
Pram mendengus kesal melihat Bu Ida yang sedang menertawainya. Bisa-bisanya, asisten rumah tangganya itu bahagia di atas penderitaannya. Kalau dulu sebelum menikahi Kailla, dia biasa melempar pekerjaan berat ini pada Sam, Donny ataupun Bu Sari. Bahkan masih ada daddy yang siap membujuk dengan 1001 alasan supaya putri kesayangannya ini mau minum obat.
Tapi sekarang, beban terberat ini ada di pundaknya.
“Emm ... hah ....” Pram menghela nafas. Tarikan dan hembusan nafas yang panjang dan kasar menandakan seberapa berat perjuangan Pram sebentar lagi.
“Hihihi ....” tawa tertutup telapak tangan setengah keriput itu lolos juga dari mulut Bu Ida. Melihat raut wajah majikannya saat ini.
“Bu, di hancurin saja semua jadi satu,” pinta Pram, masih menatap kesal melihat tablet di atas nampan.
“Dikasih madu atau sirup, Pak?” tanya Bu Ida.
“Yang ada di dapur saja,” jawab Pram singkat. Kembali berbaring di sofa dengan kedua tangan sebagai bantalnya. Meluruskan kakinya memenuhi sofa hitam di kamar tidur dan memejamkan matanya.
“Dua-duanya tidak ada Pak!” sahut Bu Ida.
“Hah?! Kenapa tadi bertanya?” ucap Pram membuka matanya, kembali kesal.
“Gula saja! Pasti ada kan,” jawab Pram lagi, mengibaskan tangannya meminta Bu Ida segera kembali ke dapur, mencari cara supaya obat itu bisa menjadi manis.
Bu Ida mangut-mangut melihat kelakuan majikannya yang biasa pelit bicara dan tidak mau diajak berkompromi.
“Ternyata jadi calon ayah itu bisa mengubah karakter seseorang,” ucap Bu Ida pelan. Biasanya Pram hanya akan berbicara seperlunya, itu pun kalimat pendek-pendek.
Tak lama Bu Ida sudah kembali masih dengan nampan yang sama. Beberapa butir obat tadi dihancurkan menjadi satu dan diberi air gula. Dijadikan dalam satu wadah kecil.
“Ini Pak ....” ucap Bu Ida. Sudah berdiri kembali di depan Pram yang masih melanjutkan acara rebahannya.
“Bu, tolong diberikan saja pada istriku. Dibujuk saja,” perintah Pram masih memejamkan matanya.
“Kailla tidak akan mau kalau aku yang menyuapinya minum obat,” lanjut Pram lagi beralasan. Dia memilih tidur ketimbang membujuk Kailla saat ini. Kepalanya sedikit pusing, sejak semalam tidak bisa tidur dengan benar.
“Hah! Bu Ida tertunduk lemas berjalan menghampiri Kailla yang masih tidur.
“Non ... bangun Non, kita minum obat,” panggil Bu Ida menggoyangkan tubuh Kailla sambil sesekali menepuk pipi majikannya itu.
“Hmm ....” Kailla hanya menggeliat sebentar. Sempat membuka matanya sebentar menatap Bu Ida. Pandangannya masih berkunang-kunang. Leher dan wajahnya terasa panas.
“Non, ayo bangun. Kita minum obat,” bujuk Bu Ida. Dia memilih duduk di ranjang.
Kailla langsung menggeleng, menyingkirkan tangan Bu Ida yang sudah memegang wadah obat agar menjauh dari mulutnya.
“Aku tidak mau Bu,” tolak Kailla dengan suara serak dan lemas.
“Non harus minum, supaya cepat sembuh,” rayu Bu Ida lagi. Sudah bersiap membimbing Kailla untuk bangkit.
“Aku tidak mau Bu,” tolak Kailla kembali. Memilih tidur dan memejamkan matanya. Selanjutnya dia tidak merespon lagi setiap permintaan dan bujukan Bu Ida.
Setelah gagal membujuk, Bu Ida kembali berdiri di hadapan Pram. Dengan ragu membangunkan majikannya yang sedang tertidur lelap.
“Pak ....” panggil Bu Ida ragu. Masih tidak ada jawaban dari Pram. Laki-laki itu masih terlelap, hanya terdengar bunyi napas teratur dan dengkur halusnya.
“Iya ... Bu,” sahut Pram masih memejamkan matanya.
“Non Kailla tidak mau minum obatnya,” lapor Bu Ida menunduk.
Mendengar itu, Pram terpaksa harus mengambil alih tugas yang tadinya sempat dilemparnya ke Bu Ida. Tampak dia naik ke atas tempat tidur dan membangun kan Kailla.
