
Mobil yang ditumpangi Pram belum terlalu jauh meninggalkan apartemen saat Bu Ida menghubunginya. Tapi begitu melihat nama asisten rumah tangganya tertera di layar ponsel, perasaan Pram langsung tidak tenang. Tidak biasanya Bu Ida menghubunginya. Dia takut terjadi sesuatu dengan Kailla.
“Iya Bu, ada apa?” tanya Pram begitu menempelkan ponsel di telinganya.
“Itu.. Non Kailla... eh...”
“Kailla kenapa?” tanya Pram buru-buru, memotong kata-kata Bu Ida.
“ Non... eh .. Pak Pieter datang menemui Non....”
Tutttt.............! Panggilan langsung diputuskan Pram saat itu juga, tanpa menunggu Bu Ida menyelesaikan kata-katanya.
“Pak, kita balik ke apartemen!” perintah Pram.
Mendengar laporan dari Bu Ida, amarahnya langsung meledak. Beraninya Pieter mendatangi apartemennya disaat dia tidak ada di sana. Matanya langsung memerah, tangannya terkepal, buku-buku di jari tangannya terlihat jelas dan mengeras, menandakan seberapa emosinya dia saat ini. Urat-urat di pelipis pun ikut menonjol.
“Br*ngsek!!” ucapnya sambil melayangkan pukulan pada kursi depan mobil.
Sopir yang mendengar umpatan Pram hanya bisa menutup mulutnya. Dia tidak mau jadi tempat pelampiasan majikannya kalau sampai salah bicara.
***
Setelah menghabiskan rotinya, Kailla langsung mengambil alih mangkok bakso yang ada di dekatnya.
“Lumayan,” ucapnya setelah mencoba rasa kuah baksonya.
“Tapi...., aku maunya yang seperti di komplek rumahku. Yang pakai gerobakan.” ucapnya seketika membuat tawa Pieter pecah.
“Nona, ini dia Austria, bukan di Jakarta. Aku harus bangun pagi-pagi sekali demi untuk berburu bakso ini,” jelas Pieter, menunjuk ke arah mangkok bakso di hadapan Kailla.
“Terimakasih, lain kali tidak perlu repot-repot. Itu tugas Presdirmu,” bisik Kailla.
“Presdir terlalu sibuk. Ngomong-ngomong, apakah dia menakutkan?” tanya Pieter tiba-tiba.
“Sedikit,” sahut Kailla, mengernyitkan dahinya. Sambil menusuk bakso dengan garpu dan memasukkan ke dalam mulutnya.
“Ini enak!” ucap Kailla, matanya terbelalak saat lidahnya mulai bisa merasakan kelezatan bakso yang masuk ke dalam mulut.
Pieter tersenyum melihat ekspresi Kailla yang berubah tiba-tiba.
“Mungkin ini yang membuat Pram tergila-gila,” batinnya.
Bakso itu baru saja masuk ke dalam lambung, tapi perut Kailla tiba-tiba sudah bergejolak. Mual itu datang kembali. Dengan menutup mulut dia langsung berlari menuju kamar mandi. Pieter yang terkejut, ikut berlari mengekor di belakang Kailla.
“Kai.., kamu kenapa?” tanya Pieter yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
Kailla tidak menjawab, dia terlalu sibuk menuangkan isi perutnya. Roti bercampur jus yang sempat dimakannya tadi kini sudah keluar memenuhi wastafel.
“Kai...,” panggil Pieter.
Baru saja dia akan ikut masuk ke dalam kamar mandi, tapi Kailla memberi kode dengan tangannya supaya Pieter pergi meninggalkannya.
Bu Ida yang melihat, ikut menyusul Kailla dan meminta Pieter untuk menjauh.
“Pak, tunggu di ruang tamu saja,” pinta Bu Ida, sembari masuk ke dalam kamar mandi. Mengusap lembut punggung Kailla.
Pieter bergeming. Masih betah berdiri di depan pintu, menatap Kailla dengan wajah khawatir.
“Kai, kamu baik-baik saja?” tanya Pieter lagi.
Kailla mengangguk, tidak sanggup lagi menjawab. Tubuhnya sudah melemas setelah mengeluarkan semua isi perutnya.
Pieter baru saja hendak memapah Kailla, membantu istri Presdirnya itu untuk duduk kembali. Tapi, baru saja tangannya menyentuh pundak Kailla yang sedang menunduk, Pram sudah menerjang masuk dengan wajah penuh amarah. Bunyi pintu yang dibuka dengan kasar mengejutkan tiga orang yang sedang berada di dapur yang menyatu dengan ruang tamu.
Bu Ida yang melihat Pram langsung bergidik. Segera dia berlari menghampiri Kailla, takut Pram akan menyakiti istrina itu. Dengan kasar dia menghempaskan tangan Pieter yang sedang merangkul pundak Kailla.
“Non, sini sama Ibu saja,” ucap Bu Ida, setengah mengusir Pieter agar segera menjauh dari Kailla yang sudah lemas saat ini.
“Harusnya aku tadi buru-buru keluar dari kamar mandi dan membantu Non Kailla,” ucap Bu Ida dalam hati.
“Bu, aku mau duduk,” pinta Kailla, masih mengusap perutnya. Tangannya sedang menggengam erat tangan asisten rumah tangganya itu.
“Iya Non,” sahut Bu Ida.
“Pagi Pieter, kenapa tidak sabaran sekali. Sampai harus mencariku ke sini!” sapa Pram kasar, menatap tajam saat sudah berdiri di hadapan asistennya.
