
"Bodoh! Kenapa kamu bisa seceroboh begini?" bentak Lily memaki Yuze, "lihat saldo di rekeningmu telah habis. Setelah ini bagaimana hidupmu selanjutnya? Sementara nenek sudah menahan uang bulanan kita!"
Aura kekesalan terlihat di raut wajah Lily. Dia tak henti-hentinya memarahi Yuze habis-habisan. Kalau bukan kecerobohannya memberikan kode rahasia, pasti Alvin tidak akan membobolnya.
"Ini semua gara-gara kamu memberikan kode OTP sembarangan. Kamu kan tahu kode itu tak boleh diberitahukan kepada siapa pun. Kenapa kamu bisa kecolongan, Yuze?" tanya Lily terus melampiaskan kekesalannya.
Yuze masih duduk terdiam sambil memegangi kepalanya karena saking frustrasinya. Semua uang yang dibobol adalah tabungannya untuk menghidupi dirinya selama setahun sampai Nenek Alma memberikan lagi uang bulanan kepadanya. Kini Yuze bingung harus bergantung kepada siapa lagi kalau bukan kepada Lily atau orang tuanya.
"Aku sudah tertipu. Ternyata yang membobol tabunganku adalah Alvin. Saat itu semuanya begitu cepat. Aku kaget begitu ada klien yang akan mengirimkan uang miliaran, saking kegirangan saat itu juga aku tak sadar sampai memberitahukan kode rahasia kepada perempuan itu. Dan setelah diselidiki perempuan yang meneleponku adalah Luna. Mereka berdua sepertinya tahu kalau selama ini aku sudah mencuri uang perusahaan dan berniat membalas dendam. Maafkan aku Lily," kata Yuze menjelaskan panjang lebar.
Benar dugaan Lily kalau yang membobol uang Yuze adalah Alvin. Tindakan kriminal mereka akhirnya tercium dan Alvin telah berhasil mengelabui mereka balik.
"Ternyata Alvin lebih pintar dari kita, dari mana dia bisa tahu kalau yang kita mengambil uang perusahaan?" kata perempuan berambut ikal itu menggerutu.
"Aku juga tidak tahu. Kenapa aku selalu kalah tiap kali melawan Alvin. Sepertinya Alvin sudah mengetahui kejahatan kita. Dia juga berhasil meretas semua data tabungan milikku. Padahal aku sudah memperkuat sandinya," ucap Yuze.
"Itu karena kamu ceroboh! Aku baru sadar kalau Alvin bukan lawan yang seimbang. Pantas saja semua investor di negeri ini tunduk kepadanya dan menjadikannya dewan tertinggi. Tapi aku yakin kalau ini juga pengaruh Luna. Aku mendengar desas desus dari rekanku yang bekerja di sana, kalau sekarang perempuan itu sangat pintar. Bahkan kepintarannya melebihi sekretaris profesional. Sepertinya perempuan itu yang membantunya. Kalau iya benar, kita harus mencari cara agar bisa menyingkirkan perempuan itu dari sisi Alvin," balas Lily penuh emosi.
"Kita sepemikiran. Aku punya ide!" seru Yuze langsung berdiri, "bagaimana kalau kita menyuruh orang untuk mencari tahu apa kelemahan Luna. Aku pernah mendengar kalau Luna pernah diasingkan ke sebuah Desa, berita buruk simpang siur terdengar di telingaku waktu dulu. Bagaimana kalau kita menyuruh orang untuk mencari informasi mengenai Luna di masa lalu?"
Lily terdiam. Ya, memang benar dulu Luna sempat diasingkan ke sebuah desa. Tepatnya lima tahun yang lalu, waktu Luna masih berusia tujuh belas tahun. Ada kabar dari teman Yuze, kalau Luna menghilang hampir lima bulan lamanya. Ada yang mengatakan kalau Luna sedang menjalani pengobatan karena sakit keras dan membuatnya sementara tak melanjutkan sekolah. Tetapi, Yuze tak yakin dengan pernyataan itu, karena ada yang mengatakan hal lain. Saat ini dia mengingatnya lagi dan berniat mengulik lagi masa lalu Luna.
"Baiklah, aku yang akan membayar orang suruhan itu. Aku akan mencari seseorang yang ahli dalam mencari berita sampai ke akar-akarnya. Aku yakin Luna diasingkan bukan karena penyakitnya, tetapi karena hal yang lain."
...***...
Keesokan harinya.
Aluna sedang sibuk mengemasi barang-barangnya di koper. Karena mulai malam ini dia akan kembali ke rumah Alvin.
'Nenek sangat merindukanmu. Dia memintamu agar hadir di acara ulang tahun Yuze malam ini,' kata Alvin sebelum mereka pulang.
Awalnya Aluna ragu, karena menurut sistem akan ada adegan menyedihkan untuk Luna. Sistem tak memberitahukan apa masalahnya, dan menyuruh Aluna agar dapat menyelesaikannya sendiri.
Malam pun tiba, Alvin menjemput Aluna dari rumah Hideon. Mereka berdua bersama-sama menghadiri pesta ulang tahun Yuze di hotel mewah bergaya Eropa yang sudah lama menjadi hotel langganan keluarga Wiratama.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya Alvin," sapa pegawai hotel.
