Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 88 : Diusir Dari Mobil


Setelah memenuhi permintaan Kailla, akhirnya Pram memutuskan untuk kembali ke apartemen. Kailla sudah sedari tadi terlelap di pelukan Pram. Begitu masuk ke dalam mobil, tidak lama kepala Kailla sudah terjatuh dan melemas di pundak Pram. Melihat pemandangan itu, Pram langsung meraih tubuh mungil Kailla dan membawanya ke dalam pelukan. Sesekali dia merapikan rambut yang menutupi wajah polos istrinya saat tertidur. Senyum selalu terukir di bibir Pram melihat betapa cantik istrinya saat tidur. Andaikan tidak ada Mitha bersama mereka, sudah pasti dia akan mengecup seluruh wajah Kailla.


“Ini Presdir kok sweet banget ya. Aku jadi iri,” ucap Mitha dalam hati.


Dari tadi Mitha menatap Pram tanpa berkedip, dari atas sampai ke bawah. Tak ada satupun yang lolos dari perhatian Mitha. Beruntungnya, pandangan mata Pram sedari tadi hanya tertuju pada Kailla, bahkan Pram melupakan ada sosok lain bersama mereka. Laki-laki tampan itu tidak berbicara sedikitpun, hanya diam berlama-lama menatap istrinya sambil tersenyum


“Ah... serius ini. Perfect banget!!”


Melihat Pram yang masih betah mengunci bibirnya rapat- rapat tanpa mau mengalihkan pandangannya dari sosok di dalam pelukannya, Mitha mencoba mengajaknya bicara.


“Maaf Pak Presdir, Ada yang dibutuhkan lagi untuk keperluan Bapak besok?”


“Tidak perlu, nanti saya langsung menghubungi Pieter,” sahut Pram tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.


“Ah, ini cabe-cabean beruntung banget. Besok kalau ada kesempatan mau nanya ambil peletnya dimana.”


“Pak Presdir besok sudah mulai ke kantor? Nanti saya sampaikan ke Pak Pieter supaya disiapkan segala sesuatunya,” tanya Mitha lagi mencoba memancing pembicaraan.


“Saya sendiri yang akan menghubungi Pieter.” Pram menjawab singkat. Tetap tidak mengalihkan tatapannya. Tidak ada senyuman di bibir Pram.


“Gila! Nengok aja nggak!”


“Istrinya kecapekan ya Pak?” Mitha masih tidak berhenti berjuang.


“Iya, Kai tidak tidur sama sekali sejak dari Dubai.” ucap Pram tersenyum menatap Kailla.


“Akhirnya senyum juga, walau bukan untukku.”


“Istrinya.... masih mu..da Pak?” Ragu-ragu Mitha bertanya. Dari tadi Pram hanya memperhatikan istrinya. Mitha berpikir pembahasan mengenai istri Pak Presdir akan lebih mudah memancing laki-laki tampan ini berbicara. Tadi Pak Presdir sempat tersenyum, walau kenyataannya senyuman itu untuk sosok yang sedang melemas di dalam pelukan.


“Bukan urusanmu!” Pram menjawab ketus, kali ini laki-laki itu menatap tajam ke arah Mitha. Seketika nyali Mitha menciut.


“Mati aku! Salah pertanyaan.”


“Kalau tidak ada hal penting, kamu bisa turun dan ikut di mobil belakang!” usir Pram. Istriku butuh istirahat, aku takut suaramu mengganggunya,” lanjut Pram lagi.


“Maaf Pak Presdir.” Mitha langsung menunduk dan memilih diam.


Dari awal melihat, Pram sudah tahu niat gadis di hadapannya. Dia bukan anak kemarin sore yang disodorkan mainan langsung lupa segalanya. Gadis baik-baik tidak akan berani menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pram bingung, bagaimana gadis seperti ini bisa lolos seleksi dan Pieter bisa mengirimnya untuk menjemput mereka di bandara.


Tapi nilai positifnya, gadis ini bisa membuat perubahan pada sikap Kailla. Sejak dari bandara sampai sekarang, tidak sekalipun Kailla memanggilnya Om. Mengingat itu, kembali senyum terukir di bibirnya.


Untuk saat ini Pram hanya akan fokus di pekerjaan, menyelesaikan semua secepatnya dan kembali ke Indonesia. Kailla tidak bisa terlalu lama berpisah dari daddy. Apalagi istrinya itu terlalu polos, dia khawatir kalau sampai bertemu dengan terlalu banyak orang asing. Selicik-liciknya Kailla, tidak jauh dari menjahili Sam. Tidak pernah sekalipun dia berpikir untuk menyakiti orang lain, tapi sebaliknya di luar sana ada banyak musuh yang diam-diam sudah mengintainya. Dia tidak mau kejadian Anita terulang lagi, mengingat nyawa istrinya hampir di ujung tanduk saja sudah cukup menyakitkan, apalagi harus mengulangnya kembali.


