TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 245. Rahasia Tersembunyi yang Belum Terungkap


"Kamu yakin akan bekerja lagi besok?" tanya Alvin malam itu setelah menidurkan Zero.


"Yah, aku harus melakukannya kalau masih ingin berada di sini, Alvin," jawab Aluna.


Malam itu keduanya duduk bersandar di tepi ranjang. Berbicara banyak hal terutama untuk masa depan Zero.


"Aku sudah mencari informasi sekolah yang pas untuk Zero. Aku memilih taman kanak-kanak yang tidak jauh dari perusahaanmu, agar aku bisa meluangkan waktu untuk mengantar dan menjemput Zero nanti," kata Aluna.


Alvin tidak banyak protes, dia serahkan masalah anaknya kepada Aluna. Dia yakin Aluna akan memilihkan sekolah yang tepat, ya walaupun dia tahu keluarganya pasti melarang karena taman kanak-kanak yang Aluna pilih bukan sekolah yang diperuntukan keluarga bangsawan.


"Aku setuju," jawab Alvin, "kalau misal kamu sibuk, aku akan menyuruh asisten Jo untuk mengantar dan menjemput Zero sekolah."


Aluna menggeleng, dia tak percaya dengan siapa pun termasuk sopir pribadi Alvin yang disebutkan tadi. Aluna sudah paham dengan Alur novel yang dia jalankan. Di mana pembantu atau siapa pun bisa disogok dan berubah sewaktu-waktu apalagi kalau sudah ada iming-iming uang. Sebaliknya, Aluna meminta kepada Alvin untuk memberikan kelonggaran waktu istirahat saat bekerja untuk menjemput dan mengantarkan Zero.


"Aku saja yang mengantar dan menjemput Zero dengan mobil. Ayah Hideon sudah memberiku surat izin mengemudi. Setelah pulang sekolah nanti, Zero bisa aku ajak ke tempat kerja."


Lelaki berkulit putih itu asik menyimak apa yang dibicarakan Aluna. Duduk di pangkuan, sambil melihat wajah Aluna dari dekat membuatnya sangat nyaman. "Lakukan semaumu, Luna. Tapi kalau boleh memilih, aku ingin kamu di rumah saja dan fokus mengurus Zero. Aku tak mau calon anak kita gagal karena kamu kelelahan."


"Calon anak kita?"


Alvin mengelus perut Aluna yang masih rata, "Aku yakin, sebentar lagi pasti kamu akan mengandung anakku."


Jangan berharap Alvin. Karena itu tidak akan terjadi! Batin Aluna.


Aluna langsung tertegun, mengatur napasnya sedemikian rupa agar sedikit lebih tenang. Alvin menginginkan seorang anak darinya, tetapi tidak dengan Aluna. Sebelum terjadi sesuatu, Aluna sudah merencanakannya dari awal termasuk mengkonsumsi pil penunda kehamilan.


"Apa kamu yakin menginginkan anak dariku? Kamu kan tahu aku tidak akan lama di sini?" tanya Aluna.


"Tidak masalah, memangnya kenapa? Aku yakin Luna akan menerimanya seperti kamu menerima Zero. Ayo kita buat lagi sekarang agar bisa cepat jadi," ajak Alvin.


Aluna buru-buru menyembunyikan dirinya di bawah selimut dan berbalik badan karena malu. "Zero masih kecil dan masih belum puas mendapatkan kasih sayang dari kita, aku belum siap memiliki anak sekarang. Setelah Luna kembali, kamu boleh meminta berapa pun anak darinya."


"Aku tak mau! Aku tetap menginginkan anak darimu. Aku ingin memiliki anak perempuan yang sangat mirip denganmu. Kasian Zero tak memiliki teman di rumah. Ayo kita buat lagi," kata Alvin lagi berulang kali sambil memeluk Aluna dari belakang.


Alvin tak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh Aluna. Apalagi jika mereka berada berdua di tempat tidur. Tubuh Aluna seakan menjadi candu, anggap saja menjadi bulan madu mereka yang tertunda.


"Kalau aku tidak mau?" tanya Aluna sambil tersenyum memunggunginya.


Tangan Alvin dengan cepat membalikkan tubuh Aluna, membuat wanita itu berganti posisi menjadi di bawah. Rona merah terlihat di wajah Aluna dan Alvin sangat menyukainya. Keduanya bersitatap, membuat Alvin semakin senang menggodanya. "Mau atau tidak, aku akan memaksamu. Aku akan membuatnya sampai jadi," bisik Alvin pelan.


Sekali lagi Aluna hanya bisa pasrah, menolak pun rasanya percuma. Perlakuan Alvin yang sangat lembut, membuat dia ikut terbawa suasana dan mengikuti permainan ingin bercinta.


***


Untuk kesekian kalinya, sistem memberitahukan notifikasi hadiah setelah dia bercinta dengan Alvin. Entah sudah berapa banyak uang yang didapatkan Aluna sekarang, sudah tak terhitung lebih dari berpuluh-puluh miliar. Bahkan Aluna sendiri belum pernah mengecek rekeningnya sendiri.


