Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 102 : Alasan Memanggil Sayang


Saat ini Pram dan Kailla sedang menikmati makan sore menjelang malam, di sebuah restoran yang terletak di pinggir danau.



“Kamu menyukai tempat ini?” tanya Pram. Terlihat dia masih sibuk dengan ponsel di tangannya. David dan Pieter benar-benar membuatnya kewalahan dengan berlomba-lomba mengirim email pekerjaan yang tidak ada habisnya.


“Hmmm..., aku suka. Tempatnya enak,” sahut Kailla masih sibuk memainkan pisau dan garpu di atas piring dengan lincahnya


“Hehehe... Aku belum pernah mendengarmu tidak menyukai sesuatu,” ujar Pram. “Kecuali tidak menyukaiku,”lanjut Pram.


“Aku tidak pernah mengatakan tidak menyukaimu,” protes Kailla cemberut.


“Hampir tiap malam kamu menolakku, bukannya itu berarti tidak menyukaiku,” sahut Pram. Kali ini dia mengangkat kepalanya yang sedari tadi menatap ponsel, memandang sang istri yang sedang memotong steak.


“Aa... buka mulutmu! Jangan membahas itu disini!” perintah Kailla, sembari menyuapkan sepotong daging steak ke dalam mulut Pram.


“Terimakasih Sayang,” Pram berkata sambil memajukan wajah dan membuka mulut bersiap menerima suapan istrinya.


“Apa yang kamu lihat dari tadi, sampai tidak sempat makan,” protes Kailla mengerucutkan bibirnya menatap Pram yang masih saja fokus dengan ponsel di tangan.


“Aku sedang mengurus pekerjaanku Sayang. Memastikan kamu dan calon anak-anakku tidak kekurangan sesuatu apapun,” jawab Pram sambil meletakkan ponsel di sisi kanan piringnya.


Pram menghela nafasnya, menatap Kailla sejenak. Istrinya terlihat lebih cantik sore ini, dengan rambut diikat asal dan polesan make-up sederhana.



“Kai, kenapa diantara sekian banyak panggilan, kamu memilih memanggilku “Sayang”?” tanya Pram tiba-tiba.


“Aku tidak mau mengganti panggilanku sebenarnya, tapi kamu memaksa. Jadi aku memilih “Sayang”. Itu tidak mewakili apa-apa dan tidak mengganti arti panggilan sebelumnya. Hanya mewakili rasa sayangku saja,” jelas Kailla.


“Kenapa? Dari tadi pagi aku penasaran,” tanya Pram lagi.


“Ketika pertama kali aku bisa berbicara, aku memanggilmu Om. Dan aku tidak akan menggantinya sampai nafasku berhenti. Aku melewati banyak hal bersama Om-ku selama 20 tahun ini, itu tidak akan terganti. Aku tidak mau menggantinya dengan Mas, Hubby atau lainnya yang bisa mengganti arti Om itu sendiri untukku,” jelas Kailla.


“Kata daddy, kamu yang pertama kali menggendongku saat aku lahir. Benarkah?” tanya Kailla penasaran.


“Iya. Dan kalau aku tahu besarnya bisa senakal ini, waktu lahir aku tinggalkan di rumah sakit. Tidak mungkin aku bawa pulang ke rumah. Membuat kepalaku pusing selama 20 tahun ini. Hahaha...” Pram tergelak.



Melihat ekspresi Kailla yang cemberut mendengar ucapannya, Pram semakin terbahak-bahak.


“Jahat!!” gerutu Kailla.


“Coba kamu pikir sendiri, seberapa banyak kamu menyusahkanku selama ini.”


Melihat ekspresi Pram yang sedang menggodanya membuat kekesalan Kailla semakin bertambah.


“Tapi kalau aku tahu bakal jadi istriku, sejak lahir sudah kubawa pulang ke rumahku saja. Tidak perlu dititipkan ke rumah Riadi Dirgantara dan membuatku menunggu selama 40 tahun.


