Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 110 : Membuat Bekal


Setelah puas menikmati salju di pegunungan, Pram mengajak Kailla menyusuri jalanan di kota Wina. Hal yang paling sering Kailla minta setiap saat padanya.


“Kamu menyukainya? Sudah seperti orang biasa?” tanya Pram mengenggam tangan Kailla.




Kailla mengangguk sambil tersenyum.


“Ayo kita pacaran sekarang. Sebelumnya kita tidak pernah melakukannya kan. Tidak ada Bayu atau pun Sam disini,” ucap Pram mengedipkan matanya.


“Aku bahkan belum pernah pacaran. Aku tidak tahu bagaimana rasanya,” gerutu Kailla.


“Haha.. Aku sungguh beruntung menjadi yang pertama untukmu,” sahut Pram menggoda istrinya.


“Itu karena kamu menikahiku secepat ini. Sungguh menyedihkan,” lanjut Kailla masih saja mendengus kesal.


“Makanya kita pacaran sekarang, Sayangku Kailla. Haha.. Rasanya menjijikan sekali,” Pram tertawa sendiri mendengar ucapannya.


Dia sudah tidak muda lagi. Bahkan dia sudah lupa rasanya pacaran seperti apa. Dia melewati hampir setengah dari hidupnya saat ini dengan bekerja. Sejak tidak jadi menikah dengan Anita, dia tidak pernah dekat dengan wanita mana pun.


Bolehkah aku bertanya? Tapi aku ingin kamu jujur,” tanya Kailla masih menggengam tangan suaminya. Terlihat dia ragu, tapi dia harus tahu. Itu akan menunjukkan laki-laki seperti apa yang menikah dengannya saat ini.


“Katakan saja, aku akan menjawab kalau memang bisa,” sahut Pram. Dia berhenti sebentar, menatap Kailla yang berdiri disampingnya.


“Apakah dulu kamu sangat mencintai tante Anita?” tanya Kailla. Dia langsung menunduk, menunggu Pram menjawab.


Pram menghela nafasnya, sebelum menjawabnya. “Jujur aku sebenarnya tidak mau menjawabnya.”


“Kenapa?” tanya Kailla.


“Itu masa laluku, bahkan tidak ada lagi rasa yang tertinggal saat ini, selain penyesalan. Untuk apa membahasnya lagi,” jawab Pram.


“Kai, aku tidak mau menyakitimu. Entah sekarang atau suatu saat, jawabanku pasti akan menyakitimu,” jawab Pram. Bisakah aku tidak menjawabnya kali ini?” lanjut Pram.


“Saat kamu menolak menjawabnya, aku sudah tahu jawabannya.” Kailla menatap Pram.


“Tapi kata-kata itu tidak pernah keluar dari bibirku langsung. Aku tidak mau kamu mengingat masa laluku, bahkan aku sendiri tidak mau mengingatnya.” Pram menjawab.


“Kenapa tidak memperjuangkannya?” tanya Kailla lagi. Rasa penasarannya semakin membawa dia untuk menggali masa lalu laki-laki tampan yang sekarang jadi suaminya.


“Kenapa kamu jadi banyak bertanya, Sayang?” Pram balik bertanya. Dia sebenarnya sudah tidak mau membahas masa lalunya termasuk Anita. Bukan karena dia, tapi dia tidak mau tanpa sengaja menyakiti istrinya. Saat ini hidup dan hatinya cuma milik Kailla, tidak ada sisa untuk wanita mana pun.


“Aku hanya ingin tahu saja, Sayang,” sahut Kailla.


Kamu tidak perlu mempermasalahkan masa laluku lagi Kai, karena itu tidak akan mengubah apa pun saat ini. Aku hanya akan melihatmu, karena kamu adalah masa depanku,” ucap Pram.


“Aku hanya ingin mengetahuinya saja,” Kailla masih saja merengek, menunggu jawaban.


“Semesta tidak mendukungku.. hehehe. Aku tidak dalam posisi bisa memperjuangkan apa pun saat itu.” Pram menjawab sambil tetap menatap Kailla.


“Anak ini, semakin dijawab semakin penasaran,” batin Pram.


“Karena itu kamu tidak menikah Sayang?” tanya Kailla lagi. Kali ini dia mendapat tatapan tajam dari Pram.


“Ayo Sayang, pertanyaan terakhir,” rengek Kailla lagi.


“Aku tidak menikah karenamu, bukan karena siapa-siapa!” ucap Pram tegas.


“Berhenti berpikiran yang aneh-aneh,” lanjut Pram lagi, menyentil kening istrinya.


“Hah..! Bagaimana bisa?” Jawaban Pram semakin membuat Kailla penasaran.


Pram menghentikan langkahnya, tangannya masih menggengam erat tangan Kailla.


“Kamu dengar baik-baik. Aku hanya akan mengatakannya sekali saja.” Pram berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. Saat ini dia sedang menatap manik mata istrinya.


“Aku tidak menikah atau menjalin hubungan dengan wanita mana pun setelah Anita karenamu. Karena Kailla Riadi Dirgantara.” Pram menjawab dengan tegas.


