
"Selamat malam, Luna," sapa Mona.
Aluna melirik sekilas, dia hanya menampakkan senyum datarnya. Aluna memilih tempat duduk yang lebih dekat dengan Hideon dibandingkan Mona.
"Apa benar Ayah yang memanggilku?" tanya Aluna.
"Ya, kita adakan makan bersama malam ini, ada yang ingin ayah bicarakan." Hideon memulai pembicaraan, "di mana Helen? Kenapa dia belum turun?"
Aluna mengangkat bahunya berpura-pura tidak tahu.
"Paling juga sebentar lagi," ucap Mona, " Luna, Mommy sengaja memasak makanan ini untukmu."
Mona menunjukan sikap ramah kepada Aluna. Namun, Aluna tetap menyikapinya dengan dingin. Menurut Aluna, Mona bersikap seperti itu pasti ada maunya, lantaran kebusukan Helen sudah diketahui, tentunya Mona tidak mau kalau Aluna sampai memperkarakannya kepada polisi.
"Maaf sedikit telat." Dari ambang pintu, tiba-tiba Ara berjalan menuju meja makan.
"Sayang, akhirnya kamu pulang juga." Mona tersenyum senang, mempersilahkan Ara duduk di sebelahnya.
Karena keluarga sudah berkumpul semua. Hideon memulai acara makan malam. Hideon sangat puas melihat keluarga mereka yang damai. Semenjak Luna menikah, baru kali ini mereka mengadakan makan malam berempat lagi.
"Makanlah, Nak. Aku tahu kamu sangat menyukai sup iga." Mona menaruh sup di mangkok kecil dan memberikannya pada Aluna.
"Aku tak menyukainya. Makan saja sendiri." Aluna menolak secara terang-terangan.
"Baiklah, Nak. Kamu menyukai apa? Akan aku ambilkan untukmu." Mona kembali merayu Aluna.
"Tidak! Aku bisa mengambilnya sendiri," jawab Aluna ketus.
"Baiklah. Makanlah yang banyak," kata Mona seraya melontarkan senyum terpaksanya.
Sambil mengunyah makanannya Hideon memperhatikan sikap Aluna kepada Mona. Akhir-akhir ini setelah kejadian tempo hari, sikap Hideon menjadi berubah. Dia yang awalnya selalu membela Mona, kini membiarkan Aluna berbicara ketus padanya.
"Apa masalah kalian sudah selesai, Luna?" Hideon memulai pembicaraan lagi setelah mereka selesai menikmati hidangan utama.
Aluna melirik ke arah Helen.
Kenapa dia sangat santai sekali! Harusnya dia ketakutan. gerutu Aluna.
"Aku tetap akan memperkarakan masalah ini. Bukankah aku sudah memberikan bukti laporannya?" kata Aluna.
Mendengar Aluna akan tetap memperkarakan kasus Anaknya. Mona mendadak sedih. Saat itu juga dia mendekati Aluna. "Nak, Maafkan Helen anakku. Aku rela melakukan apa pun asalkan kamu mau memaafkannya. Tolong jangan kasuskan masalah kemarin. Aku yang salah."
"Seenaknya saja berkata seperti itu. Apa kalian tahu, aku sampai bekerja keras untuk mendapatkan buktinya. Lalu kalian hanya meminta maaf!" pekik Aluna, "aku tidak mau!"
Di saat itu juga Mona menarik Helen agar berlutut di kaki Aluna. Mona membisikkan kepada Helen agar dia cepat meminta maaf. Tentu saja itu bukan Helen yang asli, melainkan jiwa Ara yang ada pada tubuh Helen.
"Maafkan aku, Luna. Maafkan kami berdua." Mona berlutut di kaki Aluna.
Aluna tidak peduli, dia malah memalingkan mukanya.
Merasa putus asa, akhirnya Mona kembali lagi ke tempat duduknya. Dia masih menaruh harapan banyak agar Aluna mengurungkan niatnya. Sementara Ara terlihat pasrah ketika berhadapan dengan Aluna.
"Karena anak kita sudah besar dan mandiri. Aku putuskan untuk membagi saham perusahaanku kepada kalian. Agar kalian bisa mengembangkan saham yang aku bagi untuk usaha kalian nantinya. Selama aku masih hidup, aku akan membagi 10% saham milikku kepada Mona. Sementara Luna dan Helen aku sisakan masing-masing 5% setiap bulan," titah Hideon.