“Kai, bangun Sayang. Kamu harus minum obat,” panggil Pram menepuk pipi Kailla. Tangannya sudah bersiap menyuapkan obat di dalam wadah itu ke dalam mulut istrinya.
Kailla yang setengah sadar hanya menggeleng dan menggigit bibirnya supaya tetap menutup rapat. Saat ini dia belum sepenuhnya sadar kehadiran Pram di dalam kamarnya. Dengan tangan kanan dia menyingkirkan wadah obat yang sempat menempel di bibirnya.
“Aku tidak mau,” bisiknya pelan dengan mata terpejam, meneruskan tidurnya kembali. Bu Ida yang berdiri di belakang Pram hanya bisa menghela nafas. Pemandangan yang sudah sering dilihatnya sejak Kailla kecil.
Pram terdiam sejenak menatap istrinya. Sampai akhirnya, dia memilih meminum habis cairan obat di dalam wadah itu. Kemudian meletakkan wadah kosong itu kembali ke atas nampan yang dipegang Bu Ida. Melihat Pram meneguk habis obat istrinya, Bu Ida hanya bisa melotot. Dia menggelengkan kepalanya, memastikan penglihatannya tidak salah.
“Hah! Tidak salah diminum habis Pak Pram. Yang sakit kan istrinya,” batin Bu Ida.
Tidak sampai disitu, mulut Bu Ida ternganga saat Pram mendekati Kailla dan mencium bibir istrinya. Memaksa membuka bibir Kailla yang mengunci, setelahnya menuang habis cairan obat yang masih ada di mulutnya ke dalam mulut Kailla. Dia harus bersusah payah untuk memastikan Kailla tidak berontak dan menyemburkan obatnya keluar. Bahkan Pram harus membantu mendorongnya dengan lidah supaya Kailla mau menelannya. Dia membutuhkan waktu beberapa detik untuk melepaskan ciumannya, setelah memastikan cairan obat itu benar-benar sudah masuk ke kerongkongan istrinya. Tidak dimuntahkan Kailla seperti biasanya.
“Ah!“ dengus Pram kesal, saat lidahnya sudah bisa merasakan anehnya rasa obat yang pahit bercampur cairan gula yang masih menempel di mulutnya. Kemudian dia turun dari tempat tidur mencari keberadaan Bu Ida yang tadi berdiri di belakangnya.
“Bu,” panggilnya pada sang asisten rumah tangga yang saat ini sedang berjongkok di pojokan membelakanginya.
Hah! Sudah Pak?” tanya Bu Ida masih dengan wajah kagetnya. Bagaimana tidak kaget, majikannya itu tiba-tiba mencium istrinya di depan matanya tanpa malu-malu dan memberi pengumuman terlebih dulu padanya.
Pram menyambar air putih di atas nampan yang ada di tangan Bu Ida. Menghabiskannya sampai tidak tersisa. Rasa pahit obat itu masih saja menempel di lidahnya.
“Ibu boleh keluar sekarang!” perintahnya lagi sambil meletakakan gelas kosong ke atas nampan. Dia memilih kembali ke sofa dan melanjutkan tidurnya kembali. Lidahnya masih berasa tidak enak. Obat itu benar-benar memberi sensasi yang aneh di mulutnya. Kalau bukan karena istri dan anaknya, seumur hidup dia tidak akan mau melakukannya.
“Ah!” Pram mengusap kasar bibirnya. Rasa obat yang belum kunjung hilang, membuatnya harus menelan saliva berkali-kali. Membayangkan 4 -6 jam lagi, dia harus melakukan hal yang sama kalau Kailla masih menolak minum obatnya.
***
Kailla mengerjapkan matanya, terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih sedikit pusing, tapi rasanya sudah jauh lebih enak dibanding saat dia tidur tadi malam. Terlihat dia berusaha bangkit duduk dan bersandar. Punggungnya terasa pegal karena terlalu lama tertidur.
Dia menatap jam digital di atas nakas. Saat ini sudah pukul 10.00 pagi. Matahari juga sudah menerobos masuk dari jendela kamarnya. Dengan mata terpejam, dia memikirkan kembali kejadian semalam, yang membuat emosinya memuncak.
“Lihat saja nanti! Aku akan membuat perhitungan dengan laki-laki tua itu!” gerutunya kesal.
Kailla memijat pelipis dan pundaknya. “Kenapa jadi sakit semua,” ucap Kailla sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar tidurnya.
Deg—
Emosi Kailla kembali memuncak saat melihat sosok yang sedang tertidur di sofa kamarnya saat ini. Dengan kasar dia langsung menyibak selimut yang menutup tubuhnya.
“Bagaimana dia bisa masuk ke kamar. Aku harus membuat perhitungan sekarang!” ucapnya dengan tangan terkepal.
***
Terimakasih.