
“Ini Non jusnya.” Bu Ida menyodorkan segelas jus jeruk ke hadapan majikannya. Sejak beberapa hari yang lalu, Bu Ida selalu stok buah jeruk dan roti tawar dalam jumlah banyak di apartemen. Kailla hanya bisa mengisi perutnya dengan menu itu saja. Jadi sehari bisa minta dibuatkan jus beberapa kali.
“Terimakasih Bu,” sahut Kailla langsung meneguk habis jus jeruk di dalam gelas.
“Non, sudah di cek?” tanya Bu Ida penasaran. Dari tadi dia sudah dag dig dug menunggu hasilnya. Tapi dia tidak berani mengganggu Kailla yang sedang istirahat di kamarnya.
Kailla mengangguk.
“Hasilnya apa Non?” tanya Bu Ida lagi.
“Aku... hamil Bu,” sahut Kailla dengan lesu. Raut wajahnya tidak menggambarkan kegembiraan sama sekali. Ada sedih tercetak jelas di dalam senyum terpaksa yang saat ini disunggingkannya.
Bu Ida langsung tersenyum dan bersyukur. Seolah dia sebentar lagi akan mendapatkan cucu saja.
“Selamat Non. Sebentar lagi rumah akan ramai dengan tangisan bayi,” ucap Bu Ida.
“Pak Pram sudah tahu?” tanya Bu Ida lagi dengan penuh semangat. Sejak tahu Kailla hamil, dia terus-terusan tersenyum.
Kailla menggeleng. “Aku sudah menghubunginya, sepertinya dia sibuk sekali Bu,” ucap Kailla sedih.
Senyum di wajah Bu Ida hilang seketika saat netranya menangkap sesuatu di balik raut wajah majikannya.
“Non.. baik-baik saja?” tanya Bu Ida kemudian. Setelah merasa ada yang tidak beres dengan Kailla.
“Hmm..., hanya kepala ku sedikit pusing.” Kailla menjawab singkat. Memijat dahi dan pelipisnya bergantian.
“Non sakit?” tanya Bu Ida, ikut meletakkan tangannya di dahi majikannya.
Deg—
“Sedikit panas, sebaiknya Non istirahat saja di kamar. Ibu akan membuatkan teh hangat,” usul Bu Ida setelah memastikan kalau majikannya sedang tidak enak badan.
“Iya, tapi sebentar lagi aku harus ke kantor. Ada gathering, suamiku memintaku ikut,” jelas Kailla.
“Ya sudah Non, bersiap saja. Jangan minum obat sembarangan Non. Wanita hamil itu tidak boleh minum sembarang obat,” nasehat Bu Ida.
“Iya Bu..,” jawab Kailla.
Setengah jam kemudian Kailla sudah keluar dari kamarnya dengan dandanan simple. Rambutnya di sanggul sederhana, menampilkan leher jenjangnya lengkap dengan gaun putih model kemben yang dibelikan Pram beberapa hari yang lalu.
“Cantiknya...,” seru Bu Ida saat melihat Kailla berjalan keluar dari kamarnya.
“Bu, aku berangkat sekarang,” pamit Kailla. Dia tidak mau Pram menunggunya terlalu lama. Selain itu dia sudah tidak sabar ingin bercerita tentang kehamilannya pada Pram.
“Bay, kita berangkat sekarang,” perintahnya pada Bayu yang sedang duduk di sofa.
“Siap Non!” sahut Bayu. Segera bangkit dan berjalan mendahului Nyonya majikannya itu.
***
“Bay, ini dimana?” tanya Kailla bingung saat mobil mereka bukan berhenti di kantor KRD seperti biasa, tapi malah ke sebuah hotel.
“Pak Pram tadi menghubungi saya, katanya Non langsung disuruh ke tempat acara. Bapak sudah duluan ke sana,” sahut Bayu.
“Oh....,” jawab Kailla singkat. Dia tidak mau berdebat atau terlalu banyak komentar. Kepalanya sudah semakin pusing. Saat ini, rasanya hanya ingin tidur di pelukan suaminya.
Begitu masuk ke dalam tempat gathering, Kailla sudah disambut oleh Mitha yang berdiri di dekat pintu masuk.
“Nyonya....., ish kamu cantik sekali hari ini,” ucap Mitha. Tangannya langsung menggandeng tangan Kailla. Mengajak istri Presdirnya itu duduk di tempat yang sudah disiapkan. Sebuah meja bundar dengan 5 kursi yang mengelilinginya. Terdapat tulisan Presdir di sebuah kertas yang diletakkan di atas meja.
“Pak Presdir masih sibuk menerima wawancara dengan beberapa media bersama....” Mitha tidak dapat menyelesaikan kata-katanya. Tampak Pram dan Winny yang sudah berganti pakaian, masuk ke dalam gedung bersamaan. Ada beberapa media juga terlihat meminta waktu mereka untuk bertanya seputar pembangunan hotel.
“Wah.. Suamimu tampan sekali Nyonya!” seru Mitha sambil menepuk halus pundak Kailla yang masih belum menyadari kedatangan Pram.
