TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 270. Hadiah Clara.


Nenek Alma dan Clara sedang asik berbincang sambil menikmati teh. Dua wanita yang sudah tidak muda lagi itu akhir-akhir ini sangat dekat. Apalagi setiap kali membicarakan Zero, akan menghabiskan waktu berlama-lama di ruang tengah sampai Zero mau turun dari atas. Sayangnya, karena kalah taruhan semalam membuat mereka tak bisa bertemu Zero selama seminggu ini.


"Nenek, tadi pagi aku ketemu Nyonya Sima. Aku perlihatkan video Zero saat bermain musik. Semua teman-temanku banyak yang memuji. Mereka bilang kalau Zero adalah anak yang genius. Tak satu pun dari mereka yang percaya kalau Zero lama tinggal di pedesaan. Malah mereka menduga kalau Zero selama ini disembunyikan di luar negeri oleh Hideon. Aku iyain aja, agar mereka tak terus mendesakku memindahkan Zero di sekolah internasional," kata Clara panjang lebar.


Nenek Alma terus mendengarkan sambil meminum teh. Gara-gara Clara menceritakan Zero. dia jadi merindukannya, padahal baru seharian ini tak bertemu.


"Berarti mereka sekarang tak akan merendahkan Zero lagi?"


Clara mengangguk cepat. "Ya, Nek. Aku jadi punya alasan tak menyekolahkan Zero di sana. Nyonya Sima katanya ingin mengundang Zero di acara ulang tahun cucunya nanti untuk memainkan piano bersama. Aku yakin pasti teman-temanku sangat iri dengan cucuku nanti, mereka pasti kagum denganku karena telah berhasil mendidik Zero dengan sangat baik."


"Jangan lupakan aku juga nenek buyutnya Zero, Clara. Tanpa aku Zero tak akan bisa lahir," kata Nenek Alma dengan nada tinggi, "kenapa menunggu seminggu terasa lama sekali, Clara? Aku sangat rindu dengan Zero."


Clara mengangguk cepat sambil memijat lengan ibu mertuanya itu. "Tentu saja karena Nenek juga. Bibit keluarga kita memang unggul dalam segala hal. Aku juga sangat merindukan Zero."


Clara tersenyum sambil terus mengunggulkan Zero. Tak lama Lily datang menghampiri keduanya. Sambil membawa kue pie kesukaan Nenek Alma dan Clara.


"Bibit yang unggul jangan sampai tercampur dengan bibit remahan dari desa. Bibi, apa sudah mendengar kedatangan mereka ke kota?" tanya Lily, kemudian mendudukkan diri di dekat Clara, "kabarnya lagi putri mereka datang ke sini khusus untuk menemui Zero."


Mata Clara membulat. Terlihat dadanya naik turun seolah tidak suka dengan berita yang dikatakan Lily. Clara mendekati ibu mertuanya. Meminta agar Zero tak menemui Sindi.


"Benar kata bibi Clara, Nek. Kita tak boleh pertemukan mereka berdua. Aku banyak mendengar kabar buruk tentang Sindi. Anak kecil dari desa itu. Masih kecil saja dia sudah menginginkan Zero untuk jadi suaminya. Pengaruhnya sangat buruk nanti untuk Zero, Nek. Zero jadi tidak fokus untuk meraih mimpinya kelak kalau terus diganggu Sindi."


Lily terus menjelekkan Sindi. Tentunya agar Nenek Alma dan Clara terpancing untuk tidak mempertemukan mereka. Yang lebih utama lagi agar mereka memiliki wewenang untuk menjemput Zero di sekolah yang dia sendiri tidak tahu alamatnya.


"Zero harus fokus belajar. Pendidikan dan pengetahuannya harus lebih dari Kak Alvin agar perusahaan kita semakin sukses. Kalau diganggu Sindi terus menerus, yang ada Zero akan malas belajar dan lebih senang bermain dengan Sindi." Lily kembali menambahi.


Clara terpancing ucapan Lily. Dia pun setuju dengan argumen yang diucapkan Lily barusan. Dia meminta izin untuk mengambil tindakan sendiri kepada keluarga Sindi.


