TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Tawar Menawar


"Di mana Kak Luna sekarang, Nek? Aku ingin meminta maaf kepadanya langsung." Ara berkata kepada Nenek Alma.


"Aku sangat yakin dia tidak akan memaafkan wanita licik sepertimu!" Clara menyela perkataan Ara.


Ara yang masih berlutut, mendongakkan kepalanya. Tangannya dengan lembut memegang punggung tangan Nenek Alma sambil terus memohon. "Aku mohon pertemukan aku dengannya, aku sangat menyesal dan ingin meminta maaf sekarang, Nek."


Nenek Alma merasa ada yang berbeda dari ekspresi yang ditunjukan Ara. Menurutnya, walaupun Helen adalah wanita yang licik dan pintar memanipulasi keadaan. Namun dari tatapannya, Nenek Alma yakin kali ini wanita di depannya itu bersungguh-sungguh ingin meminta maaf dan bertemu dengan Luna. Dia merasa ada energi lain saat Ara memegang tangannya. 'Tidak biasanya aku melihat sorot mata gadis ini begitu teduh' gumam Nenek Alma dalam hati.


"Luna sedang menemui Alvin di perusahaannya. Baiklah, aku akan coba menghubungi Luna sekarang." Nenek Alma meminta seorang pelayan membawakan handphone kepadanya. Entah mengapa Nenek Alma seakan terbius oleh kata-kata Ara. Saat itu juga dia menelepon Aluna.


^^^"Halo, Nek."^^^


"Luna. Helen ingin menemuimu sekarang. Sepertinya dia sangat menyesal dan ingin meminta maaf kepadamu, bisakah kamu pulang sekarang?" tanya Nenek Alma di telepon.


...Aluna yang masih di dalam mobil tanpa ragu berkata, "Maaf, Nek. Aku sedang menuju perusahaan, kemungkinan aku akan pulang lama. Aku malas meluangkan waktu untuk bertemu dengannya sekarang. Aku juga sangat yakin Helen pasti hanya berpura-pura menyesal dan meminta maaf agar aku tak melaporkannya ke polisi. Biarkan saja dia menungguku di rumah, Nek."...


Karena Aluna tetap tidak mau menemui Helen, Nenek tak bisa memaksanya lagi. Setelah sambungan telepon terputus, Nenek Alma langsung mengatakannya kepada Helen. Menurutnya penolakan Aluna sangat wajar mengingat Helen sangat pintar berakting, tidak sulit bagi seorang Helen untuk berpura-pura menyesal dan menangis sekali pun.


"Luna sedang menuju perusahaan Alvin. Sayang sekali Luna tak mau menemuimu langsung. Kalau kamu mau, tunggu saja sampai Luna kembali ke rumah," ucap Nenek Alma.


"Jadi Kak Luna tak mau menemuiku?" Ara langsung terlihat murung dan memundurkan langkahnya.


Walaupun tak yakin betul kalau Luna adalah kakaknya, Ara sangat kecewa karena kali ini dia tak dapat bertemu langsung. Mona meminta agar Ara pulang ke rumah dan menemui Aluna nanti saja. Namun, wanita itu menolak. Dia malah bersikeras ingin menemui langsung Aluna sendiri di perusahaan Alvin.


Aku tidak mau pulang. Aku masih penasaran! Aku akan menyusulnya sekarang. Batin Ara.


***


Di Perusahan Keluarga Wiratama.


"Selamat siang, Nyonya Luna." Sekretaris Fang yang tak sengaja bertemu menyapa Aluna ketika wanita itu berdiri terpaku di depan meja resepsionis.


"Siang," jawab Aluna, "eum ... kamu asisten pribadi suamiku kan? Oh iya, Aku ingin menemui suamiku. Di manakah dia sekarang?" tanya Aluna.


"Mari, Nyonya. Saya antar Anda ke kantor Presdir Alvin," kata sekretaris Fang menawarkan diri. Aluna balas mengangguk lalu mengikuti di belakang langkahnya.


