TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 280. Menemukan Origami


[Sistem tidak bisa memberikan informasi secara spesifik keberadaan Zero. Sekarang Zero sedang ada di hutan dalam keadaan aman.]


Aluna sudah duga, sistem selalu pelit memberikan informasi. Namun, Aluna merasa lega karena Zero dalam keadaan yang aman.


"Zero ada di hutan lindung di sebelah pelabuhan. Meskipun menurut sistem Zero dalam keadaan aman, setidaknya kita harus tetap mencarinya sekarang'" kata Aluna.


"Syukurlah! Apa aku juga boleh berbicara dengan sistemmu?"


Aluna menatap tajam Alvin. Dia rasa pembicaraan Alvin sudah diluar topik. "Sekarang bukanlah saatnya bercanda, Alvin."


"Baiklah, kita bicarakan nanti setelah ini," kata Alvin sambil memegang tangan Aluna. Dia memang sedang tidak bercanda, ingin bertanya lebih dalam tentang sistem. Yang paling utama, dia ingin menanyakan apa benar kalau dia adalah tokoh virtual yang diciptakan seorang penulis. Seperti yang Aluna katakan.


***


Di rumah sakit, Nenek Alma telah siuman. Meskipun tekanan darahnya sudah mulai menurun, Nenek Alma belum bisa tenang karena Zero belum ditemukan. Ditambah lagi Lily dan Yuze menghilang tak ada kabar sama sekali, membuat Nenek Alma tak bisa tidur nyenyak.


"Nenek," panggil ibunya Lily, dibantu Clara dan suaminya dia menjaga nenek Alma di rumah sakit.


"Kau, di mana anakmu sekarang? Kenapa tidak ada kabar? Kalian sudah salah mendidik!" kata Nenek Alma membentak.


Clara yang ada di sampingnya langsung menenangkan. Mengusap punggung wanita itu untuk bersabar agar darah tingginya tidak naik lagi.


"Nenek, mungkin Lily dan Yuze kehabisan baterai di ponselnya. Tunggu saja sampai tengah malam. Aku yakin mereka akan kembali," kata ibunya Lily.


"Tidak mungkin kalau dua-duanya kehabisan baterai. Di dalam mobil tidak mungkin mereka tak mengisi daya ponselnya. Aku yakin Lily dan Yuze sudah lama berniat jahat ingin mengusir cucuku dari rumah ini," kata Clara, "kalau sampai terjadi sesuatu dengan cucuku. Aku tidak akan memaafkan kalian."


"Kakak ipar, jangan berprasangka buruk dulu. Tunggulah sampai mereka datang."


Nenek Alma menunjukkan ekspresi kemarahannya. Tidak hanya kepada Lily dan Yuze, tetapi juga berimbas kepada ke dua orang tuanya juga.


"Aku akan mengusir mereka kalau tak membawa Zero pulang. Tidak hanya mengusirnya saja, bahkan akan memenjarakan mereka berdua!"


***


Di laboratorium terlihat Noah seperti orang linglung memikirkan kejadian tempo hari saat bersama Lisa. Dia terus memikirkan sampai tubuhnya terlihat kurus karena tak makan selama dua hari. Noah tak percaya kalau dia telah membuat Lisa kehilangan kesuciannya.


"Aku tidak yakin telah melakukannya."


Setiap kali mabuk berat, yang dilakukan Noah adalah tidur. Jangankan untuk berbuat mesum, untuk berdiri saja kakinya tak sanggup menopang. Noah yakin mungkin hanya akal-akalan Lisa saja. Dan lagi darah di sprei itu, dia yakin bukan milik Lisa. Melainkan darah buatan, karena Noah pernah mendengar dari lelaki lain kalau Lisa sering bergonta-ganti pasangan.


"Kenapa aku bisa tolol malam itu?" kata Noah sambil melamun.


Di saat dia sedang menggerutu, rekan kerjanya yang lain menepuk bahunya. Noah diberitahu kalau dari tadi ponselnya tertinggal dan banyak panggilan masuk.


"Aluna dan Alvin meneleponku dari tadi. Apa? Zero diculik?"


Noah tampak kaget setelah membaca pesan dari Alvin. Noah juga baru ingat kalau belum mengabari Aluna tentang hasil dari sidik jari yang ditemukan di pisau.


"Sepertinya aku harus membantu mereka menemukan Zero. Aku juga ingin memberitahukan Luna tentang hasilnya," kata Noah sambil mengemasi barang-barang karena jam kerjanya


telah berakhir.


