Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 89 : Kejutan di Pagi Hari


Setelah setengah jam membolak-balikan tubuhnya di atas ranjang, Pram masih belum juga bisa memejamkan matanya. Sedari tadi tangannya selalu tanpa sengaja menyenggol tubuh istrinya yang hampir polos. Pikirannya pun sudah tidak bisa dikendalikan. Sentuhan kulit itu membuat otaknya menerawang kemana-mana.


“Kai...,” panggilnya lembut. Tangan nakalnya sudah meremas sesuatu di balik selimut. Berharap pemiliknya segera bangun dan memberinya kehangatan.


“Sayang.....” Sengaja Pram berbisik di telinga Kailla, seperti biasa Kailla akan menggelinjang ketika nafasnya berhembus disana.


“Ah... Om,” desah Kailla dengan suara serak. Dia membuka matanya sekilas, menatap Pram yang saat ini sudah berada di atas, menguasai tubuhnya.


“Kai... “ panggil Pram lembut, tangan kanannya menghempas kasar selimut yang menutupi tubuh Kailla, tangan yang satunya sudah menelusup ke dalam bra, meremas sesuatu yang membuatnya hampir gila sedari tadi.


“Hmmmm,” Kailla hanya bergumam, mulai menikmati ulah tangan nakal Pram.


“Ini mengganggu sekali, Sayang. Bagaimana membukanya?” tanya Pram menarik bra Kailla, sehingga isi di dalamnya menyembul keluar.


“Hmmm...,” Hanya ini saja jawaban yang keluar dari bibir Kailla.


“Ayo Sayang, ini bagaimana? Aku akan merusaknya sekarang,” ucap Pram. Mendengar kata-kata Pram, sontak kesadaran Kailla berkumpul kembali. Dia langsung bangkit duduk dan menatap Pram bingung.


“Kenapa Om?” tanya Kailla manja.


“Ini bagaimana membukanya?” Pram menunjuk bra yang sudah berantakan tidak pada tempatnya lagi. Segera Kailla membuka kaitan di depan dadanya, dalam sekejap bra itu pun terlepas. Pram melotot, menyadari seberapa bodoh dirinya yang tidak bisa menyelesaikan masalah semudah itu. Dengan kesal dia menarik dan membuangnya ke lantai tanpa perasaan.


“Om...” protes Kailla saat Pram langsung menyerangnya tanpa ampun. Tidak ada yang terlewatkan oleh tangan dan bibir Pram.


“Aku bisa gila sekarang kalau harus menundanya lagi, Kai,” bisiknya tersenyum. Bagaimanapun dia harus menyelesaikannya. Dengan begitu dia baru bisa tidur dengan tenang. Penyatuan indah itu berakhir setelah Pram melihat wajah kelelahan Kailla.


“Sayang, kenapa kopermu tidak bisa dibuka?” tanya Pram pada Kailla yang masih bergelung di balik selimut dengan tubuh polosnya. Pram baru saja mengenakan pakaiannya kembali, tapi pada saat akan membuka koper milik Kailla entah kenapa setiap memasukkan kode selalu tidak berhasil.


“Hah? Apa aku lupa lagi dengan kodeku Om?” tanya Kailla masih memejamkan matanya.


“Ya sudah, biarkan Bayu yang mengurusnya besok,” ucap Pram. Terlihat dia membuka kembali koper miliknya, mengambil kemeja putih yang berada di tumpukan paling atas.


“Sayang, kamu pakai kemejaku saja ya.” tawar Pram, meletakkan kemeja miliknya di atas selimut.


“Hmmm... “ Kailla hanya bergumam. Dia terlalu lelah untuk meladeni suaminya saat ini.


“Kai.., besok akan ada beberapa kepala divisi dan asistenku yang akan rapat disini,” cerita Pram setelah dia menyusul berbaring di sisi istrinya.


“Hmmm.”


“Sayang, kamu masih mendengarkanku?” tanya Pram lagi sambil merapikan anak rambut yang menutup sebagian wajah Kailla.


“Dia tidur lagi,” ucap Pram tersenyum menatap Kailla yang sudah menutup matanya.


Cup! Sebuah kecupan mendarat di kening Kailla. “Terimakasih, aku mencintaimu Kai,” bisik Pram. Istrinya benar-benar sudah tidak bisa diajak berkomunikasi lagi.