"Sekarang aku bukan asisten pribadi Presdir Alvin lagi, Nyonya." Sambil berjalan sekretaris Fang berkata kepada Aluna, "itu semua gara-gara aku telah teledor salah memberikan informasi restoran. Maafkan aku Nyonya atas kejadian kemarin malam," tambahnya.


Ya, Aluna kembali mengingat kalau gara-gara sekretaris Fang teledor, dia harus bersusah payah mencari akal agar klien Korea tidak kecewa. Namun, hikmah dari kejadian itu, Aluna berhasil memuaskan Tuan Dae Jung. Membuat Alvin memiliki muka dan banyak klien yang mau bekerja sama dengannya setelahnya.


Kini mereka sudah sampai di depan ruang pribadi Alvin. Sayangnya pas mereka masuk ke dalam, Alvin sedang tidak ada di tempat. Rupanya lelaki itu sedang mengadakan rapat klien di ruang konferensi. Aluna lalu memilih untuk menunggu Alvin di ruangannya sendiri.


Sepuluh menit kemudian.


"Bagaimana apa kamu sudah menyelidiki kenapa data kita bisa bocor dan diketahui oleh beberapa klien?" Alvin berkata kepada sekretaris Fang di luar ruangan.


"Aku masih menyelidikinya, Tuan."


Mendengar suara Alvin, Aluna langsung melihat dari celah jendela ruangan. Tadinya Aluna ingin segera menghampiri Alvin. Namun, dia segera mengurungkannya. Dia melihat Alvin sedang memarahi sekretaris Fang di luar. Bahkan Alvin melempar beberapa kertas ke mukanya dengan kasar.


"Tidak becus! Kamu tidak bisa menjaga dokumen penting perusahan. Aku tidak yakin kalau ada orang yang bisa dengan mudah meretas sandi yang sudah aku perkuat. Kecuali kamu sendiri yang membocorkannya!" Alvin masih terlihat memarahi, sementara lelaki di depannya terus menunduk.


Aluna masih terus mendengarkan suara Alvin yang sedang memaki-maki dari dalam. Dia berpikir, sepertinya pekerjaannya memang bukan main-main. Aluna sadar dia tak memiliki ketrampilan yang memadai untuk menjadi sekretaris.


Sebelum Alvin sampai ruangan, Aluna menyempatkan diri berbicara kepada sistem, dia lalu menepuk kalung sistem. Sensor di kalung pun langsung berkedip menandakan sedang aktif.


"Miss K, sepertinya tugasku lumayan berat sekarang. Apa aku bisa menukar tas saranku dengan ketrampilan bekerja sekarang juga?" tanya Aluna kepada sistem.


...[Ketrampilan yang akan Anda miliki bisa diaktifkan asalkan menukarkan dengan lima tas saran]...


Aluna langsung mendelik dan terkaget. "Apa? Lima tas saran? Itu terlalu banyak, bisakah aku menukarnya dengan dua tas saran yang sudah aku miliki?" Aluna mulai menawar dengan sistem.


...[Keputusan sistem, tidak bisa diganggu gugat, Nona. Ketrampilan Anda akan aktif dengan lima tas saran]...


Aluna sangat tahu bagaimana otoriternya sistem. Di pun tahu kalau sistem juga sangat pelit informasi, sebelum dia sendiri yang bertindak dan berusaha.


"Kalau begitu aku akan menciyum Alvin sebanyak tiga kali agar aku bisa mendapatkan tiga tas saran lagi," kata Aluna kembali bernegosiasi.


Namun, bukannya sistem mengiyakan malah dia menaikkan harga untuk satu tas saran.


...[Untuk ketrampilan kali ini tidak berlaku satu ciuman, Nona. Anda akan mendapatkan satu tas saran dengan tiga kali ciuman. Itu artinya Anda harus mencium Alvin sebanyak sembilan kali agar sistem memberikan tiga tas saran.]...


Mendengar itu mata Aluna langsung terbelalak dan membulat sempurna. Hampir saja dia berteriak kalau tidak menutup mulut dengan telapak tangannya.


"Apa? Jadi ... aku harus mencium Alvin sebanyak sembilan kali?"