
“Rey..” panggil Anita sekali lagi.
“Kak, ayo kita pergi!” ajak sang adik meraih tangan Anita mengajak kakaknya itu keluar dari kamar.
“Cukup Andika! Rey sudah datang, aku tidak akan kemana-mana.” Anita terlihat menghempaskan tangan adiknya.
“Rey, ayo kita pulang,” panggil Anita lagi. Kali ini dia memilih meraih tangan Pram yang sedang mendekap erat Kailla. Seketika tangan itu dihempaskan Pram dengan kasar. Pram memilih untuk tidak menatap atau berbicara dengan Anita, kalau tidak mengingat dia sudah berjanji pada Ibu Anita sudah pasti dia akan menyeret wanita ini ke penjara atau memukulnya sampai babak belur.
“Rey, kamu selingkuhin aku,” tanya Anita begitu melihat Kailla ada di dalam pelukan Pram.
“Wanita jal*ng! Bisa-bisanya kamu merayu calon suamiku!” Anita berusaha memukul Kailla tapi langsung dicegah oleh Pram.
“Cukup An! Pergi dari sini, kalau tidak aku akan memukulmu!” Terlihat Pram sudah siap mengepalkan tinjunya pada Anita. Dia menghela napas berkali-kali berusaha menahan emosinya supaya tidak memukul seorang wanita. Melihat amarah Pram yang memuncak, Kailla segera memeluk Pram. Tangannya melingkar erat di pinggang Pram, mengunci laki-laki itu.
“Jangan! Dia lagi hamil anakmu Om.” Kailla berkata lirih sambil menangis.
Mata Pram langsung terbelalak mendengar ucapan Kailla. Segera dia melepaskan tangan Kailla yang membelit tubuhnya. “Brengsek!! Apa yang kamu katakan pada istriku?” tanya Pram langsung menyeret kasar Anita.
Dengan sekali sentakan, Pram berhasil menyeret Anita yang sedang menangis tanpa perlawanan keluar dari kamar. Melihat itu semua, buru-buru Andika, adiknya Anita berlari menyusul. Dia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya.
“Pak, tolong lepaskan kakakku! Dia sedang sakit...” pinta Andika. Belum selesai Andika berkata, Pram sudah melayangkan tinju padanya. Dalam hitungan detik, Andika langsung jatuh tersungkur. Bayu yang saat itu sedang berada tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri langsung menghampiri bosnya yang sedang tidak terkontrol.
“Bos, ada apa?” tanya Bayu.
“Siapapun yang menghalangiku memberi pelajaran pada wanita ini, akan tahu akibatnya!” ancam Pram dengan berteriak. Terlihat matanya memerah, urat-urat keluar di pelipisnya. Dia menyeret Anita keluar dari hotel, diiringi tatapan tamu dan pegawai hotel yang keheranan. Anita yang memohon dan menangis tidak dipedulikannya. Dia tetap menyeret wanita itu sampai di pelataran hotel, kemudian mendorong Anita hingga jatuh tersungkur dan menjadi tontonan banyak orang.
“BAY!!” teriaknya memanggil Bayu.
“Iya Boss!” Bayu yang berjalan di belakang Pram, buru-buru menemui bossnya itu. “
“Terserah mau kamu habisi atau apa kan! Jangan biarkan dia muncul di depan mataku apalagi istriku! Pastikan dia tidak akan bisa menyentuh istriku lagi!” perintah Pram tanpa melihat sama sekali ke arah Anita yang tetap menangis, memohon dan memanggil namanya.
“Rey.......!” teriak Anita menyayat hati.
“Kakak, jangan begini! Dia bukan Rey kakak lagi.” bujuk adiknya yang segera menyusul sang kakak. Kakaknya terlihat menyedihkan saat ini. Lebih menyedihkan dibandingkan 17 tahun yang lalu. Kalau dulu Pram membuang kakaknya atas permintaan Pak Riadi, tapi sekarang Pram membuang kakaknya atas keinginan sendiri. Anita yang terus menangis dan memohon hanya bisa melihat punggung Pram yang menghilang masuk ke dalam hotel.
“Kak, ayo kita pulang.” bujuk Andika berusaha memeluk kakaknya yang berteriak dan menangis.
“Rey, jangan begini! Kamu boleh dengan wanita manapun, tapi jangan membenciku seperti ini. Maafkan aku....” bisiknya pelan dan lemah sebelum akhirnya jatuh tidak sadarkan diri.
***
Ketika kembali ke kamar hotel, Pram melihat Kailla sedang duduk sambil memeluk lututnya. Kailla menutup mulutnya menahan supaya tangisannya tidak keluar.
“Kai.....” panggil Pram menghampiri Kailla yang masih menangis. Di usapnya airmata yang mengalir deras di pipi Kailla. “Jangan menangis lagi, aku disini.” Baru saja Pram hendak mendekap istrinya itu, tapi belum apa-apa tangannya sudah dihempas cantik oleh Kailla.
“Pergi!” usir Kailla pada Pram. “Aku tidak mau melihat Om!” lanjutnya lagi. Mengusap kasar airmata yang jatuh di pipinya dengan kedua tangannya.
Melihat pemandangan di depannya bukannya marah ataupun takut, Pram tertawa terbahak-bahak.
