TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Mengemasi Pakaian


"Kenapa dengan tubuhku? Apa barusan aku sedang bermimpi?" Helen menyentuh lengannya, memastikan kalau sekarang dia sudah sadar penuh.


Helen kembali meraih telepon genggam miliknya. Dia melihat waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Tak biasanya dia tertidur secepat itu? Pikir Helen dalam hati.


Di saat Helen membuka handphone, dia melihat sebuah pesan masuk. Tertulis nama di kontak yang mengirim pesan adalah "Noah" . Dalam hati masih bertanya, siapa Noah? Perasaan dia tak pernah menyimpan nomer atas nama tersebut, gumamnya. Ternyata sebelum Ara dan Noah berpisah, mereka saling memberikan nomer handphone.


Karena penasaran, akhirnya Helen membuka isi pesan itu.


^^^[Halo, Nona. Selamat malam. Aku Noah, terima kasih sudah menemaniku seharian. Maaf ya mengenai kejadian siang. Karena aku, Lisa sampai memukulmu. Lain waktu mau kan kalau kita bertemu lagi?]^^^


Dahi Helen langsung mengernyit. Helen langsung membuka profil pengirim pesan itu. Dia memperhatikan saksama foto lelaki itu. Ya, sebenarnya walaupun tak mengenal dekat, Helen tahu siapa Noah.


Helen memutar ingatannya, dia merasa kalau dia tak pernah memberikan nomernya kepada Noah. Apalagi sampai menemaninya seharian, itu adalah hal yang tidak mungkin bagi Helen. Walaupun ketampanan wajah Noah sebelas dua belas dengan Alvin. Dia tak mungkin menyukainya, karena dia tahu Noah seorang lelaki miskin dan kerjaannya hanya meminjam uang pada Alvin.


"Beraninya kamu mengirim pesan padaku!" gerutu Helen.


Helen mengirimkan pesan balasan.


[Maaf sepertinya kamu salah orang.]


^^^[Benarkah? Tapi sepertinya aku tidak salah nomer. Kamu Arabella, bukan? Aku Noah, lelaki yang menemanimu seharian tadi.]^^^


[Aku bukan Arabella. Kamu salah orang.]


Karena kesal saat itu juga Helen memblokir nomer Noah. Menurutnya mungkin lelaki itu salah nomer, atau bisa jadi ada yang menyebarkan nomer whatsapp-nya kepada Noah. Jelas itu membuat Helen risih.


Sementara di tempat lain. Noah yang yang sedang menunggu balasan dari Ara. Senyumannya langsung memudar seketika, begitu mengetahui nomernya telah diblokir Helen.


"Kenapa Ara memblokir nomerku?" kata Noah.


Noah mendadak terdiam, dia merasakan kelakuan Ara dengan yang membalas pesannya sangat berbeda. Seketika banyak pertanyaan muncul di benak Noah.


"Apa mungkin Ara ...."


"Sepertinya aku harus bertemu dan menanyakannya kepada Alvin nanti."


...***...


Di Mansion Alvin.


Seorang pelayan memberitahukan kepada Alvin kalau Aluna sudah pulang dan berada di kamarnya. Mendengar itu Alvin pun langsung mendatangi. Dia sangat kaget begitu mengetahui ketika Aluna tengah sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"Luna," sapa Alvin begitu memasuki kamar, "kenapa kamu mengemasi pakaianmu?"


Aluna menoleh dan tersenyum. "Alvin, untuk beberapa hari ke depan, aku ingin tinggal di rumah ayahku dulu."


"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Aku ingin menemui adikku," jawab Aluna.


"Adikmu? Maksudmu Helen?"


Aluna mengangguk. Dia tampak bahagia dan tak sabar ingin segera kembali ke rumah ayahnya.


"Aku tidak setuju!" Ketus Alvin, "memangnya tak bisa menyelesaikannya tanpa perlu tinggal di sana?"


Aluna telah selesai mengemasi pakaian. Melihat ekspresi wajah Alvin yang tak senang. Dia pun hendak merayunya dan mendekati. "Hanya tiga hari saja. Lagipula besok juga kita pasti ketemu di kantor."


"Tidak bisa."


"Ini masalah keluargaku. Ayahku ingin membagi saham dan properti. Aku harus datang, kalau tidak Helen akan mengambil bagianku." Aluna terus membujuk Alvin. Ya, dia terpaksa berbohong agar Alvin menyetujuinya.


Aluna tidak ingin melewatkan untuk bertemu dengan Ara. Karena menurut sistem, Ara akan kembali lagi setelah Helen tertidur. Kalau dia tak tinggal di rumah Hideon sekarang, dia tidak akan tahu perkembangan selanjutnya.


"Hanya semalam," kata Alvin tegas.


"Baiklah, dua hari. Tidak lebih dari itu." Aluna mulai bernegosiasi dengan Alvin.


Belum menjawab iya atau tidak, Aluna sudah membawa koper keluar. Dia berjalan sangat cepat, Aluna tidak tahu bagaimana perasaan Alvin yang sebenarnya tidak setuju. Berpisah ruangan saja sudah menyiksanya apalagi tinggal terpisah walaupun hanya dua hari lamanya.


"Aku akan mengantarmu ke depan, Luna." Mau tak mau Alvin menyetujuinya.


Di saat Aluna berjalan ke pintu utama. Nenek Alma dan Clara terlihat kaget ketika Aluna berjalan menarik koper. Mereka bertanya-tanya, mungkinkah Aluna dan Alvin sedang bertengkar?


Clara buru-buru mendekati Aluna. "Mau ke mana kamu, Luna?"


Aluna menghentikan langkahnya. Sebelum pergi dia juga harus berpamitan dengan Nenek Alma dan ibu mertuanya. "Ibu mertua, Nenek. Aku izin ingin pulang ke rumah ayahku dulu. Ayahku ingin membicarakan masalah pembagian saham dan properti."


"Aku pikir kalian sedang bertengkar. Kalau begitu hati-hati di jalan, Luna. Salam untuk ayahmu, Hideon," ucap Nenek Alma lalu mencium pipi kanan dan kiri Aluna. Begitu pula dengan Clara, dia merasa lega karena dugaannya salah. Dia pun memperbolehkan Aluna pergi.


"Terima kasih Nenek dan ibu mertua. Aku hanya menginap selama dua hari. Setelah masalah selesai, aku akan kembali lagi ke sini," kata Aluna. Setelah itu dia kembali berjalan di dampingi Alvin.


Mereka sudah berada di luar. Tak Aluna sadari, dari tadi Alvin tak berhenti memperhatikan Aluna. Dia sangat cemburu dengan ekspresi kebahagiaan Aluna begitu dia ingin pulang ke rumah. Alvin berpikir, kalau Aluna tidak terlalu senang tinggal bersamanya.


"Kenapa kamu begitu bahagia jauh dariku?" kata Alvin dengan ekspresi kesal.


"Aku akan secepatnya kembali. Lagi pula sama saja bukan, kita di rumah juga tidur terpisah." Aluna menjawab dengan enteng.


"Itu tidak akan terjadi lagi, Luna. Setelah kamu pulang nanti. Aku akan menyuruh pelayan merapihkan barang-barangmu dan memindahkan lagi ke kamar kita. Tidak peduli kamu sedang datang bulan atau tidak!" ketus Alvin.