Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 59 : Ketindihan!


Pagi itu Kailla terbangun dengan setengah berteriak sampai membangunkan Pram yang sedang tidur sambil memeluknya erat. Setelah terbangun, buru-buru dia duduk menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil mengelus dadanya berulang kali. Keringat mengucur deras di keningnya. Bibirnya sudah komat kamit dengan mata terpejam, melantunkan berbagai doa yang dia ingat di dalam kepalanya.


“Astaga, aku ketindihan,” ucapnya menepuk lembut dadanya. Dalam tidurnya dia merasa ada tangan yang memeluknya, menindih perutnya sehingga membuatnya kesulitan bernapas. Jantungnya masih berdetak kencang, memikirkan betapa dengan susah payahnya dia berusaha untuk terbangun tadi.


Sebenarnya dia masih mengantuk, kepalanya terasa berat. Dia baru bisa tidur setelah lewat jam 12.00 malam. Terpaksa dia harus begadang semalam, demi memastikan Pram sudah terlelap. Dia tidak berani tidur terlebih dulu, dia takut Pram melahapnya ketika dia tertidur.


“Kenapa Kai?” tanya Pram tiba-tiba ketika sudah berhasil mengumpulkan nyawanya yang sempat beterbangan karena ulah Kailla.


“Hah! Aaaaaaaaah...” Kailla berteriak kembali, ingatan dan nyawanya saja belum terkumpul sempurna dan sekarang Pram tiba-tiba muncul di depan matanya.


“Kamu kenapa Kai?” tanya Pram lagi. Dia masih belum bisa menebak apa yang terjadi pada Kailla.


“Kenapa Om pagi-pagi sudah ada di kamarku? Daddy baik-baik saja kan?” tanya Kailla masih sedikit linglung. Dia masih berpikir sedang berada di kamarnya saat ini.


“Kita di apartemen Kai. Sekarang ini kamar kita.” Pram menjawab singkat. Terlihat dia mengelus rambut Kailla yang berantakan.


Kailla mengedarkan pandangan ke sekeliling, otaknya mulai berjalan kembali ke porosnya.


“Maaf, aku lupa!”sahutnya sambil menatap Pram yang sedang memandangnya penuh cinta.


Pram melirik sekilas jam digital di atas nakas. Saat ini baru pukul 05.00 pagi.


“Masih bisa tidur satu jam lagi, Sayang.” Segera Pram menarik Kailla untuk kembali berbaring di sebelahnya. Tak butuh waktu lama Pram sudah tertidur pulas kembali sambil memeluk Kailla, berbanding terbalik dengan Kailla yang sedari tadi bolak balik berusaha memejamkan matanya. Tapi sia-sia, matanya sudah tidak mau terpejam.


“Sebaiknya aku bangun saja, perutku juga lapar.” ucap Kailla, pelan-pelan dia memindahkan tangan yang melingkar di perutnya. Dia tidak mau sampai Pram terbangun karena ulahnya.


Sesampai di dapur Kailla pun langsung membongkar isi kulkas, mencari bahan-bahan yang bisa dipakainya untuk memasak. Ini pertama kalinya dia memasak di apartemen Pram, biasanya setiap kali dia kelaparan ada Bu Ida yang menyiapkan untuknya. Dia tinggal duduk manis dan tak lama makanan pun tersaji.


Tapi Bu Ida tidak tinggal disini, dia akan datang di pagi hari dan pulang ketika semua pekerjaannya selesai. Jadi mau tidak mau Kailla harus belajar mengurus dirinya sendiri sekarang.


Kailla sedang mengiris wortel menjadi potongan korek api saat dua tangan menelusup tanpa izin melewati pinggang dan berakhir mengunci erat perutnya.


“Morning Kai,” bisik Pram di telinga Kailla. Suara serak diiringi hembusan nafas berat yang meniup telinga langsung membuat bulu halus di kulit Kailla meremang.


“Om!” pekik Kailla merespon sentuhan mendadak Pram. Seketika pisau di tanganya terlepas membentur talenan kayu dibawahnya. “Kamu mengagetkanku Om!”


Melihat ekspresi kesal di wajah Kailla, Pram hanya terkekeh. Matanya beralih ke atas meja, ada beberapa sayuran dan telur tertata rapi di atas meja.


