Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 115 : Akhir Dari Perang


Pram yang melihat Pieter tersenyum menatap istrinya tanpa berkedip langsung menyikut lengan asistennya itu.


“Masih menatap lagi, akan aku keluarkan bola matamu!” gerutu Pram, berbisik di telinga Pieter. Pieter yang digertak seperti itu langsung menciut dan menunduk.


“Kalau tidak mau istrinya ditatap, dikurung di kamar saja!” ucap Pieter kesal.


Setelah memastikan Pieter tidak menebar pesona lagi pada istrinya, Pram kembali fokus. Dia tidak mau melepaskan tangan Kailla sama sekali, tetap menggenggam di bawah meja.


Terlihat Pram mengirim pesan pada Bayu, supaya mencari tahu penyebab istrinya tiba-tiba mengamuk.


“Cari tahu siapa saja yang bertemu dengan istriku, kamu bisa mengecek cctv kantor. Cari tahu juga dari ponselnya. -send -


Tak sampai 1 jam Bayu sudah mengirim pesan balasan. Begitu membaca isi pesan, Pram langsung tersenyum.


Tampak dia meletakkan asal ponselnya di atas meja setelah membaca pesan dari Bayu, sambil menatap Kailla. Istrinya saat ini sungguh menggemaskan. Kalau saja sedang tidak di ruang rapat, dia akan mempertaruhkan hidupnya hanya untuk mencium bibir tipis yang sedari tadi terus-terusan merengut dan mengerucut.


“Bibirmu bisa dikondisikan tidak Nyonya?” bisiknya di telinga Kailla. Sontak membuat Kailla melotot menatap ke arahnya.


“Seksi Sayang, kalau kamu terus-terusan seperti itu aku tidak menjamin kamu akan selamat sampai di rumah.”


“Jangan menggodaku!” gerutu Kailla. Dia sedang serius mendengar presentasi , walau tidak ada satu pun kata yang bisa dimengertinya.


“Sepertinya anda serius sekali mendengarkan presentasinya, Nyonya?” goda Pram berbisik di telinga Kailla saat melihat istrinya menatap pada salah satu kepala divisi yang sedang menjelaskan.


“Kalau kamu bisa mengartikan dan menjelaskan apa yang dipresentasikannya padaku nanti malam, aku akan mempertimbangkan membeli hermes... eh apa semalam yang kamu minta Kai?” Pram berusaha mengingat. Semalam Kailla sempat merengek padanya meminta dibelikan tas lagi.


“Kelly mini pink aligator, Sayang,” jawab Kailla lembut. Dia langsung menatap Pram dengan senyum sumringah. Seketika amarah yang mengisi otak dan hatinya menguap entah kemana. Dia melupakan Winny dalam sekejap.


“Aku serius dengan tawaranku Kai,” ucap Pram. Menatap Kailla sekilas, kemudian kembali fokus mendengarkan presentasi.


“Kamu tidak usah merayuku!” gerutu Kailla. “Walau aku menerima tawaranmu, perang kita tetap berlanjut!” ucap Kailla ketus.


“Tidak, ini serius. Tidak ada hubungannya dengan pertengkaran kita. Aku melihat sepertinya kamu tertarik, kenapa tidak mendalaminya.”


“Tawaranmu aku pikir-pikir dulu. Seandainya kamu tidak mau membelikan untukku, aku akan membeli menggunakan uangku sendiri,” ucap Kailla.


***


Pram masih tetap menggengam tangan Kailla sampai rapat selesai. Saat akan meninggalkan ruangan, dia meminta Mitha untuk menemuinya.


“Mit, setelah ini ke ruanganku. Ada yang harus aku bicarakan!” perintah Pram pada Mitha yang sedang membereskan berkas-berkas.


Kailla yang ikut mendengar ucapan Pram, langsung menatap Mitha. Demikian juga Mitha, sontak menatap pada istri presdirnya itu. Kailla yang melihat kepanikan di wajah Mitha, langsung menganggukan kepalanya, berusaha menenangkan gadis penerjemah itu


Sekesal-kesalnya dia dengan Pram, dia tidak mungkin melibatkan orang lain apalagi harus mengorbankan orang yang tidak bersalah.


Terlihat Pram yang masih menggenggam tangan Kailla masuk ke dalam ruangannya. Tak lama, Mitha pun ikut menyusul masuk.


“Duduk Mit, ada yang mau aku tanyakan,” ucap Pram membuka pembicaraan.


“Ada apa Pak Presdir?” tanya Mitha ragu-ragu, sesekali dia menatap ke arah Kailla meminta bantuan.


“Sayang, kalau tidak mau mengatakannya, aku akan mencari tahu sendiri,” bisik Pram di telinga Kailla.


Kailla langsung menatap Pram dan Mitha yang saat ini sudah duduk dengan kepala tertunduk. Dia menghela nafasnya. Bagaimana pun, dia tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalah rumah tangganya.


“Aku akan bercerita nanti, tapi jangan anggap masalah kita selesai,” bisik Kailla masih dengan wajah kesalnya.


“Baiklah Mit, aku ingin meminta bantuanmu,” ucap Pram membuka pembicaraanya.


“Sayang....” rengek Kailla tiba-tiba, mencoba menghentikan ucapan Pram.


“Ada apa?” tanya Pram, melihat istrinya yang sekarang sedang memeluk lengannya.


Kailla hanya menggelengkan kepalanya, tidak mengizinkan Pram meneruskan kata-katanya.


