
"Setahuku dia sangat benci tempat hiburan seperti bar. Untuk apa dia datang ke mari?" tanya Helen lagi kepada pemilik bar.
Pemilik bar pikir Helen masih bekerja dengan Alvin, dia langsung berdiri meladeni wanita itu. "Apa Nona tidak tahu, Tuan Alvin datang ke mari hanya untuk mengambil beberapa pecahan botol yang dipecahkan istrinya. Aku sendiri sempat bingung, untuk apa dia mengumpulkannya."
Helen tersenyum merapatkan bibir, mengalihkan pandangan matanya ke segala arah. Dia yakin Alvin pasti sedang mencari sidik jarinya. Wanita yang bernama lengkap Olivia Helen Tanuel itu semakin dibuat kacau pikirannya.
"Nona, ada yang bisa aku bantu lagi? Atau Anda sedang mencari sesuatu di bar ini? Biar kami bantu mencarikannya?" Manager bar kembali menawarkan diri, membuyarkan lamunan Helen.
"Oh,Tidak terima kasih! Aku hanya ingin memastikan Tuan Alvin sudah mendapatkan apa yang dia cari." Helen mencari alasan agar manager bar tidak curiga.
"Apa Anda ingin mencoba minuman terbaru di sini? Kami sudah mendapatkan stok produk baru yang didatangkan dari luar negeri," kata pemilik bar mempromosikan. Ya, dia tahu Helen merupakan pelanggan setia di bar.
"Simpanlah! Lain waktu aku akan ke sini lagi!" seru Helen berjalan meninggalkan manager bar.
***
Di Kediaman Alvin.
"Apa yang harus aku lakukan? Sedangkan misi tugas hari ini baru selesai lima puluh persen. Sepertinya siang ini juga aku harus menemui Alvin." Aluna lalu mengganti bajunya dengan yang lebih formal, hendak mendatangi Alvin langsung ke perusahaannya.
Kalau seperti ini aku lebih cocok menjadi sekretaris Alvin, gumam Aluna sambil bercermin.
Sekarang Aluna sudah siap dengan memakai fit dress yang panjangnya di bawah lutut berwarna hitam, tak lupa Aluna mengenakan sepatu heels warna cream yang membuat penampilannya bertambah modis dan terlihat casual.
"Antar aku ke perusahaan suamiku sekarang," perintah Aluna kepada salah satu sopir. Dia sudah berdiri di depan mobil.
Awalnya petugas keamanan kembali melarang Aluna keluar. Namun, ketika tahu tujuannya menemui Alvin, mereka membolehkannya pergi asalkan diantar seorang driver.
Padahal aku ingin sekali mengendarai mobil sendiri bebas berkelana menelusuri jalan seorang diri. Ah' andaikan aku punya kebebasan dan memiliki SIM ...
Kini, Aluna sudah masuk ke dalam mobil dan mendudukkan pantatnya di kursi belakang sopir. Sebenarnya Aluna ingin sekali berbicara dengan sistem di dalam mobil. Tetapi, mengingat sopir di depannya adalah sopir pribadi keluarga Wiratama, Aluna segera mengurungkannya.
***
Perusahan Alvin Pukul 13.00
Setengah jam kemudian mobil yang membawa Aluna sudah sampai di depan perusahaan Alvin. Dengan langkah elegan Aluna turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu lobi.
Namun, sebelum Aluna masuk ke dalamnya, ia terlebih dahulu menelepon Alvin menanyakan keberadaannya sekarang.
"Halo suamiku, boleh aku tahu sekarang kamu ada di mana? Aku ingin bertemu denganmu sekarang?" tanya Aluna di telepon.
^^^"Aku sedang berada di perusahaan, ada tamu penting yang akan aku temui sekarang. Jangan kemana-mana Luna, kamu hanya perlu berdiam menunggu hasilnya di rumah."^^^
Dari jawaban telepon Alvin, sepertinya lelaki itu sedang sangat sibuk, terdengar beberapa suara orang yang berusaha mengajaknya berbicara.
"Tapi, bukan hanya itu yang aku tanyakan. Suamiku, bolehkah aku bertemu denganmu sekarang," kata Aluna dengan nada manja.
^^^"Baiklah tunggu sampai nanti malam. Maaf, Luna ada telepon masuk dari klien. Aku harus mematikan teleponmu sekarang."^^^
Pet . Telepon ditutup.
Dengan perasaan sedikit kecewa, Aluna melangkahkan kakinya memasuki area lobi. Aluna berjalan seorang diri ke tengah menuju meja resepsionis, ia tampak kebingungan mengingat tidak ada siapa pun yang ia kenal di sana.
