Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 29. Kebelet Nikah


Beberapa hari ini jadwal Pram benar-benar padat, ada beberapa proyek di luar kota yang baru dimulai. Bahkan ia belum bertemu dengan Kailla lagi semenjak pulang dari Puncak. Namun, ia selalu memantau semua kegiatan Kailla melalui Bayu. Hari ini, sebenarnya ia berencana menemui Kailla di kampus tetapi tiba-tiba ada rapat mendadak di kantor. Akhirnya dengan terpaksa ia meminta Sam membawa Kailla ke kantornya.


“Non, Pak Pram memintaku mengantar Non Kailla ke kantor,” jelas Sam saat mereka berada di dalam mobil.


Kailla hanya diam menatap ke luar jendela, tidak merespon ucapan Sam. Lagi pula, ia bisa apa kalau Pram sudah memberi perintah, kecuali duduk manis dan menurut saja. Sejam kemudian, mereka sudah tiba di gedung 20 lantai yang berdiri gagah dengan logo RD di bagian puncaknya. Begitu masuk ke dalam gedung, terlihat beberapa karyawan tersenyum menyapanya. Kailla segera berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai 20, tempat di mana ruangan Presdir berada.


Ting—


Begitu pintu lift terbuka, Kailla sudah disuguhi senyum manis sekretaris Pram yang sedang berdiri tidak terlalu jauh dari pintu lift.


“Selamat siang, Nyonya,” sapanya sedikit membungkuk sambil tersenyum manis memamerkan deretan giginya yang putih.


“Ah, Stella, seperti baru kenal saja. Panggil aku seperti biasa,” tolak Kailla sambil mencubit pinggang Stella.


Stella memang sudah lumayan lama bekerja di RD Group. Tadinya ia adalah sekretaris Pak Riadi, tetapi karena sekarang Pram yang menggantikan posisi Pak Riadi jadi otomatis ia bekerja dengan Pram sekarang.


“Tidak bisa begitu,Nyonya. Nanti saya dimarahi Pak Pram,” goda sang sekretaris.


“Ya sudah. Aku masuk dulu. Om ada di dalam, kan?” tanya Kailla sambil mendorong pintu ruangan Pram. Sang sekretaris hanya mengangguk, kemudian berjalan kembali ke mejanya.


Ceklek—


Terlihat Pram sedang duduk di kursi kerjanya menatap tablet di hadapannya. Mendengar suara pintu terbuka, pria itu sempat mengangkat pandangannya sekilas. Ia menatap Kailla sebelum akhirnya menepuk pahanya meminta Kailla duduk di pangkuan.


Agak ragu, tetapi akhirnya Kailla mengikuti perintah Pram. Betapa terkejutnya Kailla, begitu menjatuhkan bokongnya di pangkuan Pram, ternyata laki-laki itu sedang melakukan video conference melalui tablet-nya.


Deg—


Buru-buru Kailla berdiri kembali, tetapi Pram menahannya. Memintanya untul tetap duduk di pangkuan. Tanpa keraguan sedikit pun, Pram mendekap gadis itu dari belakang. Dengan satu tangan yang lain, terlihat Pram mematikan sambungan video di tabletnya.


“Tidak merindukanku, hah?” tanya Pram membenamkan wajahnya di rambut panjang Kailla, menghirup aroma shampo di rambut tergerai sehalus sutra.


“Kenapa memintaku kesini, Om?” tanya Kailla berusaha duduk tenang di tengah kerisauan hatinya. Sewaktu kecil, ia terbiasa melakukannya, tetapi tidak untuk sekarang.


“Aku merindukanmu, Kai,” jawab Pram meletakkan dagunya di pundak Kailla, mengeratkan pelukannya seolah menyalurkan kerinduannya pada gadis di dalam dekapan. Pram menghela napas panjang, benar-benar sedang menikmati memeluk gadis di pangkuannya.


Setelah puas memeluk Kailla, terlihat Pram mengeluarkan kotak dari laci mejanya dan meletakkan kotak tersebut di atas meja.


“Bukalah!" perintah Pram.


Kailla segera meraih kotak dari atas meja, membukanya dan terbelalak. Ada sebuah kalung, dengan liontin inisial P bertakhta berlian di sekelilingnya. Kailla berbalik menatap Pram.


“P untuk Pram. Kamu menyukainya?” tanya Pram sembari menyibak rambut panjang Kailla dan menyingkirkan ke sisi kanan pundak. Ia melepas pengait kalung yang sedang dipakai Kailla saai ini. Ya, Kailla masih mengenakan kalung pemberian dari Dion.