“Baiklah Mit, aku butuh bantuanmu. Istriku ingin mendalami bahasa Jerman. Apa kamu bisa membantunya?” tanya Pram seketika membuat dua perempuan yang saling menatap itu langsung bernafas lega.


Pram yang melihat pemandangan aneh dan tidak biasa di hadapannya langsung mengerutkan dahinya.


Sejak kapan Korsel dan Korut melakukan perjanjian damai. Kenapa aku sampai tidak tahu,” batin Pram.


“Baiklah Mit, kamu boleh keluar sekarang. Tolong panggilkan orang untuk membereskan mejaku!” perintah Pram.


Kailla memilih duduk di sofa setelah Mitha keluar dari ruangan. Pram pun akhirnya mengikuti Kailla dan duduk di sebelah istrinya, sambil memejamkan mata.


“Ada yang mau kamu ceritakan sekarang?” tanya Pram setelah melihat Kailla tetap tidak mau bicara.


“Tidak ada!” sahut Kailla singkat.


“Bagaimana menyelesaikan masalahnya Kai, kalau kamu tetap tidak mau bicara?” tanya Pram.


“Aku tidak ingin membahasnya. Aku mau pulang sekarang,” pamit Kailla.


“Kamu tidak bisa pulang sampai kamu menjelaskan masalahnya kepadaku. Kalau tidak aku akan menanyakan langsung kepada Mitha. Aku tahu kamu bertemu dengannya sebelum mengamuk,” jelas Pram.


“Tidak ada hubungannya dengan Mitha,” sahut Kailla.


“Tapi dia tahu penyebabnya. Aku tidak mau sampai menyeretnya masuk ke dalam masalah kita. Aku masih memberimu kesempatan bercerita kepadaku. Kamu punya waktu 30 menit dari sekarang. Kalau masih tetap tidak mau bicara, aku akan mencari tahu sendiri,” ancam Pram.


Pram kembali ke kursinya, memberi waktu untuk Kailla berpikir. Dia masih harus bekerja, ada beberapa dokumen yang masih harus ditandatanganinya.


Saat ini, terlihat dia sibuk menyingkirkan kotak-kotak bekal yang berserakan di atas meja kerjanya. Menatap isi kotak itu sekilas, senyum tersungging di bibirnya. Makanan yang seharusnya disajikan Kailla untuknya. Entah apa penyebabnya, dia sedikit merasa bersalah. Sengaja atau tidak, pasti dia sudah mengacaukan semua usaha Kailla yang ingin memberinya kejutan.


Tak lama seorang OB masuk ke dalam ruangan untuk membereskan kotak-kotak bekal yang ditumpuk Pram di sisi meja. Tapi baru saja OB itu akan meninggalkan ruangan, tiba-tiba Pram menghentikannya. Bagaimana pun Kailla sudah bersusah payah memasak untuknya.


Kembali dia memanggil OB yang sudah bersiap keluar, mengambil kembali kotak-kotak itu, menuangkannya isinya di satu wadah. Dia menuangkan sayuran dan ayam kecap yang sudah mendingin karena suhu ruangan ke atas nasi yang masih utuh dan tidak kalah dinginnya.


“Baiklah, kotak yang ini tinggalkan disini, yang lainnya kamu boleh bawa keluar.” perintahnya pada si OB.


“Kai, kemarilah!” panggil Pram saat OB sudah keluar ruangan. Pram terlihat menghampiri dan menarik Kailla ke meja kerjanya.


“Kamu yang memasaknya sendiri?” tanya Pram setelah duduk kembali di kursi kebesarannya.


Kailla yang berdiri disisi meja hanya diam dan memandang tanpa ekspresi.


“Ayo duduk disini!” Pram menarik Kailla duduk di pangkuannya, memeluk pinggang Kailla dengan tangan kirinya.


“Aku akan makan untukmu,” ucap Pram memasukkan sendok berisi nasi dan lauk itu ke dalam mulutnya.


“Jangan marah lagi. Kalau aku bersalah padamu, aku minta maaf,” ucap Pram kembali memasukkan makanan ke dalam mulut.


Melihat Pram saat ini, Kailla merasa tersentuh hatinya. Apakah dia terlalu egois pada suaminya. Sejak tadi dia tidak memberi kesempatan pada Pram, bahkan sampai saat ini Pram tidak tahu apa yang menyebabkan kemarahannya. Matanya berkaca-kaca, melihat suaminya menyuapkan makanan dingin itu ke dalam mulut tanpa protes. Dia semakin merasa bersalah.


“Maafkan aku,” bisik Kailla. Kedua tangannya langsung memeluk leher Pram, menangis di pundak suaminya.


“Jangan menangis, aku akan menghabiskannya untukmu,” ucap Pram lembut. Tangan kirinya yang bebas, mengusap lembut punggung Kailla.


“Jangan dimakan lagi, itu sudah dingin,” ucap Kailla di sela tangisannya yang membasahi kerah kemeja hitam Pram.


“Tidak apa-apa, istriku sudah membuatnya dengan penuh perjuangan,” sahut Pram masih berusaha menenangkan Kailla.


“Aku benar-benar menyayangimu, jangan tinggalkan aku,” ucap Kailla di telinga Pram.


“Iya, jangan menangis lagi. Aku juga mencintaimu,” jawab Pram sambil tersenyum. Tangannya tetap menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


“Aku akan memanaskannya untukmu,” ucap Kailla.


Pram menggeleng. “Tidak perlu. Kamu duduk saja disini. Aku ingin melihat senyummu.”


****


Terimakasih. Love You All - Reynaldi Pratama😘😘😘