Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 139 : Lupa Jalan Pulang


Kailla keluar dari unit apartemennya dengan senyum terkembang di bibirnya. Tapi, sudah mondar mandir mencari Bayu, tapi tetap tidak menemukan asistennya itu. Dan pada akhirnya dia menyerah.


“Hmmm, apa aku jalan sendiri yah. Lagian cuma muter di dekat sini saja,” ucap Kailla pelan.


Melihat kesempatan yang terbuka lebar di depan mata, pikiran nakal muncul kembali di otak Kailla. Dia tidak berpikir ulang, apa yang dilakukannya akan menyusahkan Pram dan asistennya.


Dengan setengah berlari dia keluar ke jalanan. Kalau dia tidak buru-buru, bisa saja dia tertangkap Bayu. Dan rencananya akan terancam batal.


Terlihat dia mendatangi kedai-kedai yang menjual makanan di sisi kiri dan kanan jalanan, berharap ada bakso kesukaannya di salah satu kedai itu. Tapi harapannya pupus, setelah menyusuri jalanan tidak menemukan bakso. Bahkan tidak ada yang tahu jenis makanan apa itu. Tapi dia pantang menyerah, kali ini dia memilih mencari restoran yang menjual menu Asia. Berharap bisa menemukan bakso di sana. Tapi kembali dia tidak menemukan apa-apa. Padahal dia benar-benar menginginkannya saat ini. Terlihat dia menelan salivanya berkali-kali. Membayangkan saja air liurnya sudah menetes.


“Apa aku mainnya kurang jauh ya?” Kailla tampak mengerutkan dahinya.


Setelah berpikir sebentar, akhirnya dia memutuskan menikmati jalan-jalan saja. Mampir di beberapa toko yang menjual pernak pernik, cemilan dan pakaian. Kailla benar-benar menikmati kebebasannya. Dia bisa makan sepuasnya, tanpa mendengar ocehan Pram. Bisa mendatangi semua toko dan berlama-lama melihat pajangan di etalase. Bahkan dia sempat membeli beberapa cemilan untuk di bawah pulang. Keluar dari toko, dia masih bergabung dengan orang-orang menikmati show singkat pengamen jalanan.


“Ternyata seperti ini rasanya,” ucap Kailla, saat dia harus ikut berdesakan mengintip laki-laki muda dan tampan yang sedang memainkan gitarnya.


Riuh tepuk tangan mengakhiri show singkat itu. Kailla pun harus beranjak pergi. Masalahnya muncul saat dia baru sadar, dia lupa jalan menuju ke apartemennya. Dia terlalu senang, sampai berlari kesana kemari, melompat dari satu toko ke toko lainnya. Dia sendiri tidak ingat seberapa jauh dia berjalan, seberapa banyak di berbelok.


Tampak dia mencari sesuatu di kantong celananya. Tapi dia tidak menemukan apa-apa.


“Astaga! Aku meninggalkan ponselku di apartemen,” ucapnya mulai panik. Tadinya dia berencana menghubungi Bayu agar menyusulnya kesini.


Kailla mengedarkan pandangannya. Semua terasa asing! Dia tidak pernah melewati jalanan ini. Dia kembali berjalan, tapi kali ini bukan dengan perasaan gembira. Dia panik, harus bertanya ke siapa. Bahkan dia tidak ingat nama jalan tempat dia tinggal selama di Wina. Dia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, dia tidak punya persiapan apa-apa.


Dia tidak pernah pergi sendirian. Selalu ada Sam, Bayu, Donny atau pun Pram bersamanya sejak kecil. Semuanya sudah disiapkan asistennya. Dia hanya perlu duduk manis dan tidak perlu memikirkan apa pun. Dia tidak perlu mengingat jalan, mengingat nama bahkan dia tidak perlu pusing dimana meletakkan tasnya. Asistennya mengetahui semua hal tentangnya. Apalagi Sam, dia tidak perlu bicara Sam sudah paham semuanya hanya dengan melihat lirikan matanya.


Dan sekarang, dia sendirian di tengah orang asing, di tempat asing. Ketika keluar dari apartemennya dia tidak berpikir sama sekali. Rasanya sudah ingin menangis. Di saat seperti ini, dia jadi teringat semua kata-kata Pram.


Di tengah kebingungannya seseorang laki-laki mendekatinya. Mendapati itu, Kailla semakin takut.


“Bagaimana kalau dia orang jahat,” ucapnya dalam hati.


Kailla langsung berjalan menghindar, tidak mau menjawab pertanyaan si laki-laki. Melihat Kailla yang menghindar, orang asing itu lalu menyapanya dalam bahasa Indonesia.


“Maaf, saya berasal dari Indonesia. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya. Dia tahu jelas dengan Kailla, karena Kailla adalah istri Bosnya.


Kailla menggeleng. Pram selalu mengingatkannya, tidak boleh terlalu mudah percaya dengan orang asing apalagi baru dikenalnya.


Kailla memilih berjalan sendiri, mencoba mengingat jalanan yang tadi dilewatinya. Tapi semakin berjalan, rasanya semakin asing.


