Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 123 : Aku Tidak Mau Kamu Berkelahi


Mendengar jawaban Mitha, Pram langsung berlari menuju lift. Ruangan Pieter berbeda lantai dengan ruangannya. Mitha yang mengekor di belakang, kembali harus menpercepat langkahnya. Suara ketukan sepatunya kembali membahana di sepanjang jalan menuju lift. Sekretaris yang sedari tadi menonton hanya bisa tersenyum kecil sambil menutup mulutnya.


“Hadeuh.. tadi kesini harus berlari, sekarang juga harus berlari,” gerutu Mitha. Dia memikirkan pertumpahan darah yang sebentar lagi akan terjadi di ruangan Pieter. Kalau tidak, dia akan berjalan santai saja.


“Mudah-mudahan Pak Pieter tidak memakai nafas buatan untuk membangunkan Nyonya. Bisa hancur berkeping-keping gedung ini kena ledakan Pak Presdir kalau sampai itu terjadi,” batin Mitha.


Pram masih saja mengumpat di depan pintu lift yang sejak tadi belum mau terbuka. Puluhan kali menekan tombol lift tetap saja pintu masih menutup. Matanya sedari tadi menatap petunjuk di atas pintu lift. Tanda panah yang masih tidak mau bergerak ke atas membuatnya semakin kesal


“Br*ngsek!!” umpat Pram.


“Catat Mit, minta Pieter buatkan aku lift sendiri!” perintah Pram dengan berkacak pinggang menatap ke lift yang masih tidak mau bersahabat dengannya.


Mitha yang menonton pertunjukan itu sedari tadi hanya bisa menggeleng dalam hati. Kalau menggeleng beneran, bisa-bisa ikut disemprot juga oleh Pram.


“Perasaan belum ada semenit,kenapa begitu tidak sabarannya,” ucap Mitha dalam hati.


Ting! Begitu pintu lift terbuka, Pram langsung masuk dan buru-buru menutup pintu lift kembali. Mitha cuma bisa melongo, menatap pintu lift tertutup perlahan di depan matanya.


“Nyonya, kamu beruntung sekali! Kalau kamu melihat seberapa gilanya suamimu saat ini, saya yakin kamu akan lebih tergila-gila lagi padanya,” ucap Mitha pelan.


***


Keluar dari lift Pram langsung berlari menuju ruangan Pieter. Dia sangat mengkhawatirkan Kailla saat ini.


Brukk!!!


Pram membuka pintu dengan kasar. Pemandangan yang dilihat pertama kali adalah Kailla yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di sofa dan Pieter yang sedang berjongkok di depan istrinya itu.


“Tolong tinggalkan kami!” perintah Pram pada Pieter. Melihat Pieter yang tetap diam, terpaksa dia harus menarik kasar lengan asistennya itu supaya menyingkir dari hadapan istrinya.


Pram mendorong kasar Pieter kemudian mengambil alih tempat Pieter sebelumnya.


“Sayang...., bangun!” Pram memanggil Kailla, menepuk wajah pucat yang masih saja betah memejamkan matanya. Melihat Kailla saat ini, dia semakin khawatir. Istrinya yang biasa cerewet dan suka membuat kekacauan, saat ini terbaring tidak berdaya. Hatinya tercubit seketika.


“Tolong ambilkan minyak kayu putih,” pinta Pram tidak tahu kepada siapa. Matanya tidak lepas


dari istrinya. Tangannya membelai wajah Kailla yang masih saja tidak mau membuka mata.


“Sayang..., bangun.” Pram memanggil kembali. Berharap setelah mendengar suaranya, Kailla akan segera sadar. Terlihat dia memijat pelipis Kailla kemudian mengusap telapak tangan Kailla yang juga ikut memucat.


Pieter masih terpaku berdiri di belakang Pram. Dia tidak rela beranjak pergi meninggalkan ruangan. Masih setia menatap Kailla yang masih belum kunjung sadar. Entah apa yang merasukinya. Tiba-tiba kekesalannya memuncak melihat Pram saat ini.


“Br*ngsek!!” ucap Pieter langsung menarik Pram dan mendaratkan pukulan telak di wajah Pram. Pram tidak bisa mengelak, pukulan Pieter begitu tiba-tiba dan mendadak.


“Kalau tidak bisa menjaganya, sebaiknya lepaskan!” ucap Pieter kasar. Kali ini dia menarik kerah kemeja Pram, membawa Pram menjauh dari Kailla. Pieter sedang terbawa emosi, melihat perempuan dicintainya sedang tidak sadarkan diri.


“Lepaskan aku!” perintah Pram. Terlihat Pram menarik kasar kedua tangan Pieter yang sedang mencekal dan merengkuh leher kemejanya.


“Apa maumu?” tanya Pram sambil mengusap darah yang keluar di sudut bibirnya. Pieter memukulnya dengan keras. Pram tersenyum sinis menatap Pieter saat ini. Apa yang ada di dalam pikiran teman baiknya itu. Kegilaan apa yang merasuki otaknya sampai bisa melakukan hal di luar batasannya.


