
“Sayang..,” panggil Pram, berjalan menghampiri Kailla yang sedang memukul Sam bertubi-tubi.
Sam hanya bisa pasrah, terpojok di kursi menerima pukulan tanpa berani membalasnya sedikit pun. Sam memilih melindungi wajahnya, membiarkan dadanya jadi sasaran empuk Kailla yang sedang beringas-beringasnya.
“Apa wanita hamil memang begini ya,” batin Sam.
“Sayang.., “ panggil Pram sekali lagi, berusaha tetap sabar menghadapi kelakuan Kailla saat bersama Sam. Terkadang dia juga cemburu melihat keakraban Kailla dengan Sam. Rasanya berbeda saat melihat Kailla dengan laki-laki lain.
Bagi Kailla saat ini Sam seperti keluarganya. Bukan hanya sekedar asisten ataupun sopir pribadi. Pram mengerti, karena Kailla tidak punya siapa-siapa selain dirinya dan daddy. Istrinya tidak memiliki teman, selain 3 orang teman kuliah yang sekarang sudah terputus hubungannya sejak mereka berada di Austria.
Kailla yang masih serius memukul Sam tidak mendengar atau pun menyadari kehadiran Pram yang sudah berdiri di belakangnya
“Kailla!” panggil Pram keras. Langsung mengangkat tubuh Kailla turun dari sofa, menjauh dari Sam.
“Ah...!” teriak Kailla kaget, tiba-tiba tubuhnya melayang. Kailla langsung terdiam, saat menyadari Pram yang sudah menggendongnya turun.
“Maaf...,” ucap Kailla sambil tertunduk. Tangannya saling meremas. Setiap Pram memanggil namanya dengan lengkap, berarti suaminya itu sedang tidak suka dengan apa yang dilakukannya. Menjadi istri Pram selama sebulan ini, membuatnya mengenal lebih jauh lagi sosok Reynaldi Pratama yang sebenarnya.
Mitha yang masih berada di dalam ruangan ikut menutup mulutnya menahan tawa melihat kelakuan Nyonya dan sang asisten.
“Asistennya Nyonya lucu juga, sepertinya asyik buat dikerjain,” ucap Mitha pelan, keluar dari ruangan.
“Kai, ayo kita makan,” ajak Pram menggandeng tangan Kailla menuju ke meja kerjanya. Ada rasa sesal di hatinya karena mengabaikan Kailla, harusnya dia tidak membiarkan istrinya menunggu.
Mendengar ucapan Pram, Sam yang tadinya hendak mengikuti langkah Mitha, memilih mengurungkan niatnya.
“Hmmm,” gumamnya. Kembali duduk di sofa dan mengeluarkan ponselnya. Dia akan mendokumentasikan dan menunjukkan pada Bayu dan Bu Ida hasil kerjaannya. Seringai licik muncul di bibirnya.
Kailla sedang membuka kotak bekal dan menyajikannya di depan Pram. Dia sudah bersiap menerima pujian dari suaminya itu. Ini cemilan pertama yang dibuat dengan tangannya sendiri.
“Apa ini?” tanya Pram terkejut. Tadinya dia berpikir Kailla membawa bekal makan siang untuknya.
“Cireng!” sahut Kailla manja, berdiri sambil menggoyangkan salah satu kakinya.
“Tidak salah Kai?” tanya Pram mengernyit. Dia sama sekali tidak menyukai makanan yang mengandung terlalu banyak minyak. Seumur-umur, dia belum pernah mencicipinya.
Kailla menggeleng. “Ini untuk cocolannya.”
Pram menatap Kailla, agak ragu untuk mencobanya. Dia tidak pernah mencicipi makanan seperti ini.
“Sayang, aku ingin kamu mencobanya. Ini buatanku sendiri,” rengek Kailla menarik lengan kemeja Pram. Wajahnya tampak memelas, melihat Pram tidak terlalu berminat dengan cireng buatannya.
Pram masih menatap Kailla sambil tersenyum. Berharap istrinya itu berubah pikiran. Dia benar-benar tidak berminat dengan makanan yang disodorkan Kailla.
“Sayang.....,” rengek Kailla, mulai menangis.
“Iya.. iya, aku makan sekarang,” ucap Pram. Langsung meraih cireng yang sudah mulai dingin dan tidak renyah lagi. Langsung memasukkan ke dalam mulut tanpa banyak bicara.
“Bagaimana?” tanya Kailla penasaran.
“Alot dan keras..!” Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Pram. “Seperti makan permen karet, hanya tidak manis. Yang ini rasanya gurih.” Pram berusaha jujur.
“Huaaa...huaaaaa...,” tangis Kailla pecah saat Pram berkomentar seperti itu. Dia merasa perjuangannya sia-sia dan tidak dihargai.
“Iya... lumayan, Kai. Aku akan makan lagi,” bujuk Pram, sembari menyuapkan kembali cireng ke dalam mulutnya tanpa ekspresi. Dia tidak mau mengecewakan Kailla lagi.
“Makannya dengan ini Sayang,” ucap Kailla. Mengambil cireng dan mencelupkan ke dalam cocolan dalam jumlah banyak.
“Aak...,” perintah Kailla, menyuapkannya ke dalam mulut Pram.
Terpaksa Pram membuka mulutnya. Tapi kali ini, rasanya lebih menyiksa dibanding sebelumnya. Pedas si bumbu rujak itu membuat nyeri yang menusuk sampai ke telinga. Pram sampai harus menunduk, menahan rasa pedas yang luar biasa di lidah dan mulutnya. Kedua tangannya sedang mencengkeram kuat pinggiran meja, berusaha menahan rasa pedas yang membuat air mata dan keringat di dahinya keluar.
