TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Meminta Bertemu


Ara? Dunia lain? Berpindah dimensi? Beberapa pertanyaan muncul di benak Noah. Dia menatap balik Ara, mengamati mimik wajahnya. Dari ekspresi yang dia lihat, wanita di depannya itu terlihat seperti sedang tidak berbohong.


Noah menarik napas dalam-dalam membiarkan oksigen masuk melalui rongga hidungnya lalu mengembuskan pelan. Noah sempat berpikir, ada benarnya juga kalau wanita yang di depannya mengaku bukan Helen yang pernah dia kenal. Pasalnya tingkah laku, penampilan, gaya bicara semua sangat berbeda dengan Helen yang pernah dia temui sebelumya. 'Apa mungkin semua ucapannya benar?' Gumamnya dalam hati.


Namun, pikiran itu buru-buru ditepisnya. Noah tidak mempercayai adanya dunia lain selain dunianya, kecuali kalau itu hanyalah sebuah halusinasi dan khayalan. Menurut Noah itu terlalu absurd, dia malah beranggapan wanita yang duduk di depannya itu sedang mengalami gangguan Skizofrenia.


"Nona, apa Anda mau es krim?" Noah sengaja mengalihkan pembicaraan.


Mendengar Noah menawarkan makanan beku kesukaannya, Ara pun langsung mengangguk dan melupakan masalahnya sejenak. "Aku mau! Belikan aku yang rasa coklat," jawabnya sembari menunjuk gambar es krim di kertas menu.


Apa mungkin gara-gara kehilangan pekerjaan, Nona Helen mengalami gangguan jiwa? Pantas saja insiden itu terjadi? Aku harus bertanya kepada Alvin mengenai ini! Noah terus berpendapat sendiri di dalam hati.


Sepuluh menit kemudian. Di saat Ara sedang asik memakan es krim, dari jauh Mona berjalan cepat menghampiri mereka. Mata wanita itu langsung berbinar kegirangan. Dia sangat lega karena melihat anaknya dalam kondisi baik-baik saja.


"Syukurlah, Nak. Tidak terjadi hal yang buruk terhadapmu." Mona langsung memeluk erat tubuh Ara, membuatnya tersentak dan terdiam beberapa detik.


Wanita ini lagi! Sebenarnya siapa dia? tanya Ara dalam hati.


"Mommy sangat khawatir, aku sangat lega sekarang melihatmu baik-baik saja." Mona mengusap lembut rambut Ara, "kenapa wajah, tubuh dan rambutmu sangat kotor, Nak?"


Jadi dia adalah Mona, ibunya Helen! Ara bergumam mengamati setiap inci wajah Mona.


Ara tau siapa Mona di dalam dunia novel yang dia baca. Sebenarnya tokoh Mona adalah wanita yang dibencinya. Namun sayangnya, Mona adalah pemilik tubuh yang dia tempati dan ia berpikir harus menghormati wanita itu. Ara pun mulai berpura-pura sebagai Helen kembali. "A-aku baik-baik saja," jawabnya singkat.


"Siapa kamu? Sepertinya ... aku baru melihatmu?" tanya Mona menoleh ke arah Noah yang terpaku di tempat.


Noah langsung mengulurkan tangan memperkenalkan diri. "Perkenalkan namaku Noah, Nyonya. Senang bertemu dengan Anda."


Mona membalas uluran tangan Noah. Lewat sepersekian detik dia pun ikut duduk di tengah mereka. Kemudian mereka saling berbincang, membicarakan obrolan ringan. Noah memberitahukan secara rinci kenapa mereka bisa bertemu dan makan siang bersama kepada Mona. Noah tak menceritakan kecurigaannya kepada Mona mengenai ucapan Ara yang aneh, menurutnya itu terlalu tidak sopan untuk dibicarakan langsung kepada orang tuanya.


"Terima kasih sudah menolong dan mengajak anakku makan siang. Kami harus pulang cepat karena harus bertemu dengan Nyonya Clara secepatnya," kata Mona kepada Noah.


Noah pun membalas mengangguk sembari tersenyum. Dia merasa lega karena Helen sudah dijemput keluarganya. "Aku pun sangat berterima kasih, Nyonya. Hati-hati di jalan."


Saat itu juga, Mona menuntun Ara agar pulang dan segera membersihkan diri.


"Semoga kita bisa bertemu lagi, Nona," ucap Noah.


"Oppa! Pikirkan, kata-kataku yang tadi. Ingat! Aku tidak sedang berhalusinasi apalagi berbohong. Sampai jumpa." Ara sempat berbisik kepada Noah sebelum pergi.