“Coba ada Sam, dia pasti bisa mencari jalan keluar untukku,” ucap Kailla pelan.


Dia sudah berjam-jam mengitari jalanan seperti orang gila. Di tengah lamunannya, tiba-tiba laki-laki yang tadi menawari bantuan kembali muncul di hadapannya.


“Nona tersesat?” tanya laki-laki asing itu.


Kailla masih tetap menggeleng. Berusaha menghindar, berjalan menjauh.


“Mau aku antarkan ke kantor polisi terdekat. Nona bisa minta bantuan disana,” tawar laki-laki itu, seketika menghentikan langkah kaki Kailla.


“Kenapa tidak terpikirkan. Sedari tadi aku mencari jalan pulang sampai lelah dan lapar!”


“Cukup tunjukkan jalan saja, tidak perlu mengikutiku!” ucap Kailla.


Kailla menyusuri jalanan sesuai dengan petunjuk laki-laki asing itu. Begitu melihat kantor polisi sudah di depan mata, senyum tersungging di bibirnya. Masih dengan menenteng shopping bag berisi cemilan dan pernah-pernik yang sempat dibeli tadi, dia masuk ke dalam kantor itu. Meminta bantuan orang-orang yang ada di dalam sana.


Masalah muncul, saat dia tidak tahu alamat dan nama apartemen tempatnya tinggal selama di Wina.


“Astaga! Kenapa selama ini aku tidak pernah mencari tahu untuk hal- hal kecil seperti ini,” sesalnya.


Di saat seperti ini, dia baru merasa ada banyak hal di dalam hidup yang dianggap enteng dan tidak dihiraukannya. Tapi seharusnya itu penting. Dia terlalu terbiasa dengan segala fasilitas dan orang-orang yang setia membantu di sampingnya setiap saat.


Akhirnya setelah tidak bisa menyebutkan alamat tinggalnya, Kailla meminjam ponsel salah satu orang di dalam kantor. Beruntung dia masih mengingat nomor ponsel Bayu dan Pram. Kalau tidak, dia akan menjadi gelandangan di kota Wina.


Setelah menimbang, dia memilih menghubungi Bayu. Menelepon Pram saat ini, hanya akan membuat suaminya itu mengomel lagi. Dia tidak mau dimarahi Pram.


Kailla menunggu hampir setengah jam di sana. Wajahnya terlihat lega saat melihat Bayu berjalan masuk menuju ke arahnya. Dia sudah berdiri, bersiap menghampiri Bayu. Tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok yang saat ini berjalan masuk di belakang Bayu.


“Pram!”


Wajah Kailla langsung berubah pucat dan takut. Dia menjatuhkan shopping bag nya seketika. Kepalanya tertunduk. Kailla yang ketakutan, terlihat bersembunyi di belakang Bayu.


Pieter yang berdiri di belakang Pram hanya bisa menatap. Dia kasihan dengan Kailla, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana pun Kailla istrinya Pram. Dia tidak berhak ikut campur masalah rumah tangga temannya itu.


Terlihat Pram berbicara dengan petugas di kantor polisi dan menunjukkan kartu identitasnya. Selesai berbicara dia langsung menatap ke arah Kailla yang sedang tertunduk.


“Ayo kita pulang!” ajak Pram mengulurkan tangannya pada Kailla yang sedang ketakutan.


“Ka...kamu tidak marah padaku?” tanya Kailla terbata. Rasa takutnya belum hilang, dia masih menunduk, sesekali mencuri pandang pada suaminya.


“Wow! Kailla takut padanya!” batin Pieter melihat pasangan di depannya.


“Tidak, ayo kita pulang,” ajak Pram menghampiri Kailla yamg masih bersembunyi di belakang Bayu. Pram menatap shopping bag yang dijatuhkan Kailla. Hatinya sedikit kecewa melihat Kailla menunjukkan ekspresi ketakutannya di depan Pieter.


Sambil menggenggam tangan Kailla, Pram berjalan melewati Pieter.


“Jangan berpikiran macam-macam!” bisik Pram di telinga Pieter, sambil menepuk pundak asistennya itu.


Pram tidak berniat membawa Pieter menjemput Kailla, tapi laki-laki licik itu malah diam-diam mengikutinya sampai ke kantor polisi. Pram sempat terkejut saat turun dari mobil melihat mobil Pieter ada di belakang mobilnya. Dan yang membuat Pram muak, dengan tidak tahu malunya Pieter mengatakan kalau dia mengikuti Pram karena khawatir.


Pieter langsung berbalik, menatap Pram yang sedang menyeret Kailla masuk ke mobil. Dia masih bisa mendengar percakapan di antara keduanya.


“Kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan?” tanya Pram sembari membuka pintu mobil untuk istrinya.


“Tidak ada yang jualan bakso disini,” sahut Kailla kecewa.


“Aku akan mencarinya untukmu, jangan pernah melakukan ini lagi. Aku mengkhawatirkanmu,” ucap Pram lembut.


***


Nanti up 1 bab lagi ya. Masih terus nulis ini.