“Kamu masak Kai?” tanya Pram mengecup pipi Kailla sekilas.


“Aku kelaparan Om.” sahut Kailla, menepuk tangan Pram supaya melepaskan belitan di perutnya.


“Kenapa tidak membangunkanku? Aku hampir saja kehilangan kesempatan melihat pemandangan indah pagi ini,” goda Pram masih enggan melepas dekapannya.


“Aduh apa sih Om! Kalau dipeluk begini, aku tidak bisa masak?” Kailla mengomel seperti


biasanya.


“Oke..oke! Welcome home Mrs. Reynaldi Pratama.” Pram mengecup kembali pipi istrinya dan memilih berdiri disamping. Menonton Kailla yang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.




“Kai, aku akan menarik semua kartu kreditmu,” ucap Pram ketika mereka sudah berada di dalam kamar untuk bersiap-siap ke rumah daddynya.


“Hah!” Kailla yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut masih tergelung handuk langsung melotot menatap Pram.


“Nih!” terlihat Pram mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya dan menyerahkan kepada Kailla yang sedang duduk di meja rias. Bersiap untuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


“Mulai sekarang kamu hanya akan memakai kartu kreditku Kai,” jelasnya lagi.


“Unlimited kan?” tanya Kailla menatap Pram dari pantulan cermin di depannya.


Pram hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Terlihat Pram sudah duduk manis di sofa menunggu istrinya bersiap-siap.


“Om, besok aku tidak ikut ke Bandung ya!” Kailla berkata tanpa melihat reaksi Pram sama sekali, dia masih sibuk mengeringkan rambutnya.


“Kenapa?” tanya Pram bingung.


“Takutnya kecapekan, beberapa hari lagi kan kita harus ke Austria,” sahut Kailla mencoba memberi alasan.


“Kita ke Bandung nanti pakai sopir kantor, Kai. Aku juga tidak menyetir sendiri.” Pram menjelaskan. Pram berjalan menghampiri Kailla dan memeluknya dari belakang.


“Mau ya?” bisiknya manja di telinga istrinya.


Kailla hanya mengeleng tetap pada pendiriannya. Pram hanya bisa tersenyum kecut mendengar jawaban Kailla. Ketika Kailla sudah mengatakan tidak, akan sulit sekali membujuknya. Tadinya dia berharap Kailla akan bersedia ikut bersamanya. Dia sudah berencana memperkenalkan Kailla sebagai istrinya pada Anita dan Ibunya.


Keesokan harinya.


Di salah satu hotel di Bandung, tampak sudah ramai didatangi para tamu undangan. Kebanyakan tamu yang hadir dari kalangan pengusaha, tapi ada juga beberapa pejabat yang turut diundang. Kebetulan memang almarhum suami Anita, Elang Persada adalah salah satu pengusaha ternama di kotanya. Sejak suaminya meninggal, perusahaan dan aset-asetnya jatuh ke tangan Anita. Bahkan rumah yang sekarang ditempati Anita dan ibunya adalah rumah peninggalan suaminya.


Tampak Anita sedang menyalami beberapa tamu ditemani ibunya yang duduk di kursi roda. Hari ini adalah perayaan ulang tahun PT Elang Persada.


Anita yang sedari tadi menunggu kedatangan Pram terlihat bolak balik melihat ke arah pintu masuk. Sebenarnya dia sendiri tidak terlalu yakin Pram akan bersedia datang. Melihat pertemuannya yang terakhir dengan Pram rasanya kecil sekali kemungkinan itu, tapi dia masih tetap berharap.


Anita langsung tersenyum bahagia begitu melihat sosok yang ditunggu sedang berjalan masuk ke dalam gedung. Pram terlihat semakin tampan dan gagah dengan setelan birunya. Anita yang saat itu sedang berbincang dengan salah satu rekan bisnisnya langsung berpamitan untuk menyambut kedatangan Pram.


Tapi...


Rasa bahagianya seketika menguap terbang entah kemana, saat langkahnya semakin dekat dengan Pram.


“Tidak! Ini tidak mungkin, rencana yang sudah ku susun, bisa berantakan kalau begini.” batinnya.


Maaf telat up ya. Terimakasih dukungannya.