***


Baru saja Pram meletakkan tubuh Kailla di atas ranjang mereka yang nyaman dan empuk tapi istrinya itu langsung menggeliat.


“Sayang...” ucap Kailla masih dengan suara seraknya. Matanya membuka sebentar, tangannya langsung bergelayut kembali ke leher Pram. Dia belum sepenuhnya sadar, masih mengguman tak jelas.


“Kai..., kamu sudah bangun?” tanya Pram mengusap lembut wajah Kailla. Tidak ada jawaban, hanya geliatan kecil dan gumaman tidak jelas yang kembali keluar dari bibir tipis istrinya.


“Sayang, aku masih mau tidur..” ucap Kailla menarik kencang leher Pram supaya ikut tidur bersamanya.


“Kai.. kai.., jangan,” tolak Pram ketika tubuhnya ikut jatuh ke ranjang karena kencangnya tarikan Kailla. Pram terpaksa harus menyusul tidur di sisi Kailla, memeluk dan menepuk lembut punggung istrinya itu sampai lelap baru bisa meninggalkannya. Dia tidak bisa tidur dengan tubuh kotor berdebu dan bekas keringat karena kegiatan mereka sepanjang hari ini.


Pelukan Pram yang hangat menenangkan Kailla sejenak, tapi tidak lama kemudian istrinya sudah berulah lagi. Entah sadar atau tidak, dia menarik leher Pram kembali, mengecup bibir suaminya.


“Sayang.., jangan sekarang ya,” pinta Pram. Dia masih berusaha menghindar dari serangan bibir Kailla. Tidak mendapatkan bibir, Kailla malah mengecup leher dan seluruh wajah Pram. Mata Kailla masih tetap terpejam, bibirnya masih bergumam tidak jelas.


“Astaga Kai, mimpi apa kamu Sayang,” ucap Pram pelan. Dia hanya bisa pasrah menerima semua kecupan Kailla di seluruh wajahnya. Wajah tampannya kelihatan basah karena kecupan bertubi-tubi istrinya. Tidak puas mengecup, sekarang Kailla menelusup di dada Pram mengelus pelan dan terlelap disana.


“Kai... kai,” panggil Pram lembut setelah dirasa tidak ada pergerakan lagi. Perlahan dia menggeserkan tubuh secepatnya. Kalau terlalu lama bersama Kailla dia tidak tahu akan bertahan sampai kapan. Dia harus segera mandi dan membersihkan tubuhnya, dia tidak bisa tidur dengan tubuh lengket seperti saat ini.


Setengah jam kemudian, dia sudah kembali ke kamar dengan setelan tidurnya, menatap Kailla yang terlelap dengan baju yang sama sejak berangkat dari Indonesia.


“Pasti tidak nyaman tidur dengan setelan seperti ini,” pikirnya. Akhirnya Pram memutuskan untuk mengganti pakaian Kailla.


Tapi idenya itu malah membawanya ke dalam masalah. Tangannya sibuk mencari cara melepas berbagai macam aksesories yang menempel di pakaian Kailla, bibirnya juga mengomel. Ada banyak kancing, ada banyak ikatan, ada banyak perintilan disana yang dia sendiri tidak paham bagaimana cara membukanya.


“Kenapa harus memakai pakaian seribet ini,” omel Pram. Dengan susah payah dan penuh perjuangan dia berhasil menanggalkan pakaian Kailla. Tapi masalah tidak selesai sampai disitu. Tadinya dia sudah tersenyum bahagia menatap Kailla yang hanya mengenakan pakaian dalam. Tapi begitu dia berusaha melepas bra yang dikenakan Kailla, kembali dia mendengus kesal.


“Bra model apa lagi ini?” ucap Pram kesal. Begitu dia menyusupkan tangannya di balik punggung Kailla, tidak ada kaitan disana.


“Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini,” gerutu Pram meremas rambutnya. Dia terdiam menatap dan meneliti bra yang dikenakan istrinya.


“Apa aku gunting saja ya?” Terlintas ide gila di benak Pram. Dia sudah hampir putus asa saat ini, setelah hampir 10 menit masih belum menemukan juga cara membukanya.


Kalau digunting, pasti besok Kailla akan mengamuk padanya. “Apa aku paksa keluar dari atas saja ya.”


Otak Pram sedang berpikir keras saat ini. Kepalanya sudah pusing, rasa lelah membuat otaknya sulit berpikir. Jalan satu-satunya, membiarkan Kailla tidur dengan pakaian dalamnya saja. Itu jauh lebih baik dari pada tidur dengan pakaian kotor. Dia segera menghempaskan tubuhnya, ikut berbaring disisi Kailla.


***


Terimakasih.