Melihat Mitha yang sedang menatap diam dengan mulut ternganga, akhirnya memaksa Kailla juga mengikuti arah pandangan si penerjemah suaminya itu.
Deg—
“Mit, apa seharian ini suamiku bersama dengan Winny?” tanya Kailla pelan. Matanya masih belum beralih dari suaminya.
“Iya Nyonya. Seharian ini Bu Winny di kantor bersama Pak Pram untuk memastikan acaranya berjalan lancar,” sahut Mitha. Pandangannya juga masih belum lepas dari sang Presdir yang terlihat begitu tampan saat sudah berganti pakaian.
“Pak Presdir jarang-jarang pakai warna cerah. Aduh semakin tampan!” batin Mitha.
Mendengar jawaban Mitha, hati Kailla seperti tercubit. Suaminya seharian dengan Winny sampai melupakan dirinya. Bahkan tak ada satu pun panggilan teleponnya yang diangkat oleh Pram. Semakin melihat pemandangan itu, hatinya semakin sakit. Dia merasa diabaikan.
“Sejak hamil aku jadi manja dan sensitif sekali!” hiburnya dalam hati. Berusaha meredam gejolak di dalam dirinya.
Setelah lama menatap suaminya, akhirnya Kailla memilih menunduk. Berusaha menahan air mata yang sudah memenuhi kelopak matanya supaya tidak turun. Lama dia tertunduk, sesekali menghapus air mata yang sempat lolos, walaupun dia sudah berusaha untuk tidak menangis.
Sampai seseorang mengusap lembut pundak telanjangnya dan mencium tengkuknya tiba-tiba.
“Sayang..” panggil Pram mengejutkan Kailla. Dia terlalu terbawa perasaannya sehingga tidak menyadari situasi di sekitarnya. Mitha yang tadi berdiri di sampingnya sudah tidak ada lagi. Berganti Pram yang sedang berdiri membungkuk di belakangnya. Menyentuh pundaknya dengan lembut.
“Kenapa?” tanya Pram lembut. Setelah lama memperhatikan Kailla yang diam dan tidak kunjung menjawab sapaannya.
Kailla menggeleng dan tersenyum. “Aku merindukanmu,” ucap Kailla.
Terlihat Pram berjongkok di depan Kailla. Meraih kedua tangan Kailla dan menggenggamnya. Dalam posisi itu, dia bisa melihat jelas wajah istrinya yang terus-terusan menunduk.
“Aku juga,” ucap Pram tersenyum.
Dengan sedikit mendongakan kepalanya, dia mencium bibir Kailla. Meraih tengkuk istrinya, supaya dia bisa berlama-lama menikmati bibir tipis merona itu. Dengan berjongkok seperti ini, orang tidak akan begitu menyadari dia sedang mencium Kailla.
“Sudah.. jangan sedih lagi,” ucap Pram setelah melepaskan ciumannya.
Kedua tangannya menangkup wajah Kailla saat ini. “Maafkan aku, aku sibuk sekali hari ini,” lanjut Pram.
Kailla mengangguk sambil tersenyum. Ciuman Pram mengubah moodnya seketika.
“Aku ingin memelukmu,” pinta Kailla. Mendengar ucapan Kailla, Pram langsung berdiri, membiarkan Kailla yang masih duduk itu memeluk pinggangnya.
“Kamu cantik hari ini.” Pram berkata sambil membelai rambut Kailla yang sudah tertata rapi.
“Sayang...,” panggil Kailla. Dia bermaksud menyampaikan kehamilannya pada Pram saat ini.
“Hmmmmm, kenapa?” tanya Pram.
“Aku.. aku ha....,” Kailla tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Winny sudah terlebih dahulu mengacaukan semuanya.
“Pram..!” panggil Winny. Terlihat dia berjalan mendekati pasangan suami istri yang sedang berpelukan mesra saat ini.
“Ah... so sweeet,” ucap Winny begitu sudah berada di antara Pram dan Kailla.
“Kenapa Win?” tanya Pram. Di langsung beralih menengok ke arah Winny yang sedang berdiri di belakangnya.
“Hmmm, maaf sekali Kai. Aku harus pinjam suamimu sebentar,” pinta Winny sopan.
“Oke. Kamu mau ikut bersamaku?” tawar Pram pada Kailla yang sudah melepaskan pelukannya.
Kailla menatap Winny dan Pram bergantian sampai akhirnya dia memilih menggelengkan kepalanya.
“Aku menunggu di sini saja,” jawab Kailla. Dia mau mengikuti Pram, tapi dia takut kehadirannya akan mengganggu keduanya. Apalagi kalau ada keperluan dengan perusahaan. Dan kondisinya saat ini juga tidak terlalu sehat. Banyak berdiri akan membuat kepalanya semakin pusing. Tapi hatinya sedikit tidak rela. Dia belum puas memeluk suaminya, tapi Winny sudah mengambilnya lagi. Padahal Winny sudah seharian bersama Pram. Jiwa manja dan kekanak-kanakannya sekarang muncul kembali.
***
Lanjutan sedang ditulis ya, biar cepat up lagi. Om marah-marah ternyata di bab berikutnya yah.
(Si Om lupa lagi copot antingnya ya🤣🤣)