"Paman, akhirnya kamu pulang juga. Dari tadi aku menunggumu di sini," kata Lisa meraih lengan Noah sambil menyenderkan kepalanya di bahu Noah.


"Lisa, lepaskan! Aku masih ada di tempat kerja!"


Lisa tak mau melepas, malah semakin mempererat pelukannya di lengan Noah. "Aku tak peduli. Lagipula kantor juga sudah sepi, hanya ada kita berdua. Aku sangat merindukanmu, Paman."


Lisa mencoba menggoda Noah dengan mengelus dadanya. Tapi terus ditepis oleh Noah karena risih.


"Berhentilah mendekati apalagi menggodaku, Lisa. Kita tak memiliki hubungan spesial," kata Noah.


"Apa? Tak memiliki hubungan spesial? Apa kamu tak ingat dengan malam itu, Paman?"


Noah berdecih, menurutnya Lisa sama sekali tak punya harga diri. Setahu dia wanita akan menyesal atau akan menangis setelah mahkotanya hilang sebelum menikah. Tetapi berbeda dengan Lisa. Dia malah terus menggodanya seakan bangga kalau kesuciannya hilang diambil oleh dirinya.


"Kalau benar malam itu kita berbuat, apa kamu tak merasa menyesal telah memberikannya padaku? Kamu terkesan sangat murahan, Lisa!"


Bukannya marah, Lisa malah semakin mendekati Noah. Dia bilang tak menyesal asalkan Noah mau bertanggung jawab.


"Sudahlah, lebih baik aku antar saja kamu pulang. Karena setelah ini aku ada perlu."


Lisa mengangguk setuju. Rencananya dia ingin membawa Noah ke rumahnya dan ingin memperkenalkan Noah sebagai calon suaminya. Dia tak peduli kalau pun nanti orang tuanya tidak setuju.


***


Keluarga Sindi tak tinggal diam. Mereka sudah ada di mobil dalam perjalanan menuju pelabuhan. Untungnya jarak pelabuhan tak terlalu jauh dari hotel yang dia sewa. Jadi mereka bisa lebih cepat sampai.


"Dari mana kamu tahu Zero ada di pelabuhan, Sindi?" tanya Sinta kepada anaknya.


"Dari pesan yang dia kirim, Mama. Ada beberapa huruf yang dia rubah menjadi angka. Zero pernah bercerita kalau suatu hari dia dalam bahaya, akan mengirimkan pesan seperti tadi kepadaku," jawab Sindi sambil menunjukkan pesan yang dikirim Zero.


"Ternyata kalian sangat pintar."


Sinta baru paham sekarang. Sindi dan Zero, tidak hanya dekat secara emosi dan perasaan, tetapi sudah mempersiapkan secara matang kalau ada sesuatu yang membahayakan seperti sekarang.


Beberapa menit berlalu, mobil mereka sudah sampai pelabuhan. Namun sebelum masuk ke dalam, Sindi tiba-tiba keluar dari dalam mobil dan menghentikan langkahnya. Dia melihat sesuatu dari mobil. Sebuah kertas berwarna pelangi berbentuk burung bangau. Sindi baru ingat pesan Zero tadi. Kalau dia telah membuat tujuh burung bangau yang akan dia berikan kepadanya. Dan sekarang origami burung bangau itu ada di jalanan.


"Mungkinkah ini yang dimaksud Zero," kata bocah berumur enam tahun itu pelan sambil mengamati origami burung bangau.


"Sindi kenapa kamu diam saja? Ayo kita masuk ke pelabuhan," kata ayah Sindi mengajaknya masuk ke dalam mobil lagi.


"Tunggu, Ayah. Aku menemukan sesuatu."


Bukannya menurut, Sindi malah diam saja. Jauh dari pandangan matanya, dia melihat sebuah kertas yang sama seperti yang dia pegang.


"Sindi, jangan lari," teriak Sinta langsung keluar dari dalam mobil. Tiba-tiba saja Sindi berlari menjauhi pelabuhan. Sontak ayah dan ibunya pun mengejarnya.


"Mama, aku menemukan origami burung bangau lagi. Kata Zero burung bangau ini untukku, dan akan menuntunku untuk menemuinya. Zero tidak ada di pelabuhan, tapi ada di dalam hutan itu." kata Sindi sambil tangannya menunjuk.