Pieter sudah bersiap melayangkan pukulannya lagi, tapi kali ini berhasil ditahan oleh Pram.


“Saat ini aku tidak berminat meladenimu. Istriku lebih membutuhkanku.” ucap Pram menghentak kasar tangan Pieter yang masih mengepal.


“Sayang......,” panggil Kailla tiba-tiba dengan suara yang sangat lemah. Dia baru saja tersadar.. Bahkan dia belum bisa mendengar dan melihat dengan jelas. Masih samar-samar.


Baru saja Pieter akan berjalan mendekati Kailla, tapi langkahnya terhenti saat mendengar Kailla memanggil Pram. Kailla hanya mau menatap Pram, bukan orang lain. Bahkan Kailla tidak menyadari kehadirannya disini.


“Sayang...,” panggil Kailla menatap Pram yang berdiri di hadapannya. Kailla berusaha untuk bangun. Melihat itu, Pram langsung memeluk tubuh istrinya, membantu Kailla untuk bangkit dari tidurnya.


“Sayang... , kepalaku sakit sekali,” ucap Kailla. Tangannya masih memegang kepalanya.


“Iya, istirahat sebentar lagi.” Pram masih memeluk dan sesekali mengusap lembut punggung istrinya.


Tak lama, terlihat Mitha masuk ke dalam ruangan. Dia tersenyum melihat pemandangan atasannya sedang memeluk sang istri. Tak jauh dari pasangan itu, terlihat Pieter berdiri menatap keduanya tanpa berkedip. Tangannya masih mengepal, tapi raut wajahnya terlihat sedih dan terluka.


Pram yang melihat Mitha masuk segera meminta bantuan penerjemahnya itu untuk mengambilkan minuman untuk Kailla.


“Mit, tolong ambilkan air putih untuk Kailla,” pintanya setelah melepaskan pelukannya. Kedua tangannya masih menangkup wajah istrinya yang pucat.


Kailla yang sudah sepenuhnya sadar menatap Pram yang duduk di depannya. Dia terkejut melihat luka di sudut bibir Pram yang mengeluarkan darah.


“Sayang, ini kenapa?” tanya Kailla. Jari lentiknya sedang mengusap luka di sudut di bibir Pram.


“Tidak apa-apa, hanya luka kecil.” Pram menjawab sambil tersenyum.


“Ah...... pasti sakit sekali,” ucap Kailla. Dia langsung merengkuh leher Pram dengan kedua tangannya. Bergelayut manja, menyandarkan kepalanya di pundak Pram.


“Aku tidak mau melihatmu terluka. Jangan berkelahi lagi. Aku tidak suka,” ucap Kailla dengan manja. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia tidak tahu kenapa suaminya berkelahi, tapi melihat Pram terluka, hatinya sakit.


“Iya.. aku tidak akan berkelahi lagi,” sahut Pram tersenyum. Kali ini dia memandang Pieter dari sela-sela pelukan Kailla.


“Jangan pernah berkelahi lagi. Aku menyayangimu,” bisik Kailla pelan.


Pram tersenyum menatap Pieter. Pram berharap, Pieter mendengar semua ucapan Kailla. Pram berharap, dia tidak perlu lagi memukul teman baiknya itu. Dengan melihat ini, Pram berharap Pieter cukup tahu diri. Dia tidak mau bertengkar hanya karena perempuan. Dia tidak mau persahabatannya hancur karena perempuan.


Mereka bukan anak kecil yang sedang berebut mainan. Mereka adalah laki-laki dewasa yang sebentar lagi menuju tua. Sudah tidak pantas harus baku hantam hanya karena perempuan. Sungguh memalukan! Kalau itu bukan istrinya, dia tidak akan mau ikut-ikutan dan terlihat seperti orang bodoh seperti saat ini. Tapi mau apa lagi, ini menyangkut Kailla, istrinya.


Tampak Mitha masuk dan menyerahkan segelas air putih pada Kailla.


“Terimakasih,” ucap Kailla. Langsung menyeruput air putih di dalam gelas kaca itu sampai tandas.


“Sayang, kita pulang sekarang,” ajak Pram bersiap menggendong Kailla.


“Aku tidak mau digendong. Aku bisa jalan sendiri,” tolak Kailla tersipu malu melihat ke arah Mitha dan Pieter.


“Kamu yakin Sayang?” tanya Pram memastikan.


“Iya...” Kailla mengangguk.


Tampak Pram membisikkan sesuatu di telinga Pieter saat dia melewati asistennya yang sedang berdiri tanpa bicara.


“Pieter, aku harap ini yang terakhir. Setelah ini kita akan bertarung sampai salah satu diantara kita meregang nyawa,” bisik Pram di telinga Pieter sambil menepuk keras punggung tangannya ke dada Pieter.


***


Terimakasih.