
Sudut bibir Helen terangkat keatas dengan mata melengkung membentuk bulan sabit. Ya, wanita dengan tinggi 160 cm itu melangkah dengan sorai gembira begitu memasuki rumahnya. Tak bisa dihilangkan dari otaknya bayangan ekspresi Aluna saat ia berhasil memfitnahnya.
"Kamu baru pulang, Nak?" Tiba-tiba suara ibunya mengagetkan Helen yang baru selangkah menaiki anak tangga. Mona yang masih mengenakan pakaian tidur, muncul dari sudut ruangan berjalan mendekati anaknya. Rupanya wanita itu dari tadi sedang menunggunya pulang.
Helen menoleh. "Ya, Mom. Aku habis pulang dari bar, Lily mengundangku ke acaranya. Apa dari tadi Mommy menungguku?" tanyanya.
"Nak, sebaiknya jangan pergi malam dulu. Kamu tahu ayahmu itu sedang marah, dari kemarin dia terus mengataiku karena tidak becus mendidikmu! Seharusnya kamu diam dulu di kamar sampai emosi Hideon stabil," ucap Mona terus berjalan.
Helen tampak kecewa. "Jadi sekarang Mommy memarahiku? Apa kalian masih tidur terpisah?" tanyanya balik.
Mona mengangguk mengiyakan. Semenjak terkuaknya kasus video mesum Devan, Hideon sudah tak pernah mengobrol apalagi menyentuh istrinya, mereka pun tidur dengan kamar terpisah. Hideon sengaja menjauhi Mona, berharap agar istrinya mengakui kesalahan anaknya.
Sekarang Mona sudah berdiri di depan anaknya. "Bukan begitu, Nak. Mommy hanya ingin Hideon kembali percaya lagi dengan kita," ucapnya ketika Helen membalikkan badan.
"Tunggu--" ucapan Mona terpotong begitu melihat tangan anaknya.
Dengan tangan menutup mulutnya, Mona terkesiap. Bagaimana tidak kaget, Mona melihat lengan kiri Helen yang sudah penuh dengan perban. "Kenapa dengan tanganmu? Apa yang terjadi?" tanya Mona begitu khawatir. Wanita itu mendekatkan matanya ke perban, meneliti seberapa parah luka di lengan anaknya.
Helen tersenyum miring. "Luna! Ya, luka ini ada karena perbuatan wanita sialan itu! Dia telah melukai tanganku dengan serpihan botol! Lihat, bahkan aku tidak bisa menggerakkan tanganku." Ucapan Helen sengaja dibuat begitu dramatis.
"Apa?" mata Mona melotot sempurna. "Benarkah dia yang melakukannya?"
Helen mengangguk mengiyakan, "Kalau mommy tidak percaya, tanyakan kepada Lily dan Yuze, mereka berdua saksinya."
"Tidak bisa dibiarkan! Hideon harus tahu perbuatan bejat anaknya, selama ini lelaki itu hanya tahu anakku yang bersalah! Ikut mommy sekarang." Dengan tangan mengepal, Mona berjalan cepat menuju kamar Hideon. Ya, wanita paruh baya itu begitu mempercayai kalau Aluna telah melukai tangan Helen.
Tok ... tok ... tok ....
Mona mengetuk pintu kamar Hideon.
Kriet ....
Lewat sepersekian detik, pintu dibuka dari dalam kamar, Hideon yang terbangun karena ketukan pintu Mona, langsung bergegas keluar.
Kini, Hideon sudah berdiri di depan mereka. Lelaki yang biasa memakai kacamata itu terlihat mengerutkan sudut matanya melihat samar-samar wajah Mona dan Helen. "Tidak sopan mengetuk pintu seperti itu! Kenapa kalian membangunkanku?" ketus Hideon penuh amarah.
Mona mendengus kesal. "Suamiku, lihatlah tangan Helen ... Luna yang melukainya sampai berdarah. Bahkan karena saking parahnya Helen tidak bisa menggerakkan lengannya," lontarnya berapi-api.
"Apa?" Hideon memfokuskan matanya melihat ke lengan Helen. Namun, karena matanya sudah mulai rabun, lelaki itu hanya bisa melihat samar-samar. "Tunggu aku di ruang tengah! Kita bicarakan baik-baik di sana!" seru Hideon, dia kembali masuk untuk mengambil kaca matanya.
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga sudah duduk saling berhadapan di ruang tengah. Belum lama Hideon mendudukkan pantatnya, Mona langsung berkata, "Perlihatkan lukanya kepada ayahmu, Nak!" perintah Mona mencari simPATI suaminya.
"Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada sepupu Alvin, mereka berdua saksi dari kejadian ini."
Hideon menggeleng pelan. "Luna tak sebengis itu. Aku yakin mungkin ada ketidaksengajaan. Aku tetap tidak akan percaya sebelum aku bertanya langsung kepada anakku," sahutnya.
"Kalau kamu diam saja, baiklah aku sendiri yang akan menanganinya. Aku akan meminta keadilan kepada keluarga Wiratama hari ini juga," ucap Mona penuh dengan amarah.
***
Di Mansion.
Beberapa pelayan yang terjaga, langsung menyambut kedatangan Alvin dan Aluna, menyiapkan pakaian ganti dan beberapa obat-obatan yang sudah dipesan Alvin di kamarnya.
Ketika selesai, Aluna tampak kaget ketika keluar dari kamar mandi, melihat Alvin sudah duduk di tepi ranjang dengan baju tidur yang sama dengannya. Ya, mereka berdua memakai baju tidur couple layaknya sepasang kekasih. Baju tidur itu adalah hadiah ulang tahun Alvin dari Luna.
"Duduklah, aku akan mengobati lukamu lagi," ucap Alvin.
Tampak canggung, Aluna duduk di sebelah Alvin sembari memperlihatkan senyum manisnya. Aluna masih terus memperhatikan Alvin yang tampak menggemaskan memakai baju tidur bermotif beruang, menurutnya, hilang semua sisi arogannya.
"Apa aku terlihat tampan?" tanya Alvin, dia merasa percaya diri.
Tentu saja iya.
"Ha ... ha ..., kamu terlihat semakin lucu dengan pakaian tidurmu." Kali ini, Aluna terlihat lebih hangat ketika berbicara dengan Alvin.
"Benarkah? Maaf, aku baru memakainya sekarang." Tangan Alvin kembali menyentuh luka di kepala Aluna. Dengan sangat berhati-hati Alvin memasang plester di kening istrinya.
Ternyata, Aluna diam-diam mencari celah, mencuri pandang lelaki yang sedang duduk di sebelahnya itu. Entah mengapa kali ini ketika berdekatan dengan Alvin, jantungnya berdebar sangat kencang. Pipinya mendadak bersemu merah, ia juga terlihat salah tingkah dan tidak berani berkata apa-apa.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau kamu tahu aku bukanlah Luna. Apa kamu akan terus seperti ini?
"Lukamu cukup parah. Tetapi, jangan khawatir, siang nanti dokter keluarga akan memeriksa kepalamu lagi. Sekarang beristirahatlah," ucap Alvin mengecup kening Aluna.
Aluna hanya diam tak bergeming, ia membiarkan ketika bibir Alvin menyentuh keningnya.
Terima kasih, Alvin.
Sayangnya, baru saja Aluna dibuat berdebar, ketika Alvin selesai membersihkan lukanya, dia kembali berkata,
"Luna, aku tidak mau terjadi seperti ini lagi. Mulai hari ini aku tidak memperbolehkanmu keluar rumah tanpa izin dariku," ucap Alvin.