku serius. Aku menginginkanmu setiap malam,” sahut Pram tertawa lepas.
***
Tiga minggu berlalu.
Kailla sudah mulai kuliah kembali. Kali ini ia mengambil jurusan design interior seperti yang diinginkannya, tetapi yang membuat ia bersemangat kali ini karena Sam juga ikut kuliah bersamanya. Asistennya itu pun terpaksa mengambil jurusan yang sama hanya karena Kailla memaksanya.
“Sam, ayo kita ke kantor, ya!” perintahnya pada Sam yang sedang berjalan di belakangnya. Mereka baru saja keluar kelas dan sekarang sedang menuju ke parkiran kampus.
“Ke kantor lagi?” tanya Sam heran.
“Ya, aku merindukan suamiku,” sahut Kailla tersenyum.
“Rindu terus, apa tidak bosan, Non?” tanya Sam tiba-tiba.
“Bosan melihat wajah Pak Pram ... hehehe ....” sahut Sam, usil.
“Kadang-kadang, kalau dia mengomeliku ... bosan juga.”
“Dia memintaku datang, ada asisten baru untukku. Bayu sekarang mengawal suamiku. Jadi aku dapat yang baru lagi,” jelas Kailla.
“Aku ... Non?” tanya Sam.
“Kamu turun jabatan! Jadi sopir sekarang!” sahut Kailla usil.
***
Sesampainya di kantor, Stella sudah menyambut keduanya dengan senyum manisnya.
“Nyonya, asisten barumu tampannya luar biasa. Pak Pram sampai ragu untuk mempekerjakannya,” adu Stella.
“Yang benar, Ste?” tanya Kailla, buru-buru masuk tanpa menunggu jawaban Stella lagi.
Ceklek.
Sa ....” Lidah Kailla keluh seketika menatap punggung laki-laki yang sedang duduk di depan Pram. Panggilan sayang yang biasanya di sematkan pada Pram, tiba-tiba hilang dari otaknya. Pikirannya semakin tidak karuan saat melihat langsung wajah si calon asisten.
“Ya Tuhan, ketampanannya bagai bumi dan langit di bandingkan Sam!” batin Kailla.
Pram yang mencium gelagat tidak baik dari istrinya langsung melotot.
“Sa ....” Pram baru saja akan memanggil Kailla, tapi istrinya sudah memintanya diam dengan menempelkan telunjuk ke bibirnya.
“Ssttt ....”
“Semoga kita bisa bekerja sama!” ucap Kailla mengulurkan tangannya pada sang asisten baru. Mendahului keputusan suaminya.
“Saya Ricko ... eh ....” Ricko terlihat bingung, meraih tangan Kailla.
“Panggil aku, Kailla,” ucap Kailla seolah mengerti kebimbangan sang asisten yang baru diresmikannya.
Pram semakin melotot melihat tingkah nakal istrinya. Sedari tadi Kailla tidak menganggap kehadirannya.
“Panggil dia, Nyonya! Dia istriku!” potong Pram, langsung menarik tangan Kailla dan membawanya duduk di pangkuan.
“Isssh ... Sayang, kenapa jadi tidak tahu malu begini,” bisik Kailla menggerutu di telinga Pram.
“Kamu yang memalukan. Kurang tampan bagaimana lagi aku. Kenapa harus sampai melotot menatap laki-laki itu,” balas Pram.
“Ricko, bisa kamu keluar sebentar?” pinta Pram.
“Aku harus mendiskusikannya dengan istriku,” lanjut Pram lagi.
“Ya, Pak,” sahut Ricko tersenyum menatap sang Nyonya.
“Aduh! Begini saja kamu sudah cemburu.” Kailla menepuk keningnya.
“Bagaimana kalau tiap hari dia mengikutiku kesana kemari,” ucap Kailla lagi.
“Apa aku tolak saja?” ucap Pram tampak berpikir.
“Jangan! Seumur-umur, aku belum pernah dapat asisten yang layak. Baru kali ini kamu memberiku asisten yang benar-benar asisten, bukan jadi-jadian.” Kailla berusaha membujuk Pram.
“Kasihan juga, sih. Dia jauh-jauh datang dari Surabaya,” lanjut Pram.
“Ingat! Jangan sampai aku menangkap basahmu, melihatnya tanpa berkedip. Kamu akan terancam tidak bisa melanjutkan kuliahmu!” ancam Pram.
“Maksudmu?” tanya Kailla heran.
“Menatapnya satu kali, kamu harus melayaniku satu kali di atas ranjang!” ucap Pram menggoda Kailla.
“Kalau sehari aku mendapatimu menatapnya sebanyak tiga kali berturut-turut, aku akan langsung menghamilimu!” ancam Pram.
“Aturan macam apa ini?” gerutu Kailla.
“Sam sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi, setidaknya yang ini masih bisa!”ucap Pram tergelak. Menatap wajah Kailla yang cemberut.
“Sudah! Aku hanya bercanda,” lanjut Pram.
“Cium aku sekarang,” perintah Pram.
Baru saja Kailla akan mencium bibir suaminya, tetapi ponsel di meja Pram berdering.
“Sebentar, Sayang, ada pesan masuk.” Pram menghentikan Kailla, tangannya langsung meraih ponsel dan membuka pesan.
Matanya terbelalak saat melihat pesan yang dikirim Kinar padanya. Sebuah foto laporan hasil tes DNA. Pram sendiri terlalu sibuk, belum mengecek email atau menghubungi orang suruhannya di Bali. Jadi dia tidak tahu kalau hasil tes DNA sudah keluar. Beberapa minggu ini dia terlalu disibukkan dengan Kailla.
“Ibu Citra adalah ibu kandungku,” batin Pram.
Pram langsung menatap Kailla. Semua ucapan Andi dan Ibu Citra berputar ulang di otaknya. Perempuan yang sedang duduk di pangkuannya adalah musuh keluarganya.
Semua sumpah serapah Ibu Citra dan peristiwa keguguran Kailla mengumpul jadi satu, muncul lagi di pikirannya.
“Aku harus bagaimana sekarang? Terjepit di antara istri dan ibu kandungku sendiri.”
***
THE END
Season 2 : ISTRI SANG PRESDIR
Season 3 : THE LOVE STORY OF PRAM AND KAILLA