TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 248. Keinginan Aluna


Setelah mengakhiri perdebatan dengan ibu mertua. Aluna mengantarkan Zero terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor. Kali ini dia kendarai mobil sendiri karena telah memiliki surat izin mengemudi.


"Terima kasih, Mama. Hati-hati di jalan, Mama, Papa," kata Zero sambil melambaikan tangan sebelum masuk ke kelas.


Aluna membalas dengan memperingati Zero agar jangan mau dijemput oleh siapa pun, kecuali dijemput olehnya atau Alvin. Setelah bel masuk berbunyi, barulah Aluna dan Alvin kembali ke dalam mobil.


"Tadi pagi Yuze mengirimkan pesan padaku," ucap Alvin setelah Aluna kembali duduk di kursi kemudi.


Mendengar nama Yuze, Aluna kembali mengingat pesan sistem untuk berhati-hati dengan lelaki itu. "Apa yang dikatakan Yuze?"


"Dia mengatakan kalau ingin menjenguk Zero dan memberikan sebuah hadiah."


Kening Aluna mengernyit. "Lalu, apa jawabanmu?"


Alvin tersenyum miring. "Tentu saja aku melarangnya," ucap Alvin, "besok biar aku saja yang menyetir. Asisten Jo sudah aku suruh untuk menebus surat izin mengemudiku ke kantor administrasi kepolisian."


Aluna merasa lega. Baru mendengar Yuze akan menjenguk saja sudah membuatnya khawatir, apalagi sampai mengajak Zero jalan-jalan. Mungkin dia adalah orang pertama yang akan melarangnya nanti.


"Memangnya kenapa kalau aku yang mengemudi? Aku kan sudah biasa melakukannya?" tanya Aluna sambil menyetir.


"Aku tidak terlalu suka dengan wanita yang terlalu mandiri. Itu berarti kamu tak terlalu membutuhkanku," jawab Alvin enteng, "bersikaplah manja. Karena aku menyukainya," sambungnya lagi.


Aluna terkekeh mendengar ucapan Alvin. Manja? Bukan dia orangnya kalau manja. Yah karena dia sudah terbiasa mandiri dari kecil tanpa orang tua.


"Aku ingin kamu bersikap manja seperti kita di tempat tidur kemarin," ucap Alvin menggoda.


Wajah Aluna mendadak merah padam. Mengingat kejadian beberapa malam yang lalu dengan Alvin membuatnya sedikit malu. Yah, malam itu dia sangat manja dengan meminta Alvin menggendongnya ke kamar mandi, karena tak bisa jalan akibat pertempuran mereka semalaman. Aluna juga sangat malu karena saat itu Alvin lah yang memandikannya seperti bayi.


"Alvin, aku tak bisa ... ah sudahlah, lupakan saja," ucap Aluna.


"Kenapa memang?" tanya Alvin, "baiklah! kalau kamu tak bisa bersikap manja, aku yang akan memanjakanmu mulai sekarang. Katakan, apa keinginanmu yang belum terpenuhi di sini? Aku akan berusaha mewujudkannya."


Mendengar ucapan Alvin, Aluna cuman bisa terdiam. Keinginan Aluna sekarang sangat sederhana, dia ingin terus bersama Alvin, Ara dan Zero. Namun, Aluna tahu itu mustahil. Lebih tepatnya dia ingin memiliki sebuah keluarga yang harmonis.


"Kamu benar ingin tahu?" tanya Aluna lagi memastikan.


Alvin mengangguk cepat.


"Aku ingin menikah dengan pria yang mencintaiku," jawab Aluna tegas.


Jawaban Aluna membuat Alvin tertegun tak bisa berkata-kata lagi. Dia sangat mencintainya, tetapi dia tak bisa memiliki selamanya. Alvin mengembuskan napas pelan. Alvin tahu Aluna bukanlah istrinya yang asli. Dan sebuah kesalahan kalau mereka terus melakukan hubungan badan tanpa ikatan suami istri.


"Kalau begitu aku akan menikahimu?"


"Apa maksudmu, Alvin?" tanya Aluna.


"Yah, aku akan menikahimu sebagai Aluna."


Aluna langsung terperanjat. Dia masih mengira Alvin hanya bercanda.


"Aku setius. Nanti siang aku akan mengajakmu berjalan-jalan bersama Zero. Untuk kenang-kenangan nanti, aku ingin kita bertiga melakukan foto keluarga," kata Alvin.