
"Apa? Pecinta paranoid? Maksudmu apa Miss K?" Mata Aluna melebar, ia tak mengerti apa yang dimaksud pecinta paranoid yang dimaksud sistem.
...[Alvin memiliki sifat curiga yang berlebihan, mudah cemburu dan cenderung sulit mempercayai pasangannya. Anda harus berhati-hati dalam bersikap mulai sekarang. Karena Alvin tidak segan-segan melakukan tindakan berlebihan.]...
Aluna mulai mencerna kata-kata Miss K barusan. Ia masih belum paham betul apa yang dimaksud Miss K. Menurutnya, hal apa pun akan bisa diatasi, Aluna masih menganggap enteng seorang Alvin.
Setelah lebih dari lima menit berbicara dengan sistem, Aluna memutuskan untuk kembali ke ruang tengah.
Sesaat sebelum sampai ke ruang tengah, Aluna bertemu dengan Alvin yang sedang berdiri mengangkat telepon. Rupanya, lelaki itu sedang membicarakan masalah pekerjaan dengan orang di sambungan telepon, dia menyuruh Aluna agar kembali duluan. "Aku akan menyusulmu sebentar lagi," sahutnya.
***
Di Ruang Makan
"Yu, sepertinya dulu Luna berpura-pura lugu. Bertindak anggun dan sok polos tidak mengerti apa-apa, nyatanya sekarang sikapnya sudah seperti serigala berbulu domba. Lihat saja, dalam waktu sehari wanita itu berhasil mencari bukti kalau dia tidak berselingkuh." Lily berbisik di telinga Yuze.
Yuze mengerutkan keningnya, merapatkan bibirnya sembari menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak bisa dibiarkan! Kita harus berhati-hati!" serunya.
"Aku sudah menyusun rencana dengan Helen malam ini. Ingat, kita harus berhasil kali ini. Helen sendiri mengatakan kalau Luna tidak bisa dianggap enteng," bisik Lily lagi.
Lewat sepersekian detik Aluna sudah kembali ke meja makan. Wanita itu kembali mendudukkan pantatnya lagi di kursi makan menghadap ke arah Yuze dan Lily yang sedang membicarakannya.
"Maaf nenek harus kembali ke kamar. Nenek sudah sangat lelah," ucap Nenek Alma pamit.
"Ibu mertua beristirahatlah, aku akan mengantarmu kamar," sahut bibi kedua, wanita itu selalu mencari muka di depan umum.
Setelah nenek pamit beristirahat, kini tersisa tujuh orang termasuk Aluna. Clara yang tidak dekat dengan anggota lainnya, masih beradu argumen dengan Jiali adik iparnya.
"Mari kita bersulang!" seru paman Hans mengangkat gelasnya, kemudian di balas oleh paman ketiga dan Yuze.
"Kakak ipar, jangan lupa nanti malam datang ke acara kami." Lily mencoba mengingatkan Aluna akan acaranya yang sudah dibuat di sebuah bar. Tentunya, tempat di mana mereka akan menjebak kembali Luna.
Aluna masih tetap bungkam, ia pura-pura tak mendengar ucapan Lily. Dilahapnya steak sapi yang sudah di ujung sumpit.
Sialan! Dia pura-pura tak melihatku! Gerutu Lily.
Karena merasa diacuhkan, Lily menyenggol bahu Yuze agar membantunya membujuk Aluna. Lelaki yang merasa tersenggol itu lama-lama mengerti isyarat dari Lily.
"Bibi pertama, bolehkah kami meminta izin mengajak kakak ipar malam ini. Kami sedang mengadakan pesta di bar, aku dan Lily ingin lebih mendekatkan lagi hubungan kita dengan kakak ipar," ucap Yuze, karena nenek sudah kembali ke kamar, dia meminta izin kepada bibinya.
Clara yang sedang berbincang dengan bibi ketiga, menghentikan aktifitasnya lalu menoleh ke arah Yuze. "Kenapa harus aku yang memutuskannya, tanyakan saja kepada Alvin suaminya," sahut Clara, wanita itu sangat malas meladeni ponakannya itu.
Aluna manahan senyum di bibirnya ketika Clara dengan gamblang menunjukan sikap acuhnya kepada Yuze. Ya, gadis itu sengaja mengacuhkan mereka berdua, jangankan Clara, ia sendiri sudah muak meladeni dua anak, yang menurut Aluna adalah jelmaan keledai itu.
Ternyata kalian masih saja ingin berurusan denganku lagi! Batin Aluna.
