
“Anak nakal,” ucap Pram pelan, merapikan rambut Kailla yang menutupi sebagian wajah cantiknya. Mengecup kening istrinya yang saat ini sudah tertidur lelap.
Perlahan dia turun dari ranjang, merapikan selimut yang menutup tubuh polos istrinya.
Kepalanya sakit. Sepertinya beberapa hari ini dia kurang istirahat, ditambah banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikannya.
Pram meraih ponselnya, berjalan perlahan meninggalkan kamarnya. Terlihat Bayu dan Sam sedang mengobrol dengan Bu Ida di ruang makan.
“Bay, ikut aku!” perintah Pram.
“Ada apa Bos?” tanya Bayu, saat berada di ruang kerja Pram.
Pram mengeluarkan ponselnya, menunjukkan pesan ancaman yang dikirim padanya.
“Cari tahu!” Hanya itu yang Pram perintahkan pada Bayu. Bayu yang seorang mata-mata, sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya.
“Oh ya, aku curiga mertuaku mengetahui sesuatu,” ucap Pram, tampak berpikir.
“Selama ini aku mencurigainya, tapi aku tidak ingin terlalu terlibat. Karena aku bukan siapa-siapa. Tapi sekarang Kailla istriku. Aku mengkhawatirkannya,” lanjut Pram lagi.
“Maksud Bos?” tanya Bayu.
“Ingat kan data yang aku tunjukkan padamu sebelum kita berangkat ke Austria. Kecelakaan dan fakta-fakta kalau itu bukan hanya sekedar kecelakaan.” Pram berkata.
“Sekelas Riadi, mana mungkin tidak bisa menemukan siapa pelakunya. Apalagi kasusnya dihentikan kepolisian. Aku curiga, penghentian penyelidikan itu atas permintaan mertuaku,” lanjut Pram.
Bayu tampak berpikir.
“Bayangkan saja selama 20 tahun ini dia menjaga Kailla. Memberi pengawalan kepada putrinya. Donny, pernah menjadi asisten Kailla selama 18 tahun. Tapi di belakang itu, ada barisan pengawal yang diam-diam ditugaskan Pak Riadi untuk tetap menjaga Kailla.”
Kalau mertuaku masih sehat, dia tidak mungkin menikahkan putrinya denganku. Dia pasti akan menjaga Kailla dengan tangannya sendiri.”
“Menurut Bos, Pak Riadi mengenal orangnya?” Bayu memastikan.
Pram mengangguk.
“Dia memilih menjaga putrinya sedemikian rupa dibanding menyeret pelakunya ke penjara. Aku yakin, dia bukan orang sembarangan. Dan Riadi mengenalnya baik.”
“Kumpulkan semua informasi. Aku harus tahu siapa dia. Aku mungkin tidak sebaik Riadi, rela mengambil resiko untuk putrinya.”
“Baik Bos!”
“Aku tidak akan melepaskannya. Sampai dia berani menyentuh istri dan anakku. Akan kupastikan dia mati mengenaskan di tanganku!” ucap Pram mengepalkan tangannya. Tatapannya penuh kemarahan.
“Ajari Sam banyak hal. Dia terlalu polos untuk seorang pengawal. Tapi Kailla menyayanginya. Aku tidak bisa menggantinya dengan orang lain,” titah Pram.
“Siap Bos!”
Pram memijat pelipisnya. Kepalanya benar-benar sakit.
“Kalau bukan karena mertuaku, aku lebih memilih tidak kembali ke Indonesia. Di sana Kailla tidak aman.”
“Baiklah Bay. Kalian bisa Kembali.”
“Oh ya, sampaikan ke Sam, besok dia bisa istirahat. Tidak perlu menemui Kailla,” titah Pram sambil tersenyum licik.
***
Keesokan harinya.
Kailla mengerjap beberapa kali sebelum matanya terbuka sempurna, menepuk sisi ranjang yang biasanya ditiduri Pram.
Kosong—
“Hah! Dia sudah berangkat ke kantor,” ucap Kailla dalam hati.
Setelah memastikam Pram sudah tidak ada di kamarnya, Kailla memilih kembali memejamkan matanya, memeluk guling dan siap berlayar kembali ke alam mimpi. Tapi baru saja menikmati empuknya guling, suara berat Pram sudah mengembalikannya ke kenyataan.
“Pagi Nyonya Reynaldi Pratama! Kamu harus membayarnya sekarang. Semalam kamu mencurangiku.” Suara Pram terdengar sangat dekat di telinganya.
Kailla langsung membuka matanya, wajah Pram hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.
“Pagi... Sayang,” ucap Kailla, tersenyum semanis mungkin. Dia ingat, semalam dia mengerjai Pram.
