Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 82 : Pembalasan Sam


“Kai dengarkan aku!” ucap Pram menarik lengan istrinya, setelah berhasil mengejar Kailla yang keluar dari ruang kerja sambil menangis.


“Fighting Kai, kamu bisa!!” ucap Kailla dalam hati,


Biasanya Pram akan luluh lantah begitu melihatnya merengek dan menangis.



“Kai, aku mohon jangan bersikap seperti anak kecil lagi! Tidak perlu pura-pura menangis, aku sudah hafal semua kelakuanmu.” lanjut Pram tersenyum menatap air mata yang dipaksa keluar. Kali ini Pram memilih merengkuh kedua tangan Kailla, agar istrinya itu mau menatapnya.


“Jujur, aku tidak sanggup harus mengurus kalian berdua kalau kamu membawa serta Sam. Masuk ke kamarmu sekarang, kemasi semua keperluanmu untuk besok,” perintah Pram.


“Aku tetap...”


Cup!! Sebuah kecupan manis mendarat di bibir Kailla. Pram mengganggap semua percakapan mereka selesai, tidak ada penawaran. Apapun alasannya, dia tidak akan memenuhi permintaan Kailla kali ini.


“Ahhh..!” Kailla masih terlihat kesal. Dia sudah membayangkan akan menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan berbelanja selama Pram kerja. Dan untuk itu dia membutuhkan Sam. Dia tidak bisa mengandalkan Bayu, dia tidak yakin Bayu bisa seloyal Sam untuk masalah kesetiaan.


Melihat keputusan Pram yang tidak tergoyahkan, akhirnya Kailla memilih masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintu kamarnya, memastikan Pram tidak bisa masuk ke dalam kamar.


“Huh!! kita lihat saja nanti Om! Aku pastikan kamu tidak bisa memelukku malam ini!” gerutu Kailla.


Segera dia mengeluarkan koper dalam lemarinya, mengisinya dengan pakaian dan perlengkapannya. Wajahnya masih tetap cemberut. Sesekali dia menghentakkan kakinya ke lantai setiap mengingat Pram.


***


Bayu baru saja keluar dari rumah menuju pos security. Tampak dia mengusap wajahnya yang memerah karena tamparan Pram.


“Hahaha...!!” Sam terbahak melihat bekas tamparan Pram di wajah tampan Bayu.


Melihat Sam yang menertawainya, segera Bayu mengambil jaket yang tersampir di kursi dan melemparnya ke arah Sam.


“Brengsek kamu! Bisa-bisanya menertawakanku.” ucap Bayu kesal melihat tampang Sam yang mengejeknya.


“Bay, semarah-marahnya Pak Pram padaku, belum pernah tuh digampar.” ucap Sam menyombongkan diri.


“Belum ditampar saja, istrinya sudah pasang badan duluan, Sam. Kamu enak banget. Non Kailla sayang banget sama kamu Sam. Kalau sama aku, nyebut nama aja gak mau,” keluh Bayu.


Dia sudah membayangkan ke depan dia akan kesulitan. Pasti Kailla akan membuatnya dalam masalah.


“Barusan tahu gak, Non Kailla merengek ke Pak Pram minta kamu ikut ke Austria,” cerita Bayu.


“Hah! Astaga!” Sam memekik kaget. “Amit-amit. Jangan sampai!” ucap Sam bergidik. Dia mengepalkan tangannya, berkali-kali mengetuk bangku kosong disampingnya.


Bayu terbahak melihat kelakuan Sam. “Kan enak Sam, dibawa Pak Pram keluar negri.”


“Emoh! Mendingan pulang kampung ngangon kambing.” Sam menjawab.


Dia sudah terlanjur janji sama Siti, cem-cemannya di kampung. Selama bekerja dengan Riadi, belum sekalipun di balik ke kampung. Malahan dia memboyong keluargan yang terdiri dari emak dan bapak ikut ke kontrakannya. Dia tidak tega meninggalkan kedua orang tuanya sendirian di kampung.


Tak berapa lama tampak Donny menghampiri mereka sambil mengomel. Langkahnya kasar, dengan wajah penuh kekesalan.


“Kenapa Bro?” tanya Sam, tersenyum melihat bibir Donny yang sudah komat kamit dari tadi.


“Siapa lagi?! Itu si Non Kailla berantem lagi sama Pak Pram,” gerutu Donny kesal.


