
"Aku anakmu, Mommy," teriak Ara keras.
Mona terlihat sangat marah. Dia yakin dalam tubuh putrinya adalah orang lain. Setelah dia menarik rambut Ara, diambilnya ponsel dan membaca isi percakapan Ara dengan Lisa.
"Kalau kamu bukan putriku, lalu kenapa kamu malah berpacaran dengan pria miskin itu? Kenapa kamu tiba-tiba menjauhi Alvin dan melepasnya begitu saja? Aku yakin kalau kamu Helen dia akan lebih bersemangat lagi mengejarnya. Apalagi semenjak masalah anak haram itu hadir, Helen anakku pasti memanfaatkan kesempatan ini," ucap Mona sambil menarik rambut Ara dengan keras.
"Tolong lepaskan!" bentak Ara mendorong tubuh Mona agar melepas tangannya di rambut. Mendorong wanita itu sampai terjungkal ke lantai.
"Sekarang kamu sudah berani denganku! Keluar kamu setan! Aku yakin kamu bukan putriku!" Mona berteriak semakin kencang dan mendorong balik Ara.
Keduanya sekarang saling bertengkar dan saling mendorong. Ara terpaksa melawan karena tak bisa menghindar. Rambut dan tubuhnya merasa sakit karena Mona dengan berani memukulnya dengan kayu.
"Mommy, sadarlah! Dulu memang aku mencintainya, tetapi sepertinya tak mungkin aku mendapatkan Alvin. Karena dia sudah bahagia sudah mendapatkan anak dari Luna," teriak Ara sekali lagi.
"Kenapa harus dengan pria miskin itu kamu berpacaran? Memangnya tidak ada pria lain? Lebih baik kamu mendapatkan pria kaya yang lebih tua dibandingkan dia. Goblok! Keluarga Lisa saja sudah membuangnya, kenapa kamu malah memungutnya? Pergi kamu!"
Mona sudah kehabisan tenaga. Namun, karena dia belum puas. Diambillah kursi kayu dan mengangkatnya tinggi. Dalam keadaan marah yang tak terkendali, dia arahkan kursi tersebut ke kepala Ara dan memukulkannya ke kepalanya dengan keras.
"Arght!"
Brak! Suara hantaman keras dari kayu yang mengenai kepala Ara terdengar sangat keras, bahkan terdengar sampai ke ruang tengah yang terdapat beberapa pelayan.
Seketika, tubuh Ara langsung limbung ke lantai. Darah menetes dari ujung kepala meleleh ke keningnya. Perlahan kesadaran Ara semakin berkurang. Pandangan mata Ara berangsur terlihat samar-samar dan akhirnya tak sadarkan diri.
"Kakak," lirih Ara sebelum akhirnya dia berpindah dimensi.
***
Di tempat lain di sebuah mall besar. Aluna dan Alvin sedang mengajak Zero berjalan-jalan untuk membelikannya mainan. Tentu saja setelah mereka mengajak Zero jalan-jalan di sebuah taman sebelumnya.
"Kamu boleh membeli apa pun mainan kesukaanmu. Kamu boleh membeli semuanya, Zee," kata Alvin sedikit berjongkok.
Wajah Zero tampak sumringah. Tampak senang ketika mendengarnya. Namun, walaupun Alvin boleh membelikannya mainan apa pun yang ada di toko itu, Zero tampak enggan membeli semuanya.
"Aku hanya ingin membeli beberapa miniatur untuk melengkapi kota kecil buatanku, Papa," jawab Zero sambil matanya menelisik ke penjuru ruangan mencari mainan yang dicarinya.
Alvin mengangkat alisnya, sepertinya dia paham apa yang dimaksud Zero. "Heum, Papa punya kenalan seorang arsitektur. Dia sering mengkoleksi beberapa miniatur untuk kebutuhan pekerjaannya. Papa akan meneleponnya nanti untuk memesan dan mengirimkan barang yang sama ke rumah kita. Kamu pasti suka, karena sepertinya selera kalian sama," ucap Alvin, "sekarang pilih saja semua mainan kesukaanmu, Zee. Papa akan membelikannya."