“Ayolah Sayang, aku semakin penasaran.Hehe..” rengek Kailla.


“Aku tidak menikah demi memastikan kamu bersama dengan orang yang tepat. Setelah kamu menikah dan bahagia dengan hidupmu, tanggung jawabku selesai. Tapi ternyata daddy menyodorkannya padaku,” jelas Pram.


“Sudah! Aku menyayangimu,” ucap Kailla kemudian memeluk erat Pram. Apapun jawaban Pram untuknya itu tidak terlalu pengaruh. Dia hanya ingin mendengar jawaban dari penasarannya selama ini.


***


Keesokan harinya..


Kailla terbangun dari tidurnya saat Pram sudah bersiap pergi ke kantor. Terlihat Pram sedang sibuk memasangkan kancing kemeja hitamnya. Sesekali dia tersenyum menatap Kailla yang masih menggeliat di atas ranjang empuk mereka.


“Kamu sudah bangun Sayang?” tanya Pram saat Kailla tiba-tiba sudah memeluknya dari belakang.


“Hmmm...” gumam Kailla, dia sedang bersandar manja di punggung kokoh suaminya saat ini.


“Ada apa Kai? Tidak biasanya sepagi ini kamu sudah bermanja-manja denganku,” tanya Pram dengan dahi berkerut. Pram menengok ke belakang, berusaha mengintip wajah Kailla yang sedang menempel erat di punggungnya.


“Aku hanya ingin memelukmu. Tidak boleh?” tanya Kailla sampil mengecup sekilas punggung suaminya yang sudah terbalut kemeja itu.


“Hahaha, kemarilah! Peluk aku yang benar,” ucap Pram menarik tangan Kailla agar berdiri di hadapannya.


“Ayo, silahkan dipeluk.” Pram merentangkan kedua tangannya bersiap menyambut istrinya. Tampak Kailla menyusupkan tubuhnya pada dada Pram, melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya. Menikmati aroma parfum milik Pram yang menenangkan.


“Sudah?” tanya Pram setelah hampir 5 menit Kailla tidak melepaskan pelukannya.


“Sudah..,” Kailla menjawab singkat, melonggarkan dekapannya.


“Sekarang pasangkan aku dasi,” perintah Pram sambil tersenyum menatap istrinya.


“Aku tidak mau. Aku hanya akan memasangkan untuk daddy,” tolak Kailla sambil cemberut.


“Itu karena dulu kamu adalah putri Riadi, tapi sekarang kan kamu istri Reynaldi. Ayo pasangkan!” perintah Pram, menyodorkan dasi ke tangan Kailla.


Kailla langsung mengalungkan dasi panjang itu ke leher Pram, bersiap membuat simpulan dengan susah payah. Dia harus sedikit berjinjit supaya lebih leluasa.


“Sayang bisa turunkan sedikit, ini susah,” pinta Kailla.


Pram memilih sedikit membungkuk dengan kedua tangan sudah melingkar di pinggang istrinya supaya menempel padanya.


“Sayang jangan begini, aku susah mengikatnya,” pinta Kailla lagi setelah Pram malah memeluknya.


“Apa aku tidak jadi ke kantor saja hari ini,” goda Pram. Tangannya sudah sibuk merayap kemana-mana. Tali dress tidur Kailla pun sudah turun dari pundak mulusnya. Pikiran mesum sudah menari-nari di dalam otaknya.


“Iya...?” tanya Pram menunggu jawaban Kailla. Dia sudah sibuk mengecup pundak t*lanjang yang menggodanya. Tangannya pun sudah menelusup masuk ke balik dress tidur milik istrinya tanpa permisi, memainkan sesuatu yang membusung di depan dada Kailla.


“Tidak mau!” tolak Kailla. “Aku sebentar lagi mau ke dapur. Aku mau masak bersama Bu Ida,” jelas Kailla.


“Serius? Kamu mau masak?” tanya Pram menatap Kailla tidak percaya.


“Iya...” Kailla menjawab sambil mengangguk.


“Bukan telur ceplok dikecapin kan?” tanya Pram menggoda Kailla.


“Ah..... ! Jangan mengingatkanku lagi,” ucap Kailla memukul dada Pram.


“Itu telur yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku Sayang.” Pram berkata.


“Hari ini kamu ada meeting di luar?” tanya Kailla. Dia berencana mengantarkan makan siang untuk Pram, sekalian mengawasi Mitha. Dengan membawakan bekal untuk Pram, dia jadi punya alasan pergi ke kantor. Dia sengaja tidak memberitahu kepada Pram, dia takut Pram tidak mengizinkannya ke kantor.


“Aku akan memberinya kejutan,” batin Kailla.


“Tidak, hari ini aku tidak kemana-mana,” sahut Pram.


“Sudah, ini dasinya sudah rapi,” ucap Kailla terlihat dia membetulkan kerah kemeja Pram.


“Thanks Nyonya,” ucap Pram mengecup pipi Kailla bergantian.


***


Terimakasih. Love You All.


Mudah-mudahan Kailla tidak membuat masalah lagi ya di kantor.