Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 198. Masa Lalu Riadi


“Sudah!” ucap Kailla, setelah menandatangani kertas, tanpa dibacanya sama sekali kemudian menyodorkannya kembali pada Andi.


Andi tersenyum dan memerintahkan asistennya keluar. Ia masih sempat menepuk pundak Pram.


“Terima kasih untuk kerjasamanya!” ucap Andi, berlalu melewati Pram diikuti asistennya.


Kailla segera berlari memeluk Pram sambil menangis, menumpahkan semua rasa. Kepalanya masih sedikit pusing karena kurang tidur dan terlalu lama menahan lapar. Entahlah, kemarin dia terlalu banyak menangis dan semalam dipaksa meneguk beberapa botol minuman keras, sampai akhirnya ia ambruk di tempat. Dan harus muntah berulang kali sepanjang malam.


“Sayang, kamu baik-baik saja?” tanya Pram, aroma alkohol begitu menyengat tercium dari tubuh istrinya. Ia merengkuh dan memeluk erat tubuh mungil yang begitu dirindukannya.


“Ya, aku baik-baik saja,” sahut Kailla mengangguk, masih terisak di dalam pelukan Pram.


“Hanya sedikit pusing dan mual, Sayang,” sahut Kailla berusaha tersenyum.


“Bisa jalan? Kamu yakin baik-baik saja?” tanya Pram saat melihat Kailla yang berjalan sempoyongan. Wajah istrinya tidak terlihat baik-baik saja, tampak pucat dan lusuh.


Kailla mengangguk. “Bisa,” sahut Kailla, memijat pelipis. Pandangannya sudah mulai berkunang-kunang, kepala pun ikut berdenyut hebat.


Pram memilih untuk menggendongnya menuju ke mobil. Pria itu tidak tega tubuh lemah istrinya harus dipaksa berjalan menuju mobil.


“Dia baik-baik saja?” tanya Pram setelah menurunkan Kailla di kursi mobil. Tangannya mengelus lembut perut rata istrinya.


“Ya, kami baik-baik saja,” sahut Kailla, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.


“Sayang ....” panggil Pram lagi, mengusap lembut wajah Kailla. Pram benar-benar khawatir melihat wajah memucat istrinya.


“Aku menghampiri Andi sebentar. Bayu akan menjagamu di sini,”pamit Pram, mengecup kening Kailla.


Tak lama, tampak Andi yang sudah mendapatkan semuanya beranjak pergi meninggalkan gudang tua itu. Pria bertubuh gempal itu sudah memerintahkan anak buahnya untuk keluar dan segera pergi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Ia tidak mau tindakan mereka barusan berakhir di jeruji besi.


Pram yang melihat Andi hendak masuk ke dalam mobil, bergegas menghampirinya.


“Andi ... nikmati kebodohanmu!” teriak Pram sambil tersenyum penuh kemenangan.


“Aku masih pemilik perusahaan. Aku pemilik Riadi Dirgantara Group. Bukan istriku,” lanjutnya lagi mengejutkan Andi yang baru saja membuka pintu mobil.


“Brengs*ek!! Kamu menipuku, Pram!” umpat Andi.


“Bersiaplah membusuk di penjara! Aku akan menuntutmu untuk kematian mertuaku, Rania Sari,” ancam Pram.


“Kirim aku ke penjara. Aku juga akan mengirim mertuamu ke penjara. Hahahaha ....” tawa Andi menggema, kesal bercampur kemarahan.


“Aku tidak akan menyerahkan perusahaan padamu! Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah memilikinya,” ucap Pram dengan tegas.


“Aku akan mengembalikan kepada pemilik yang seharusnya,” lanjut Pram lagi.


“Citra Wijaya dan pewarisnya!” ucap Pram tersenyum licik.


“Hahaha ... jangan bercanda, Pram. Riadi sudah membongkar semua kebejatannya di masa lalu, kah? Apa dia tidak takut membusuk di penjara?” sahut Andi masih tidak percaya.


“Citra terakhir menghuni salah satu rumah sakit jiwa. Dia sudah tidak memiliki pewaris. Jangan konyol. Katakan saja, kamu juga ingin menguasai kekayaan Riadi. Berpura-pura mencintai putrinya. Cih!” lanjut Andi, mengejek Pram.


“Kamu yakin sekali, Citra tidak memiliki pewaris lagi?” tanya Pram, tersenyum.


“Yakin! Karena aku adalah saksi hidup bagaimana Riadi membantai habis keluarga itu tak bersisa. Tangan Riadi sendiri yang melenyapkan putra satu-satunya, pewaris tunggal perusahaan Wijaya Indraguna ,” jelas Andi tanpa sadar dengan siapa ia berbicara saat ini. Membongkar kisah masa lalu yang diketahuinya.


