TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Sembuh dari Demam


Ketika jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Alvin terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Dia yang masih berbaring di atas tempat tidur, kini sudah membuka matanya penuh. Suhu tubuhnya pun sudah kembali normal, Alvin sudah tak merasakan demam lagi.


Dengan perlahan Alvin bangkit, terduduk di atas ranjang hendak menyingkap selimut yang tadi malam menutupinya. Namun, ketika dia membuka selimut, matanya teralihkan pada beberapa botol bening berisi air di bawah selimutnya. Alvin meraihnya dan mengamati botol itu. 'Aku yakin Luna lah yang menaruhnya di sini' Alvin bergumam sambil tersenyum.


Ya, memang benar Aluna yang menaruhnya. Dia sudah terbiasa mengompres adiknya yang demam dengan metode kompres kering, menaruh botol yang berisikan air hangat di dalam selimut. Aluna melakukan itu agar demam di tubuh Alvin segera mereda.


Alvin merasa lega demamnya sudah menurun. Kulitnya yang kemerahan karena alergi juga sudah kembali normal. Dia pun meletakkan beberapa botol itu ke atas nakas lalu berdiri hendak membersihkan diri di kamar mandi. 'Aku harus menemui Luna sekarang', gumamnya.


Saat Alvin membalikkan badan, alangkah kagetnya dia mendapati Aluna tengah tertidur di sofa. Dia tak menduga sama sekali kalau Aluna akan menemaninya tidur di kamar yang sama.


Ternyata kamu masih di sini, pasti kamu sangat kelelahan, Luna. Batin Alvin.


Kemudian lelaki itu berjalan mendekati Aluna yang tertidur pulas di sofa. Sesampainya, Alvin duduk berjongkok di depan Aluna sambil mengamati wajahnya. 'Aku merasa kenapa akhir-akhir ini kamu mengalami banyak perubahan, Luna?' Alvin terus membatin. Disentuhnya pelan pipi dan mulai merapihkan beberapa helai rambut Aluna yang menutupi wajahnya.


Aluna masih tertidur pulas. Dia tak menyadari kalau Alvin tengah mengusap pipinya bahkan lelaki itu mengangkat dan memindahkan tubuhnya dari sofa ke ranjang.


Saat Aluna sudah berada di atas ranjang, tiba-tiba saja dalam keadaan tak sadar tangannya me meluk tubuh Alvin yang ia kira adalah bantal guling dan menariknya ke atas ranjang. Hal itu membuat tubuh Alvin tak seimbang, dia pun akhirnya ikut terbaring dan balas meme luknya.


"Sayangnya aku harus bekerja pagi ini, Luna," kata Alvin sambil me meluk erat tubuh istrinya yang tengah tertidur.


Sebenarnya Alvin ingin meneruskan beristirahat. Sayangnya, pekerjaannya benar-benar tak bisa ditinggalkan. Ada beberapa proyek yang harus ia kerjakan cepat.


"Entah mengapa, aku merasa kamu bukan Luna yang aku kenal. Aku merasa kamu seperti orang lain yang masuk ke dalam tubuh istriku." Suara Alvin sangat pelan hampir tak terdengar. Dia masih mengusap lembut rambut Aluna.


"Mungkinkah ..." Alvin terus menduga, berkata pada dirinya sendiri. Dilihatnya lagi saksama wajah Aluna yang tertidur sambil me meluknya.


"Semoga dugaanku salah, Luna." Alvin kembali bangun, meraih bantal guling, lalu memindahkan tangan Aluna ke benda empuk itu. Melihat Aluna yang kelelahan, Alvin akhirnya memutuskan untuk meninggalkannya. Tidak ingin mengganggu istirahat istrinya.


Walaupun Alvin sempat ragu, dia benar-benar tersentuh atas tindakan Aluna yang merawatnya ketika sakit. Yang Alvin tau sebelumnya, Luna istrinya sangat manja apa saja dilakukan oleh pelayan, termasuk untuk urusan suaminya. Namun, malam ini dia sangat berbeda, membuat Alvin begitu terenyuh.


Sepuluh menit kemudian, Alvin yang sudah berpakaian kantor rapi, kembali mendudukkan pantatnya ke ranjang.


Cup.


Alvin menge cup kening Aluna.


"Terima kasih Luna. Beristirahatlah, aku pergi dulu," kata Alvin sebelum pergi.


