TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 256. Ambisi Helen


Pagi hari sekali, Helen sudah sampai rumah. Dokter bilang kesehatannya sudah cukup baik dan dia diperbolehkan pulang siang nanti. Namun, Helen bersikeras tetap pulang. Berlama-lama di rumah sakit membuat keadaan hatinya semakin buruk.


"Mommy antar ke kamarmu."


Mona menuntun Helen. Bukan langsung beristirahat di atas ranjang tidur, Helen malah mengecek CCTV yang dipasangnya dua Minggu yang lalu. Yah, tepatnya sebelum dia pindah ke dimensi lain.


"Kenapa kameranya ditutupi? Siapa yang menutupnya?"


Helen mendadak amarah. Mengambil bangku yang cukup tinggi, melepas lakban berwarna hitam yang tertempel di kamera CCTV. Dia yakin tak mungkin dirinya yang menutupinya. Kalau iya, berarti ada orang lain yang menyelinap ke kamar selama dia tak ada.


"Siapa yang berani masuk ke kamarku, Mommy?"


Mona mengerutkan alisnya. Siapa yang datang ke kamarnya? Jelas-jelas hanya dia sendiri yang masuk, gumam Mona dalam hatinya.


"Tidak mungkin ada orang lain masuk ke kamar ini, Sayang. Mommy sudah menyuruh pelayan melarang siapa pun yang masuk ke dalam," jawab Mona. Dia berpikir, mungkinkah pernyataan Helen barusan benar, kalau selama ini bukan jiwanya yang menempati tubuhnya sendiri.


"Ini gila! Apa aku harus periksa kejiwaanku kepada psikiater? Ini tidak mungkin, dia terus menguasai diriku!" Pekik Helen, emosinya tidak terkendali kali ini. Helen mengobrak-abrik isi lemari. Memastikan apa saja yang dilakukan jiwa lain terhadap tubuhnya.


"Bahkan dia merubah isi lemariku? Iblis itu! Yah, siapa dia?"


"Tenangkan dirimu, Nak. Dokter mengatakan kamu tidak boleh terlalu stress. Kondisimu belum stabil betul," ucap Mona menenangkan.


Akan tetapi, Helen menghiraukan. Dia bertanya banyak hal kepada Mona, apa saja yang dia lakukan dua Minggu yang lalu.


"Kamu benar tidak ingat semuanya?" tanya Mona terlihat bingung.


"Apa aku harus mengulangi pernyataan yang sama lagi?"


Sekarang Mona mulai yakin kalau dua minggu yang lalu bukan jiwa Helen sebenarnya. Mona berapi-api memberitahukan kegiatan anaknya selama dua minggu ini.


"Jadi aku pernah jalan berdua dengan Luna?"


"Tepatnya kalian terlihat sangat hangat."


Helen menggelengkan kepala pelan. "Lalu apa lagi?"


Mona tersenyum, akhirnya anaknya telah kembali. Mona mengambil ponsel Helen, menunjukkan foto Noah yang ada di dalam ponsel. Mona menunjukkan foto Helen berdua dengan Noah. Terlihat sangat romantis layaknya pasangan kekasih.


"Dan kamu sering berkencan dengan lelaki ini. Apa kamu serius berpacaran dengan lelaki miskin ini?"


Pernyataan Mona bagaikan petir di siang bolong bagi Helen. Berpacaran dengan Noah adalah hal yang tidak mungkin. Jangankan menjadi kekasihnya, dia bertemu muka dengan Noah sudah membuatnya mual.


"Aku dengan dia? Ini tak lucu, Mom. Kecuali kalau aku sudah gila!"


"Jadi benar, Luna sialan itu telah menyihirmu. Apa kamu pernah meminum satu ramuan? Kamu ingat-ingat lagi apa kamu pernah menerima minuman atau makanan dari Luna. Aku yakin Luna telah menaruh mantra di dalamnya."


"Aku tak ingat jelas. Tepatnya banyak ingatan yang hilang."


Helen mengepalkan tangannya. Ada satu lagi yang dia belum tahu. Anak itu, yah sebelumnya Luna membicarakan seorang anak.


"Anak itu? Barusan Luna menyombongkan diri tentang anak."


