
Sam masih menunggu di bawah tombol MCB, menaik- turunkan aliran listrik di ruang tengah dan area tangga. Donny yang sudah setengah tidur memilih duduk lesehan di lantai, sesekali kepalanya tertunduk ke depan dan mengembalikannya ke alam nyata. Tapi itu tidak berlangsung lama, beberapa detik kemudian dia sudah melemas dan kembali ke alam mimpinya. Hal itu berulang kali terjadi sejak 15 menit yang lalu. Sampai akhirnya dia memilih berbaring di lantai dan bisa tidur dengan nyaman. Tanpa peduli dengan Sam yang masih sibuk dengan keisengannya.
“Bro.. bro, Non Kailla kok tidak bersuara lagi ya?” tanya Sam menepuk paha Donny yang sedang berbaring di sampingnya.
Si Donny yang sudah berlayar ke alam mimpi tidak merespon sama sekali. Dia masih terlelap, ditemani nyamuk-nyamuk betina yang siap mengintai setiap saat.
“Bro..bro!” Sam terlihat mengoyangkan tubuh Donny. Sama sekali tidak ada reaksi. “Ish! Parah banget, jam segini sudah molor aja. Malu sama bantal,” gerutu Sam, mendengus kesal melihat Donny yang sedang mendengkur.
Tadinya dia berniat mengajak Donny untuk mengecek keadaan Kailla. Dia khawatir, majikannya itu kenapa-kenapa. Dia sempat mendengar teriakan Kailla tiga kali, setelah itu sunyi senyap. Bukan rahasia lagi, kalau Kailla takut kegelapan.
“Apa aku cek aja ya. Takutnya malah pingsan di dalam kamar.” ucap Sam pelan. Dengan mengendap-endap dia masuk ke dalam rumah.
“Untung belum dikunci Bu Sari,” ucapnya, begitu berhasil mendorong daun pintu rumah.
Suasana di dalam rumah sudah sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ruangan-ruangan di dalam yang luas dengan pilar-pilar berdiri kokoh, lumayan menciptakan suasana mencekam di kala malam begini.
Tepat melewati kamar tidur Pram, samar-samar dia mendengar suara perempuan. Lebih tepatnya desahan perempuan.
Deg—
Sam menatap sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Hawa dingin mulai merambat, menyeruak menerpa kulitnya membuat bulu kuduk merinding.
“Su..su..suara apa itu?” bisik Sam pelan. Seketika dia menghentikan langkahnya untuk memastikan pendengarannya.
“Mungkin perasaanku saja,” gumam Sam, berusaha menguatkan dirinya dengan tetap berpikir positif. Karena suasana di dalam rumah memang sedikit menakutkan.
Tapi.. kembali dia mendengar suara perempuan dan itu terdengar semakin jelas dari arah kamar tidur Pram. Seperti desahan berkali-kali.
“Ba..ba..bagaimana ada perempuan disini. Jelas-jelas tadi Pak Pram tidur sendiri.” Sam bergidik.
Ingatannya kembali ke tadi siang, saat dia meletakan koper ke dalam kamar. Suasana di dalam kamar sangat gelap dan lumayan membuat bulu kuduk merinding. Kamar Pram lumayan luas, tapi sudah belasan tahun tidak ditempati. Sejak Pram berangkat ke Inggris, kamar ini kosong. Setelah kembali ke Indonesia, Pram memilih tinggal di apartemennya. Jadi kamar ini dibiarkan begitu saja, kosong tidak berpenghuni.
Hanya Bu Sari yang sering masuk ke dalam untuk membersihkannya, selebihnya selalu tertutup rapat. Tidak pernah ada satu manusia pun yang mau masuk ke sana. Sejak dua tahun yang lalu, Pram lebih memilih beristirahat di kamar Kailla, dengan catatan kalau pemiliknya mengizinkan.
“Aduh Mak, ja..jangan jangan itu suara kunti yang nge kost di kamar Pak Pram lagi,” ucapnya terbata-bata sambil memejamkan matanya. Semakin dipikir, semakin menakutkan. Semakin didengar, semakin mengerikan.
Mulut Sam sudah komat kamit, membaca semua doa-doa untuk mengusir setan. Matanya terpejam, berharap dengan doa-doa yang dia lantunkan, suara-suara itu segera menghilang.
“Ya Tuhan....” bisik Sam ketika suara-suara itu bukannya menghilang, malah semakin terdengar jelas dan nyata.
“Jelas-jelas ini bukan manusia, satu-satunya perempuan yang tinggal di dalam sini hanya Non Kailla. Non Kailla tidak akan mau masuk ke kamar itu.” ucap Sam dalam hati. Bukannya dia tidak tahu, Kailla juga pengecut sama sepertinya.