Aku harus menemukan ruangan Alvin, batin Aluna.
Baru beberapa menit berdiri Aluna melihat sekumpulan lelaki berpakaian formal dari dalam berjalan berlalu lalang menuju pintu keluar lobi. Dari beberapa lelaki yang tinggi tegap itu ada Alvin yang sedang sibuk menerima telepon berjalan di tengah mereka. Alvin melewatinya begitu saja tanpa menoleh.
Alvin, kenapa dia tak melihatku? Batin Aluna.
Tadinya Aluna hendak menghampiri suaminya. Namun, ketika dia mendengar Alvin sedang membicarakan masalah bisnis, ia berinisiatif agar tidak mengganggu. Aluna hanya bisa melihatnya dari jauh.
"Tuan, sepertinya Tuan Dae Jung masih berada di tengah jalan. Dia dan beberapa CMO perwakilan perusahaan Korea lainnya menggunakan tiga mobil sedang menuju ke mari," kata seorang lelaki yang tingginya hampir sama dengan Alvin.
"Perintahkan Sekretaris Fang agar segera menghubungi penerjemah secepatnya." Alvin terlihat sibuk dengan beberapa lelaki yang mengelilinginya.
Aluna masih berdiri memperhatikan kesibukan Alvin. Dia merasa sekarang bukan waktu yang tepat menemui suaminya. Sayangnya dia terlanjur datang, Aluna tak ingin pulang ke rumah lalu hanya berdiam diri di kamarnya.
Ketika Aluna terlihat termenung sendirian. Seorang lelaki berwajah oriental berjalan menyapanya dari samping. "Selamat siang Nona Luna." Lelaki yang menyapanya itu biasa dipanggil Sekretaris Fang salah satu asisten pribadi Alvin di perusahaan.
Aluna menoleh dan balas tersenyum. "Siang," sahutnya.
"Ada yang bisa aku bantu, Nona? Sepertinya ada keperluan mendesak yang membuat Anda datang ke mari?" tanya Sekretaris Fang.
Tentu saja jawabannya iya, gumam Aluna.
"Aku sengaja menunggu suamiku di sini," jawab Aluna.
"Apa perlu aku panggilkan Tuan Alvin, Nona?" tanya sekretaris Fang berusaha mencari muka.
Aluna balas menggeleng.
Alvin yang tengah sibuk, rupanya sudah melihat Aluna dari kejauhan berbicara dengan asistennya. Dia baru sadar ketika Aluna mempertanyakan keberadaannya, ternyata ia sudah berada di perusahaan. Alvin melontarkan senyum, tetapi kali ini giliran Aluna tak melihatnya, ia tengah sibuk mengobrol dengan sekretaris Fang.
Kenapa Luna datang ke mari? tanya Alvin dalam hati.
Sebenarnya saat itu juga Alvin sangat ingin menghampiri Aluna. Namun, karena dia tengah sibuk sedang membicarakan bisnis penting. Alvin kembali meneruskan berbicara dengan beberapa lelaki di sampingnya. Di saat seperti itu masih saja Alvin berpikiran negatif kepada sekretaris Fang, karena telah berani berbicara berdua secara intens dengan istrinya.
"Nona Luna, sebaiknya langsung ke ruangan Tuan Muda saja. Biar nanti aku yang panggilkan tuan muda ke atas," ucap sekretaris Fang.
Aluna membuka mulutnya hendak menjawab. Sayangnya, sebelum suaranya terdengar. Telepon di saku sekretaris Fang berbunyi, dia lalu meminta izin kepada Aluna untuk mengangkat telepon.
Di depan Aluna, sekretaris Fang berbicara dengan seseorang di telepon. "Apa? Penerjemah tidak hadir hari ini? Bukankah kita sudah sepakat kalau aku akan memakai jasanya sekarang?" Ekspresi Sekretaris Fang langsung berubah lesu.
^^^"Maaf, bukankah Anda telah mengirim email menggunakan jasa kami untuk esok hari? Kami sedang berada di luar kota, tidak bisa datang tepat waktu menjadi penerjemah hari ini," ucap seseorang di telepon Sekretaris Fang.^^^
Seketika, wajah Sekretaris Fang mendadak pias, dia sangat takut Alvin akan memarahinya karena salah jadwal mengundang penerjemah. Apalagi klien dari Korea Selatan sebentar lagi sampai, dia sangat kebingungan mendapatkan pengganti penerjemah dalam waktu setengah jam dari sekarang.
Aku harus mencari ke mana pengganti penerjemah? Sementara Tuan Dae Jung sebentar lagi sampai! Batin sekretaris Fang.