
Ciuman Pram memang memabukkan untuk Kailla, melumpuhkan otot dan persendian seketika. Dia selalu tidak berkutik, kalau suaminya sudah mengeluarkan jurus andalannya. Seluruh isi otaknya ambyar saat itu juga, semua emosi yang mengumpul sejak tadi hilang menguap entah kemana. Kailla butuh waktu untuk bisa mengendalikan dirinya kembali, mengumpulkan serpihan-serpihan amarah dan emosi yang sempat porak poranda hanya karena sebuah ciuman lembut sekaligus panas lelaki tampan, suaminya yang tidak tergantikan.
Menikah beberapa bulan ini, seolah mengajarkan banyak hal untuk Pram. Dari cara meredam emosi dan melunakkan kelakuan paling liar istrinya. Dia sudah menemukan rumus dan formula sendiri, bagaimana menaklukan Kailla di tiap kesempatan.
“Aww... Kai!” teriakan kecil Pram terdengar di sela ciumannya.
Kailla menggigit bibir suaminya tanpa ampun, saat kesadarannya sudah kembali, setelah sempat dibuat melayang dan terbang oleh ciuman Pram beberapa saat yang lalu.
“Dasar tidak tahu malu!” gerutu Kailla, memukul mundur tubuh Pram supaya sedikit menjauh. Kelakuan Pram semakin hari, semakin memalukan. Tidak di kamar, tidak di rumah, tidak di mobil, bahkan dia berani melakukan hal yang sama saat di rumah sakit.
“Huh!” dengus Kailla.
“Aku terpaksa Sayang. Kamu tidak mau mendengarkanku kalau menggunakan cara halus dan baik-baik seperti para suami yang lain,” jelas Pram serius, mengusap lembut bibir bawahnya yang digigit Kailla. Tidak ada ekspresi menggoda atau canda di kalimatnya. Saat ini dia serius, tidak sedang merayu. Yang dipikirkannya adalah membuat Kailla lupa untuk bertanya pada Andi, mengenai semua hal yang sudah dirahasiakannya selama 20 tahun.
“Alasan saja,”dengus Kailla. Matanya sudah mengedar ke sekitar, mencari sosok gempal menyebalkan yang mengaku sebagai maha mengetahui kisah masa lalu keluarga Riadi Dirgantara.
“Dia dimana?” tanya Kailla pada Sam yang menampakkan wajah kesalnya.
“Pulang Non. Siapa juga yang mau dipaksa nonton adegan begituan. Cuma Bui Ida saja yang tidak mengeluh dihadiahkan jackpot setiap saat,” gerutu Sam.
“Ayo Kai, kita pulang,” ajak Pram, menarik tangan Kailla, berjalan menuju ke ruang ICU.
“Kita pamitan dengan daddy dulu,” ucap Pram.
Terlihat Pram mendorong ruangan tempat dimana mertuanya tertidur lelap sejak semalam. Perawat jaga juga terlihat mengekor di belakang, menenteng pakaian khusus yang nanti akan digunakan Pram dan Kailla saat berada di dalam ruang ICU.
“Ayo..,” ajak Pram, masih menggandeng tangan Kailla masuk ke dalam.
***
Saat sudah berada di dalam ruangan, tertinggal mereka berdua, Kailla kembali bersedih. Melihat pemandangan di depan, Daddynya sedang dalam keadaan tidak berdaya, dengan selang memenuhi tubuhnya. Belum lagi suara menyeramkan dari alat-alat medis yang berkeliling di sekitar sang daddy.
“Jangan menangis di depan daddy. Kalau ternyata daddy bisa mendengar suara tangisanmu, dia pasti sedih,” bisik Pram, setelah melihat bola mata indah istrinya mulai tampak air yang mengkristal.
Kailla hanya mengangguk, menyembunyikan wajahnya di balik pundak Pram sambil mengusap kedua matanya yang sudah menganak sungai. Terlihat Pram mendekati dan membungkuk, berbisik pelan di telinga mertuanya.
“Dad, kita pamit. Kailla harus pulang untuk beristirahat,” bisik Pram, menggenggam tangan mertuanya yang melemas tak bertenaga di atas ranjang.
Kailla berjalan mendekati ranjang, berdiri tepat disamping Pram.
“Dad, aku baru dari tempat mama. Mama juga pasti merindukanmu,” bisik Kailla. Menatap sedih sang daddy, yang masih setia diam dan tak mau membuka matanya.
Melihat daddy yang terbaring tidak berdaya, dengan selang hampir memenuhi seluruh tubuhnya. Rasanya Kailla ingin menjerit, berteriak kepada Tuhan.
Ada perasaan tidak terima dan tidak adil muncul bersamaan. Ketika orang-orang bisa memiliki keduanya disaat yang bersamaan, tapi dia hanya bisa memiliki salah satunya saja, Daddy. Tapi belum puas dia menikmati kebersamaan dengan sang daddy, takdir sudah berbicara kembali. Bersiap menjemput daddy dan membiarkan dia hidup sendirian.