Pram terbelalak, mendengar seberapa bejat sang mertua di masa lalunya. Ia tidak pernah menyangka mertuanya memiliki sisi hitam yang tak tersentuh selama ini. Sebagian besar yang diceritakan Ibu Citra Wijaya, benar adanya.


“Aku tidak percaya!” ucap Pram, berusaha mengorek lebih banyak lagi cerita masa lalu yang mungkin saja berhubungan dengannya.


“Hahaha. Pernah berpikir kenapa masa tua mertuamu begitu menyulitkan. Harus koma berkali-kali. Mungkin saja itu karma yang harus dia bayar karena kejahatannya di masa lalu.”


“Tidak masalah. Aku tidak bisa mendapatkan perusahaan itu sekarang. Aku akan tetap memperjuangkan apa yang menjadi milik keluargaku!” ucap Andi.


“Kamu bisa mengirimku ke penjara. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku tinggal mencari keluarga Citra dan meminta mereka menuntut mertuamu!”


“Sebaiknya jaga istrimu baik-baik! Kematian mertuamu adalah petaka istrimu. Kejahatan mertuamu akan dibayar tunai oleh istrimu sendiri.” Andi mengingatkan.


“Aku tidak menyangka, berani juga Riadi membuka dosa masa lalunya padamu! Dulu dia begitu pengecut sampai rela bekerjasama denganku.”


“Bahkan ... siapa perempuan di masa lalumu itu. Ia korban Riadi, karena terlalu banyak mengetahui rahasia Riadi,” lanjut Andi lagi tertawa lepas. Tak ada seorang pun yang tahu jelas apa yang terjadi. Saksi kunci adalah Daddy yang sekarang sedang sakit.


“Anita?” tanya Pram heran.


“Dia bukan perempuan biasa, sampai bisa menjadi ancaman Riadi. Wanitamu itu ... ups ... mantan wanitamu itu sudah lancang mengorek masa lalu Riadi. Aku tidak tahu jelas, bagaimana dia bisa mengetahui banyak hal,” cerita Andi, tersenyum.


“Tapi dia pernah mendatangi Riadi tanpa sepengetahuanmu!” Andi membongkar semua hal yang bahkan Pram pernah tidak tahu.


“Bagaimana bisa Anita ....” Pram terdiam dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


“Hahahaha ... kamu terlalu polos Pram. Bahkan nasibmu tidak jauh beda dengan putri Riadi.”


“Maksudmu?” tanya Pram bingung.


“Hahahah ... bahkan kamu tidak tahu, Riadi mengirim seseorang untuk mengikutimu bertahun-tahun. Berapa kali kamu tidur dengan wanitamu, bahkan Riadi hafal.”


“Cari di brangkas Riadi, kalau dia belum membuangnya. Ada banyak laporan tentangmu selama ini.”


“Aku tidak mempercayaimu!”


“Selain aku, ada satu orang lagi yang mengetahui banyak rahasia Riadi. Suatu saat mungkin kamu akan bertemu dengannya. Kalau dia cukup baik hati berbagi cerita denganmu.” Andi melempar teka-teki.


“Aku akan menyeretmu ke penjara! Berani menyentuh istriku sekali lagi, aku bersedia melanggar sumpahku pada mami Anna,” ancam Pram.


“Berani melanggar sumpahmu pada kakakku. Bahkan mertuamu saja memilih bungkam.” Andi mengingatkan kembali.


“Mertuamu memilih menjaga putri kesayangannya dibanding menyeretku ke penjara. Cari tahu alasannya. Kalau sudah tahu, baru berpikir lagi untuk mengirimku ke penjara,” ucap Andi.


“Aku permisi. Kita akan bertemu lagi, Pram. Entah sebagai keluarga atau sebagai musuh,” pamit Andi tersenyum.


Pram masih belum bisa percaya dengan apa yang didengarnya, tetapi ia juga tidak bisa mengubah masa lalu yang sudah terjadi. Yang sekarang bisa dilakukannya hanya menjaga Kailla dari orang-orang yang terlibat dengan masa lalu Riadi.


Pram kembali ke dalam mobil setelah menyudahi pembicaraannya, tetapi ia tidak mendapati istrinya.


“Kai, kamu di mana?” panggil Pram heran. Istrinya tidak ada di dalam mobil.


“Non Kailla di sana!” jawab Bayu sambil menunjuk ke arah Kailla yang sedang berjongkok di semak-semak.


“Kai ... Sayang ... kamu kenapa?” tanya Pram mendekati istrinya yang sedang mengeluarkan semua isi perutnya. Hanya cairan berbusa.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Pram lagi, mengusap tengkuk Kailla.


“Ya, kepalaku pusing. Aku mau tidur saja,” sahut Kailla.


“Sayang, bantu aku berdiri,” pinta Kailla, dia sudah tidak sanggup berdiri lagi. Tubuhnya lemas, pandangannya berkunang-kunang.


****


Tbc


Terima kasih.