***
Flashback On
Setelah membuka semua pakaian Pram, Kaila langsung meminta Pram menghubungi Bayu.
“Sayang, ayo hubungi Bayu, minta dia menghentikan pencarian nasi uduk dan bebek gorengnya. Nanti aku akan memberikan pelayanan terbaik untukmu,” pinta Kalla.
“Bajumu saja masih utuh Sayang. Jangan curang. Aku butuh jaminan, kalau kamu tidak menipuku!!” protes Pram, menggoda Kailla.
“Iya.. iya...,” Kailla melepas pakaiannya buru-buru, melemparnya ke lantai. Membuat mata Pram melotot.
“Anak ini serius sepertinya.”
“Ayo.., ini sudah! Cepat hubungi Bayu. Aku janji akan membuatmu puas,” goda Kailla, sambil mengedipkan matanya. Segera dia meraih ponselnya dan meminta Pram berbicara dengan Bayu.
“Ayo..., aku tidak bohong. Cepat bicara pada Bayu!” ucap Kailla, mencium pipi Pram.
Setelah Pram selesai berbicara dengan Bayu. Kailla langsung buru-buru membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Naik ke atas ranjang dan memilih tidur.
“Kai.. kamu curang!” protes Pram, ikut naik ke atas ranjang, berusaha membuka selimut yang membungkus tubuh Kailla.
“Aku capek Sayang. Besok ya, aku janji. Kasihan anakmu nanti,” tolak Kailla. Memilih tidur membelakangi Pram.
Setiap Kailla sudah membawa anaknya, Pram pasti mengalah.
“Tega kamu Kai!” ucap Pram, memasang wajah memelas.
Flashback off
***
Kailla langsung bangun dari tidurnya. Sebelum tangan Pram menguncinya. Dengan sigap dia langsung bangkit, membungkus tubuh telanjangnya dengan selimut.
“Kamu mau kemana Nyonya?” tanya Pram tersenyum licik. Bersiap mengejar Kailla yang sudah berlari menjauh darinya.
“Kamu jangan mendekat!” ucap Kailla, mengarahkan telunjuknya ke Pram. Kailla sudah bersiap membuka pintu kamarnya, berjaga-jaga Pram akan mengejarnya.
Pram bukannya mundur, malah tersenyum licik menatap istrinya. Melihat seringai di bibir Pram, Kailla langsung membuka pintu kamar dan berlari keluar. Tapi baru beberapa langkah, kakinya terhenti mendengar suara keras Pram yang menyusul di belakangnya.
“SEMUANYA.. KELUAR DARI APARTEMEN!!” perintah Pram tiba-tiba dengan suara menggelegar. Dengan sigap dia menarik Kailla berdiri di belakang tubuhnya, menyembunyikan istrinya yang telanj*ng hanya terbalut selimut.
Bu Ida yang sedang memasak langsung mematikan kompornya, melepas celemek dan buru-buru keluar. Dia masih sempat melihat Pram yang tersenyum ke arahnya. Bu Ida sampai mengelus dada melihat kelakuan kedua majikannya.
Bayu yang baru saja hendak menyesap kopi, buru-buru berlari keluar pintu, sambil membawa cangkir kopinya.
Begitu Bu Ida dan Bayu sudah berada di luar, mereka saling berpandangan. Mencari tahu maksud dari Pram yang mengusir mereka dengan tiba-tiba dan mendadak.
“Ada gempa bumi ya Bu!” celetuk Bayu, memandang sedih pada kopi di tangannya yang masih tersisa sepertiga cangkir. Yang lainnya tertumpah sewaktu dia berlari keluar, membasahi celana jeansnya.
“Tahu dah, nyaris menang doorprize aku Bay!” gerutu Bu Ida. Dia sempat melihat Kailla yang tanpa pakaian, hanya tertutup selimut.
“Emang ada apaan sih Bu?” tanya Bayu penasaran.
Bu Ida menggeleng.
“Tadi Pak Pram masih sempat tersenyum, berarti tidak apa-apa. Mungkin mereka mau mencari suasana baru. Sudah bosan di dalam kamar,” celetuk Bu Ida, berjalan menuju ke unitnya. Membayangkan ayam gorengnya yang belum matang di dalam kuali, masih berenang di dalam minyak goreng.
Bayu memilih duduk di depan pintu apartemen, takut nanti dibutuhkan Pram. Tampak dia meraih gagang pintu, bermaksud mengintip situasi di dalam.
Ceklek!
“Astaga dikunci dari dalam!” ucap Bayu sambil menggelengkan kepala.
****
Kailla sedang berdiri di atas sofa dengan memegang tutup panci bersiap menyerang Pram.
“Tunggu sebentar! Beri aku waktu 5 menit, aku mau mengenakan pakaian dulu!” pinta Kailla. Dia harus mengenakan pakaiannya kembali. Dalam posisi ini bisa dipastikan dia akan kalah dengan Pram.