Kalau bisa meminta saat ini, dia tidak akan meminta banyak. Dia hanya ingin daddy tetap ada di dunia ini menemaninya. Walaupun dengan kondisi seperti sebelum koma, hanya bisa menatap dan tersenyum di atas kursi roda. Sudah cukup untuknya.
“Ayo Sayang,” ajak Pram, ketika menangkap raut kesedihan kembali menguasai wajah istrinya.
“Aku mau mencium daddy sebentar,” pinta Kailla. Dua buah kecupan lembut mendarat di pipi dan kening daddy.
Lega! Daddy masih ada disini, masih menemaninya. Walau hanya dalam sebuah tubuh renta yang lemah, diam tidak merespon apapun.
“Aku mencintaimu Dad. Aku pulang dulu, besok aku kembali,” pamit Kailla. Langsung berjalan keluar.
Sampai di depan pintu, Pram membantu Kailla melepas pakaian hijau yang khusus digunakan saat masuk ke dalam ruang ICU. Menyerahkannya pada Sam yang berdiri tidak jauh dari pintu ruang ICU.
“Kemarilah!” pinta Pram, langsung mengecup kening Kailla, kemudian memeluknya erat.
Kailla langsung menumpahkan tangisan di pelukan Pram, dia harus menggigit kemeja Pram demi suara tangisannya tidak terdengar keluar.
“Sa..yang, apa Daddy akan baik-baik saja?” tanyanya di sela isakan.
“Iya, daddy akan baik-baik saja,” sahut Pram, membelai lembut rambut tergerai panjang istrinya.
“Tapi kenapa daddy tidak mau bangun, bertemu denganku. Aku akan menghadiahkannya cucu yang lucu seperti impiannya. Tapi kenapa dia tidak mau bangun,” isak Kailla masih saja menangis.
“Iya, daddy akan bangun nanti. Kalau waktunya, dia pasti akan bangun,” hibur Pram.
“Sekarang kita harus pulang. Kamu juga butuh istirahat. Kasihan bayi kita, kalau kamu terus-terusan menangis,” bujuk Pram.
“Iya...” Hanya sebuah jawaban singkat yang keluar dari bibir mungil Kailla, selebihnya dia memilih mengikuti arah langkah Pram yang terus-terusan menggengam erat tangannya.
***
Alarm ponsel di atas nakas, membangunkan pasangan suami istri yang masih terlelap dan saling berpelukan di kamar mewahnya. Pram terusik dengan berisiknya suara alarm yang menjerit tanpa henti, mengomel dengan mata yang masih terpejam.
“Kerjaan siapa ini,” omel Pram, tangannya meraba-raba benda persegi yang mengganggu tidur.
Dengan kasar melemparnya sejauh mungkin, setelah membungkam paksa ponsel tersebut. Beruntung, lantai kamarnya beralas permadani tebal. Kalau tidak, bisa dipastikan ponsel mahal berlogo apel sisa gigitan itu akan hancur berkeping-keping.
“Siapa yang memasang alarm sepagi ini,” omel Pram lagi, setelah sempat mengintip jam masih menunjukkan pukul 04.00 pagi.
Kailla, otak dari alarm si pengganggu di pagi hari itu, malah hanya menggeliat kecil, lalu kembali tidur. Menyusup ke dalam pelukan hangat suaminya, seolah tidak terganggu dengan omelan Pram yan lebih berisik dibanding bunyi alarm.
Tapi dua jam kemudian, saat matanya sudah membuka sempurna. Dimana kesadarannya pun sudah terkumpul, dia langsung bangkit mendorong tubuh Pram, saat menyadari saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Dengan tergesa-gesa, dia bangkit sambil mengomel, saat melihat ponselnya sudah tergelatak berurai tak berdaya di atas karpet lantai.
Buru-buru dia meraih ponsel dan keluar dari kamarnya, masih dengan bibir yang mengomel tidak berhenti. Memasang kembali ponselnya, seraya mengutuk Pram.
“Huh! Pasti kerjaannya. Bukannya membangunkanku, malah melempar ponselku,” degus Kailla masih saja kesal. Dia tadinya berencana membuat sarapan pagi untuk suaminya.
Semalam sebelum tidur, dia sempat melihat resep nasi campur. Dengan semangat 45, dia berencana membuatnya pagi ini. Apalagi setelah memastikan semua bahan tersedia di kulkas, semangatnya kian bertambah.
“Pagi Non,” sapa Bu Ida dan Bu Sari berbarengan, saat melihat Kailla keluar dari kamar dengan wajah cemberut.
“Pagi..,” sahut Kailla singkat, sembari mengikat rambut panjangnya ke atas, membuat cepol supaya tidak mengganggu acara memasaknya.
“Aku mau masak nasi campur. Apa masih keburu Bu?” tanya Kailla pada kedua asisten rumah yang sedang berdiri saling berpandangan.
“Nasi Campur?” ucap Bu Ida dan Bu Sari bersamaan.
To Be Continue....