***


Pagi itu Pram sengaja bangun lebih pagi dan membiarkan Kailla tetap menikmati tidurnya. Dia tahu istrinya itu sedang kelelahan. Mereka baru saja menempuh perjalanan jauh, menghabiskan waktu belasan jam di udara. Belum lagi, kemarin mereka sempat berkeliling di beberapa tempat di Kota Wina.


Hari ini dia meminta beberapa kepala divisi dan Pieter, asistennya untuk datang ke apartemen dan melakukan rapat disini. Dia belum bisa meninggalkan Kailla sendirian di apartemen walaupun ada Bayu dan Bu Ida menemaninya.


Tepat pukul 09.00 pagi waktu Wina, Pieter dan beberapa kepala divisi tiba di kediaman Pram.


“Pram! Bagaimana kabarmu?” Pieter langsung memeluk dan menepuk punggung Pram sembari tersenyum lebar. Pieter adalah salah satu teman kuliah Pram di London, sama seperti Winny dan suaminya. Tampak beberapa orang kepala divisi dan Mitha mengekor di belakang Pieter.


“Baik Pieter! Terimakasih sudah banyak membantu. Kalau kamu tidak ada, aku tidak mungkin membuka cabang disini,” sahut Pram.



( Ini Visual Pieter ya, seumuran Pram. Masih jomblo, playboy lagi. Pieter tinggal di Austria juga sama dengan Winny dan suaminya. Nanti akan dimunculin visualnya Winny )


Tampak Pieter mengenalkan satu persatu Kepala Divisi, yang nanti akan bekerja untuk Pram disini. Sementara Pieter akan menjadi asisten Pram selama Pram di Austria. Tapi setelah Pram kembali ke Indonesia, Pieter yang akan menggantikan Pram memimpin kantor RD Group di Wina.


Mitha yang memang hanya sebagai penerjemah tidak terlalu banyak dilibatkan dalam meeting kali ini. Dia hanya akan membantu Pram berhubungan dengan klien atau staff yang hanya menguasai Bahasa Jerman dan tidak fasih berbahasa Inggris.


“Bagaimana Pram?” tanya Pieter setelah beberapa kepala divisi memberi laporan secara langsung.


“Secara keseluruhan aku tidak ada masalah.” jawab Pram menyeruput kopi hitam yang disajikan Bu Ida.


Mitha yang duduk tepat disisi kiri Pram masih saja menebar pesona, berusaha menarik perhatian sang Presdir. Beberapa kali terlihat dia dengan sengaja menyenggol tangan Pram yang diletakkan di atas meja. Pram yang sudah mencium gelagat yang kurang baik dari si gadis penerjemah, tidak menanggapi sama sekali.


“Pieter, aku butuh dua mobil berikut sopirnya,” pinta Pram langsung dianggukin oleh Pieter.


“Ada lagi?” tanya Pieter kemudian.


“Aku butuh dua ponsel lagi dengan nomor sini. Untuk istriku dan asistennya,” lanjut Pram.


“Siap!” Pieter menjawab singkat, tersenyum jahil menatap Pram kali ini.


“Ayo cerita tentang kehidupanmu Pram. Kita sudah lama sekali tidak bertemu,” pinta Pieter.


“Tidak ada yang special!” Pram menjawab singkat. “Kamu masih betah sendirian?” tanya Pram terkekeh.


“Belum bertemu yang bisa menggetarkan hatiku! Kalau ketemu, akan ku kejar sampai ke ujung dunia,” sahut Pieter mengedipkan matanya.


“Si Mitha cerita istrimu tadi,” bisik Pieter pelan di telinga Pram.


“Heheh..” Pram hanya terkekeh, tidak ada jawaban apapun dari bibirnya. Pram tidak pernah mau membahas kehidupannya termasuk istrinya dengan siapapun.


***


Kailla membuka matanya ketika matahari sudah menembus masuk dari gorden putih kamarnya. Awalnya dia sempat bingung, menatap kamar yang beda dari biasanya. Kamar yang sekarang ditempatinya lebih kecil. Tapi begitu ingatannya terkumpul sempurna, segera di meraih kemeja putih Pram yang tergeletak di atas selimut. Memakainya asal dan berlari menuju jendela.