Derap langkah kaki Aluna begitu ragu memasuki pintu utama hotel mewah tersebut. Kalau tidak bersama Alvin pasti dia tak berani masuk ke dalamnya.
Alvin mengamati ekspresi Aluna yang dari tadi diam saja, menurutnya tidak biasanya Aluna seperti itu. "Kenapa denganmu, Luna? Kenapa kamu diam saja? Apa kamu sakit?"
Sederet pertanyaan Alvin langsung membuyarkan lamunan Aluna. Dia langsung menoleh dan tersenyum tipis ke arahnya. "Ah' tidak apa. Hanya saja setelah kemarin kita berhasil membobol tabungan Yuze. Perasaanku mendadak tak enak malam ini, sepertinya Yuze tidak akan tinggal diam setelah mengetahui kalau kita sudah menipunya balik."
Saat itu juga Alvin menggenggam tangan Aluna lalu menautkan di lengannya. "Jangan khawatir, Luna. Ada aku di sini."
"Alvin. Apa kamu percaya padaku?"
"Tentu saja."
"Apa kamu berjanji akan selalu mempercayaiku?"
"Ya, aku berjanji," jawab Alvin, lelaki itu terlihat mengerutkan keningnya, "memangnya kenapa?"
"Ah' tidak apa-apa. Ayo kita masuk ke dalam sekarang," kata Aluna.
Di dalam ruangan pesta sudah berkumpul seluruh keluarga. Nenek Alma langsung memeluk Aluna begitu perempuan itu datang bersama Alvin. Begitu pula Clara, dia menyambut hangat Aluna dan Alvin.
"Terima kasih sudah datang ke acaraku, kakak ipar," kata Yuze berpura-pura baik kepada Aluna.
Aluna hanya mengangguk pelan. Walaupun dia bersikap baik, Aluna tahu jelas kalau Lily dan Yuze sedang bersandiwara.
"Sebaiknya kita duduk di sana saja," kata Aluna mengajak Alvin menghiraukan Yuze. Aluna sudah malas melihat sikap Yuze yang pura-pura baik di depannya.
Melihat ekspresi Aluna seperti itu terhadapnya, Yuze mendecih di dalam hati. "Silahkan puas-puaskan kebersamaan kalian di sini. Karena sepertinya itu tidak akan lama," ucap Lily yang berdiri di sebelahnya.
Aluna hampir saja dibuat emosi oleh kata-kata Yuze dan Lily. Untung saja Alvin segera menahannya dan menarik ke bangku ujung. "Jangan gunakan emosi untuk melawan mereka," kata Alvin menenangkan Aluna.
Yuze terkekeh mendengar ucapan Alvin. Saat itu juga dia langsung naik ke atas panggung bersama Lily untuk memberikan sambutan, karena acara akan dimulai.
"Terima kasih sudah datang di acara ulang tahunku yang ke-23. Silahkan nikmati pesta dan jamuan makan malamnya. Sebelum memulai pestanya. Aku ingin memberikan kabar yang sangat penting." Yuze berdiri di atas panggung, bibirnya menyunggingkan senyum sambil sesekali melirik ke arah Aluna.
Saat itu juga Lily ikut naik ke panggung. Ditangannya membawa satu map coklat berukuran besar. Dia lalu berdiri di sebelah Yuze.
"Aku ingin memberitahukan berita yang sangat penting. Di map ini ada foto perempuan hamil yang akan melakukan pemeriksaan kehamilan di klinik di sebuah desa. Bahkan di dalam map ini ada beberapa dokumen kelahiran seorang bayi laki-laki." Dengan sangat pelan Lily mengambil satu buah foto di dalam map tersebut.
Semua yang hadir tampak diam, tercengang mendengarkan keduanya berbicara. Begitu pun Nenek Alma dan keluarga besar lainnya. Mereka bertanya-tanya dalam hati, apa maksud Lily dan Yuze memberitahukan berita tersebut di acara pentingnya. Ada apa dengan mereka? Hal itu membuat penasaran sebenarnya siapa yang mereka bicarakan. Seluruh tamu tampak diam membisu apalagi saat Lily mulai mengambil satu foto di dalam map itu.
"Maaf karena pembahasan kami keluar dari jalur. Karena ini sangat penting bagi keluarga. Kami ingin agar seluruh keluarga membuka mata dan telinga agar tidak tertipu dengan menantu kebanggan keluarga ini."
Nenek Alma sangat tegang mendengarnya begitupula Aluna dan Alvin. Alvin sangat yakin kalau Yuze sedang membicarakan Aluna. Karena tidak ada lagi menantu selainnya.
"Apa maksudmu?" Alvin langsung berdiri.
Yuze tersenyum melihat wajah Alvin yang kaget.
"Perempuan yang hamil ini adalah Luna, istri dari sepupuku, Alvin," kata Lily sambil menunjukkan foto Luna yang sedang berdiri memegang perut buncitnya, "foto ini diambil lima tahun yang lalu, tepatnya ketika Luna berusia tujuh belas tahun. Ternyata Luna sudah memiliki seorang putra dari lelaki lain sebelum menikah dengan Kak Alvin."