Mendengar saham miliknya dan Helen sama rata, Aluna langsung protes. Dia merasa pembagian saham ini tak adil mengigat Luna di sini adalah anak kandung, sementara Helen merupakan anak tiri. "Pembagian saham ini tak adil. Harusnya saham milikku lebih banyak daripada Helen. Bukankah hanya aku anak kandungmu, Ayah."
"Luna, kamu dan Helen statusnya sama. Walaupun Helen hanyalah anak tiri, tetapi dia juga berhak menerimanya. Lagipula, pembagian kali ini hanya berlaku ketika aku masih hidup." Hideon memberikan pengertian kepada Aluna.
Mona tersenyum, dia sangat puas dengan pembagiannya. Dengan adanya pembagian saham ini, dia bisa mempergunakannya dengan leluasa tanpa perlu izin terlebih dahulu kepada Hideon.
"Aku tak menginginkannya. Aku serahkan semua saham milikku kepada Kak Luna. Lagipula, ibuku sudah menerimanya dan itu lebih dari cukup untuk kami berdua," celetuk Ara.
"Apa?!" Aluna dan Mona berkata berbarengan.
Tidak hanya Mona dan Aluna yang tercengang, tetapi juga Hideon. Mereka bertiga tak menyangka Ara yang kira adalah Helen, menolak menerima saham. Mona sangat tahu kalau Helen adalah wanita mata duitan, mana mungkin anaknya itu tiba-tiba menolak diberikan uang.
"Jadi benar kamu tak menginginkannya?" Aluna memastikan lagi kalau ucapannya adalah benar.
"Yah, aku berkata serius. Itu salah satu bukti permintaan maafku, Kak." Ara berkata sambil tersenyum, "kesehatan lebih penting dibandingkan uang," imbuhnya lagi.
Ekspresi Mona mendadak geram. Menurutnya meminta maaf bukan dengan cara itu. Lima persen yang diberikan Hideon sebanding dengan lima miliar setiap bulannya. Itu adalah angka yang fantastis, dan Helen akan memberikannya kepada Luna.
Kenapa kamu bodoh sekali, Helen! Tidak dengan cara itu kamu meminta maaf. Geram Mona dalam hati.
"Eum ... sepertinya Helenku sedang tidak enak hati. Pikirannya sedang kacau, makanya dia berkata seperti itu. Aku yakin Helen akan berubah pikiran nantinya," ucap Mona.
Di menit itu juga Mona langsung mengalihkan pembicaraan. "Luna, kita bahas ini nanti ya setelah makan. Aku juga minta tolong kepadamu, agar tak usah membahas masalah Helen lagi kepada keluargamu, yah."
"Benar, Luna. Walaupun Helen sudah bersalah, alangkah baiknya tak mengumbar kejelekannya lagi pada keluarga Alvin. Masalah kita selesai. Ayah sudah memberi sangsi dengan menarik kartu black card, fasilitas Helen selama sebulan. Dan mengenai saham lima persen itu aku serahkan kepada Helen, akan memberikan kepada kamu atau tidak," kata Hideon.
Kali ini Ara tidak fokus dengan pembicaraan Hideon. Menurutnya itu tidak penting, berkali-kali matanya melihat ke arah ayam goreng yang terlihat menggiurkan di meja. Walaupun dia sudah memakan makanan banyak, tetap saja dia ingin mengambilnya lagi. Pikiran Ara, dia hanya ingin menikmati apa yang tidak bisa ia nikmati di dunia nyata.
"Bolehkah aku memakan ayam goreng lagi, aku masih lapar," pinta Ara memelas.
Sebenarnya sesi makan utama telah selesai. Namun, karena melihat muka Ara yang begitu menginginkan ayam goreng. Hideon dan Mona membolehkannya.
"Ambil saja, Nak, sesukamu," kata Hideon.
"Benarkah!" Wajah Ara langsung berbinar kegirangan. Di detik itu juga dia langsung mengambil dua potong paha ayam goreng.
Tanpa rasa malu Ara memakan ayam goreng itu dengan lahap. Dia terlihat seperti orang yang tidak pernah makan selama seminggu. Sontak pemandangan ini membuat Mona kaget. Tidak biasanya anaknya seperti itu, cara makannya pun aneh dan tidak elegan.
Tetapi tidak dengan Aluna. Melihat Helen yang memakan ayam goreng dengan lahapnya, dia langsung sedih dan teringat dengan adiknya.
Ara sangat menyukai ayam goreng, cara makannya pun sama. Ara selalu mengambil paha dan memakannya langsung dengan tangan. Batin Aluna terus memperhatikannya tanpa berkedip.