“Ah... jangan menggodaku!” rengek Kailla manja.


“Kai, pernah menyesal menikah denganku?” tanya Pram.


Kailla menggeleng. Dari pertama dia menyetujui perjodohannya, dia tidak pernah menyesal. Cuma sedikit kecewa dan tidak rela. Dia tidak mempermasalahkan dengan siapa dia menikah, hanya saja kenapa secepat ini dia harus menikah.


Pram tersenyum. Berdiri dan mengambil mantel panjang miliknya yang tersampir di kursi, kemudian memakaikannya pada Kailla.


“Kenapa keluar dengan pakaian tipis, Kai? Ini bukan Indonesia,” ucap Pram setelah melihat Kailla sedikit menggigil tertiup angin.




“Mantelku tertinggal di mobil,” sahut Kailla. Tampak dia membetulkan letak mantel Pram yang tersampir di tubuhnya.


“Kai, berjanjilah untuk selalu setia padaku.” Pram memeluk Kailla dari belakang, meletakkan dagunya di lekukan leher Kailla.


“Kamu kenapa?” Kailla heran mendengar ucapan Pram. Tidak biasanya Pram bersikap posesif padanya.


“Tidak ada. Kamu tahu Kai, terkadang aku berpikir suatu saat kamu akan meninggalkanku,” ucap Pram pelan. Memilih mempererat pelukannya.


“Begini hangat?” tanya Pram.


“Hmmm....,” gumam Kailla.


“Habiskan makananmu Kai! Sebentar lagi kita pulang,” perintah Pram.


“Isi otakmu tidak jauh dari itu-itu saja!” dengus Kailla.


***


Dan benar saja, begitu sampai apartemen Pram langsung mengusir Bu Ida dan Bayu agar segera kembali ke unit mereka. Padahal saat itu belum terlalu malam. Sampai kedua orang ini menatap keheranan. Tidak biasanya, si majikan mengizinkan mereka kembali ke unit pada jam segini.


“Bay, ada apa ya?” tanya Bu Ida saat akan membereskan piring kotor di dapur.


“Tau dah Bu! Kalau aku bersyukur saja, artinya bisa tidur cepat,” sahut Bayu yang memang tidak terlalu memusingkan apa yang terjadi dengan majikannya.


Bu Ida yang masih heran, rasanya tidak tega meninggalkan majikannya. Dia mengasuh Kailla sejak kecil, sudah dianggap seperti anak sendiri. Bukannya dia tidak tahu, Kailla sering dimarahi Pram. Dia khawatir kalau Kailla sedang membuat masalah lagi seperti sebelum-sebelumnya. Kejadian dua hari yang lalu masih membekas di ingatannya, saat Kailla dikurung Pram di kamar seharian.


“Sudah Bu, ayo pulang! Paling juga Pak Pram mau asik-asik di kamar sama istrinya!” ajak bayu, menyeret lengan wanita tua itu agar segera meninggalkan unit majikannya.


***


“Kai...,” panggil Pram. Saat ini dia sudah berganti pakaian tidur, kaos dan celana pendeknya. Dia memilih berbaring dengan kedua tangan sebagai bantalnya.


“Kenapa?” tanya Kailla, masih sibuk menghapus make up di wajahnya dengan kapas.


“Kamu serius mau kursus Bahasa Jerman?” tanya Pram. Kali ini dia memiringkan badannya, menyanggah kepala dengan satu tangannya. Dia sedang menatap pantulan istrinya dari cermin meja rias.


“Iya, aku akan mati kebosanan setiap hari menunggumu pulang kerja.”


Pram hanya terdiam menatap istrinya. Tidak ada jawaban atau penolakan yang keluar dari bibirnya. Dia sedang mempertimbangkan apakah keputusan Kailla untuk belajar bahasa tepat atau hanya akan menyusahkan dirinya nanti.