"Nenek, izinkan aku menghentikan pertemuan Sindi dan Yuze. Balas budi menurutku tidak perlu mendekatkan mereka. Kita berikan saja kartu unlimited untuk keluarga mereka. Dengan begitu mereka akan senang dan tak akan mengganggu Zero lagi. Bagaimana, Nek. Apa Nenek setuju?"


Nenek Alma awalnya biasa saja. Namun karena terus didesak dan menurutnya ada baiknya juga. Nenek Alma pun ikut setuju.


"Berikan saja kartu unlimited untuk keluarga mereka. Jangan lupa ucapkan terima kasih banyak telah menolong cicitku. Akan lebih baik mereka bertemu nanti saja saat dewasa," kata Nenek Alma.


Lily tersenyum dan segera menghubungi Yuze. Dia tak tahu di mana Zero disekolahkan. Jadi, dia meminta Clara untuk menyelidikinya.


Clara sendiri sebenarnya tidak tahu pasti. Namun dia punya ide untuk menanyakan kepada sopir pribadi yang pernah mengantar Alvin ke sana. Lewat orang tersebut Clara akhirnya mendapatkan informasi alamat sekolah Zero.


"Bibi tak bisa menemui Zero selama seminggu ini. Tolong bibi yah, agar jemput Zero pulang," kata Clara setelah menyerahkan alamat kepada Lily.


Lily tersenyum sangat ramah seakan dia dapat dipercaya. "Tenang saja, Bibi. Serahkan saja semuanya padaku dan Yuze."


***


Di tempat lain di hotel tempat Sindi dan keluarganya tinggal sementara. Seorang asisten suruhan Clara mendatangi mereka.


Asisten tersebut mengaku kepada Sinta merupakan orang suruhan Clara. Sinta dan keluarganya pun menyambut hangat.


"Nyonya Sinta, ada titipan dari Nyonya Clara neneknya Zero," kata asisten Clara, "kata Nyonya Clara, pakai saja kartu ini sepuasnya sebagai ucapan terima kasih banyak karena telah menolong Tuan kecil Zero."


Ayah Sindi langsung menolak dengan cara halus. Bukan tak mau menerima pemberian keluarga Zero. Dia merasa memiliki cukup uang dan tak kekurangan meski tinggal di desa. Bahkan kartu pembelian Aluna pun mereka tolak dengan alasan tak ingin merepotkan.


Karena tak diterima, asisten pun akhirnya menghubungi Clara. Mengatakan kalau keluarga Sindi menolak.


"Maaf, kami tak bisa menerima hadiah dari Nyonya. Kami ke sini karena undangan Nyonya Luna untuk mempertemukan Sindi dengan Zero."


Sinta menjawab ucapan Clara di telepon, setelah sebelumnya menyapanya terlebih dahulu. Sinta tak menyangka ketika Clara mengatakan Aluna dan Alvin tidak akan jadi menemuinya karena mendadak pergi ke luar negeri karena pekerjaan.


"Tapi, Nyonya. Sindi anakku sudah seharian ini menunggu. Apa Zero akan tetap datang ke sini tanpa orang tuanya?" tanya ayah Sindi sedikit kecewa.


Clara mengatakan Zero pun sama tidak akan datang karena tidak didampingi. Sebaliknya dia terus mendesak agar keluarga Sindi mau menerima kartu pemberiannya.


"Kami datang jauh-jauh dari desa sengaja ingin menemui Zero. Kalau tidak, berikan saja alamatnya. Biar kami saja yang ke sana."


Clara mengatakan tetap tidak bisa. Karena Zero pun akan menyusul orang tuanya. Untung saja pikirnya ada Lily dan Yuze yang akan menjemput Zero. Jadi dia bisa menyembunyikannya sementara.


Ayah Sindi memberitahu anaknya kalau Zero tak jadi menemuinya sekarang. Dia juga mengatakan sebaiknya pulang saja. Tapi Sindi sepertinya menolak. Perasaannya sedikit tidak tenang.


"Jangan pulang, Papa. Aku merasa Zero sedang dalam bahaya."