
Stella masuk ke dalam ruang kerja Pram ditemani seorang karyawan dari bagian pantry.
“Pak, ini makan siangnya.” Stella berkata sembari memamerkan senyumnya pada Kailla yang sedang duduk di sofa bersama Pram.
Setelah tertinggal mereka berdua di dalam ruangan, Kailla langsung berjalan menghampiri meja kerja Pram. Senyum terukir di wajahnya, saat melihat menu yang dipesankan Stella untuknya.
Tanpa menunggu Pram terlebih dulu, dia sudah duduk di kursi kebesaran suaminya. Bersiap menyantap seporsi bakso kesukaannya lengkap dengan mie kuning favoritnya.
“Anak daddy suka?” tanya Pram.
Tiba-tiba Pram sudah duduk di hadapan istrinya. Tersenyum melihat bagaimana Kailla menikmati semangkok makanan sederhana dan merakyat itu. Siapapun tidak akan menyangka, seorang putri konglomerat sekaligus istri Presdir RD Group yang sedang duduk menyantap semangkok bakso gerobak yang harganya tidak sampai 20 ribu rupiah.
“Aku suka Sayang...” Kailla berkata sambil menyodorkan sepotong bakso ke mulut Pram.
“Aakkkkk!” pinta Kailla bersiap menyuapkan ke dalam mulut Pram yang masih mengunci. Ini bukan makanan Pram. Laki-laki itu tidak suka jajanan.
“Sayang....,” rengek Kailla.
“Tidak Sayang. Aku tidak mau,” tolak Pram, tersenyum.
“Kamu tidak makan?” tanya Kailla, melahap potongan bakso yang tadinya ingin disuapkan pada suaminya.
“Nanti saja. Melihatmu saat ini, aku jadi kenyang seketika.” Pram berkata.
Pram menatap jam yang tergantung di dinding ruang kerjanya. Setelah makan siang, dia ada rapat dengan tim desain dan beberapa vendor.
“Kai, habiskan makananmu. Aku harus mempelajari materi untuk rapat nanti,” jelas Pram.
Tangannya meraih setumpuk berkas yang tertata di pinggir meja dan meletakkannya di atas pangkuan. Perusahaan akan membangun apartemen di Selatan Jakarta. Dan rencananya hari ini akan dibahas desain untuk unit dan segala fasilitasnya.
Setelah menghabiskan bakso, Kailla baru mengalihkan pandangannya. Sekarang tatapannya tertuju pada Pram. Suaminya itu sedang serius membolak-balikan berkas, melupakan kehadirannya disini.
Pram seorang pekerja keras. Saat bekerja, dia akan melupakan dunianya yang lain. Satu-satunya yang bisa mengalihkannya adalah Kailla. Bukan sekarang saja, sejak 20 tahun yang lalu, Pram sudah terbiasa meninggalkan pekerjaannya di atas meja hanya untuk seorang Kailla. Kalau dulu alasannya karena tanggung jawab tapi sekarang alasannya karena cinta.
“Sayang, ayo makan,” bujuk Kailla.
Tanpa disadari Pram, istrinya sudah menghabiskan baksonya. Saat ini, Kailla sedang menyodorkan sesendok nasi hainan dan potongan ayam ke depan mulut Pram.
“Ayo. Aku akan menyuapimu,” bujuk Kailla. Tangannya sudah menyeret sebuah kursi, berhenti tepat di depan Pram.
Pram langsung membuka mulutnya dan tersenyum menatap Kailla yang duduk di hadapannya.
“Kalau aku tahu menikahimu begitu menyenangkan, aku akan memintamu pada Riadi saat kamu berulang tahun ke 17, sebelum dia meminta padaku,” ucap Pram, tetap fokus pada berkasnya.
“Hah?!” Kailla melotot.
“Apa-apan! Sekarang saja aku masih merasa terlalu cepat,” gerutu Kailla. Kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut Pram.
“Kalau pada akhirnya tetap menjadi istriku juga, bukannya lebih cepat lebih baik,” goda Pram. Masih saja pandangannya tidak berpindah dari berkas-berkas di pangkuannya. Hanya sesekali mencuri pandang pada Kailla.
“Teman-temanku ku masih sibuk ngemall, nonton, shopping, jalan-jalan, kenalan dengan cowok-cowok tampan dan macho seperti opa-opa korea. Aku disini cuma bisa menyuapimu makan,” ucap Kailla cemberut. Kali ini dia menyuapkan Pram dengan kasar.
“Kamu masih bisa melakukan semua itu, Kai. Kecuali berkenalan dengan cowok opa-opa korea. Buat apa juga, kamu sudah memiliki suami yang ketampanannya melebihi opa-opa korea,” ucap Pram, penuh percaya diri.
“Buka mulutmu sekarang!” gerutu Kailla, Dia masih kecewa saat mengingat kehidupannya yang jauh berbeda dengan teman-teman kampusnya.