Terlihat dia mendorong kasar tangan Kailla yang ingin menyuapinya kembali.
“Sudah Sayang. Aku sudah tidak sanggup lagi,” tolak Pram, setelah beberapa saat terdiam menahan rasa pedas itu berlalu.
Dia mengangkat wajahnya yang menunduk sedari tadi. Keringat keluar di kening dan bawah matanya.
“Kenapa?” tanya Kailla heran.
“Benarkah? Aku memakai cabe yang besar. Lagipula cuma beberapa biji. Bukan cabe rawit. Harusnya tidak pedas,” ucap Kailla bingung. Karena penasaran dia ikut mencobanya.
Tapi belum sampai cireng itu masuk ke dalam mulutnya, Pram sudah menahannya.
“Jangan Sayang, aku tidah bohong. Itu pedas, kasihan anak kita,” jelas Pram, menggelengkan kepalanya tidak mengizinkan Kailla mencicipinya.
Kailla berpikir sejenak, kemudian mengalihkan pandangan ke sofa. Ke arah Sam yang sedang duduk dengan ponsel di tangannya.
“Sam...!” Coba kamu cicipi!” perintah Kailla, dia masih tidak yakin cabe yang cuma beberapa buah bisa sepedas itu. Tadi yang memasaknya Bu Ida, dia tidak terlalu memperhatikan karena sibuk menggoreng adonannya.
“Hah!” Sam yang sedang menikmati Pram kepedasan, terkejut seketika.
“Ayo, kamu coba ini,” pinta Kailla, memanggil Sam.
“Aku masih kenyang Non,” tolak Sam, seketika membuat Kailla kecewa.
“Kenapa kalian tidak ada yang mau mencobanya,” keluh Kailla.
Melihat perubahan wajah Kailla, Pram langsung memerintahkan Sam mencobanya.
“Sam, kesini! Kamu harus mencobanya juga,” perintah Pram.
Dengan ragu-ragu, Sam memasukkan cireng yang sudah dicelupkan cocolan bumbu rujak itu ke dalam mulut. Pedas dari cocolan itu memang luar biasa, seketika membuat telinga berdenging nyeri dan kerongkongan panas, belum lagi lidah terasa terbakar.
“Ah....!” umpat Sam kepedasan. Tidak ada minuman yang bisa diseruput, dia hanya bisa menahannya dengan menjulurkan lidahnya supaya rasa pedas segera hilang
“Bagaimana Sam?” tanya Kailla penasaran.
Sam menatap ke arah Pram, ragu untuk menjawab. Khawatir jawabannya akan membuat majikannya itu marah.
“Enak kok Non. Hanya... “ Dia belum selesai berbicara, Pram sudah melotot menatapnya.
“Hanya... hanya sedikit pedas,” jawab Sam pelan.
Wajah Kailla langsung tersenyum bahagia mendengar jawaban Sam. Tanpa menunggu lama, dia meminta Sam ikut duduk.
“Habiskan Sam, aku ingin melihatmu menghabiskannya,” ucap Kailla, langsung duduk di pangkuan Pram tanpa permisi. Menangkupkan kedua tangan di wajahnya, bertumpu di atas meja kerja. Dia sudah bersiap menikmati Sam menghabiskan cireng buatannya.
“Ayo habiskan Sam,” rengek Kailla. Dia benar-benar ingin melihat Sam menghabiskannya saat ini.
“Habiskan Sam!” perintah Pram, memeluk Kailla yang sedang duduk di pangkuannya.
Entah sejak kapan, sadar atau tidak. Pangkuan Pram adalah tempat terfavorit untuk Kailla duduk saat ini. Bahkan mungkin Kailla sendiri tidak menyadarinya. Terlalu sering Pram memintanya, dia menjadi terbiasa.
“Istriku sedang hamil, kamu harus mengabulkannya,” lanjut Pram. Setidaknya kali ini dia bisa selamat. Tapi tidak tahu bagaimana dengan besok atau lusa.
“Ini baru benar-benar senjata makan tuan,” ucap Sam pelan sambil menelan cireng itu tanpa menggigitnya lagi, berharap dengan begitu bisa mengurangi rasa pedas di lidah dan mulutnya. Matanya tertuju pada sang majikan, yang sedang berpelukan di hadapannya.
“Apes bener nasib anakmu, Mak. Kalau begini tiap hari, bagaimana bisa aku membawakan oleh-oleh menantu buatmu mak,” batin Sam.
****
Tengah malam, ponsel Pram berdering. Dia terbangun, menatap Kailla yang masih tertidur lelap dipelukannya.
“Jangan sampai David lagi, aku akan membunuhnya begitu tiba di Indonesia!” gerutu Pram kesal. Mengingat David yang sering menghubungi ponselnya setiap tengah malam.
Dahi Pram berkerut melihat nomor yang tidak dikenalnya.
“Aneh! Ini nomor Austria, tidak banyak yang tahu,” ucapnya pelan. Memilih mematikan panggilan, tidak mau membuat dering itu mengganggu tidur istrinya.
Baru saja dia membaringkan tubuhnya dan memeluk Kailla kembali. Ponsel itu kembali berbunyi. Sebuah pesan teks dari nomor yang sama.
*Hai Reynaldi Pratama! Bagaimana bisa kamu tidak mengundangku di pernikahanmu. Kamu benar-benar licik! Anak p*lacur itu ternyata tidak dikubur bersama ibunya! Kalian bisa menipu dunia, tapi sekarang kalian tidak bisa menipuku lagi.*
***
Terimakasih.