Tak lama setelah terdengar suara desahan perempuan, Sam kembali mendengar suara erangan seperti harimau. Erangan itu panjang dan mengerikan. Walau samar-samar, Sam bisa mendengar jelas seperti suara harimau sedang mengerang.
“Astaga, mimpi apa semalam aku Mak!” bisiknya gemetaran. Kembali mulut Sam terlihat komat kamit tidak karuan.
Jantungnya semakin berdetak kencang, kakinya mulai lemas dan gemetaran. Tanpa sengaja dia menendang pajangan tembaga yang sempat dijatuhkan Kailla. Pajangan itu menggelinding dan menabrak dinding menimbulkan bunyi berdenting. Meskipun dentingannya tidak terlalu kencang, tapi perasaan takut yang menyergap dirinya membuat dia berlari pontang panting.
“Don...Don...!” Ayo bangun!” panggil Sam begitu sudah berada di teras rumah. Sesekali matanya menatap ke dalam rumah. Seolah-olah ada yang mengejarnya dari dalam.
“Don! Ayo buruan. Ada kunti lagi berantem sama siluman harimau di dalam.” Sam berteriak ketakutan. Melihat Donny tetap terlelap, akhirnya Sam memilih meninggalkan asisten Pak Riadi itu tidur di teras. Dia langsung mengambil langkah seribu, berlari ke pos security.
Sam tiba di pos security dengan nafas tersengal-sengal, bibir bergetar dan wajah memucat. Berkali-kali dia mengusap dadanya supaya sedikit lebih tenang. Baru saja jantungnya berdetak teratur, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
“Setan!!!” teriak Sam memejamkan matanya. Dia berlari masuk kedalam pos, meringkuk di pojokan kursi.
“Sam!” panggil Donny sedikit kencang. Seketika mengembalikan laki-laki itu ke alam sadarnya.
Terlihat Sam menghela napas, perasaannya jauh lebih tenang sekarang. Pelan-pelan, dia menceritakan pengalaman mistis yang baru saja dialaminya. Mendengar cerita Sam, Donny dan beberapa security yang sedang duduk disana tertawa tebahak-bahak.
“Kebanyakan nonton Dunia lain! Mana ada sih. Kita tinggal disini udah lama gak pernah dengar yang aneh-aneh.” jelas Donny. Dia hampir saja memukul kepala Sam karena terlalu geregetan melihat kelakuan sopir majikannya itu.
“Paling juga Pak Pram lagi wik wik wik sama bininya,” lanjut Donny lagi sambil terkekeh. “
“Pengantin baru Bro! Fresh from oven, masih anget-angetnya” celetuk salah seorang security.
“Aku tidak percaya, besok pagi-pagi aku mau ngecek lagi. Tidak mungkin majikanku yang begitu luar biasa bisa bertekuk lutut di depan Pak Pram.” ucap Sam mengelengkan kepalanya.
***
Pagi itu tidur Kailla terganggu dengan tangan nakal Pram yang menjamah tubuh polosnya dari balik selimut.
“Kai...,”bisik Pram lembut. Sengaja dia menghembuskan nafas kasarnya di lekukan leher Kailla. Dalam hitungan detik, istrinya itu langsung menggelinjang. Dengan cekatan, dia langsung menurunkan selimut yang menutup tubuh bagian atas Kailla, menikmati sesuatu yang membusung disana saat Kailla sedang menggeliat kegelian.
“Aku masih ngantuk Om,” sahut Kailla menarik kembali selimut yang sudah melorot sampai ke pinggang rampingnya.
“Kai...,” panggil Pram lagi. Kali ini dia memilih menarik habis selimut yang masih menutup rapat tubuh Kailla dan melemparnya ke lantai.
“Aku capek Om,” tolak Kailla masih memejamkan matanya. Dia sudah bersiap bangun untuk mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai, saat Pram mencekal tangan dan menggulingkannya kembali ke atas tempat tidur.
“Kalau sudah terbiasa, tidak akan capek.” rayu Pram, sekarang dia memilih menindih tubuh mungil Kailla supaya tidak bisa kemana-mana.
“Aku belum terbiasa Om,” Kailla menjawab singkat, masih berusaha melepaskan dirinya.
“Sayang.....,” rengek Pram. Saat ini Pram persis seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan permen lolipop. Sesekali dia mengecup basah leher jenjang Kailla yang penuh bekas kemerahan karena ulahnya semalam. Dia berharap kecupannya bisa membawa Kailla terbang ke awan dan dengan sukarela melayaninya.
***
Terimakasih dukungannya. Love You All.