“Pagi Pram,” sahut Pieter, merasa bersalah. Karena ketahuan mendatangi istri teman baiknya itu diam-diam.
“Ada apa mencariku? Kenapa tidak menghubungiku dulu seperti biasanya?” tanya Pram, menyindir Pieter.
“Aku... hanya mampir sebentar,” sahut Pieter berusah bersikap tenang.
Pram menatap Kailla, istrinya saat ini sedang menelungkupkan kepalanya ke atas meja makan.
“Non Kailla muntah lagi, Pak,” jelas Bu Ida.
“Tolong bawa istriku ke kamar Bu,” pinta Pram. Dia tidak mau Kailla melihatnya bermasalah dengan siapa pun.
Setelah memastikan Kailla sudah masuk ke dalam kamarnya. Pram langsung berdiri tepat di hadapan Pieter, tersenyum kecut menatap asistennya.
“Apa yang mau kamu jelaskan?” tanya Pram tersenyum, melipat kedua tangannya di dada.
“Tidak ada!” jawab Pieter singkat, mencoba menatap Pram saat ini.
“Untuk apa mencari istriku?” tanya Pram.
“Tidak ada, hanya membawakanya bakso,” ucap Pieter tersenyum.
Mendengar jawaban Pieter, emosi Pram langsung memuncak. Tangannya sudah menarik kerah kemeja Pieter.
“Apa tujuanmu?” tanya Pram, menatap tajam.
“Tidak ada!” Lagi-lagi jawaban Pieter tetap sama. Dia berusaha tetap tenang menghadapi kemarahan Pram.
“Sengaja memancingku rupanya,” ucap Pram dalam hati.
Tampak Pram mendorong kasar Pieter. Menatap laki-laki yang mendekati istrinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa diduga, Pram melayangkan pukulannya tepat di wajah Pieter, membuat laki-laki itu tersungkur tanpa perlawanan.
Terlihat Pieter bangkit dan tersenyum menatap Pram. Dia tidak menyangka Pram langsung memukulnya, lebih tepat berani memukulnya.
“Curang sekali kamu Pram, sengaja menyembunyikan istrimu supaya dia tidak bisa melihat seberapa hebat suaminya,” sindir Pieter.
“Kurang ajar! Kamu yang datang kesini, mengacau di tempatku. Menganggu istriku. Jelas-jelas aku sudah memperingatimu!” ucap Pram emosi.
“Aku tidak bermaksud apa-apa, Pram.” ucap Pieter. Saat ini dia masih saja bersikap tenang, berbeda dengan Pram.
“Tidak ada laki-laki yang menemui istri orang di belakang suaminya tanpa maksud apa-apa!”
Pieter hanya tersenyum mendengar ucapan Pram.
“Aku permisi!” pamit Pieter. Melangkah keluar dari apartemen. Tapi baru melangkah, Pram sudah menariknya, bersiap melayangkan pukulannya kembali.
“Ayo kita selesaikan sekarang!” ucap Pram penuh amarah. “Setelah ini jangan pernah menginjak kakimu di rumahku lagi!” lanjut Pram.
“Baik..! Kita selesaikan semua perselisihan di antara kita! Setelah ini anggap tidak pernah terjadi apa-apa!” ucap Pieter.
Buk! Sebuah pukulan mendarat di wajah Pram. Pieter memukulnya tepat setelah menyelesaikan kata-katanya.
“Ini untuk suami tidak becus sepertimu!” ucap Pieter kesal. Bayangan ketakutan Kailla kemarin saat melihat Pram, muncul di ingatannya.
Buk! Pram yang saat ini melayangkan pukulannya kembali ke wajah Pieter.
“Ini untuk teman yang tidak tahu diri sepertimu!” ucap Pram.
Pieter sudah bersiap kembali melayangkan pukulannya, tapi tiba-tiba Kailla keluar dari kamar dan memeluk Pram sambil menangis.
“Jangan pukul suamiku lagi,” pintanya pada Pieter sambil terisak. Memeluk erat pinggang Pram. Sebenarnya dari tadi dia berdiri mengintip di balik pintu kamar bersama Bu Ida. Tapi melihat Pieter memukul Pram, dia tidak terima. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Pram.
Melihat pemandangan itu, Pieter langsung menjatuhkan tangannya dan tertawa terbahak-bahak. Ada rasa sakit di salah satu sudut hatinya. Tapi dia bisa apa, salahnya sendiri kenapa mencintai istri orang.
“Kamu curang sekali Pram!” gerutunya kesal.
“Kita lanjutkan di kantor!” ucap Pram, sontak membuat Kailla melotot.
“Aku tidak mengizinkanmu ke kantor!” pinta Kailla, memperat pelukannya.
“Aku tidak mau kamu bertengkar dengannya,” lanjut Kailla.
Pram terkekeh, kedua tangannya sudah memeluk erat istrinya saat ini.
“Dia mau merebut istriku! Aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri Sayang!” ucap Pram.
“Tapi aku tidak mencintainya, biarkan saja!” sahut Kailla, menelusupkan wajahnya di dalam dada bidang Pram.
Pram tersenyum penuh kemenangan menatap Pieter. Dan Pieter hanya bisa tersenyum kecut, melihat keduanya sedang berpelukan erat. Dia sudah mundur saat tahu Kailla hamil, tapi masalah hati tidak semudah itu menyelesaikannya. Dia butuh waktu.
Dia memang sengaja menemui Kailla saat tidak ada Pram, setidaknya dia lebih leluasa berbincang dengan Kailla.
“Aku permisi,” pamit Pieter. Berlalu pergi, meninggalkan apartemen Pram.
****