Berulang kali Aluna melihat jam di dinding. Aluna merasa terlalu lama menunggu kedatangan Helen dan ibunya, sementara hari sudah mulai siang, dia harus cepat menemui Alvin. Karena tak ada tanda-tanda kedatangannya, Aluna meminta izin kepada Nenek Alma untuk pergi ke perusahaan, dia beralasan ada urusan penting dengan Alvin.


Baru Lima menit Aluna meninggalkan Mansion. Mobil Mona sudah sampai depan halaman. Ara yang sudah membersihkan diri dan berganti baju, dituntun Mona memasuki halaman Mansion. Terlihat wajah takut sekaligus gugup di wajah Mona, berulang kali wanita itu mengatakan kepada Ara kalau dia tidak boleh banyak berbicara dan harus meminta maaf.


Sementara, Ara yang baru memasuki rumah itu, terlihat takjub dan terpesona. Belum pernah dia menginjakkan kaki di ruangan semegah dan semewah itu. Sambil berjalan tatapannya terus berkeliling, memperhatikan detail demi detail bagian ruangan. 'Sepertinya aku tahu rumah siapa ini' Ara membatin.


"Aku pikir kalian tidak akan datang!" Bentak Clara saat mereka sudah memasuki ruangan.


Wajah Nenek Alma terlihat marah dan geram. Apalagi Clara, sebenarnya dia ingin sekali menampar dan memberi pelajaran kepada Helen. Namun, ketika Mona langsung berlutut meminta maaf, Nenek Alma langsung menahan tangannya. Dia pun akhirnya diam menahan amarah.


"Biarkan dia berbicara dulu." Nenek Alma kembali menahan Clara agar menahan emosinya.


Dengan gerakan cepat, Mona langsung menepuk punggung Ara memberi kode agar mengikutinya menunduk dan segera meminta maaf. "Maafkan kami berdua, Nek. Aku minta maaf karena sudah memfitnah Luna," ucap Mona. Seketika dia langsung mengeluarkan air mata buayanya untuk meminta belas kasihan kepada keluarga Wiratama.


Jadi mereka berdua adalah Nyonya Clara dan Nenek Alma! Sial! Kenapa aku harus berada di tubuh tokoh Antagonis? Kalau begini caranya aku yang kena imbasnya akibat jebakan yang dibuat Helen! Ara terus membatin menggerutu.


Kerena Ara mengetahui kelakuan Helen sebagai tokoh antagonis dan telah memfitnah tokoh utama. Dia pun mau tak mau harus meminta maaf agar terbebas dari hukuman. Menurutnya pula meminta maaf adalah hal yang harus dia lakukan sekarang.


"Aku minta maaf dan sangat menyesal," kata Ara pelan dan ikut berlutut di hadapan Nenek Alma dan Clara yang sedang duduk beberapa meter darinya.


Mendengar nada bicara Ara yang sangat lembut, membuat Clara melihat muak ke arah mereka berdua. Dia terus mencibir dan mengumpat di dalam hati.


"Dasar, anak dan ibu Ja lang. Beraninya kamu membuat kekacauan di keluarga kami lagi!" pekik Mona dengan penuh amarah, "permintaan maaf saja tidak cukup menyembuhkan sakit hati keluarga kami!" tambahnya lagi.


"Karena sikap buruk kalian, aku memutuskan tidak bekerjasama denganmu lagi. Aku akan menghentikan dana bantuan dari keluarga kami untuk membangun salon dan toko retail yang akan kamu bangun. Tetapi, karena Luna adalah anak Hideon, kami masih putuskan tetap bekerja sama dengannya lagi," ucap Nenek Alma, "Dan kamu, Helen. Aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Kecuali ...."


Mendengar itu Mona langsung lemas. Impiannya bertahun-tahun ingin memiliki usaha sendiri dengan memiliki salon dan toko retail bermerek sendiri harus kecewa, karena Nenek Alma memutuskan kerjasamanya. Dia pun kembali dibuat tajut dan kaget ketika Nenek Alma akan memenjarakan Helen, anaknya.


Mona langsung mendekati Nenek Alma, meminta keringanan hukum pada wanita itu. "Kecuali apa, Nek? Tolong peringankan hukuman kami... hiks ... aku tidak bisa hidup dengan pikiran bebas kalau anakku dipenjara ... hiks ...." ucap Mona terus menangis.


Nenek Alma berdiri. "Kecuali, kalau Luna memaafkan kalian dan dia sendiri yang memutuskan untuk tidak membawa kalian ke jalur hukum."


Mendengar nama 'Luna' Ara langsung mendelik. Dia yang semula hanya berpura-pura, berusaha mengikuti alur dan tidak peduli, kini mendadak penuh energi. Dia langsung bangkit dan tersenyum penuh makna. Entah mengapa pikirannya langsung tertuju kepada kakaknya yang memilki nama hampir sama.


"Luna! Aku ingin menemuinya sekarang! Di mana kak Aluna?"