Bersamaan dengan itu, Alvin akhirnya kembali. Lelaki itu langsung duduk di sebelah Luna. Dia melihat Aluna tengah sibuk menikmati steak yang hampir tak bersisa di piringnya.
"Kakak, bolehkah aku mengajak kakak ipar malam ini. Kami ingin mengadakan temu kangen dengan kakak ipar." Baru mendudukkan pantatnya, Alvin langsung diberi pertanyaan oleh Lily.
Aluna yang sedang memotong steak dengan pisau, menaruh benda tajam itu dengan kasar di meja. Ya, gadis itu merasa sangat geram.
"Maksud kalian, mengajak istriku kemana?" Alvin balik bertanya.
"Kami ingin mengajak kakak ipar ke bar malam ini. Lily sudah menyiapkan acara khusus untuk kak Luna." sahut Yuze.
Mendengarnya, ekspresi Alvin langsung berubah, lelaki itu mengepalkan tangan sembari mengatupkan rahangnya. Aura penolakan terlihat jelas dari raut wajahnya. "Tidak!" serunya.
"Hanya beberapa jam! Kita akan mengantarkan kembali kak Luna ke mansion," sambung Lily
"Tidak boleh! Kami akan menjalani program kehamilan. Aku tidak mengizinkan istriku pergi malam ini!" sahut Alvin tegas.
Ucapan Alvin barusan akhirnya mampu mendiamkan Yuze dan Lily. Mereka tidak bisa memberi alasan lagi kalau sudah menyangkut kehamilan. Akhirnya mereka diam tak berani berkata apa pun kepada Aluna.
"Alvin, sebaiknya kalian beristirahat malam ini. Acara sudah selesai, bahkan nenek susah kembali ke kamarnya. Maaf ya adik ipar, aku kembali ke kamar dulu." Clara lalu berdiri meninggalkan meja makan. Wanita itu sudah malas menutupi mukanya lagi dengan topeng, berpura-pura baik padahal hatinya sangat teriris.
Tidak hanya Clara, satu persatu keluarga mereka kembali ke kamar yang sudah dipersiapkan, termasuk Yuze dan Lily. Mereka tahu kalau Alvin sangat susah dirayu, dengan sekali penolakan saja, mereka tak berani meminta izin lagi.
"Aku juga pamit duluan Alvin," ucap bibi Jiali.
Sekarang tinggal tersisa Aluna dan Alvin di meja makan. Karena sudah tidak ada orang selain mereka, Aluna yang merasa tidak bisa lepas dari Alvin memutuskan pergi meninggalkannya. Ia tidak ingin berlama-lama dengan Alvin.
"Aku juga pamit ... "
Namun, sebelum Aluna meninggalkan meja makan, Alvin menarik pinggang wanita itu, membuatnya terduduk di pangkuan Alvin. "Ahh!" teriak Aluna kaget mendapati tubuhnya dibawa naungan Alvin, lelaki itu kini memeluknya kencang.
"Kita pergi ke kamar bersama," ucap Alvin tersenyum.
Aluna mencoba melepaskan tangan Alvin yang melingkar di pinggangnya. Namun, entah mengapa pelukan tubuh Alvin semakin kencang seakan mengunci tubuhnya.
Tidak biasanya aku selemah ini, batin Aluna, wajahnya tak berani menoleh ke arah Alvin.
"Pandang aku!" Tangan Alvin dengan halus meraih dagu Aluna yang berani-beraninya mengalihkan pandangan darinya.
Dengan gerakan cepat Alvin memegang wajah Aluna, lalu mendaratkan c*uman yang sangat manis di bibirnya yang ranum. Dia sudah tidak tahan dengan sikap Aluna.
"Alvin!" seru Aluna. Wanita itu terlihat kaget. Ci*uman Alvin yang hanya berdurasi beberapa detik itu berhasil membuat wajahnya merah padam.
"Jangan pernah mengalihkan pandangan matamu lagi dariku!" belum sadar sepenuhnya, kini Alvin kembali ******* penuh bibir Luna dengan durasi yang lebih lama lagi, lelaki itu memegang kencang wajah Aluna seakan enggan melepaskan pagutannya.
"Ahh!"
Sementara, Aluna yang masih kaget berusaha melepaskan tautan bibir Alvin yang penuh hasrat. Ya, dua kali Alvin mengajaknya berc*uman. Aluna lalu mendorong dada Alvin agar melepas pelukannya.
"Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Alvin marah.
###