Begitu gorden itu tersibak sempurna, tampaklah pemandangan kota Wina pagi ini. Jujur, walaupun dia terlahir dari keluarga berada, ini adalah perjalanan pertamanya. Daddy terlalu sibuk bekerja, tidak punya waktu untuknya. Jangankan jalan-jalan keluar negri atau keluar kota, untuk sekedar ke mall atau makan di luar saja dia tidak pernah melakukannya berdua dengan daddy.


Kalau dulu dia merengek, Pram lah yang akan membawanya jalan-jalan sekedar membeli es krim atau permen lolipop kesukaannya. Kehidupannya sangat biasa, tidak ada yang istimewa. Dari sekolah kembali ke rumah. Hanya itu saja setiap harinya. Dia tidak punya banyak teman. Yang menemaninya hanya para asisten di rumah dan Pram.


Kebahagiaannya dulu ketika daddy libur kerja. Seharian dia akan menempel dengan daddy di rumah. Dari bangun tidur sampai tidur malam. Tapi setelah masuk kuliah, kehidupannya mulai sedikit berwarna. Dia sudah bisa pulang terlambat walau tetap saja diomeli Pram setelahnya. Bisa mencuri waktu berbelanja ke mall atau pergi nonton dengan Dion, Rika dan Dona.


“Cantik!” ucap Kailla sambil tersenyum. Terlihat dia menghela nafas berkali-kali, menikmati pemandangan jalanan yang mulai ramai dengan pejalan kaki di bawah apartemennya.


Setelah puas menikmati pemandangan dari jendelanya, dia memilih keluar kamar. Perutnya mulai terasa lapar, selain itu dia juga merindukan kehadiran Pram. Perlahan dia keluar kamar, mengintip suasana di depan kamarnya yang masih asing. Sepi! Dengan kaki telanjangnya, dia mengendap-endap keluar. Melihat sekeliling, dia sempat tertegun melihat perapian di ruang tengah


“Ah.. aku mau melihat salju!” ucapnya pelan sambil tersenyum.


Dari ruang tengah dia langsung menuju dapur yang menyatu dengan ruang tamu. Tampak Bu Ida masih memakai celemeknya sedang memanaskan air di kompor.


“Pagi Bu Ida,” sapa Kailla sambil tersenyum.


“Pagi..Non,” jawab Bu Ida terkejut. Begitu Bu Ida membalikkan badannya, dia kaget melihat penampilan majikannya. Kailla hanya memakai kemeja tanpa dalaman, tanpa alas kaki. Kemeja putih kebesaran milik Pram itu panjangnya di atas lutut. Belum lagi bagian atas yang tidak terkancing sempurna mempertontonkan leher dan belahan dadanya yang penuh dengan bekas kecupan. Sebagian mulai membiru, sebagian lagi masih memerah. Saat dia berjalan, bawahan kemeja itu akan melambai-lambai memamerkan paha putih mulusnya.


“Bu Ida masak apa?” tanya Kailla. Jari- jari lincahnya mengambil potongan sandwich di piring, sisa dari cemilan yang tadinya disajikan untuk rapat.


“Ibu masak seadanya Non. Ibu saja bingung mau masak apa. Bahan-bahan di kulkas banyak yang belum pernah Ibu lihat,” jelas Bu Ida.


Kailla mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Bayu kemana?” tanya Kailla lagi.


“Lagi benerin koper Non Kailla di luar,” jawab Bu Ida singkat.


“Om... eh.. maksudku suamiku dimana?” tanya Kailla. Entah kenapa sejak Pram mengomelinya kemarin, dia jadi ragu memanggil Pram “Om” seperti biasanya di depan orang lain.


“Pak Pram di ruang kerja,” sahut Bu Ida sambil menunjuk salah satu kamar yang pintunya tertutup rapat.


“Oh..!” Kailla hanya menjawab singkat, sambil mencomot sepotong sandwich lagi dia berjalan menuju kamar yang dimaksud Bu Ida. Bu Ida yang masih sibuk memasak, tidak menyadari kalau Kailla sedang menuju ke ruang kerja Pram yang saat ini sedang dipakai untuk rapat.


Brakkkk!


“Om..!” panggil Kailla saat mendorong pintu ruang kerja Pram. Seketika dia terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya terpaku menatap orang-orang di dalam ruang kerja yang saat ini juga terkejut melihat kehadirannya yang tiba-tiba.


***


Kira-kira si playboy Pieter dan si Mitha gimana ya reaksinya melihat Kailla🤣🤣🤣


Diomelin Pram gak ya kali ini..😜😜😜