Bagaimana dia tidak kesal, Kailla menabraknya saat dia sedang membawa sepiring pangsit goreng yang lagi nge-hits. Seketika, piring ditangannya langsung tertelungkup ke lantai dan tidak bisa diselamatkan sedikitpun. Kalau saja saat itu sedang berada di dalam rumah, mungkin dia akan mempertimbangkan untuk mengambil kembali pangsit yang terjatuh. Tapi naasnya, kejadian itu terjadi di teras samping rumah yang lumayan berdebu.


Donny hanya bisa menatap sedih pangsit yang berserakan di lantai sambil menelan salivanya. Membayangkan betapa nikmatnya pangsit yang sudah ditunggunya selama 3 hari ini.


“Itu anak sekali-kali harus diberi pelajaran,” gerutu Donny.


Kekesalannya kian bertambah saat Kailla hanya mengucapkan kata “maaf” dan berlalu begitu saja. Tidak sebanding dengan perjuangannya yang harus menunggu selama 3 hari, karena pangsit itu tidak bisa dibeli langsung.


***


Malam itu, sehabis makan malam Pram bermaksud kembali ke kamarnya. Tapi baru saja dia akan membuka pintu kamar, Kailla sudah mengunci pintu dari dalam.


“Astaga Kailla! Ada apa lagi ini.”


Baru saja Pram akan mengetuk pintu kamar, tapi diurungkannya. Dia sedang lelah berdebat dengan Kailla, dia butuh waktu untuk beristirahat sebelum keberangkatannya besok. Akhirnya Pram memilih turun dan tidur di kamar lamanya. Begitu sampai di ruang keluarga, Pram melihat Sam dan Donny sedang berbincang sambil menikmati kopi panas. Tapi dia terlalu letih untuk sekedar menyapa atau bertanya pada kedua asisten itu. Saat ini dia hanya butuh istirahat.


“Don.. ayo!” ajak Sam, mengedipkan matanya ke arah Donny begitu melihat Pram masuk ke kamarnya.



“Jadilah! Mumpung Non Kailla lagi pisah ranjang sama Pak Pram, kesempatan kita buat ngerjain dia. Membalas apa yang sudah dilakukannya pada kita siang tadi.” ucap Sam tertawa cekikikan.


“Ayo!” ajak Sam lagi. “Biasanya dari dulu juga kita sering ngerjain dia, kenapa sekarang kamu jadi ciut,” lanjut Sam lagi.


“Aku cuma takut dia ngadu ke Pak Pram. Kalau dulu kan dia belum nikah,” jelas Donny masih ragu-ragu.


“Ish! Kamu Don, kebanyakan mikir. Lagian cuma kamar dia doang! Nanti kalau Pak Pram datang buru-buru kita nyalain lagi.” usul Sam.


Tanpa basa basi lagi, Sam langsung menurunkan tombol MCB yang mengalirkan listrik ke kamar Kailla. Dalam sekejap suara teriakan Kailla sudah membahana sampai ke lantai bawah.


“Ah.... SAM!!!” teriak Kailla kencang.


“Sam, dipanggil tuh!” seru Donny sambil mengelengkan kepalanya melihat kelakuan Sam.


“Udah, anggap aja kita sudah tidur. Kalau dia mau marah-marah, toh sudah lewat jam kerja. Udah malem juga.” Sam masih tertawa cekikikan, dia sedang membayangkan majikannya itu sedang ketakutan. Pasti ekspresinya jauh berbeda dibanding tadi siamg, saat memintanya membuang koper.


***


Kailla sedang duduk di depan meja riasnya saat lampu di kamarnya mati dengan tiba-tiba. Segera dia menyalakan lampu senter di ponselnya, melanjutkan memoles cream malam di wajahnya yang hampir selesai. Tapi saat akan meletakan cream di atas meja rias, pandangannya tertuju pada cermin yang memantulkan wajahnya yang terkena sorotan cahaya senter.


Dalam hitungan detik, dia langsung berteriak, berlari ketakutan melihat wajahnya sendiri. Dia sudah tidak bisa melihat lagi, karena sewaktu panik dia melempar ponselnya hingga berantakan ke lantai.


Gelap—


“Ah.. SAM!!!” teriak Kailla. Karena panik dan gelap, Kailla berlari sembarang arah sampai menabrak pinggiran tempat tidur dan jatuh terjungkal. Segera dia bangkit dan meraba-raba, mencari pintu keluar. Bagaimana pun dia harus keluar dari dalam kamar. Rasa sakit di bokongnya akibat terjatuh tadi tidak sebanding dengan ketakutannya saat ini.