“Hahaha...” Pram tertawa melihat kelakuan istrinya saat ini. Dia segera memindahkan semua berkas ke meja, menarik kursi supaya lebih mendekat pada Kailla.
“Ayo suapi aku yang benar Sayang,” pinta Pram, tersenyum.
“Kamu sudah selesai dengan berkas-berkasnya. Berarti sudah bisa makan sendiri,” ucap Kailla.
“Tapi aku mau kamu menyuapiku seperti ini,” ucap Pram memelas. Bersiap membuka mulut menerima suapan Kailla berikutnya.
“Kamu lebih manja lagi padaku Nyonya!” sahut Pram tertawa.
Setelah selesai menyuapi Pram, Kailla langsung membereskan semua piring yang berantakan di atas meja. Memindahkannya ke sebuah meja kecil, supaya suaminya bisa kembali bekerja.
“Sayang aku ada rapat sebentar lagi. Kamu mau ikut rapat?” tawar Pram.
Kailla menggeleng.
“Ayo ikut rapat bersamaku!” ajak Pram setengah memaksa. Saat ini dia sudah mengangkat tubuh Kailla dan mendudukkannya di atas meja kerja.
“Ahhhhh...! Kamu mengagetkanku Sayang!” ucap Kailla, terkejut. Tiba-tiba tubuhnya melayang karena diangkat Pram.
Buk!Buk! Pukulan beruntun di dada Pram merespon keterkejutannya yang digendong tiba-tiba.
“Mau ya?” ajak Pram lagi. Kedua tanganya sudah bertumpu di meja kerja. Mengunci tubuh istrinya supaya tidak bisa pergi kemana-mana lagi.
“Aku bosan di dalam,” tolak Kailla.
“Aku rapat dengan tim desain. Pasti kamu suka dengan materinya,” jelas Pram.
Kailla langsung tersenyum. Dia sangat menyukai desain interior. Tanpa menunggu lagi, dia langsung mengangguk setuju.
“Terimakasih. Aku masih merindukanmu. Belum rela mengizinkamu pulang,” ucap Pram mengecup kedua pipi Kailla.
Cup!Cup!
“Ayo ikut denganku!” ajak Pram menggandeng tangan Kailla meninggalkan ruang kerjanya.
Begitu keluar ruangan, Stella sang sekretaris sudah bersiap menggoda istri Presdirnya. Terlihat dia mengedipkan matanya menggoda sang Nyonya Presdir yang sedang diseret suaminya.
Terlihat Pram mendorong pintu ruang rapat. Tangan kirinya masih tidak rela melepas gengaman tangannya pada sang istri.
“Kamu duduk disini ya,” pinta Pram, menarik mundur kursi yang seharusnya didudukinya dan merelakan kursi itu untuk Kailla. Dia sendiri memilih duduk di kursi disebelahnya.
Kailla terlihat menyapa dan tersenyum pada karyawan Pram yang sudah terlebih dulu duduk sebelum mereka. Berbeda dengan Pram, yang tidak tersenyum sama sekali. Sejak duduk, dia sibuk mengelus perut istrinya yang tertutup oleh meja oval di depannya. Bahkan Pram tetap tidak mau memindahkan tangannya saat rapat sudah di mulai. Tangannya tetap setia mengusap lembut perut rata Kailla.
“Kai, besok kita ke dokter ya. Aku merindukan anakku,” bisik Pram pelan. Entahlah, Ada rasa rindu di hati Pram. Dia ingin melihat anaknya. Perasaan yang muncul tiba-tiba.
Kailla sedang serius mendengarkan hasil desain yang sedang dipresentasikan. Dia tidak terganggu sama sekali dengan tangan Pram yang tidak mau pergi dari perutnya sejak rapat dimulai.
“Iya...,” jawab Kailla singkat. Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar proyektor.
“Kamu tertarik sekali dengan rapat kali ini. Kenapa tidak coba bergabung dengan tim desain. Aku tidak keberatan, kalau kamu mau ikut belajar bersama mereka,” ucap Pram tiba-tiba.
“Hah? Kamu serius Sayang?” tanya Kailla, memastikan. Mengalihkan pandangannya pada Pram saat ini. Suaminya sedang tersenyum dengan penuh keyakinan.
“Aku serius. Asal kamu tidak kecapekan,” jawab Pram.
“Lagipula kalau kamu ikut bergabung di sini. Aku lebih tenang. Setiap saat bisa melihatmu dan anak kita,” lanjut Pram lagi.
“Aku mau!” ucap Kailla, dia sudah akan memeluk Pram. Untung saja suaminya mengingatkan, kalau mereka sekarang berada di ruang rapat. Sebagai gantinya, dia hanya bisa menautkan jemarinya pada jemari Pram dan menyembunyikannya di bawah meja.
Terimakasih Sayang,” bisik Kailla, tersenyum.
***
Love You All.
Terimkasih
Mohon Like share dan komen ya