TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Koma


Di Rumah Sakit.


Dengan dibantu beberapa perawat, sekretaris Fang membawa Helen ke ruang gawat darurat. Namun, karena tak kunjung sadar perawat langsung memindahkan Helen ke ruang high care unit.


"Tuan, apa Anda adalah keluarga pasien ini?" Seorang perawat keluar dari ruang HCU bertanya kepada sekretaris Fang.


"Bukan, suster. Aku hanya temannya. Bagaimana keadaan Helen sekarang? Apa dia sudah sadar?" tanya sekretaris Fang.


"Maaf, Tuan. Sampai sekarang pasien belum sadarkan diri, pasien sedang mengalami koma. Untuk kepentingan administrasi, sebaiknya Anda menghubungi keluarga pasien secepatnya." Perawat menjelaskan keadaan Helen di dalam.


"Apa? Sakit apa yang sedang diderita Helen, suster? Kenapa dia sampai koma?" tanya sekretaris Fang lagi.


"Kami sedang mendiagnosa penyakitnya. Untuk sementara pasien masih kami berikan perawatan intensif di ruang HCU. Kami akan menunggu keluarga pasien secepatnya, agar administrasi pasien segera di urus." Perawat kembali mengingatkan.


Karena tidak tahu nomer handphone keluarga Helen, sekretaris Fang berniat menghubungi Alvin, karena cuman dia yang ia tahu memiliki kontak dengan keluarganya.


"Halo, Tuan Alvin."


^^^"Ya, halo," jawab Alvin di telepon.^^^


"Tuan, Nona Helen dari tadi belum sadarkan diri. Perawat bilang Nona Helen sedang mengalami koma, dia memintaku agar menghubungi keluarga Nona Helen agar segera mengurus administrasinya."


Alvin yang sedang di dalam mobil bersama Aluna menuju pulang, sedikit kaget. Pasalnya dia baru tahu dari bawahannya kalau Helen pingsan di perusahaan dan di bawah ke rumah sakit oleh sekretaris Fang.


^^^"Baiklah, sebaiknya kamu tunggu di sana sampai keluarganya datang. Aku akan menyuruh Luna agar menghubungi ibunya," jawab Alvi di telepon.^^^


***


Di Dalam Mobil.


Alvin langsung menutup handphonenya lalu berbicara kepada Aluna. "Helen tengah koma di rumah sakit. Sebaiknya kamu hubungi ibunya sekarang," perintah Alvin.


"Jangan percaya, mungkin dia sedang bersandiwara lagi." Wajah Aluna terlihat biasa saja tak peduli.


Alvin menggeser posisi duduknya.


"Dia benar sedang koma di rumah sakit Luna, sebaiknya kamu cepat menghubungi ayah ibumu sekarang."


"Kenapa harus aku! Biarkan saja dia koma di rumah sakit sendirian. Bukankah itu hal yang baik agar dia tak mengganguku lagi!" balas Aluna menolak perintah suaminya.


Mendengar penolakan dari Aluna, Alvin mendekatkan lagi posisi duduknya. "Luna hubungi saja, dia pingsan di perusahaanku, kalau tidak segera ditangani dan menghubungi keluarganya, aku takut terjadi hal yang buruk dengannya. Karena itu akan membuat reputasi perusahaanku jelek. Lagipula sebelum dia pingsan ada seseorang yang memberitahukanku kalau melihat kalian berbicara berdua, aku takut akan jadi masalah kedepannya untukmu, Luna." Alvin mencoba memberi pengertian agar Aluna mau menghubungi ibunya.


Aluna mengembuskan napas pelan. Dia yakin Helen tak benar-benar koma. Karena sering di permainkan Helen, membuatnya tidak memiliki kepercayaan sedikit pun kepada wanita itu.


Dengan sangat malas Aluna terpaksa menyetujui permintaan Alvin. Wanita itu segera memencet tombol di handphonenya berniat menghubungi Mona, ibu tirinya.


Percakapan di Telepon dengan Mona.


"Halo ibu tiri." Dengan nada malas Aluna menyapa Mona di telepon.


Sempat diam sejenak tidak ada sahutan dari Mona. Namun, sebentar lagi ketika Aluna akan mematikan teleponnya, suara Mona mulai terdengar.


^^^"Ya, ada apa kamu menghubungiku?" jawab mona sisnis.^^^


Aluna melirik Alvin, ingin rasanya dia segera mematikan teleponnya.