“Boleh ya?” tanya Kailla lagi. Saat ini dia sedang menyingkap selimut bersiap membaringkan tubuhnya di samping Pram.


“Aku belum bisa menjawabnya sekarang,” sahut Pram. Dia tidak mau memikirkannya saat ini. Sekarang yang ada di dalam otaknya, bagaimana secepatnya bisa mencetak Pram junior supaya istrinya tidak berbuat nakal lagi di luar sana.


“Kai... kamu sudah tidur?” tanya Pram saat melihat istrinya yang sudah memejamkan mata sambil memeluk guling disisinya.


“Kai..., kamu sudah tidur atau pura-pura tidur lagi?” tanya Pram, mengoyangkan tubuh Kailla supaya terbangun.


“Kai..! Dasar tukang tidur!” Pram akhirnya memilih memejamkan mata dengan pikiran mesum yang menari-nari di dalam otaknya.


***


Kailla terbangun pagi ini dengan badan remuk redam. Dia bisa lolos saat tidur malam, tapi Pram membangunkannya di saat dini hari. Dengan alasan Kailla sudah cukup beristirahat semalaman, dia mengempur istrinya habis-habisan.


Dan yang membuat Kailla kesal, setelah menyelesaikan babak pertamanya, Pram lagi-lagi membuat alasan.


“Kai, aku belum cukup banyak menebar umpan di dalam sana,” ucap Pram mengusap perut rata Kailla, sesaat setelah selesai menebar benih-benihnya ke dalam rahim Kailla.


Setiap mengingat kelakuan Pram semalam, Kailla benar-benar ingin mengumpat. Kalau bukan mengingat dia yang meminta hamil secepatnya, sudah pasti dia akan menendang Pram dan aset-asetnya keluar dari kamar tidur mereka saat itu juga.


Gemericik air di kamar mandi seketika mengembalikan kesadaran Kailla dari lamunannya.


“Dasar! Laki -laki tua ini tidak mau rugi sedikit pun!” gerutu Kailla. Baru saja dia bangun dari tidurnya, masih dengan tubuh polos bersiap mengambil kembali pakaiannya yang dilempar Pram ke lantai semalam.


“Sayang...” panggil Pram tiba-tiba sudah berada di depan pintu kamar mandi.


Melihat Pram yang masih terlilit handuk di pinggang, Kailla langsung meraih selimut untuk menutup tubuh t*lanjangnya.


“Bakal habis lagi aku kali ini!” batin Kailla.


Melihat pandangan Pram seperti singa kelaparan, sirene di otak Kailla langsung berbunyi. Kalau tidak cepat menyelamatkan diri, dia akan habis, luluh lantah di tangan Pram. Dengan setengah berlari dia meraih gagang pintu kamarnya, tangan yang satunya mendekap erat selimut yang membungkus tubuhnya supaya tidak melorot.


“Kamu mau kemana Kai?” tanya Pram sambil terkekeh.


“Aku mau keluar sekarang,” sahut Kailla dengan panik.


“Dengan tampilan seperti itu?” tanya Pram sambil terbahak. Bukannya dia tidak tahu kalau Kailla sedang menghindarinya.


“Iya.... “ Kailla langsung mengayunkan gagang pintu itu dan berlari keluar. Tapi baru beberapa langkah, Pram sudah meneriakinya sesuatu.


“Kai, kamu lupa tidak ada siapa-siapa diluar. Kejadian perempuan itu baru 3 hari Kai, roh itu sedang gencar-gencarnya gentayangan,” ucap Pram seketika menghentikan langkah Kailla.


Dia menatap sekeliling, ruangan di dekat perapian itu masih sedikit gelap, tidak ada pencahayaan. Untuk Kailla yang seorang penakut, diingatkan hal seperti itu, seketika dia bergidik.


****


Terimakasih.