Mona menggertakkan giginya. Luna sudah membuat kacau hidup anaknya.


Kemudian Mona menjelaskan lagi secara detail bagaimana Luna menemukan anak itu. Ucapan Mona seperti sedang mendongeng dan Helen menjadi pendengarnya.


"Lelaki botak itu ternyata tidak bekerja dengan baik. Bodoh sekali kenapa aku harus melayaninya," gumam Helen.


Rencana yang sudah dibuat enam tahun yang lalu gagal total. Kalau saja malam itu dia tak membius Luna di kamar hotel. Tak mungkin ada anak itu. Helen telah menyesal. Telah melempar batu, tapi mengenainya sendiri.


"Tidak, Mommy. Aku tetap menginginkan Alvin. Dia harus menjadi milikku. Luna tak pantas bahagia!" teriak Helen dengan frustrasi.


Di masa lalu, Helen selalu berambisi untuk mendapatkan apa yang menjadi milik Luna. Daripada mendapatkannya sendiri, dia lebih puas mengambil apa yang menjadi milik dari Luna. Sekarang dia mendengar Luna telah memiliki anak kandung dari Alvin, bukan berarti dia harus menyerah. Justru dia sangat bersemangat untuk menghancurkannya.


Aku tidak akan puas sebelum apa yang kamu punya aku miliki semuanya, termasuk anakmu. Aku akan merebutnya, batin Helen.


Wajahnya terlihat sadis. Matanya tajam, melirik ke arah Mona. Seakan memberitahukan dia siap bertarung lagi dengan Luna.


...***...


Di tempat lain di mansion. Aluna sudah bangun sejak jam tiga pagi. Aluna mempersiapkan diri semuanya sendiri. Dia ingin memasak sendiri makanan untuk suami dan anaknya. Mempersiapkan seluruh data-data Zero yang harus dia serahkan ke sekolah. Setelahnya menata beberapa tumpuk kotak bekal untuk dia, Alvin dan Zero yang akan dibawa.


"Semuanya sudah siap, tinggal membangunkan ke dua lelakiku," gumam Luna.


Setengah jam sebelum dia membangunkan Alvin. Aluna menyempatkan diri berbicara dengan sistem. Banyak hal yang dia ingin tahu, termasuk menanyakan jumlah hari yang masih tersisa untuk adiknya.


"Miss K, bangunlah! Apa kamu masih tidur?"


Aluna menepuk tiga kali kalungnya. Seminggu ini jarang sekali dia berbicara dengan Miss K.


[Selamat pagi, Nona Aluna. Apa tidurmu nyenyak tadi malam?]


"Kamu pasti bisa melihat dan merasakannya sendiri."


[Kenapa Anda galak sekali.]


Aluna mengembuskan kasar napasnya. "Sia-sia sudah aku menukar sisa tas saranku dengan kehidupan sebulan Ara di sini."


[Anda salah paham. Setelah sistem diperbaiki, jumlah hari yang tersisa akan dikembalikan dengan tas saran lagi. Atau Anda bisa menukarnya dengan uang?]


Aluna mengangkat sedikit ujung bibirnya. Menukar dengan uang? Bahkan dia sudah tak bisa menghitung lagi berapa banyak uang di dalam rekeningnya. Bukan miliaran lagi bahkan triliunan mungkin. Setiap mereka berhubungan badan. Notifikasi penambahan uang selalu dia dengar, dan dia sudah tak berambisi lagi mendapatkan uang.


"Tidak, tidak. Aku tidak mau uang lagi. Aku ingin menukarnya dengan yang lain."


Aluna menggeser sedikit tubuhnya menjauh dari tempat tadi. Barusan dia mendengar Alvin telah bangun. Aluna tak mau Alvin mendengarnya, jadi dia sedikit menjauh.


"Kamu dengar ucapanku tadi, Miss K?"


[Yah, apa yang Anda inginkan?]


Aluna berkata pelan tanpa merubah ekspresi di wajahnya sama sekali. "Aku ingin menukarnya dengan jawaban. Sekarang beritahu aku, apa sebelum aku datang Luna telah meninggal? Kalau iya, apa dia meninggal karena dibunuh?"


[Yah.]


"Siapa yang membunuhnya?"