Dengan penuh perjuangan, akhirnya dia berhasil menemukan gagang pintu. Tapi perjuangannya belum selesai sampai disitu, dia tadi mengunci pintu kamarnya dan dia meletakan anak kuncinya di atas nakas.


“Ya Tuhan, dosa apa aku,” ucapnya lirih. Kembali dia berjalan di dalam gelap, meraba-raba untuk sampai ke nakas.


Begitu mendapatkan anak kunci, perasaannya sedikit tenang. Tapi masalah datang kembali ketika dia harus memasukkan anak kunci itu ke dalam lubangnya.


“Aduh... gimana ini,” ucapnya pelan. Jantungnya berdegup kencang, dengan gemetar dia memasukkan anak kunci. Tapi sialnya anak kunci itu malah terjatuh dan menimbulkan bunyi dentingan yang lumayan mengagetkannya.


“Ahhhhhhhhhhh!!!” Teriakan ketakutan Kailla tidak kalah kencangnya dibanding tadi. Dengan berlutut dia meraba-raba anak kunci yang terjatuh di lantai sambil terisak.


“Hikss... hikss. Dad...., tolong aku.” Suaranya bergetar ketakutan sambil terisak.


Beruntungnya dia segera mendapatkan anak kuncinya kembali, dengan cepat dia mencoba membuka pintu itu kembali.


Ceklek! Segera dia berlari keluar kamar. Tujuan utamanya adalah turun ke lantai bawah dan mencari Pram. Tapi sialnya begitu sampai di tangga, kembali lampu tangga dan ruangan lainnya berkedip-kedip. Ketakutannya semakin bertambah. Dia memilih merayap menuruni tangga dengan mata terpejam sambil komat kamit membaca semua doa yang dia ingat.


“Hiks.. hiks.. Ya Tuhan...,” ucapnya gemetar ketakutan.


Begitu sampai ke lantai bawah, dia memilih memejamkan matanya, suara-suara aneh dari luar semakin menambah ketakutannya. Dengan penuh perjuangan, dia sampai ke kamar tidur Pram.


“Om..Om.!” panggil Kailla. Tidak ada suara atau jawaban dari dalam kamar.


“Om.....!” panggil Kailla sekali lagi, kali ini tanpa sengaja tangannya menyenggol pajangan tembaga yang terletak di meja konsul, samping pintu. Menimbulkan suara gaduh, membuat jantungnya hampir copot.


“AHHHH!” teriak Kailla membuka pintu kamar Pram tanpa permisi. Kemudian dia berlari masuk ke dalam kamar dan meloncat ke atas tempat tidur, menyusul berbaring disisi Pram. Memeluk laki-laki yang sedang terlelap itu dengan erat.


“Kai.... “ panggil Pram di sela-sela tidurnya yang terganggu.


“Om.. di luar ada setan, aku takut.” bisiknya pelan. “Aku mau tidur disini saja.” lanjut Kailla, masih memeluk erat Pram.


“Hah!” Pram membuka matanya seketika, sedari tadi dia masih berpikir ini semua mimpi. Tapi saat dia merasakan tangan Kailla yang membelit erat pinggangnya, dia baru tersadar.


“Kai, kamu kenapa?” tanya Pram berusaha bangkit. Baru saja dia akan mengambil segelas air putih di meja, Kailla sudah menariknya untuk berbaring.


“Ja..jangan kemana-mana, aku takut!” pinta Kailla, kembali memeluk Pram.


“Aku cuma mengambil minum Kai. Aku haus,” ucap Pram, masih berusaha merenggangkan pelukan Kailla.


“Jangan kemana-mana Om.” rengek Kailla lagi. Jantungnya masih berdetak tidak teratur.


“Aduh bagaimana ini kalau benar-benar ditinggal Om,” batin Kailla. Otaknya sudah mulai berpikir keras.


Tanpa malu-malu, dia langsung mel*mat bibir Pram, berharap suaminya itu melupakan keinginannya untuk mengambil minuman. Kali ini dia bukan hanya sekedar mengecup seperti biasanya, tapi mel*mat seperti yang sering Pram lakukan padanya.


“Kai, jangan salahkan aku,” bisik Pram lirih saat dia mulai menikmati apa yang dilakukan Kailla padanya. Segera dia menggulingkan tubuh Kailla supaya berada di bawah kungkungannya.


***