Setelah berpamitan, Alvin pun melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan Aluna sendirian di kamar. Meskipun masih sedikit pucat ekspresi wajah Alvin terlihat sangat bahagia.


"Selamat pagi, Tuan Muda Alvin," sapa beberapa pelayan yang sedang membersihkan ruangan di depan kamarnya sambil menunduk.


"Pagi juga." Alvin balik menyapa.


Biasanya lelaki itu tampak angkuh dan tidak membalas sapaan mereka. Namun, pagi ini sangat berbeda, wajahnya pun sangat terlihat ramah membalas tersenyum kepada beberapa pelayan.


Para pelayan saling melihat satu sama lain, mereka tampak merasa aneh. Tak biasanya tuan mudanya itu menggunakan kata 'Tolong' ketika menyuruh mereka. Serentak mereka pun sangat tersanjung, buru-buru mengiyakan. "Baik, Tuan!" seru mereka bersamaan. Alvin balas tersenyum lalu meninggalkan mereka


"Jangan-jangan mereka sudah baikan dan sudah tidur satu kamar. Ini berita penting, kita harus beritahukan kepada nenek Alma," bisik salah satu pelayan kepada pelayan lainnya.


"Benar, sepertinya hubungan mereka sudah harmonis. Aku tidak sabar mendengar kabar baik selanjutnya setelah ini, Hi ... Hi ...." Mereka berbisik ketika langkah Alvin sudah menjauh.


***


Sementara di tempat Noah kecelakaan, Ara yang sangat kebingungan akhirnya mengambil handphone milik Noah. Ia mengambil paksa handphone itu dari sakunya. Kebetulan di kontaknya ada nomor ambulance dan nomor telepon rumah sakit. Ara yang tidak tahu di mana sekarang berada langsung menghubungi dan mengirimkan lokasi kepada pihak rumah sakit.


Ara yang menjadi saksi satu-satunya pun harus ikut bersama mereka ketika tim medis membawa tiga orang yang menjadi korban kecelakaan itu ke rumah sakit.


"Nona Helen," panggil seorang perawat kepada Ara yang tengah duduk di depan ruang gawat darurat.


Ara tak menoleh.


"Nona Helen." Perawat kembali memanggil Ara dengan nama tubuh yang ia tempati, karena tak menyahut juga perawat itu sampai menepuk bahu Ara.


"Maaf, suster. Namaku bukan Helen," ucap Ara membalas.


Perawat tadi mengerutkan keningnya, Alisnya pun hampir menyatu. Yang dia tahu wanita di depannya itu bernama Helen, karena dia sendiri sudah mengenalnya, Helen pernah beberapa kali mendatangi rumah sakit itu.


"Oh' maaf. Aku pikir Anda Nona Helen, wajah kalian hampir mirip. Aku hanya menyampaikan kabar kalau kondisi pasien baik-baik saja, hanya terdapat beberapa luka ringan, sebentar lagi pasien akan segera siuman," ucap perawat kepada Ara.


Ara balas tersenyum. "Syukurlah. Kalau begitu aku bisa pulang sekarang?" tanyanya balik.


"Anda belum boleh pulang, Nona. Kami akan meminta sebentar keterangan dari Anda mengenai penyebab kecelakaan." Tiba-tiba sebuah suara yang sangat tegas terdengar tidak jauh dari tempat Ara duduk. Ya, suara itu berasal dari salah satu petugas kepolisian yang berjalan mendekati mereka.


Ara langsung menoleh, dia tampak kaget dengan kedatangan dua orang anggota polisi. Ara yang tidak tahu di mana dia berada, refleks memencet nomer di handphone milik Helen, mencoba menghubungi Aluna, dia lupa kalau handphone itu bukan miliknya.


Kakak di mana kamu? Di mana nomer kakakku? batin Ara terlihat panik.


"Tidak usah panik, Nona. Di sini Anda hanya sebagai saksi. Ikutlah bersama kami, Anda hanya perlu memberitahukan kronologisnya ke kantor polisi." Petugas kepolisian mencoba menenangkan Ara.


Namun, Ara masih terlihat panik. Dia masih membuka-buka ponsel milik Helen. Ya, ia paling takut mendatangi kantor polisi. Ara juga ingin tahu sebenarnya sekarang dia ada di mana. Ara masih belum tahu kalau sekarang dirinya sedang berada di dunia novel.


...###...


...Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya....


...Terima kasih....