
Impian Helen untuk sarapan pagi bersama, hilang seketika begitu Aluna datang. Wajahnya mendadak kusut, dia memalingkannya ke samping. Helen tak ingin melihat senyum di wajah Aluna yang seakan sedang meledeknya.
"Bukankah kamu sudah sarapan pagi bersama Ayah?" tanya Helen pelan.
"Tidak jadi. Karena suamiku sendiri yang meminta untuk menemaninya sarapan pagi sekarang." Aluna berjalan menuju kursi Alvin lalu sengaja duduk di pangkuannya, "apa kamu ingin melihat kami bermesraan di sini?" imbuhnya lagi sambil merangkul Alvin.
"Benar, sebaiknya kamu pergi sekarang," kata Alvin balas memeluk pinggang Aluna.
Melihat pemandangan yang tidak menyenangkan di depannya. Helen langsung terperanjat dan memalingkan mukanya ke samping. Benar-benar memuakkan! Apa kamu ingin membuatku panas, Hah. Helen terus membatin di dalam hati.
Detik itu juga, Helen langsung meninggalkan ruangan. Mendengar hentakan kakinya yang keras saat berjalan, menandakan kalau perempuan itu sedang sangat kesal dan menahan amarahnya.
"Ayo kita makan sekarang," kata Aluna seraya melepaskan tangan Alvin dari pinggangnya, hendak berdiri kembali setelah Helen benar-benar keluar.
Akan tetapi, sebelum Aluna benar-benar bangun. Alvin tiba-tiba menahan tubuhnya dan menariknya kembali ke pangkuannya. "Kamu sudah menggodaku pagi ini. Tak mungkin aku melepaskanmu begitu saja," kata Alvin pelan.
Mendadak wajah Aluna bersemu merah. Dia sangat kaget ketika Alvin mendadak melingkarkan tangannya kembali ke pinggang. "Alvin, kita sedang ada di kantor. Aku--"
"Barusan kamu mengatakan ingin bermesraan denganku. Bukannya kemarin juga kita sedang ada di kantor saat kamu menciumiku? Lalu apa bedanya?" Belum meneruskan kata-katanya Alvin sudah lebih dulu memotong ucapannya.
Tangan kanan Alvin merapihkan rambut Aluna menjadikannya satu, lalu menyampingkannya ke bahu. Dalam hati Alvin tumben sekali Aluna membiarkan rambutnya tergerai, penampilannya sama persis seperti Luna yang selalu menggerai rambutnya yang hitam panjang. Sementara tangan satunya lagi masih memeluk erat pinggang perempuan itu.
Kau kenapa sangat cantik hari ini? tanya Alvin dalam hati.
Kenapa aku bodoh sekali tadi mengatakan ingin bermesraan dengan Alvin? gerutu Aluna dalam hati sambil mencoba melepaskan tangan Alvin dari pinggangnya.
Aluna tak dapat melepaskannya. Malah Alvin semakin kuat memeluknya. Alvin mulai melakukan kontak mata dengan Aluna. Menatap mata perempuan itu dalam-dalam. Kemudian mengalihkan pandanganya ke bibir dan beralih ke mata lagi. Dia lakukan itu sampai Aluna benar-benar merasa nyaman dan balik menatapnya.
"Apa kamu memakai lipstik baru?" tanya Alvin.
Aluna menggeleng sambil terus melihat ke arah Alvin. "Tidak. Ini adalah lipstik yang biasa aku pakai setiap hari."
"Warnanya sangat pas di bibirmu."
Alvin tersenyum mendengar jawaban tersebut. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja. Masih dalam posisi sama-sama berdiri, dia menyudutkan tubuh perempuan itu ke meja. Menyapu bibir Aluna perlahan dengan telunjuknya. Memiringkan kepalanya sedikit, lalu menciumnya dengan lembut.
"Eum."
Hampir lima menit lamanya tak lepas. Lama kelamaan Aluna sangat nyaman dan menikmati ciuman tersebut. Suasana yang hening di ruangan itu benar-benar sangat mendukung untuk berciuman. Matanya terpejam, dia mengikuti gerakan lidah Alvin agar membuka perlahan mulutnya. Pada akhirnya bibir mereka saling ******* satu sama lain.
Masih belum puas, Alvin mengangkat bokong perempuan itu di atas meja lalu menciumnya lagi dan lagi.
"Alvin, ini masih terlalu pagi." Aluna lalu melepasnya karena saat itu dia kesulitan bernapas.
"Tak peduli. Aku sangat merindukanmu," kata Alvin lalu mengulanginya lagi.
Andai saja mereka berada di dalam sebuah kamar. Tentu hal yang lain akan terjadi lebih dari sekedar ciuman. Alvin tak peduli siapa Aluna, baginya dia adalah istrinya.
"Kapan kamu pulang?" tanya Alvin sambil menatap intens wajah Aluna yang kemerahan karena malu, "kenapa lama sekali berada di rumah ayahmu?"
Aluna tak bisa bergerak bebas karena Alvin masih menahan tubuhnya agar tak turun dari meja. Yang bisa dilakukan Aluna saat itu adalah menjauhkan wajahnya dari Alvin, karena lelaki itu berulang kali tak berhenti menciumnya.
"Beberapa hari lagi. Setelah ini aku akan kembali ke rumah," jawab Aluna.
"Aku tak mau tahu, besok malam kamu harus pulang ke rumah." Tangan Alvin beralih ke kancing kemeja Aluna.
"A-apa yang akan kamu lakukan? Kita ada di kantor dan ini masih terlalu pagi," kata Aluna ketakutan karena satu kancing kemejanya berhasil dibuka.
Sayangnya, baru saja membuka beberapa kancing, mereka mendengar suara langkah kaki seseorang menuju ruangannya.
Ah' kenapa kejadian ini terulang lagi, gerutu Alvin dalam hati.
Di menit itu juga, keduanya langsung berdiri dan bergegas merapihkan baju masing-masing. Mereka sadar orang itu pasti ingin masuk ke dalam ruangannya.