^^^"Tak usah berbasa-basi, beritahu aku sekarang apa yang ingin kamu katakan?" Nada bicara Mona mulai meninggi.^^^


Cih' wanita tak tahu diuntung! gerutu Aluna.


Aluna melirik Alvin yang ikut menguping pembicaraan mereka di telepon. Dia memberi isyarat Aluna agar meneruskan lagi teleponnnya.


"Sepertinya hari ini anak kesayangan Anda sedang mendapatkan karma akibat perbuatannya. Sekarang anak yang sudah kau banggakan itu sedang koma di rumah sakit," kata Aluna.


^^^"Jangan bercanda kamu Luna!" bentak Mona. ^^^


"Tadinya aku malas memberitahukan, karena pasti Anda tidak akan percaya! Aku tidak sudi bercanda dengan wanita bermuka dua seperti Anda. Kalau tidak percaya datang saja ke rumah sakit premiere sekarang."


^^^"Kurang ajar! Apa yang sudah kamu lakukan kepada putriku, Luna?" ^^^


Mona begitu shock begitu mendengar anaknya tengah koma di rumah sakit. Wajahnya memerah, napasnya mulai tak beraturan. Marah campur sedih di dalam hatinya, dia yakin karena Luna lah yang menyebabkan Helen mengalami koma.


^^^"Anak tak tahu diuntung! Apa kamu tidak ingat Aku yang membesarkanmu dari kecil, Hah? Harusnya Helen lah yang menikah dengan Alvin waktu itu. Aku tidak akan memaafkanmu sampai kapan pun kalau terjadi apa-apa dengan Helen." Teriak Mona di telepon.^^^


Mendengar cacian Mona, kepala Aluna mendadak pusing. Ingatan Luna yang asli tersiar di otaknya, seperti menyaksikan sebuah video usang yang diputar di otaknya.


Sebelum Luna menikah dengan Alvin. Mona pernah menipu ke dua orang tua Alvin, memberitahukan kepada mereka kalau Helen lah anak Hideon yang akan dijodohkan dengan Alvin, Mona bahkan sudah mempersiapkan acara pernikahan yang besar dan mewah untuk anaknya. Sayangnya, semua itu keburu ketahuan Nenek Alma. Wanita tua itu segera menikahkan Luna secara terburu-buru dengan Alvin, nenek lebih menyukai Luna. Membuat Helen begitu frustrasi dan berniat bunuh diri.


Semenjak kejadian itu, Mona selalu mendukung anak semata wayangnya menjatuhkan Luna. Bersama Helen ia menebar fitnah berulang kali untuk Luna, agar Alvin menceraikannya. Mereka ingin keluarga Wiratama sadar dan menyesal karena salah menikahkan Alvin dengan Luna.


^^^"Suatu saat nanti keluarga Wiratama pasti akan menyesal karena telah menikahkan Alvin denganmu, Luna. Kalian semua tidak tahu perasaan Helen begitu tahu Alvin tak jadi menikahinya. Ini semua pasti gara-gara kalian, hampir saja anakku dibuat gila karena ulah kalian!!" Mona terus mencaci maki Aluna lewat telepon. ^^^


"Apa yang sudah Anda katakan, Nyonya? Kenapa Anda memarahi Luna dan keluargaku?" ketus Alvin, dia lebih dulu merebut ponsel Aluna begitu tahu istrinya memegangi kepalanya karena pusing.


^^^"Alvin!" Mona begitu terperanjat kalau Alvin ada di sebelah Aluna menguping pembicaraannya di telepon. ^^^


"Aku adalah lelaki yang beruntung karena mendapatkan berlian seperti Luna. Jaga ucapannya, sebelum Anda sendiri yang akan menyesal, Nyonya! Justru aku yang menyesal telah mengenal baik Anda dengan Helen yang selama ini sudah aku anggap batu kerikil yang mengganggu rumah tanggaku!" Ucapan Alvin begitu mendominasi, membuat Mona tertegun.


Sebelum Mona membalas, Alvin lebih dulu menutup teleponnya.


pet. Telepon dimatikan.


"Apa kamu baik-baik saja, Luna?" tanya Alvin.


Aluna tersenyum seraya menggeleng pelan. "Hanya sedikit pusing."


Alvin kemudian merangkul Aluna memijat pelipisnya dengan pelan.


"Jangan khawatir, Luna. Karena aku akan selalu membelamu sampai kapan pun," kata Alvin sungguh-sungguh.


...***...


...Jangan lupa tinggalkan like dan komentar agar author lebih semangat lagi updetnya. ...


...Terima kasih. ...