“Kalau tidak mau melihatku, kamu bisa menutup matamu Kai.” sahut Pram terkekeh. Terlihat dia menghubungi pihak hotel untuk membersihkan kamar yang berantakan. Banyak pecahan piring dan makanan yang berhamburan di lantai.
Belum selesai dia meletakkan telepon di tempatnya, sebuah bantal sudah mendarat tepat mengenai tubuhnya.
Bukkk
“Aku tidak akan kemana-mana Kai. Kalau kamu keberatan, kamu bisa keluar dari sini, tapi kembalikan dulu jaketku.” jawab Pram sambil tersenyum licik. Mendengar jawaban Pram kekesalannya semakin memuncak. Dia memilih menarik selimut menutup seluruh tubuhnya sampai tidak tersisa.
Tidak lama tampak dua orang pegawai hotel masuk dan meminta izin untuk membersihkan kamar. Pram sendiri memilih duduk di sofa sambil mengecek ponselnya, membiarkan Kailla yang masih menutup dirinya di balik selimut.
“Maaf Pak, kertas ini tadi ditemukan bawah tempat tidur.” Terlihat pegawai hotel menyodorkan selembar kertas pada Pram. Kening Pram mengkerut, dia masih belum membaca jelas tulisan di kertas itu. Tapi begitu melihat tanda tangan Kailla di bagian bawah kertas matanya terbelalak, langsung dia membaca kembali dengan seksama.
“Berani-beraninya anak ini mau menceraikanku!”
“Maaf, apakah sudah selesai?” tanya Pram kepada kedua pegawai hotel setelah membaca semua isi kertas itu.
“Hampir Pak. sedikit lagi.”
“Bisa tinggalkan kami?” tanya Pram langsung mempersilahkan kedua pegawai itu keluar dari kamar.
Sekarang Pram sudah berdiri di depan tempat tidur, bersiap menarik selimut yang menutup rapat tubuh Kailla.
Sretttt!! Sekali sentak bedcover tebal itu sudah mendarat ke lantai tanpa perlawanan berarti diiringi teriakan Kailla.
“Apa-apaan ini?” tanya Kailla langsung bangkit duduk bersandar di kepala ranjang.
“Ini apa maksudnya? tanya Pram menyodorkan kertas ditangannya ke depan wajah Kailla.
“Ooo.. itu surat gugatan, aku akan menceraikan Om!” kailla menjawab tanpa berpikir dua kali.
“Jangan bermimpi!” Pram menyentil kening Kailla, kemudian menyobek kertas itu menjadi potongan kecil sebelum akhirnya melempar ke dalam tempat sampah.
“Tante sedang hamil dan anaknya membutuhkan sosok bapaknya.” sahut Kailla. Kali ini wajahnya tampak sedih. Walaupun dia tidak mencintai Pram, tapi ada sedikit tidak rela di dalam hatinya. Matanya mulai mulai berkaca-kaca, apalagi kalau mengingat daddy yang sekarang sedang sakit. Apakah bisa menerima perceraiannya dengan Pram. Daddy adalah orang yang paling bahagia saat dia menikah dengan Pram. Kailla menghela napas berulang-ulang. Berusaha setegar dan sekuat mungkin.
“Menikahlah dengannya, aku tidak keberatan. Kasihan bayinya Om. Aku tahu rasanya memiliki keluarga yang tidak sempurna.” Kailla berkata lirih, air matanya seketika jatuh membasahi kedua pipinya.
“Dermawan sekali kamu Kai, menyumbangkan suamimu untuk wanita lain.” sahut Pram, memilih duduk di samping Kailla. Pelan-pelan diraihnya tubuh istrinya yang masih menangis, membawanya ke dalam pelukannya.
“Itu bukan anakku. Lagipula Anita tidak hamil Kai.” ucap Pram.
“Hah!” Kailla terkejut. Pandangannya tertuju ke Pram seketika, mencari kebenaran dalam manik mata laki-laki itu.
“Dengar Kai, anak-anakku hanya akan terlahir dari rahim Kailla Riadi Dirgantara, bukan wanita lain.” ucap Pram tersenyum menatap Kailla.
Kailla terdiam, tapi tiba-tiba ingatannya tertuju pada foto di ponsel Anita. Seketika dia mendorong tubuh Pram menjauhinya.
“Jangan menyentuhku! Aku tahu Om tidur dengan tante kan.” todong Kailla lagi.
“Ya Tuhan, apalagi ini.” Terlihat Pram memijat tengkuknya.
“Kai dengar..” Pram berusaha meraih tubuh Kailla yang sedang membuang muka, tidak mau menatapnya. “Anita menjebakku, Kai! Tidak terjadi apa-apa malam itu.” jelas Pram. Berharap kali ini dia berhasil seperti sebelumnya.
“Aku melihatnya sendiri, Om. Bagaimana itu bisa dibilang jebakan.” Kailla menatap sinis pada Pram. “Aku tidak percaya. Aku bukannya tidak mengenal bagaimana suamiku” lanjutnya lagi.
“Memang suamimu seperti apa?” Pram balik bertanya sambil tersenyum menatap Kailla yang sedang marah padanya.
***
Terima kasih dukungannya. Love you all.