
Rasa cemas menggayuti batin Aluna. Ia masih berdiam diri di ruang tamu seraya menikmati secangkir teh yang membuatnya sedikit lebih rileks. Sambil menyesapnya pelan, Aluna terus berpikir bagaimana caranya agar dia cepat mendapatkan bukti sebelum tiga hari.
Diam tak akan menyelesaikan masalah, sebaiknya aku harus bertindak sekarang juga! Batin Aluna.
Di menit itu juga Aluna bersiap diri untuk keluar dari rumah. Namun, ketika ia sedang berjalan menuju pintu, seorang petugas keamanan yang berdiri di samping menegurnya halus, "Maaf, Nona. Atas perintah tuan muda, Anda dilarang meninggalkan rumah ini," ucapnya sambil menunduk.
Aluna menoleh, "Bilang saja padanya, ada yang harus aku selesaikan di luar."
Apapun alasannya tetap saja petugas keamanan tak mengizinkan. Karena takut kecolongan dan tahu bagaimana majikan wanitanya itu, satu petugas keamanan lainnya ikut menghadang di depan pintu. "Maaf, Nona muda. Kasihanilah, kami hanya menjalankan perintah dari Tuan Alvin. Kalau mau, Nona meminta izin terlebih dahulu, barulah kami memberi jalan."
Sebenarnya Aluna sedikit kesal karena langkahnya terhalang. Namun, karena kasihan melihat raut wajah petugas keamanan, akhirnya ia mengurungkan diri dan memutuskan kembali ke kamar, hendak menghubungi Alvin.
Aluna merebahkan dirinya di atas kasur, dengan posisi telentang ia berbaring dengan santai. Aluna memencet beberapa tombol di handphone miliknya hendak menghubungi Alvin yang ia sendiri tidak tahu ada di mana sekarang. Baru beberapa detik terhubung, telepon langsung tersambung membuat Aluna yang masih belum siap menjawab, dibuat kalang kabut.
Telepon terhubung.
^^^"Halo," ucap Alvin.^^^
"Ha-halo, Tuan!" seru Aluna gugup, dadanya mendadak bergemuruh.
^^^"Apa? Tadi kamu bilang apa? Tuan!"^^^
Ah' kenapa aku salah berucap! Batin Aluna sembari menepuk jidatnya.
"Maksud aku suamiku!"
^^^"Jangan sekali lagi memanggilku dengan kata itu, kalau tidak aku akan--"^^^
"Akan apa?"
^^^"Tentu saja memakanmu. Ada apa sayang kenapa tiba-tiba kamu menghubungiku? Apa kamu sedang merindukanku, Luna?"^^^
Haish, kenapa dia mendadak narsis begitu? Batin Aluna.
^^^"Benarkah? Kalau begitu tunggu aku di rumah. Sebentar lagi aku akan pulang setelah menyelesaikan masalah ini."^^^
Tadinya Aluna hendak meminta izin Alvin agar membolehkannya keluar. Tetapi, sebelum itu ia ingin menanyakan dahulu perkembangan kasusnya yang belum selesai.
"Bagaimana perkembangan penyelidikan kasusnya? Apa pecahan botol yang asli sudah ditemukan?" tanya Aluna.
Mendengar Aluna mengetahui dia sedang menyelidiki kasusnya, Alvin begitu terkejut. Lelaki itu tak menyangka kenapa Aluna bisa tahu kalau dia sedang menyelidiki sidik jari di pecahan botol, sementara hanya dia dan Noah yang mengetahuinya.
^^^"Darimana kamu bisa tahu aku sedang menyelidiki botol itu? Siapa yang memberitahukannya?" tanya Alvin mengintimidasi.^^^
Tentu saja jawabannya dari sistem, sebelumnya Aluna telah diberitahu plot novel ini darinya. Alvin yang masih bingung, terlihat menduga-duga, apa mungkin Noah yang memberitahunya. Tetapi, sepertinya tidak mungkin, karena Luna dan Noah tidak mengenal dekat, batinnya.
"Ah' jadi benar kamu sedang menyelidikinya untukku?" tanya Aluna begitu terharu. "Aku tidak diberitahukan siapa pun. Hanya saja, perasaanku sebagai seorang istri mengatakan kalau kamu tidak akan diam saja melihatku difitnah. Aku benar-benar bahagia."
Alvin menghela napas pelan. Hampir saja dia berpikiran buruk tentang Noah. Bukan Alvin namanya kalau tidak curiga dengan lelaki, bahkan sahabatnya sekalipun ia curigai telah menghubungi Luna diam-diam.
^^^"Syukurlah, aku pikir temanku yang memberitahukannya."^^^
"Tentu saja bukan. Jadi bagaimana hasilnya? Aku bosan di rumah, bolehkah aku ke luar? Aku juga ingin masalahku cepat diselesaikan, barusan Helen dan ibu tiriku ke sini meminta ganti rugi kalau bukti tidak ditemukan selama tiga hari," kata Aluna mengadu.
^^^"Hasilnya akan keluar sebentar lagi. Sekarang kamu hanya perlu beristirahat di rumah dan menungguku pulang. Aku tidak suka kamu pergi ke mana pun tanpa aku. Ingat kita sedang merencanakan program kehamilan. Sekarang katakan padaku, apa tuntutan Helen, biar aku yang buat perhitungan kepadanya?" tanya Alvin di telepon.^^^
"Dia meminta agar menjadi sekretarismu lagi. Tentu saja aku tidak mau, kalau buktinya tidak ditemukan, kamu pasti akan ... berdekatan lagi dengannya. Aku tidak akan membiarkan kalian berduaan, walaupun dengan alasan pekerjaan sekalipun. Aku akan mencari buktinya sendiri, izinkan aku keluar sekarang, suamiku!" Aluna mengatakannya dengan manja.
Apa? Jadi kamu bersikeras mencari bukti karena takut Helen mendekatiku lagi? Ah' benar-benar menggemaskan. Aku sudah tidak sabar ingin.... Batin Alvin yang wajahnya sudah kemerahan.
^^^"Aku tidak akan mengizinkannya! Sudah kubilang aku tidak ingin kamu terlibat, Sayang. Tunggu dan jadilah istri yang manis di rumah. Secepatnya aku pasti akan mengabarinya."^^^
"Lalu, bagaimana kalau sampai buktinya tidak ditemukan? Apa kamu akan tetap menjadikan Helen sekretarismu lagi?" Aluna sengaja memancing pertanyaan seperti itu, ia ingin tahu isi hati Alvin sebenarnya.
^^^"Baiklah, aku akan menuruti semua permintaan istriku. Helen bukan seleraku, jadi jangan khawatir Luna!"^^^