“3 menit!” ucap Pram.
“Mana cukup 3 menit,” protes Kailla.
“2 menit! Menawar lagi, aku tidak memberimu waktu!” ucap Pram sambil terkekeh.
“Huh! Mana cukup 2 menit. Memakai bra saja tidak cukup kalau 2 menit,” gerutu Kailla. Berlari menuju kamar.
“Jangan curang!” ucap Kailla berbalik menatap Pram sambil mengangkat tutup panci ke arah suaminya.
Pram terbahak melihat Kailla. Sebenarnya lebih menyenangkan tinggal berdua saja dengan Kailla. Terkadang dia juga butuh sifat kekanak-kanakan Kailla untuk menghilangkan stressnya karena pekerjaan dan beban pikiran.
Kalau sekarang, mereka tidak bisa berlarian keluar ruangan dengan bebas seperti tadi. Ada asisten yang selalu mengintai setiap saat. Dia tidak mungkin melakukan hal gila di depan orang lain, selain Kailla.
Pram memilih duduk menyandar di sofa, kepalanya masih sakit. Dia berencana tidak ke kantor lagi hari ini. Terlihat dia memijat pelipisnya supaya mengurangi rasa sakit kepalanya.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Kailla tiba-tiba sudah muncul di depannya.
“Tidak. Aku tidak apa-apa,” jawab Pram langsung menghentikan kegiatan memijat pelipisnya.
“Kamu sakit?” tanya Kailla.
“Tidak, aku baik-baik saja. Kemarilah!” Pram meraih tangan Kailla, mengajak duduk dipangkuannya.
“Suatu saat, kita tinggal berdua saja ya. Tidak perlu asisten yang berbaris dari gerbang sampai ke dapur,” ucap Pram membenamkan kepalanya di pundak Kailla, memeluk erat istrinya. Saat ini, memeluk Kailla, sedikit mengurangi sakit kepalanya.
“Tapi aku tidak bisa masak. Nanti siapa yang masak.” Kailla berkata.
“Kalau lapar, dengan sendirinya bisa masak. Aku tidak cerewet dengan makanan,” ucap Pram.
“Kalau cuma berdua, kita bebas main petak umpet, tanpa ada yang mengganggu. Tanpa ada yang berkomentar, tanpa ada yang bergosip,” lanjut Pram tersenyum.
“Hah.....?” Kailla terkejut, mendengar ucapan Pram.
“Kenapa kamu jadi mirip denganku sekarang?” Kailla heran.
Pram menghela nafasnya.
“Selama ini hidupku sangat serius. Aku bahkan jarang tersenyum. Hidupku cuma bekerja dan istirahat. Itu yang aku lakukan setiap harinya. Tapi begitu menikah denganmu, kehidupanku berubah total.”
“Tetaplah seperti ini, aku tidak mau kamu berubah. Aku mulai belajar memahamimu sekarang,” ucap Pram.
“Dan mulailah belajar memahamiku,” lanjut Pram, menyentil kening Kailla.
“Iya...,” sahut Kailla.
“Aku ingin tetap bisa main petak umpet denganmu sampai tua. Sampai aku pikun dan lupa dimana harus mencarimu. Melakukan banyak hal gila seperti tadi, yang membuat orang diluar sana menggelengkan kepala. Tapi mereka tidak tahu seberapa berwarnanya hubungan kita.”
“Ah.... kamu membuatku terharu,” ucap Kailla.
“Sebentar, aku harus meletakkan tutup panci ini, nanti sup di dalam panci jadi dingin,” ucap Kailla meraih tutup panci di atas meja. Berlari ke dapur mengembalikan ke tempatnya.
Tapi saat dia kembali menemui Pram, suaminya sedang berdiri menunggunya.
“Kai, aku belum menyelesaikan kata-kataku tadi,” ucap Pram, menatap Kailla.
Pram terdiam sejenak, raut wajahnya berubah serius.
“Istriku luar biasa. Aku beruntung menikahinya,” ucap Pram.
“Aku mencintaimu, Kailla Riadi Dirgantara. Kalau kamu mencintaiku, cium aku sekarang,” pinta Pram sambil mengulurkan tangannya, siap menyambut Kailla.
“Kalau kamu tidak mau mengatakannya, aku akan memaksamu mengakuinya Kai,” ucap Pram dalam hati
Kailla menghampiri Pram, menerima uluran tangan suaminya itu. Tapi pada saat akan mencium Pram, dia menjadi ragu dan memilih menunduk.
“Aku sudah terbiasa menciumnya, kenapa sekarang jadi deg-degan,” ucap Kailla dalam hati.
****
Terimakasih. Love You All
Pram & Kailla