Mau tak mau Zero mengangguk. Namun karena dia diam saja, Alvin memilihkan sendiri dan memasukkan beberapa mainan ke dalam keranjang.
"Mainan mobil-mobilan ini baru launching bulan ini. Tuan muda pasti suka," kata seorang pramuniaga kepada Alvin.
"Yah, taruh saja ke keranjang."
"Ini juga sangat bagus untuk menemani anak Anda, Tuan," kata seorang pramuniaga lainnya lagi menyodorkan robot keluaran terbaru.
Aluna tadinya ikut menemani Alvin memilihkan mainan. Akan tetapi ketika melihat Hideon menelepon, dia memisahkan diri untuk berbicara dengannya.
"Luna, ada kabar buruk," kata Hideon di telepon.
Aluna diam sejenak sambil berjalan mencari tempat agar bisa mendengar suara Hideon dengan jelas. "Sebentar, Ayah. Di sini sangat ramai. Aku akan mencari tempat agar bisa mendengar dengan jelas."
Setelah mendapatkan tempat yang pas, Aluna kembali bertanya kenapa Hideon kenapa dia tiba-tiba meneleponnya.
"Helen kembali koma. Sekarang dia sedang di rumah sakit bersama Mona," jawab Hideon di telepon.
Perkataan Hideon membuat Aluna terkejut. Ada masalah apa lagi sampai Helen kembali koma. Kalau iya, kemungkinan dia akan berpindah dimensi lagi.
"Kenapa Ara, eum ... maksudku ... kenapa Helen bisa koma lagi?" tanya Aluna, hampir saja dia keceplosan.
"Tadi Helen tak sengaja terpeleset dan tak senagaja membentur kursi kayu. Kepalanya berdarah. Kata dokter, Helen kembali koma seperti waktu Kemarin," jawab Hideon lagi.
Aluna mengembuskan napas kasar. Pikirnya pasti ada masalah baru lagi. Aluna kembali bertanya apa Mona ada di sana saat Ara terpeleset. Hideon pun langsung menjawab iya, dia juga berkata ada salah satu pembantu yang menyaksikannya sendiri.
Semua ini pasti ulah Mona, batin Aluna.
Beberapa menit berlalu akhirnya mereka mengakhiri hubungan telepon. Aluna berkata kalau dia akan cepat datang ke rumah sakit untuk menemui Helen.
"Miss K?" kata Aluna sambil menepuk kalung sistem.
Sensor di kalung sistem berkedip, [Ya, Nona Aluna.]
"Miss K, benarkah adikku terpeleset dan membentur kursi? Kalau iya, apa dia akan kembali ke dunia nyata?" tanya Aluna.
[Ibu tiri Luna yang memukulnya dengan kursi. Akibat kecelakaan itu, Adik Anda harus kembali ke dunia nyata.]
Aluna tampak tidak terima dengan pernyataan sistem. "Apa?! Bukankah belum ada sebulan semenjak aku menukar tas saran dengan kehidupan adikku di sini?"
[Yah, benar Nona. Tapi keadaan barusan di luar kendali kami. Semua yang terjadi diluar kendali sistem adalah urusan Anda sendiri. Kecuali dari sistem sendiri yang mengalami gangguan.]
"Jadi maksudmu, adikku telah kembali dan akan digantikan dengan Helen lagi?"
[Yah.]
Aluna langsung berdiri tampak bimbang. "Lalu bagaimana dengan Ara? Aku belum menyelesaikan teka-teki buku harian Luna," gumam Aluna.
[Helen masih dalam keadaan koma. Masih ada kesempatan untuk mencari. Anda melupakan kamar Anda di rumah Hideon. Anda lupa sudah pernah menaruh barang-barang Luna di sana.]
Aluna kembali mengingat lagi. "Yah, aku baru ingat. Jadi maksudmu, potongan kertas itu ada di kamar Luna?" tanya Aluna antusias.