Aluna menarik diri keluar, meninggalkan Alvin yang sudah tertidur pulas di ranjang.


"Apa aku bisa menukar semua uang dan tas saran yang aku dapatkan hadiah dari misi, untuk menarik Alvin dan Zero ke duniaku, Miss K?" tanya Aluna.


[Tidak!]


"Lalu untuk apa semua uang yang kamu berikan padaku? Aku bukan pela cur yang diberikan uang setelah melakukan hubungan in tim. Yang aku lakukan tadi atas dasar suka sama suka! Aku menginginkan Alvin dan Zero."


[Bukankah dulu Anda pernah mengatakan tidak percaya cinta dan bisa membeli apa pun dengan uang? Sampai Anda memutuskan untuk tidak menikah dan dekat dengan lelaki sebelum Ara sembuh. Anda akan menjadi seorang milyarder, bisa menggunakan uang yang didapatkan sepuasnya nanti di dunia nyata.]


Pandangan mata Aluna begitu kosong saat melihat langit malam. Hanya ada satu bintang yang menyendiri, seperti dirinya sekarang. Duduk seorang diri meratapi nasib yang tak menentu. Perkataan sistem tadi sama sekali tak membuatnya senang.


"Uang dan kekayaan ada di depan mata, aku bisa membeli apa pun di sini. Tetapi kenapa aku merasa tak bisa menikmatinya?"


Aluna mengingat lagi dulu saat dia di dunia nyata. Dia sempat menggebu untuk mendapatkan banyak uang. Dia pernah ditolak mentah-mentah pihak rumah sakit saat ingin merawat Ara karena tak punya uang. Dan itu sangat menyakitkan. Aluna selalu menolak lamaran banyak lelaki yang menyukainya demi fokus menyembuhkan Ara. Sampai dia rela melakukan apa pun demi uang, mengorbankan nyawanya sendiri seperti kecelakaan mobil yang dia alami terakhir.


[Semua tak ada yang abadi, Nona. Semua orang akan mengalami perpisahan dan kematian. Jadi nikmati saja waktu Anda di sini.]


"Yah, mungkin kamu benar, Miss K. Bagaimana kalau aku akhiri saja misinya sekarang? Aku akan menggunakan uang pemberianmu sekarang untuk merawat Ara, aku yakin lambat laun Ara akan sembuh kalau mendapatkan perawatan yang mahal dan maksimal. Aku akan menggunakan semua uang ini untuk merawat Ara di rumah sakit yang memiliki alat komplit untuk penyembuhan kanker. Pertemukan kembali Luna dengan Alvin. Mereka berdua sudah menyayangi dari dulu. Lihat semua surat ini, mereka sudah sering berkirim surat dari kecil." Ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya bersamaan dengan deraian air mata.


Aluna sudah menyusun potongan kertas yang diberikan pelayan An. Meskipun tak bisa utuh seperti sedia kala, dia bisa membaca isi tulisan itu dengan jelas. Aluna membaca isi surat Alvin dulu yang diberikan kepada Luna saat mereka di luar negeri. Semua surat sengaja disobek Luna, karena malam itu mereka bertengkar hebat dan Alvin mengurungnya di kamar.


"Wanita yang dulu berkirim surat dengan Alvin di luar negeri adalah Luna. Wanita yang dulu Alvin hamili adalah Luna. Semua ini membuktikan kalau mereka sudah saling menyayangi dari dulu. Kedatangan aku di sini untuk memperbaiki hubungan mereka, bukan? Dan aku sudah menyelesaikan kesalahpahaman perselingkuhan Luna. Semua alur yang menyedihkan sudah aku rubah menjadi romantis. Bukankah itu cukup, Miss K?"


"Alvin akan mendapatkan Luna kembali, dan hubungan mereka akan harmonis. Luna pasti akan menyayangi Zero. Tetapi bagaimana dengan aku? Untuk apa aku di sini lama-lama?"


[Misi ini belum selesai. Anda harus ingat Ara!]


"Apa Ara akan sembuh nanti saat misi ini berakhir?"


Aluna memasukkan kembali kertas yang setengah utuh itu ke dalam amplop. Dia akan memberikannya nanti kepada Alvin di waktu yang tepat sebelum dia pergi.


[Anda akan mendapatkan obat penyembuh sebagai hadiahnya. Misi ini akan berakhir di tengah jalan, jika yang membuatnya sendiri yang mengakhiri!]


"Apa maksudmu, Miss K?"


[Anda harus mencari tahu sendiri. Ada rahasia tersembunyi di balik misi ini. Salah satunya berkaitan dengan Ara dan masih ada misteri mengenai pisau itu.]


Aluna mengambil pisau yang diberikan pelayan An. Mengamati benda tajam itu saksama. "Pisau ini kenapa ada di kamar Luna?"