
"Presdir Alvin." Mata ayah Lisa melotot kaget. Tidak hanya dia, Nyonya Olive pun tak kalah kaget.
Kenapa dia ada di sini? Batin Nyonya Olive tercengang.
"Beritahu aku berapa utang Paman Rui. Tulis jumlahnya di sini." Alvin melemparkan sebuah kertas ke muka ayah Lisa dengan arogan.
Tuan Glu ayah Lisa memang sedang berbisnis dengan Alvin. Saham Alvin paling besar diinvestasikan di perusahannya. Walaupun Tuan Glu tak kalah kaya dari Alvin. Namun, kredibilitas Alvin di dunia bisnis sangat berpengaruh besar. Dia bisa saja menyuruh rekan bisnis yang lain untuk menarik saham di perusahaan Tuan Glu.
"Sebenarnya Tuan Rui sudah berhutang lama. Kami sudah memberi jangka waktu sangat lama, makanya kami meminta Tuan Rui membuat sebuah perjanjian." Sambil tersenyum Nyonya Olive menyerahkan sebuah kertas yang sudah ditulis nominal utang ayah Noah.
"Luna, ambil kertasnya. Suruh sekretaris Sam mentransfer uang ke perusahaan Glu sesuai jumlah yang mereka tulis. Setelah ini katakan kepada Sam untuk tidak mengirim perpanjangan kontrak bulan depan dengan perusahaan Glu," perintah Alvin kepada Aluna yang berdiri di sebelahnya.
"A-apa maksud Anda, Presdir Alvin?"
"Laba di perusahaan Anda tidak terlalu menguntungkan. Untuk apa kami meneruskan berinvestasi." Alvin tersenyum miring menanggapinya.
Sebuah kerugian besar kalau perusahaan Alvin tak berkerja sama dengannya lagi. Itu menandakan siap-siap saja Tuan Glu akan kehilangan banyak investor.
"Presdir, apa Anda tidak bisa pikirkan lagi. Baiklah, aku akan menganggap lunas hutang Tuan Rui, asalkan Anda mau bekerja sama dengan kami lagi," kata Tuan Glu memohon.
Akan tetapi Alvin tidak menjawab, dia malah berbisik kepada Noah untuk menyusulnya dan segera menyelesaikan masalah mereka secepatnya. Tanpa banyak bicara, Alvin menggandeng tangan Aluna, segera pergi dari tempat itu.
"Presdir, tolong pikirkan lagi."
"Apa yang terjadi suamiku?" Nyonya Olive ikut gusar melihat wajah cemas suaminya.
"Diamlah! Segera urus anakmu." Tuan Glu tak memperdulikan istrinya malah berjalan menyusul Alvin, meminta Alvin menarik lagi ucapannya.
Sementara, Lisa berhasil lepas dari pengawal berlari turun dari mobil. Ia menarik tangan Noah agar tidak pergi. "Masalah kita selesai. Ayahku akan melunaskan semua hutang keluargamu. Kita perbaiki hubungan kita lagi, aku yakin setelah ini ibuku tidak akan mengancammu lagi, Paman."
Di tempat tinggal tersisa lima orang. Noah berdiri bersebelahan di apit Tuan Rui dan Ara. Sementara Lisa, berdiri di dekat Nyonya Olive terus menarik tangan Noah agar tidak pergi.
"Lisa, lepaskan aku."
Tuan Rui yang melihat itu hanya menggelengkan kepala. Dari tadi dia pun memperhatikan Ara yang berdiri disebelah anaknya. Muncul pertanyaaan di otaknya kenapa Helen tiba-tiba saja hadir di tengah mereka.
"Aku tidak mau! Aku sangat yakin paman Noah putus gara-gara kelakuan Mommy. Sekarang semua masalah hutang selesai. Aku ingin melanjutkan hubungan lagi dengan Paman."
"Tidak! Aku tidak suka wanita sepertimu, Lisa." Noah mundur selangkah lalu bergerak mendekati Ara yang dari tadi hanya bengong. "Aku sangat menyukai perempuan yang dewasa dan lembut. Seperti ini. Ya, aku sangat menyukai model wanita seperti Nona Helen, dia adalah tipeku. Aku tidak menyukai perempuan dengan sifat kekanakan seperti kamu."
"Apa! Paman, kalau kamu mau aku bisa merubahnya. Aku janji tidak kekanakan lagi." Lisa terus memohon.
"Segera buat surat pernyataan agar Lisa tidak mengganggumu lagi, Noah," perintah Tuan Rui menyerahkan selembar kertas untuk ditandatangi Noah.
Saat itu juga Noah menandatangani pemutusan pertunangan mereka berdua. Tuan Rui menyerahkan selembar kertas itu langsung di tangan Nyonya Olive. "Jangan ganggu anakku lagi. Mulai sekarang kita putus hubungan. Anggap kedekatan kita dulu adalah sebuah kekhilafan."
"Pengawal bawa Lisa ke mobil," perintah Nyonya Olive.
"Paman, aku tidak mau putus." Sambil menangis dia ditarik masuk dua pengawal.
Merasa malu dengan anaknya. Nyonya Olive langsung menyuruh pengawal menarik Lisa agar pulang. Dengan tatapan marah dia meninggalkan tempat itu. "Dasar keluarga tak tahu diuntung!" Umpat Nyonya Lisa sebelum dia memasuki mobil.
Kini hanya tinggal mereka bertiga. Karena dia tahu Alvin sedang menunggu, Noah pamit kepada ayahnya untuk pulang lebih lama lagi.
"Apa ucapan barusan benar? Kalau kamu menyukai Nona Helen?" tanya Tuan Rui sebelum pergi.
Noah merasa tak enak dengan Ara. Menurutnya itu terlalu cepat. Bukannya menjawab, mereka berdua sama-sama diam. Ara terlihat malu-malu di depan Tuan Rui.
"Sepertinya ayah salah bertanya seperti itu kepada kalian? Ya sudah, ayah tak ingin ikut campur. Sebaiknya ayah pulang duluan. Katakan kepada ayah kalau Olive mengganggumu lagi. Dan satu lagi, tolong sampaikan terima kasih dari ayah untuk Alvin. Besok ayah akan mengirimkan sebuah hadiah ke perusahaannya," kata Tuan Rui.
Noah mengangguk. Selang beberapa menit, Tuan Rui akhirnya meninggalkan mereka berdua.
"Eum ... maaf tadi aku kelepasan bicara. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman. Jangan terlalu dimasukkan ke hati kata-kataku tadi." kata Noah tak berani melihat ke sampingnya.
Mereka berjalan beriringan hendak menemui Aluna dan Alvin.
"Bagaimana kalau kata-katamu tadi sudah aku masukkan ke dalam hati. Apa kamu masih bilang kelepasan bicara lagi?" tanya Ara tersipu. Sebenarnya dia pun memiliki perasaan yang sama dengan Noah.