Setelah kalung itu terlepas, segera Pram menyimpannya di saku celana. Ia mengambil kalung yang masih ada di tangan Kailla, memasangkannya di leher sang calon istri. Setelah terpasang sempurna, ia mengecup tengkuk Kailla dan berbisik di telinga gadis itu.


“Aku mencintaimu. Menikahlah denganku,” ucap Pram sembari mendekap erat Kailla kembali.


“Om?” Kailla terlihat bingung memegang liontin yang sudah tergantung sempurna di lehernya.


“Pram ... sekali ini saja panggil aku Pram,” bisik Pram, mengecup pundak Kailla.


“Maafkan aku, Kai. Aku benar-benar sibuk belakangan ini ... sampai tidak sempat mengurus pertunangan kita. Bagaimana kalau kita langsung menikah saja. Aku akan meminta David mengurus semua berkas-berkasnya. Setelah meresmikan pernikahan, kita bisa mencari waktu yang tepat untuk menggelar resepsinya,” ujar Pram yang masih duduk di kursi kebesarannya menatap gadis di hadapannya.


“Kenapa harus secepat itu?” Kailla berbisik lirih. Tampak ada sedikit penolakan di wajahnya.


“Bulan depan aku harus ke Austria, kita akan membuka kantor cabang baru di sana. Mungkin akan sedikit lebih lama di sana dan aku akan membawamu bersamaku,” jelas Pram memeluk pinggang Kailla kemudian membaringkan kepalanya di pangkuan gadis itu, sedikit bermanja-manja di sana.


“Aku lelah, Kai. Biarkan aku tidur sebentar di sini,” lanjut Pram sembari memejamkan mata, menikmati hangatnya tubuh Kailla.


Entah berapa lama Pram membaringkan kepalanya di sana, Kailla sendiri memilih mengusap rambut Pram membuat laki- laki itu nyaman. Pikirannya masih dipenuhi permintaan Pram yang akan menikahinya dalam sebulan ini. Masih berat rasanya menerima pernikahan ini.


“Om, apakah harus secepat ini? Apa tidak sebaiknya menunggu Om kembali dari Austria,” lirih Kailla.


Terlihat Pram bergerak dari posisi nyamannya, ia berdiri menyejajarkan tingginyaa dengan Kailla. Tersenyum, Pram menangkup wajah cantik Kailla dengan kedua tangannya.


“Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini. Aku mengkhawatirkanmu, Kai. Cepat atau lambat ... kita juga akan menikah pada akhirnya,” jelas Pram sambil memiringkan wajahnya mengecup bibir Kailla lembut.


Ceklek—


“Pak, ini hasil meet ....” David yang tiba-tiba masuk ke ruangan Pram tanpa permisi terbelalak melihat atasannya sedang berciuman.


Seketika sebuah pena melayang ke tubuh David, diiringi tatapan tajam Pram yang terpaksa harus menghentikan kegiatannya.


“Ma—maaf ... maaf,” ucap David, salah tingkah segera berbalik dan buru- buru menutup pintu ruangan Pram.


David masih berdiri di depan pintu sambil mendekap folder di dadanya. Sebenarnya, ia tidak masalah melihat adegan tadi. Itu adegan biasa yang tidak ada apa-apanya. Namun, yang jadi masalah, kenapa ia harus masuk di saat yang tidak tepat.


“Bodoh, harusnya tadi aku tidak main masuk saja,” umpatnya pada diri sendiri.


Bunyi ketukan sepatu hak tinggi Stella, sekretaris Pram membuat David mengalihkan pandangannya mencari asal suara. Terlihat Stella berjalan dengan anggun dari arah toilet.


“Dari mana saja, Ste? Nih, nanti kalau Pak Pram sudah selesai dengan urusannya di dalam baru diserahkan.” David menyerahkan folder ke tangan Stella.


“Kenapa? Tadi Pak David sudah dari dalam, kenapa tidak langsung diserahkan?” tanya stella, penasaran.


“Pak Boss sedang pacaran di dalam. Jangan coba-coba masuk, kalau tidak mau dilempar keluar. Tunggu dipanggil, Ste. Maklum saja, Pak Boss kelamaan membujang. Haha ...."


***


T b c



Nih,dibonusin visual Om Pram yang sudah kebelet nikah.


Terima kasih.


Love you all.